Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Elena memalingkan wajahnya, berusaha melepaskan diri dari genggaman itu. “Tuan… tolong hentikan,” suaranya lirih, bergetar, nyaris putus asa. “Saya… tidak sanggup.”
Alexander menatapnya lekat-lekat, seolah mencoba membaca isi hatinya yang terdalam. Jemarinya masih menangkup pipi Elena, namun genggamannya mulai melonggar.
“Kau menangis,” ucap Alexander pelan. “Mengapa, Elena? Karena kau membenciku? Atau karena kau takut perasaanmu sendiri?”
Elena terisak, matanya berusaha menghindar. “Saya menangis… karena Anda tidak mengerti. Hidup saya… tidak sederhana. Ada hal-hal yang tidak bisa saya jelaskan.”
Alexander menyipitkan mata. “Hal-hal seperti… Leon?”
Tubuh Elena menegang, air matanya makin deras. “Tolong… jangan bawa anak saya lagi. Saya rela Anda menghina saya, memaksa saya, tapi jangan pernah kaitkan Leon ke dalam semua ini.”
Alexander menunduk, wajahnya semakin dekat, hingga Elena bisa merasakan hangat napasnya di wajahnya yang basah oleh air mata. “Dan justru karena itu aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Kau mati-matian melindunginya, seakan aku ini ancaman.”
“Kau memang ancaman, Tuan,” jawab Elena, kali ini dengan suara yang lebih keras meski bergetar. “Ancaman untuk hidup saya… dan untuk ketenangan anak saya!”
Alexander terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya, meninggalkan luka samar yang tidak ia mengerti. Sorot matanya meredup, namun hanya sesaat sebelum kembali mengeras.
“Aku tidak pernah berniat menyakiti anakmu,” ucapnya dingin, namun tegas. “Jika Leon memang… darah dagingku, maka aku justru ingin melindunginya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa mengambilnya dariku.”
Elena terkejut, napasnya tercekat. “Apa… yang Anda katakan?”
Alexander menyeringai tipis, matanya berkilat penuh tekad. “Aku tidak butuh pengakuanmu, Elena. Aku akan mencari kebenarannya sendiri. Dan saat aku mendapatkannya…” ia mendekat lagi, berbisik tajam di telinga Elena, “…tidak akan ada alasan bagimu untuk terus lari dariku.”
Elena menutup mata rapat-rapat, tubuhnya bergetar. Ia merasa seluruh pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit.
Alexander perlahan melepaskan wajahnya, namun tatapannya tetap mengunci Elena. “Ingat baik-baik, Elena… aku selalu mendapatkan apa yang menjadi milikku.”
Elena terisak pelan, terjebak dalam ketegangan yang mencekik. Ia tahu satu hal, rahasianya sudah berada di ambang terbongkar.
Begitu Alexander menjauh, Elena segera menunduk, kedua tangannya bergetar hebat di pangkuannya. Air matanya masih menetes tanpa bisa ia kendalikan. Hatinya mencengkeras kuat, ketakutan itu nyata, menusuk hingga ke sumsum tulang.
"Tidak… aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Tidak seorang pun boleh mengambil Leon dariku."
Alexander berdiri di hadapannya dengan tubuh tegak, sosoknya menjulang dan menekan. Sorot matanya tetap tajam, namun ada sesuatu yang berbeda, seperti pria itu sudah menetapkan keputusan dalam hatinya.
“Kenapa kau begitu gemetar, Elena?” suaranya dalam, menggelegar, membuat jantung Elena semakin kacau. “Apakah kau takut aku akan mengambil anakmu?”
Elena spontan mendongak, wajahnya penuh isak. “Tuan, tolong… jangan lakukan itu. Leon hanya punya saya. Dia… dia tidak bisa kehilangan saya. Saya mohon, jangan sentuh anak saya.”
Alexander mendengus, matanya menyipit. “Kau selalu menyingkirkan aku dari segala hal yang menyangkutnya. Apa karena kau yakin aku bukan siapa-siapa baginya? Atau… karena kau tahu aku memang memiliki hak atasnya?”
“Tidak!” Elena menggeleng kuat, air matanya jatuh semakin deras. “Leon adalah hidup saya! Segalanya untuk saya! Tidak ada orang lain yang bisa mengklaimnya, bahkan Anda sekalipun. Saya sudah berjuang mati-matian membesarkannya… tanpa bantuan siapa pun!”
Alexander menunduk sedikit, tatapannya menusuk. “Termasuk tanpa ayahnya?”
Kata-kata itu membuat Elena terdiam. Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia menggenggam erat-erat roknya, seolah hanya itu yang bisa menahannya tetap duduk di kursi.
Alexander memperhatikan setiap detail perubahan wajahnya, lalu tersenyum samar. “Lihat? Kau tidak bisa menjawab. Itu cukup bagiku.”
