Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
[Dalam beberapa kesempatan, tangan dan kakiku patah dan aku hampir dihabisi oleh Langgeng Sakti, semuanya berkat dia.]
[Pernah sekali aku memujinya langsung karena dia sangat imut, eh dia malah tersenyum manis dan bilang mau memotong "burungku" sebagai tanda terima kasih atas pujian itu.]
[Aku takut setengah mati sampai pulang-pulang langsung merebus beberapa ekor ular dan menyembah arwah leluhur klan ular selama tiga hari tiga malam.]
[Sial, lebih baik aku pura-pura tidak kenal saja kalau ketemu dia nanti.]
[Bukan cuma karena dia pendekar siluman tingkat Dewa yang sakti, tapi dia itu benar-benar wanita yang kejam.]
[Bukan, dia itu wanita yang mematikan.]
“Hah?!!!”
Pupil emas Nyai Geni Tirta tiba-tiba menyempit tajam. Tekanan batin yang luar biasa kuat meledak dari tubuhnya. Tekanan itu menembus keluar dari Cincin Pusaka dan menyelimuti radius beberapa mil.
Aura itu membuat semua makhluk hidup bergidik ngeri hingga ke sukma terdalam dan bersujud lemas ke tanah. Langgeng Sakti terperanjat hebat.
“Guru... Guru...?”
“DIAM KAMU-!!!”
Raungan panjang, serak, dan penuh amarah meledak dari dalam dimensi cincin. Suara itu bercampur dengan tenaga dalam dan energi siluman yang dahsyat, menyebabkan makhluk hidup di sekitarnya pingsan atau mati seketika.
Guru... kenapa tiba-tiba mengamuk? Jantung Langgeng seolah mau copot. Dia menahan napas, tidak berani bertanya lagi. Gurunya memang tidak bisa ditebak dan sangat temperamental. Salah bicara sedikit saja, urusannya bisa panjang.
Ketika aura mengerikan itu memudar, Langgeng memberanikan diri berbisik.
“Guru... Guru?”
Suara wanita yang dingin dan kejam terdengar di kepalanya.
[Segera masuk ke markas! Habisi Wisesa!]
“Tapi masih ada gerombolan siluman... yang jaga pintu gua.”
Belum sempat Langgeng menyelesaikan kalimatnya, dia melongo melihat pemandangan di depan mata. Kelompok siluman lipan raksasa yang tadi berjaga di mulut gua, sekarang semuanya sudah mati kaku bergelimpangan di tanah!
Luar biasa! Guru pasti sudah menyiapkan rencana matang untukku. Beliau sengaja mengeluarkan tekanan batin tadi untuk menghabisi semua kroco-koco ini. Dengan begitu, aku bisa langsung berduel satu lawan satu dengan Wisesa!
Kekaguman Langgeng Sakti terhadap Nyai Geni Tirta semakin berlipat ganda. Dia tidak ragu lagi dan segera melesat keluar dari celah batu, menuju langsung ke dalam gua markas siluman.
[Ding! Selamat, penulisan buku harian berhasil.]
[Wibawa +1]
[Pesona Wajah +1]
[Hadiah diperoleh: Ajian Panglimunan Ruang Hampa (Ilmu Kanuragan)]
[Deskripsi Hadiah: Saat menghilang, Tuan adalah Dewa. Dapat menyembunyikan raga di dalam ruang hampa sehingga tidak terdeteksi oleh indra apa pun.]
[Catatan: Selama ajian aktif, tenaga dalam akan terus terkuras. Otomatis berhenti jika tenaga dalam habis.]
Cahaya misterius tak berwarna menyatu ke dalam tubuh Jaka Utama.
“Ajian Panglimunan?”
“Kedengarannya mantap sekali.”
Jaka mencoba mengaktifkan kekuatannya. Sesaat kemudian, seluruh tubuhnya menjadi sunyi, berubah transparan, dan menyatu dengan udara. Rasanya seolah-olah dia benar-benar lenyap dari dunia.
“Gila! Ini cara terbaik buat kabur atau sembunyi!”
“Bisa juga buat menyelinap di belakang musuh dan main curang, hehe.”
Jaka tersenyum licik. Ajian ini bukan cuma buat lari, tapi buat ngerjain musuh juga oke. Meskipun dia penjahat yang jarang pakai kekuatan, hadiah-hadiah dari buku harian ini bisa dia bawa kembali ke dunia nyata nanti bersama karakter pilihannya.
Dia mengingat lagi koleksi kekuatannya:
[Ajian Kebal Pukulan]: Tahan 50% kerusakan.
[Raga Manusia Baja]: Membalikkan 100% serangan ke musuh.
[Pinggang Dewa]: Kekuatan fisik pinggang luar biasa.
[Raga Penawar Segala Racun]: Bisa bikin Pil Ledakan Racun.
[Ajian Panglimunan]: Menghilang di ruang hampa.
“Pertahanan, serangan, dan dukungan... semuanya sudah punya.”
Jaka mengetes kekuatannya. Ternyata 1 menit menghilang menguras sekitar 1% tenaga dalamnya. Artinya, dia bisa menghilang sekitar 1,5 jam nonstop.
“Pas banget. Mumpung aku mau jalan-jalan, sistem kasih ilmu menghilang. Eh, gimana kalau aku pergi nonton Langgeng Sakti balas dendam? Pasti seru.”
Jaka punya ide baru. Dia penasaran ingin melihat proses pertempuran Langgeng secara langsung. Kedua, dia ingin tahu: jika Naningsih dan Ratna Menur saja sudah melenceng sifatnya, apakah si Nyai Geni Tirta juga bakal berubah?
Instingku bilang... heroine ketiga ini juga bakal melintir sifatnya! Harus kupantau!
Jaka memutuskan menuju Lembah Sunyi. Tepat saat akan keluar kamar, terdengar suara erangan melengking yang tajam dari kamar Naningsih. Panjang dan tidak berhenti.
“Ooh, aku hampir lupa soal perawan tua ini. Harus kulihat tidak ya? Ah, paling cuma gitu-gitu saja. Tapi kalau ketahuan, aku tamat.”
Jaka berdiri di depan pintu kamar Naningsih, bimbang.
“Yah... aku ini pemimpin padepokan, dia asisten pribadiku. Wajar dong kalau aku peduli pas dia lagi sakit? Apalagi kalau sifatnya berubah gara-gara racun itu, bisa berantakan naskahku. Dan dengan ilmu menghilang ini, dia yang tingkat 'Penyatuan Asal' pun tidak akan bisa merasakanku.”
Jaka mengaktifkan Ajian Panglimunan. Tubuhnya transparan. Dia membuka pintu pelan-pelan dan masuk.
“Hampir saja terpeleset!” Jaka kaget. Lantainya tertutup lendir transparan yang mulai mengering—hasil sisa Racun Tirta yang merembes dari tubuh Naningsih.
Jaka bergerak hati-hati menuju ruang mandi. Saat mendekati penyekat, dia mencium aroma bunga yang sangat memabukkan dan mendengar suara kecipak air yang kencang, seolah ada yang sedang bergerak liar di dalam air.
Jaka menyelinap ke balik penyekat dan mengintip perlahan.
Hiss! Dia masih seganas biasanya!