"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Matahari pagi menembus celah gorden apartemen Kirana yang minimalis, membawa kehangatan yang terasa berbeda dari biasanya. Kirana terbangun dengan senyum tipis yang jarang sekali menghiasi wajahnya di pagi hari.
Biasanya, pikirannya langsung dipenuhi oleh jadwal rapat, target penjualan, dan konflik kantor. Namun pagi ini, sentuhan kening dari Arka semalam seolah masih membekas di sana, menciptakan rasa aman yang asing namun sekaligus menjadi candu yang berbahaya.
Bagi seorang wanita yang menghabiskan bertahun-tahun membangun benteng besi di sekeliling hatinya untuk melindungi diri dari kekecewaan, perasaan ini seperti air yang tiba-tiba mengalir di tengah padang gurun yang gersang. Kirana merasa, mungkin pertahanannya selama ini terlalu melelahkan, dan mungkin - hanya mungkin - Arka adalah alasan baginya untuk berhenti berperang.
Namun, di belahan kota yang lain, di atas ketinggian sebuah penthouse mewah, suasana sangat kontras dengan ketenangan pagi Kirana.
Aroma cerutu mahal dan sisa wiski dari pertemuan semalam masih tertinggal di udara. Arka berdiri di balkon, hanya mengenakan jubah mandi sutra hitam yang longgar. Rambutnya sedikit berantakan, namun matanya yang tajam menatap pemandangan kota di bawahnya dengan tatapan seorang predator yang sedang memetakan wilayah perburuannya.
Pintu balkon terbuka dengan kasar, dan Dion masuk tanpa mengetuk. Di tangannya, ia membawa sebuah tablet yang menampilkan grafik taruhan mereka yang semakin mendekati tenggat waktu.
"Kau benar-benar gila, Arka," ujar Dion sambil menuangkan kopi hitam ke dalam cangkir porselen. "Ayahmu meneleponku pagi-pagi sekali. Dia bertanya dengan nada yang sangat tidak ramah, apakah kau benar-benar bisa mendapatkan daftar vendor rahasia Kencana Jewelry atau kau hanya sibuk bermain cinta-cintaan dengan manajer itu."
Arka berbalik perlahan, senyumnya dingin dan tak tersentuh emosi. "Katakan pada Ayah, bisnis butuh presisi, bukan sekadar emosi mentah. Jika aku memaksanya menyerahkan data itu semalam di ruang VIP, dia akan lari ketakutan. Kirana itu seperti kuda liar, kau tidak bisa langsung menjerat lehernya. Kau harus membuatnya merasa bahwa kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa ia percayai."
Arka berjalan menuju mejanya, menyesap kopinya sedikit. "Sekarang? Dia sedang berada di tahap 'penyerahan diri secara emosional'. Dia merasa aku melindunginya dari Ayah. Sebentar lagi, tanpa perlu diminta dua kali, dia sendiri yang akan membukakan brankas informasi itu untukku sebagai bukti cintanya."
Dion menggelengkan kepala, merasa ngeri dengan betapa terhitungnya setiap langkah Arka. "Tapi waktumu tidak banyak, Arka. Taruhan kita tinggal sisa dua bulan lebih sedikit. Apa strategi 'kebetulan' berikutnya yang sudah kau siapkan?"
Arka mengambil sebuah map biru dari laci mejanya. Di dalamnya terdapat laporan lengkap intelijen pribadinya tentang kehidupan Kirana. "Kirana adalah wanita yang sangat teratur. Hidupnya adalah sekumpulan rutinitas yang mudah dipetakan. Setiap Sabtu pagi, dia lari pagi di taman kompleks apartemennya. Setiap Selasa sore, dia mengunjungi toko buku tua di Menteng. Dan yang paling penting... setiap Jumat malam, dia selalu mengunjungi sebuah panti asuhan di pinggiran Jakarta untuk memberikan donasi secara pribadi."
"Panti asuhan?" Dion mengernyit, seolah kata itu tidak cocok dengan citra Kirana. "Si 'Ratu Es' itu punya sisi lembut?"
"Semua orang punya kelemahan, Dion. Dan panti asuhan itu adalah pusat dari kelemahannya. Maka, tempat itu akan menjadi panggung sandiwaraku yang paling meyakinkan."