Elena tersentak, panik. “Tidak… bukan begitu. Anda salah, Tuan!”
Namun Alexander tidak bergeming. “Aku tidak salah, Elena. Kau hanya terus menunda kebenaran yang pada akhirnya akan menghampiriku. Dan ketika saat itu tiba…” Ia berhenti sejenak, menatapnya tajam. “…aku akan menuntut hakku.”
Elena merasa dadanya sesak, seolah ada beban besar menghimpitnya. Ia bangkit dengan tergesa, suara isaknya pecah. “Saya mohon… jangan lakukan itu. Leon tidak boleh tahu apa pun! Dia… dia masih kecil. Dia hanya butuh ketenangan, bukan perebutan, bukan tekanan!”
Alexander menatapnya lama, sebelum akhirnya melangkah mendekat, membuat Elena mundur satu langkah. “Kau salah, Elena. Justru karena dia masih kecil… dia harus tahu siapa dirinya sebenarnya. Dan aku akan pastikan itu terjadi.”
Elena terperanjat, punggungnya hampir menempel pada dinding. Rasa takutnya semakin menjadi-jadi. Ia sadar, Alexander bukan sekadar ancaman—pria itu adalah badai yang bisa merenggut Leon kapan saja.
Dalam hati, ia berteriak panik.
"Aku tidak boleh lengah. Apa pun yang terjadi, aku harus melindungi Leon… meskipun nyawa taruhannya."
***
Malam itu, apartemen Elena terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu ruang tamu hanya menyala redup, koper terbuka di atas ranjang, dan pakaian berceceran di sekitarnya. Tangannya gemetar saat memasukkan beberapa dokumen penting dan pakaian Leon ke dalam koper kecil. Sesekali ia menoleh ke pintu, seolah takut Alexander tiba-tiba muncul dan menggagalkan rencananya.
“Ma, kita mau pergi?” suara lembut Leon terdengar dari ambang pintu.
Elena tersentak, buru-buru memaksa senyum. “Iya, Sayang. Mama pikir... kita butuh liburan sebentar.”
Leon mendekat, duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan gerakan Mamanya. Matanya yang jernih menyorot penuh rasa ingin tahu, tapi di balik kepolosan itu tersimpan rahasia besar. Dia tahu benar kenapa Mamanya ingin kabur, dan dia tahu satu-satunya orang yang membuat Elena ketakutan bukanlah orang biasa, melainkan ayahnya sendiri.
“Kenapa harus malam-malam, Ma?” Leon memiringkan kepala, pura-pura bingung seperti anak kecil yang tak mengerti apa-apa.
Elena terdiam, menggenggam tangan mungil itu erat. “Karena... lebih tenang. Kita bisa pergi tanpa ada yang tahu.” Suaranya lirih, matanya berkaca-kaca.
Leon menatap Mamanya, lalu tersenyum kecil. “Kalau Mama tenang, aku juga tenang.”
Elena hampir menangis mendengar kalimat itu. Ia menarik putranya ke pelukan, memeluk erat seakan ingin melindunginya dari seluruh dunia.
Yang tidak Elena tahu, Leon sudah merencanakan sesuatu jauh sebelum malam ini. Ia tahu Alexander Thorne tidak akan membiarkan Elena kabur begitu saja. Dan sebagai sosok yang diam-diam paling dicari dunia karena ciptaannya, Leon telah menyusun jalannya sendiri. Bahkan, tanpa sepengetahuan Elena, ia sudah menanamkan sistem keamanan dalam perusahaan Alexander, ayahnya sendiri.
“Ma,” ucap Leon pelan, masih dalam pelukan. “Kalau Mama capek lari terus, gimana kalau kita berhenti?”
Elena menoleh, menatap mata putranya. “Berhenti? Maksud kamu?”
Leon tersenyum samar, kepolosan khas anak lima tahun masih menempel di wajahnya. “Mungkin Mama tidak harus kabur selamanya. Mungkin... ada cara lain.”
Elena mengernyit bingung. “Kamu bicara apa, Sayang?”
Leon hanya menggeleng pelan, berpura-pura menguap. “Aku ngantuk, Ma. Kita pergi besok saja ya...”
Elena menatap putranya lama, tapi akhirnya mengangguk. Ia membaringkan Leon ke tempat tidur, menyelimuti tubuh mungilnya, lalu mengecup keningnya dengan lembut.
Saat Elena meninggalkan kamar, Leon membuka matanya kembali. Wajahnya tidak lagi seperti anak kecil polos, melainkan penuh perhitungan. Ia menoleh pada laptop mungil di samping tempat tidurnya yang sudah disembunyikan di balik selimut. Jemarinya yang kecil mulai mengetik.
**
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya