cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUNGAN MAYA AOYAMA VS MR. NAKATA
**BAB 30
RUANG RAPAT UTAMA — PT. KOREAN INDUSTRY — SIANG
Ruang rapat kini terasa berbeda.
Bukan lagi sekadar ruang bisnis, melainkan medan diplomasi sunyi.
Di satu sisi meja, Mr. Kim Jong Un duduk tegak, didampingi Park Min Jae dan Yuna Lee yang lengannya masih dibalut perban tipis.
Di sisi lain, delegasi FIFA—Lucas Verner dan dua analis kualitas—membuka tablet dan dokumen inspeksi.
Di tengah-tengah mereka: Pak Kades Darman,
Pak Dosen Deden,
dan Dimas—yang kali ini tidak membawa laptop, hanya map hitam penuh catatan lapangan.
Lucas memulai tanpa basa-basi.
“Kami menghargai transparansi Anda, Mr. Kim,” katanya datar.
“Namun FIFA tidak bisa mengambil risiko reputasi global hanya berdasarkan niat baik.”
Mr. Kim mengangguk. “Kami tidak meminta toleransi. Kami menawarkan kontrol.”
Ia memberi isyarat. Layar menyala menampilkan skema baru.
MODEL PRODUKSI TERINTEGRASI — HYBRID LOCAL CONTROL
Pak Dosen Deden berdiri.
“Vendor lokal tidak lagi berdiri sebagai sub-kontraktor pasif,” jelasnya tenang. “Mereka masuk dalam sistem klaster tertutup, diawasi langsung oleh QA PT. Korean Industry dan audit FIFA.”
Dimas menimpali. “Dan setiap bahan—benang, katup, lapisan—akan diberi trace code berbasis batch mikro. Satu bola bermasalah, seluruh jalur langsung terkunci.”
Lucas menyandarkan punggung. “Vendor lokal sering kali menjadi titik kebocoran.”
Pak Kades mengangkat kepala. “Kami sepakat. Karena itu, kami bertaruh dengan nama desa kami sendiri.”
Nada suaranya tidak keras.
Namun tidak goyah.
Keheningan menggantung beberapa detik.
Lucas akhirnya menutup tabletnya. “Baik. FIFA akan memberi satu kesempatan lanjutan.”
Semua mata terangkat.
“Namun,” lanjutnya,
“kami akan menyebar inspeksi ke seluruh rantai pasok Asia Timur. Termasuk Jepang.”
Mr. Kim menyipitkan mata. “Tuan Nakata.”
Lucas tidak menyangkal. “Betul.”
KAFE KECIL — KOTA PESISIR — SORE
Maya duduk santai, menyeruput teh dingin.
Wajahnya tetap anggun. Tidak ada bekas kegagalan.
Di hadapannya, seorang pria muda dengan seragam kurir logistik menunduk.
“Mereka memperkuat vendor lokal,” lapor pria itu. “Dan FIFA ikut turun tangan.”
Maya tersenyum. “Bagus.”
Ia meletakkan cangkir perlahan. “Artinya mereka mulai percaya diri.”
Pria itu ragu. “Lalu… rencana kita?”
Maya menatap layar ponselnya—foto pabrik lain, logo berbeda.
“Tuan Nakata tidak seketat Kim,” katanya pelan. “Dan delegasi FIFA akan sangat… dimanjakan di sana.”
Ia bangkit. “Kita tidak perlu merusak pabrik Kim lagi.”
“Kita hanya perlu membuat perbandingan.”
PABRIK NAKATA SPORTS MANUFACTURING — MALAM
Lampu-lampu taman menyala hangat.
Meja panjang penuh hidangan: sushi premium, wagyu panggang, sake terbaik.
Tuan Nakata tersenyum lebar menyambut delegasi FIFA.
“Selamat datang,” katanya ramah. “Kami percaya kualitas terbaik lahir dari suasana terbaik.”
Beberapa perempuan lokal berpakaian anggun menyambut dengan tawa ringan, menuangkan minuman, memastikan tamu merasa dihormati—dan dilunakkan.
Lucas Verner duduk tenang.
Tidak mabuk. Tidak larut.
Namun dua analis di belakangnya mulai lengah.