Jumat malam tiba dengan cuaca yang tidak bersahabat. Jakarta diguyur hujan gerimis yang awet, menciptakan suasana melankolis di sepanjang jalanan yang macet. Kirana, yang baru saja menyelesaikan tumpukan pekerjaan kantor yang melelahkan, langsung memacu mobilnya menuju Panti Asuhan Kasih Bunda.
Baginya, bangunan tua berlantai dua ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa melepas topeng 'Manajer Tangguh' dan kembali menjadi Kirana yang biasa, seorang gadis yang merindukan kasih sayang keluarga.
Namun, saat mobilnya memasuki halaman panti yang becek, ia tertegun. Sebuah mobil mewah yang sangat ia kenali, Bentley hitam milik Arka sudah terparkir di sana, tampak sangat kontras dengan lingkungan panti yang sederhana.
"Arka?" gumam Kirana dengan kerutan di dahi. Jantungnya mulai berdegup tidak menentu.
Ia melangkah masuk ke dalam bangunan panti. Suara tawa anak-anak terdengar dari ruang tengah yang beralaskan karpet tipis yang sudah agak pudar warnanya. Di sana, di bawah cahaya lampu neon yang sedikit berkedip, Kirana melihat pemandangan yang meruntuhkan segala logikanya.
Arka Mahendra, pewaris tunggal kerajaan bisnis yang kejam, sedang duduk bersila di lantai. Ia dikerumuni oleh belasan anak-anak kecil. Arka tidak mengenakan jas mahalnya, ia hanya memakai kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia tampak sedang membacakan sebuah buku cerita dengan ekspresi yang begitu hangat dan penuh kasih.
"Lalu, sang pangeran pun berkata pada rakyatnya," suara Arka terdengar lembut, jauh dari nada otoritas atau nada menggoda yang biasa ia gunakan. "Bahwa harta yang paling berharga di dunia ini bukanlah emas atau permata, melainkan kebaikan hati yang kita berikan pada sesama."
Kirana terpaku di ambang pintu, tangannya mencengkeram tas kulitnya. Melihat pria yang ia anggap sombong dan hanya peduli pada uang kini bersenda gurau dengan anak-anak yatim piatu, seolah-olah dia adalah bagian dari mereka, benar-benar meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanannya. Ia merasa telah salah menilai Arka selama ini.
Arka mendongak, seolah-olah ia baru menyadari kehadiran Kirana di sana. Ia menampakkan ekspresi terkejut yang sangat natural. "Kirana? Sedang apa kau di sini?"
"Saya... saya rutin ke sini setiap Jumat malam untuk membantu administrasi panti," jawab Kirana dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi yang campur aduk. "Harusnya saya yang bertanya, kenapa Anda bisa berada di tempat terpencil seperti ini?"
Arka berdiri perlahan, menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu. Ia tersenyum malu-malu, sebuah ekspresi yang sebenarnya telah ia latih berkali-kali di depan cermin untuk memberikan kesan 'pria baik yang rendah hati'.
"Aku tidak ingin orang-orang di luar sana tahu, terutama kolega bisnisku. Mahendra Group punya reputasi yang sangat keras dan tanpa ampun. Tapi, aku punya janji pribadi pada mendiang ibuku untuk selalu membantu tempat ini. Aku sering ke sini diam-diam, hanya untuk memberikan donasi kecil dan membacakan cerita. Ini adalah caraku untuk tetap merasa... manusiawi."
Ibu panti, Bu Lastri, menghampiri mereka dengan senyum lebar. "Ah, Nak Kirana! Nak Arka ini sungguh malaikat bagi kami. Dia baru saja mendonasikan perpustakaan kecil dan laptop untuk anak-anak belajar. Kalian berdua rupanya saling mengenal?"
Kirana menatap Arka dengan tatapan yang kini penuh dengan kekaguman, rasa haru, dan rasa bersalah yang mendalam karena sempat menganggapnya sebagai pria tanpa perasaan. "Iya, Bu. Kami... kami sedang mengerjakan sebuah proyek bersama."
"Dunia ini benar-benar sempit, ya," ujar Arka, menatap Kirana dengan tatapan yang seolah mengunci jiwanya. "Ternyata kita memiliki tempat perlindungan yang sama dari kerasnya Jakarta."
Malam itu, setelah anak-anak tidur, Arka dan Kirana duduk di bangku kayu di teras panti. Mereka hanya ditemani oleh suara sisa hujan yang menetes dari atap dan dua gelas teh hangat yang mengepul.