Di sudut ruangan, Maya berdiri seolah bagian dari tim hospitality.
Tak ada yang curiga.
Ia memberi isyarat halus.
Di dapur belakang, seorang teknisi mengganti batch katup udara—bukan cacat, hanya lebih elastis dari standar FIFA.
Cukup aman untuk lolos inspeksi awal.
Namun berisiko di tekanan tinggi.
“Ini bukan sabotase,” bisik Maya pada ponselnya. “Ini penundaan kehancuran.” MALAM YANG SAMA
Di PT. Korean Industry, suasana justru berbeda.
Vendor lokal bekerja berdampingan dengan teknisi internal.
Pak Kades ikut mengawasi.
Pak Dosen Deden memeriksa data.
Dimas berdiri di ruang server.
“Pak,” kata Dimas pelan pada Mr. Kim, “FIFA akan membandingkan hasil kita dengan Nakata.”
Mr. Kim menatap layar produksi yang stabil. “Biarkan.”
Dimas mengernyit. “Kalau mereka lolos dengan jamuan dan manipulasi halus—”
Mr. Kim memotong. “Maka kebenaran akan muncul di lapangan, bukan di meja makan.”
Ia berbalik. “Dan saat itu tiba… siapa yang paling siap?”
Dimas tersenyum tipis. “Kita.”
TURNAMEN UJI COBA INTERNASIONAL
Di stadion tertutup, bola dari dua pabrik berbeda digunakan bergantian.
Satu—produksi PT. Korean Industry.
Satu—produksi Nakata Sports.
Kamera slow motion merekam.
Tendangan keras dilepaskan.
Bola berputar— melaju— menyentuh mistar—
Dan—
PSST…
Bukan dari bola Kim.
Semua mata tertuju ke satu logo.
Lucas Verner berdiri perlahan.
Di ponsel Mr. Kim, satu pesan masuk:
“Maya sedang menonton.”
Mr. Kim mengepalkan tangan. “Kalau begitu,” gumamnya, “babak kedua dimulai.”
Suara PSST itu tidak keras.
Tidak dramatis.
Namun di stadion tertutup itu—dengan tribun penuh ofisial, kamera uji berkecepatan tinggi, dan pengamat kualitas—suara kecil itu terdengar lebih nyaring dari ledakan.
Wasit uji menghentikan permainan.
“Stop test,” katanya tegas.
Pemain berdiri kebingungan.
Beberapa penonton teknis saling menoleh.
Lucas Verner melangkah ke tengah lapangan, berjongkok, mengangkat bola yang perlahan mengempis. Ia menekan bagian dekat katup. Jahitan membuka tipis—nyaris sopan—seolah meminta diperhatikan.
Lucas berdiri.
“Batch mana?” tanyanya.
Seorang teknisi stadion menelan ludah. “Nakata Sports… seri uji A-7.”
Lucas mengangguk kecil.
Di tribun VIP, Tuan Nakata masih tersenyum—namun kini senyumnya membeku.
Sementara di sisi lain stadion, Mr. Kim Jong Un berdiri perlahan. Tidak tergesa. Tidak reaktif. Hanya satu langkah maju, lalu berhenti.
Di layar besar, slow motion replay diputar ulang.
Tendangan.
Rotasi.
Tekanan.
Retakan mikro di sekitar katup.
Tak terbantahkan.
Lucas menoleh ke arah delegasi FIFA lainnya. “Catat,” katanya dingin. “Ini bukan keausan. Ini deviasi material.”
Salah satu analis berbisik, “Seberapa fatal?”
Lucas menjawab tanpa menoleh. “Cukup fatal untuk menghentikan kontrak.”
RUANG OBSERVASI — BELAKANG STADION
Tuan Nakata masuk dengan langkah cepat, diikuti dua asistennya.
“Ini pasti kesalahan penyimpanan,” katanya, mencoba tersenyum. “Cuaca, mungkin. Atau tekanan uji terlalu agresif.”
Lucas menatapnya lurus. “Standar FIFA tidak mengenal mungkin.”
Mr. Kim akhirnya bicara. “Katup elastis memberi rasa empuk di awal,” katanya pelan. “Namun ia mengkhianati di tekanan tinggi.”
Tuan Nakata menoleh tajam. “Apakah Anda menuduh?”
Mr. Kim tidak membalas tatapan itu. “Saya menjelaskan fisika.”
Hening.
Lucas mengangkat tablet. “Kami akan membekukan sementara penggunaan produk Nakata Sports untuk seluruh uji lanjut.”
Asisten Nakata terkejut. “Tunggu—!”
Lucas mengangkat tangan. “Keputusan ini bersifat teknis. Bukan politis.”
Ia menoleh ke Mr. Kim. “Dan untuk PT. Korean Industry… inspeksi lanjutan akan dipercepat.”
Mr. Kim mengangguk. “Kami siap.”
DI LUAR STADION
Di balik bayangan pohon, Maya berdiri, menyaksikan keributan dari kejauhan. Wajahnya tetap tenang.
Ponselnya bergetar.
Nakata:
Apa yang terjadi? Katup itu seharusnya aman.
Maya mengetik singkat.
Maya:
Aman untuk meja. Bukan untuk lapangan.
Ia menghela napas perlahan. “Kim terlalu bersih,” gumamnya. “Dan FIFA terlalu jujur.”
Seorang pria muncul dari kegelapan—kurir logistik yang sama.
“Langkah berikutnya?” tanyanya.
Maya tersenyum tipis. “Kalau bola gagal bicara…” “…kita buat manusianya yang goyah.”
KANTOR SEMENTARA FIFA — HARI BERIKUTNYA
Lucas duduk bersama timnya. Laporan menumpuk.
“Tekanan media akan datang,” kata salah satu analis. “Nakata punya jaringan kuat.”
Lucas mengangguk. “Dan Korean Industry punya vendor lokal.”
Ia berhenti sejenak. “Justru itu yang menarik.”
Pintu diketuk.
Pak Dosen Deden masuk, ditemani Dimas.
“Kami membawa data tambahan,” kata Deden. “Bukan tentang bola. Tentang rantai pasok.”
Dimas membuka map hitamnya. “Ini log perbandingan. Bahan yang gagal di Nakata—secara kimia—identik dengan benang sabotase awal di pabrik Kim.”
Lucas mengangkat alis. “Artinya… sumber yang sama?”
“Bukan pabrik,” jawab Dimas. “Tapi broker.”
Lucas bersandar. “King Cobra.”
Dimas mengangguk.
PT. KOREAN INDUSTRY — MALAM
Mr. Kim berdiri di ruang kontrol. Layar menampilkan pabrik bekerja stabil. Vendor lokal masih bertahan—lelah, tapi fokus.
Pak Kades mendekat. “Kami dengar… bola Nakata gagal.”
Mr. Kim mengangguk. “Dan itu membuat Anda target.”
Pak Kades tersenyum pahit. “Kami sudah siap sejak hari pertama.”
Mr. Kim menatapnya lama. “Keberanian tanpa disiplin adalah bunuh diri,” katanya. “Tapi disiplin dengan keberanian… itu langka.”
Ia menoleh ke Park. “Naikkan standar. Jangan hanya lolos FIFA.” “Buat yang lain tak bisa menyusul.”
SERANGAN MAYA — SENYAP
Malam itu, sebuah artikel anonim muncul di forum industri internasional:
“Vendor Lokal: Risiko Tersembunyi di Balik Produk Global”
Nama desa tidak disebut. Namun insinuasinya jelas.
Dimas membaca artikel itu di ponselnya. “Pak… ini serangan opini.”
Mr. Kim menutup layar monitor. “Biarkan.”
Dimas terkejut. “Kalau dibiarkan—”
Mr. Kim menoleh. “Kita akan jawab dengan satu hal yang tidak bisa disabotase.”
“Apa itu?”
Mr. Kim menatap jalur produksi. “Konsistensi.”
Di ruang gelap sebuah apartemen, Maya duduk sendirian. Artikel itu terbuka di laptopnya.
Ia menghela napas. “Kim memilih jalan panjang,” katanya pada dirinya sendiri. “Baik.”
Ponselnya bergetar. Pesan baru.
FIFA akan mengumumkan pilot project global. Satu pabrik. Satu negara.
Maya tersenyum—untuk pertama kalinya, tidak sepenuhnya tenang.
“Kalau begitu…” “…aku harus memilih.”
Layar laptop menampilkan dua nama:
PT. Korean Industry
Nakata Sports Manufacturing
Lampu kota berkelip di luar jendela.
Dan di kejauhan, ular itu kembali mengangkat kepalanya.
ULAT YANG MENJADI COBRA**
FLASHBACK — TOKYO — 12 TAHUN LALU
Hujan turun tipis di distrik industri lama.
Seorang perempuan muda berdiri di depan gerbang Nakata Sports Manufacturing. Rambutnya basah, mantel murahnya menempel di tubuh kurus. Di tangannya, map biru—proposal desain katup udara generasi baru.
Namanya Maya Aoyama.
Di ruang direksi, Tuan Nakata yang jauh lebih muda duduk santai, menyilangkan kaki.
“Desainmu bagus,” katanya sambil membolak-balik kertas. “Bahkan terlalu bagus untuk seseorang tanpa nama.”
Maya tersenyum kecil. “Saya tidak butuh nama. Saya butuh kesempatan.”
Nakata menutup map. “Kami akan menggunakannya.”
Wajah Maya bersinar. “Terima kasih—”
“Tapi bukan denganmu,” potong Nakata dingin. “Kami akan mendaftarkan patennya atas nama perusahaan.”
Maya terdiam. “Itu… ide saya.”
Nakata berdiri, menepuk bahunya seolah menenangkan anak kecil. “Dunia ini bukan tentang ide. Tapi siapa yang punya pabrik.”
Satpam datang. “Mengantar Nona keluar.”
Di luar gerbang, hujan makin deras.
Map biru itu jatuh ke aspal.
Di situlah ular kecil itu mulai belajar menggigit.
KEMBALI KE MASA KINI — INDONESIA — MALAM
Gudang lama dekat pesisir. Lampu redup.
Maya berdiri di depan belasan orang—timnya.
“Kim punya disiplin,” katanya tenang. “FIFA punya integritas.” “Nakata punya kelemahan.”
Seorang pria bertanya, “Lalu Sandi?”
Mata Maya menyipit. “Sandi… variabel yang belum dihitung.”
RUMAH TUA MBah KLOWOR
Sandi duduk bersila di lantai tanah. Nafasnya teratur.
Mbah Klowor duduk di depannya, tongkat bambu di tangan.
“Tenaga dalam bukan untuk menyerang,” kata mbah pelan. “Dia muncul saat niatmu lurus.”
Sandi membuka mata. “Kalau niatku melindungi?”
Mbah Klowor mengangguk. “Itu pamungkasnya.”
Ia mengetuk dada Sandi perlahan. “Jangan dipanggil dengan emosi. Panggil dengan sunyi.”
SERANGAN MAYA
Malam berikutnya.
Di jalur distribusi bahan vendor lokal, truk kecil berhenti mendadak.
Lampu mati.
Bayangan bergerak cepat.
“Ambil server log!” teriak salah satu anak buah Maya.
Mereka tidak tahu—Sandi ada di sana.
Ia berdiri di balik kontainer, jaket sederhana, napas tenang.
“Cukup,” katanya datar.
Empat orang menoleh.
Pisau berkilat. Tongkat besi terangkat.
Maya muncul dari kegelapan. “Menarik,” katanya sambil tersenyum. “Anak desa dengan aura… tidak biasa.”
Sandi menatapnya. “Kamu yang kirim ancaman ke Pak Kades.”
Maya mengangguk. “Aku juga yang ditendang keluar oleh Nakata.” “Dan sekarang… aku hanya menyeimbangkan dunia.”
Ia memberi isyarat.
Serangan datang serempak.
Sandi tidak menyerang dulu.
Ia mengingat kata Mbah Klowor.
Napas… sunyi… lurus.
Saat tongkat besi hampir mengenai kepalanya—
Sandi melangkah satu tapak.
DUARR—!
Bukan pukulan.
Gelombang tekanan dari tubuhnya menghantam udara.
Dua orang terlempar ke belakang, menghantam kontainer, pingsan seketika.
Yang ketiga mencoba menusuk.
Sandi menahan pergelangan tangan itu—
menyalurkan tenaga dari telapak ke dada.
BRAKK!
Pria itu terpental, batuk darah, tak bergerak.
Maya mundur setengah langkah.
“Tenaga dalam murni…” gumamnya. “Sudah lama aku tidak melihatnya.”
Ia menyerang sendiri. Gerakannya cepat, terlatih.
Pisau kecil menyayat lengan Sandi.
Darah menetes.
Namun mata Sandi tetap tenang.
“Kamu marah,” katanya. “Itu membuatmu bocor.”
Maya berteriak dan menusuk lurus ke jantung—
Sandi menghentakkan kaki ke tanah.
BUMM—!
Gelombang kedua lebih kuat.
Dua anak buah Maya terhempas keras ke dinding gudang.
Satu patah tulang.
Satu tak sadarkan diri dengan kepala berdarah.
Maya sendiri terpukul mundur, terjatuh, napasnya tercekat.
Gudang sunyi.
Hanya suara napas.
Maya bangkit tertatih. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala.
“Kau tidak membunuh,” katanya terengah. “Itu kesalahanmu.”
Sandi memegangi lengannya yang berdarah. “Aku bukan pembunuh.”
Maya tersenyum pahit. “Aku dibentuk oleh orang-orang yang lebih kejam darimu.”
Sirene terdengar dari jauh.
Maya melangkah mundur ke kegelapan. “Kim bukan target utamaku,” katanya sebelum menghilang. “Nakata-lah.”
Ia berhenti sejenak. “Dan sekarang… aku tahu siapa penjaganya.”
Park dan petugas keamanan datang.
Melihat korban bergelimpangan, mereka terdiam.
“Sandi!” teriak Pak Kades panik.
Sandi tersenyum lemah sebelum akhirnya roboh.
RUMAH SAKIT — PAGI
Sandi terbaring dengan perban di lengan dan dada.
Mr. Kim berdiri di samping ranjang.
“Kamu bisa pergi,” kata Mr. Kim. “Kami bisa tangani ini.”
Sandi membuka mata. “Kalau saya pergi… mereka akan datang lagi.”
Mr. Kim menatapnya lama. “Siapa kamu sebenarnya?”
Sandi tersenyum tipis. “Orang desa yang belajar… untuk tidak kalah.”
Di rumahnya , Tuan Nakata menerima sebuah paket.
Di dalamnya:
Katup udara lama—desain pertama Maya.
Dan secarik pesan:
“Aku sudah belajar menggigit. Sekarang giliranmu.”
Nakata menjatuhkan paket itu. Tangannya gemetar.
Sementara di Indonesia, Mbah Klowor menatap langit malam.
“Tenaga itu sudah bangun,” gumamnya. “Tapi setiap pamungkas… selalu menuntut harga.”
Hujan turun deras, menampar atap baja pabrik Nakata seperti ribuan jari yang menuntut.
Gerbang belakang terbuka paksa.
Lampu sorot menyala mendadak—lalu padam.
Maya bergerak paling depan. Mantelnya gelap, rambutnya terikat rapi. Di belakangnya, orang-orangnya menyebar cepat, profesional, tanpa teriakan.
“Server produksi di lantai dua,” bisiknya. “Tidak ada yang merusak jalur evakuasi. Kita bukan pembakar.”
Pintu kaca pecah. Alarm berbunyi—lalu mati.
Seseorang di ruang kontrol sudah lumpuh oleh override.
Maya melangkah masuk ke aula utama pabrik yang dulu menolaknya.
“Akhirnya,” gumamnya. “Kita bertemu lagi.”
Tuan Nakata berdiri di balik meja besar. Wajahnya menegang, namun ia masih berusaha tenang. Dua petugas keamanan terkapar di lantai—tidak tewas, hanya dilumpuhkan.
“Maya,” katanya pelan. “Kau datang jauh hanya untuk ini?”
Maya menatapnya lurus. “Untuk mengambil kembali apa yang kau curi.” “Dan untuk memastikan dunia tahu caramu berdiri.”
Nakata terkekeh. “Kau masih bicara soal keadilan?” “Dunia industri tidak mengenal kata itu.”
Maya melangkah mendekat. “Benar. Dunia ini mengenal akibat.”
Nakata meraih tongkat besi dari rak piala. “Kalau begitu, buktikan.”
Serangan pertama datang dari Nakata—kasar, penuh amarah.
Maya menghindar, memutar, menangkis dengan siku.
Mereka bertarung di antara mesin cetak, bayangan bergerak liar di bawah lampu darurat.
“Kau hancurkan hidupku!” teriak Maya. “Kau ambil ideku—masa depanku!”
Nakata menghantam balik. “Kau terlalu lemah untuk dunia ini!”
Maya menyambar, menjatuhkan Nakata ke meja kerja. Namun Nakata bangkit, menghantam rahang Maya. Darah menetes.
Maya tersenyum—pahit. “Aku lemah,” katanya terengah. “Karena aku masih manusia.”
Ia menyerang lagi, lebih cepat. Nakata terdesak—namun satu gerakan ceroboh membuka celah.
DUK!
Pukulan keras menghantam dada Maya. Ia terpental, jatuh keras ke lantai.
Nakata berdiri gemetar. “Sudah berakhir.”
Sirene polisi terdengar—semakin dekat.
Maya mencoba bangkit. Gagal. Napasnya berat.
Ia menatap Nakata. “Tidak,” bisiknya. “Ini… konsekuensi.”
Pintu gedung diremukkan. Polisi lokal masuk dengan senjata terarah.
“Maya Aoyama!” teriak komandan. “Anda ditahan atas tuduhan penyerangan, perusakan, dan sabotase industri!”
Maya mengangkat tangan perlahan.
Matanya tidak lagi menantang—hanya lelah.
Saat diborgol, ia menoleh terakhir kali ke Nakata. “Aku kalah malam ini,” katanya. “Tapi namamu… sudah tercatat.”
Nakata tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia tampak kecil.
RUMAH SAKIT — PAGI
Lampu ruang rawat redup.
Sandi terbaring pucat. Nafasnya dangkal.
Monitor berdetak tak stabil.
Dokter menghela napas. “Tekanan internalnya tinggi. Bukan luka fisik.” “Ini efek tenaga dalam yang dipaksa keluar.”
Amelia berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan Sandi. Air matanya jatuh satu-satu—tenang, tidak histeris.
“Bang,” bisiknya. “Aku di sini.”
Sandi membuka mata setengah. “Sakit?” tanyanya pelan—entah pada dirinya, entah pada Amelia.
Amelia tersenyum sambil menangis. “Kalau kamu sadar… berarti masih kuat.”
Dokter menambahkan, “Dia butuh istirahat total. Jika memaksa lagi… dampaknya bisa permanen.”
Amelia mengangguk. “Kami akan jaga.”
MALAM — RUANG RAWAT
Hujan turun lembut di luar jendela.
Amelia menyeka keringat di dahi Sandi, memijat pelan telapak tangannya seperti yang pernah diajarkan Mbah Klowor.
“Napas… pelan,” bisiknya. “Pulang… ke sunyi.”
Sandi meringis. Detak monitor perlahan membaik.
“Maaf,” katanya lirih. “Aku bikin kamu khawatir.”
Amelia menunduk, keningnya menyentuh tangan Sandi. “Aku tidak butuh kamu jadi pahlawan,” katanya. “Aku butuh kamu… pulang.”
Air mata Sandi jatuh.
Berita industri pecah. Nama Nakata disorot. Investigasi dibuka. Kontrak ditinjau ulang.
PT. Korean Industry menerima konfirmasi: pilot project FIFA disetujui—dengan model hybrid lokal.
Mr. Kim menatap laporan, lalu menoleh ke Park. “Perang tidak selalu dimenangkan oleh yang paling kejam.”
Di sel tahanan, Maya duduk sendirian. Cahaya lampu dingin.
Ia menutup mata. “Akhirnya… aku berhenti.”
Di desa, Mbah Klowor menatap arah rumah sakit. “Pamungkas sudah dibayar,” gumamnya. “Tinggal menunggu… apakah ia memilih pulih, atau pergi lebih jauh.”
Di ruang rawat, Amelia menggenggam tangan Sandi erat.
Dan untuk pertama kalinya sejak badai datang,
sunyi terasa aman.