"Kenapa Anda tidak pernah bercerita soal sisi ini?" tanya Kirana pelan.
Arka menunduk, memainkan gelas tehnya dengan jari-jari panjangnya. "Kebaikan bukan untuk dipamerkan, Kirana. Terutama di duniaku. Jika orang tahu kau punya sisi lembut, mereka akan menganggap itu sebagai celah untuk menyerangmu. Ayahku... dia sangat tidak suka jika tahu aku menghabiskan waktu di tempat seperti ini. Baginya, ini adalah pemborosan waktu."
Kirana merasa ada ikatan batin yang semakin kuat dan tak kasat mata di antara mereka. Ia merasa mereka memiliki nasib yang sama, dua jiwa yang dipaksa menjadi keras oleh lingkungan, namun memiliki hati yang sensitif yang hanya bisa dibuka di tempat tertentu.
"Aku sangat mengerti perasaan itu," ucap Kirana lirih. "Aku juga sering merasa harus memakai topeng baja setiap kali melangkah masuk ke kantor Kencana Jewelry."
Arka mengulurkan tangannya, meletakkannya di atas tangan Kirana. Kali ini, Kirana tidak hanya membiarkannya, tapi ia membalas genggaman itu dengan erat, seolah-olah ia baru saja menemukan pegangan di tengah badai.
"Mungkin," bisik Arka, wajahnya mendekat ke wajah Kirana hingga mereka bisa merasakan napas masing-masing. "Kita tidak perlu memakai topeng apa pun saat kita sedang berdua."
Keesokan harinya, strategi 'kebetulan' yang dirancang Arka terus berlanjut dengan ketepatan militer.
Selasa sore, Kirana sedang berada di sebuah toko buku tua yang tersembunyi di gang-gang Menteng. Ia sedang mencari referensi desain klasik Renaisans untuk koleksi perhiasan barunya. Saat ia sedang berjinjit untuk menjangkau sebuah buku kuno di rak yang paling tinggi, sebuah tangan besar muncul di sampingnya dan dengan mudah mengambilkan buku tersebut.
"Buku yang bagus. Desain Renaisans selalu punya cara untuk memukau kita dengan detailnya yang abadi," suara itu sangat akrab di telinga Kirana.
Kirana berbalik dan tertawa kecil, rasa terkejutnya kini berubah menjadi kegembiraan. "Arka? Jangan bilang ini kebetulan lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam minggu ini."
Arka terkekeh, mengangkat bahunya dengan gaya yang sangat santai dan tidak berdosa. "Aku sering ke sini jika sedang penat mencari inspirasi arsitektur hotel. Sepertinya selera kita benar-benar selaras secara alami, Kirana. Mungkin... ini yang dinamakan takdir yang sedang bekerja?"
Sepanjang akhir pekan itu, Arka seolah-olah ada di mana-mana dalam hidup Kirana. Di taman tempat Kirana lari pagi, ia melihat Arka sedang melakukan jogging dengan anjing pelacaknya. Di kafe tempat Kirana biasa membeli kopi tanpa gula, Arka sudah duduk di sana dengan buku di tangannya. Bahkan saat Kirana terjebak macet di Sudirman, mobil Arka berada tepat di sampingnya, memberikan lambaian tangan yang hangat dan senyum yang menenangkan.
Semua itu tampak sangat alami bagi Kirana. Ia mulai merasa bahwa semesta memang sedang berusaha menyatukan mereka berdua. Ia tidak pernah tahu bahwa setiap 'kebetulan' itu adalah hasil kerja keras tim intelijen pribadi Arka yang memantau sinyal GPS ponselnya dan menyuap asistennya untuk mendapatkan jadwal lengkapnya.
Minggu malam, Arka mengundang Kirana ke sebuah makan malam pribadi di unit penthouse-nya. Namun, Arka tidak memesan katering mewah. Ia memilih untuk memasak sendiri untuk Kirana.
"Aku tidak pernah menyangka seorang Arka Mahendra bisa memegang pisau dapur dengan benar," ujar Kirana sambil tertawa, menatap hidangan pasta aglio olio yang tersaji dengan sangat cantik di atas meja yang diterangi lilin.
"Ini hanya hobi kecil saat aku sedang sangat stres dengan tuntutan Ayah," jawab Arka sambil menuangkan anggur merah ke dalam gelas kristal Kirana.
Suasana malam itu sangat intim. Cahaya lilin yang berpendar di wajah Kirana membuatnya tampak sangat cantik dan tenang, jauh dari citra wanita kantoran yang kaku. Arka tahu, ini adalah saat yang tepat untuk melakukan langkah penentuan.
"Kirana," Arka memulai, suaranya terdengar sangat dalam dan serius. "Aku tahu kita baru mengenal secara pribadi dalam waktu yang sangat singkat. Tapi aku merasa seolah-olah aku sudah mengenal jiwamu sejak lama. Aku tidak ingin hubungan ini hanya berakhir sebagai rekan bisnis atau sebatas proyek hotel di Bali."
Kirana menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang menanti kalimat selanjutnya.
"Aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku yang sebenarnya," Arka berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Kirana, dan perlahan berlutut di samping kursinya. Ia mengambil sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dari saku celananya. Ia membukanya, namun di dalamnya bukan berisi cincin, melainkan sebuah kalung emas putih dengan liontin batu safir kecil yang berkilau indah.
"Ini bukan lamaran, aku tidak ingin menakutimu atau membuatmu merasa tertekan," Arka tersenyum sangat lembut, menatap langsung ke mata Kirana yang mulai berkaca-kaca. "Ini adalah simbol bahwa aku ingin menjagamu. Aku ingin menjadi tempatmu pulang saat dunia luar terasa terlalu kejam bagi kita berdua."
Air mata mulai menggenang di sudut mata Kirana. Belum pernah ada pria yang bicara dengan penuh ketulusan - atau setidaknya yang tampak setulus itu - padanya. Arka tidak meminta apa pun darinya. Arka justru menawarkan dirinya sebagai pelindung.
"Arka... aku... aku tidak tahu harus berkata apa..."
"Ssst," Arka meletakkan jari telunjuknya dengan lembut di bibir Kirana, membungkam kata-katanya. "Jangan jawab sekarang dengan kata-kata. Pakai saja kalung ini. Biarkan aku membuktikan bahwa aku serius dengan setiap kata yang kuucapkan."
Arka berdiri dan dengan lembut memasangkan kalung itu di leher Kirana. Tangannya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Kirana yang hangat, mengirimkan sensasi elektrik yang membuat Kirana merasa sepenuhnya telah menjadi milik pria ini.
Di bawah cahaya lilin, Kirana merasa ia baru saja menemukan pangeran sejatinya di tengah hutan beton Jakarta yang dingin. Malam itu, Kirana menyerahkan sisa-sisa hatinya yang paling dalam kepada Arka.
Setelah Kirana pulang dengan perasaan berbunga-bunga, Arka duduk di sofa kulitnya, menyesap sisa anggur merah dengan ekspresi yang seketika berubah menjadi datar dan hampa. Pintu apartemen terbuka, dan Dion masuk dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang tak tertahankan.
"Bagaimana, Aktor Utama kita? Kalungnya diterima?"
Arka mengangkat gelas kristalnya ke arah Dion, sebuah seringai kemenangan muncul di bibirnya. "Dia menangis, Dion. Dia menangis karena terharu dengan cerita panti asuhan dan kalung safir ini."
"Wow. Kau benar-benar layak mendapatkan Oscar," Dion tertawa sinis sambil duduk di sofa depan Arka. "Jadi, kapan kau akan mulai menagih 'biaya perlindungan' ini? Kapan kau akan menanyakan soal daftar vendor rahasia itu?"
Arka menatap kalender digital di dinding dengan mata yang dingin. "Besok. Besok adalah hari di mana kami akan menandatangani draf final proyek Bali di kantornya. Dia sedang berada di puncak emosinya sekarang. Dia akan memberikan apa pun untuk menunjukkan bahwa dia mempercayaiku sebesar aku 'mempercayainya'. Besok, rahasia Kencana Jewelry akan ada di tanganku."
Arka mematikan lampu apartemennya, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari balik jendela besar. Di dalam kegelapan itu, wajah asli sang pemburu muncul kembali, tanpa topeng, tanpa rasa iba.
Sementara itu, di apartemennya sendiri, Kirana sedang memandangi kalung safir itu di depan cermin dengan mata penuh cinta, tidak menyadari bahwa perhiasan indah di lehernya itu sebenarnya adalah rantai tak kasat mata yang akan menyeretnya menuju kehancuran paling menyakitkan yang pernah ia bayangkan.
...----------------...
**Next Episode**....