NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng di atas jamuan makan malam

Malam itu, kediaman utama keluarga Vance tampak seperti mercusuar kemewahan di tengah kota. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit aula utama memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, memantul di atas lantai marmer yang dipoles hingga menyerupai cermin. Ratusan botol wine terbaik disiapkan, dan aroma hidangan kelas atas memenuhi udara. Namun, bagi Alana, keindahan itu terasa seperti dekorasi sebuah pemakaman yang sangat mahal.

Di depan cermin besar di kamar ganti, Alana menatap bayangannya sendiri. Ia mengenakan gaun sutra berwarna putih tulang yang memeluk tubuhnya dengan elegan, memberikan kesan berkelas tanpa terlihat berlebihan. Namun, fokus perhatian siapa pun yang melihatnya pasti akan tertuju pada rambutnya. Rambut panjang bergelombang berwarna pink lembut—warna yang sebenarnya sangat langka dan cantik, namun di mata suaminya, itu adalah sebuah aib.

Pintu kamar terbuka dengan sentakan kasar. Melalui cermin, Alana melihat Brixton masuk. Pria itu sudah mengenakan setelan jas hitam custom-made yang membuatnya tampak sangat tampan, sekaligus sangat mengintimidasi. Wajahnya yang pucat karena demam kemarin kini sudah kembali segar, namun sorot matanya tetap sama: dingin dan penuh penghakiman.

Brixton berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Alana. Ia tidak menatap mata Alana melalui cermin, melainkan menatap rambut Alana dengan ekspresi seolah ia sedang melihat sesuatu yang busuk.

"Kau benar-benar akan turun dengan penampilan seperti itu?" suara Brixton rendah, bergetar karena rasa muak.

Alana menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Apa ada yang salah dengan penampilanku, Brixton?"

"Semuanya," desisnya. Brixton meraih sejumput rambut pink Alana dengan ujung jarinya, lalu menjatuhkannya kembali seolah tangannya baru saja menyentuh kotoran. "Warna rambut ini... sangat aneh. Menjijikkan. Kau terlihat seperti hewan eksotis yang salah tempat. Apa kau sedang mencoba menarik perhatian dengan gaya murahan seperti ini di depan kolega ayahku?"

Alana memejamkan mata sesaat, merasakan perih yang familiar di dadanya. "Ini warna rambut asliku, Brixton. Aku tidak mencoba menarik perhatian siapa pun."

"Dan matamu..." Brixton mencengkeram dagu Alana, memaksanya untuk menatapnya. Ia menatap lekat-lekat netra berwarna hijau zamrud milik Alana. "Warna hijau ini... entah seperti apa. Tidak alami. Terlihat menyeramkan, seperti mata predator yang sedang mengincar harta keluargaku. Kau benar-benar kombinasi kegagalan genetik yang dipaksakan masuk ke dalam keluargaku."

Ia melepaskan dagu Alana dengan sentakan yang membuat kepala wanita itu tertoleh. "Ingat, di bawah sana, kau harus tutup mulut. Tersenyumlah seolah kau adalah wanita paling beruntung di dunia karena bisa menyandang nama Vance. Jika kau mempermalukanku sedikit saja, kau akan tahu konsekuensinya."

"Aku tahu peranku, Brixton," sahut Alana pelan, suaranya hampir hilang di antara kemewahan ruangan itu.

Mereka turun bersama, berjalan beriringan menuruni tangga besar. Tangan Brixton melingkar di pinggang Alana—sebuah sentuhan yang tampak protektif dan penuh kasih bagi para tamu di bawah, namun bagi Alana, jari-jari pria itu mencengkeram pinggangnya dengan sangat kuat, hampir menyakitkan, seolah ia sedang menahan seekor binatang agar tidak melarikan diri.

Begitu mereka menginjakkan kaki di lantai aula, suara riuh rendah percakapan terhenti sejenak. Semua mata tertuju pada pasangan itu.

"Ah, ini dia pasangan emas kita!" seru Julian Hilliard, sahabat Brixton, yang sedang berdiri bersama sekelompok pria bersetelan mahal.

Mereka segera dikerumuni. Julian menatap Alana dengan binar kekaguman yang jujur. "Brixton, kau benar-benar menyembunyikan permata paling berharga di rumahmu. Alana, kau tampak luar biasa malam ini. Rambutmu... aku belum pernah melihat warna seindah itu. Seperti bunga sakura di musim semi."

"Benar sekali," timpal teman Brixton yang lain, seorang pengusaha muda bernama Marcus. "Dan matamu, Alana. Hijau itu sangat langka. Kau terlihat seperti bangsawan dari negeri dongeng. Brixton, kau benar-benar pria paling beruntung di ruangan ini."

Brixton memamerkan senyum palsunya yang paling sempurna—senyum yang selalu ia gunakan untuk menipu dunia. Ia menarik Alana lebih dekat ke tubuhnya, mengecup pelipis wanita itu dengan lembut di depan semua orang.

"Tentu saja," suara Brixton terdengar hangat, penuh kebanggaan yang dibuat-buat. "Alana selalu tahu cara memukau semua orang. Dia adalah pusat duniaku sekarang."

Mendengar kata-kata itu, Alana merasa ingin berteriak. Kehangatan suara Brixton adalah kebohongan paling kejam yang pernah ia dengar. Di balik senyum menawan itu, Brixton berbisik di dekat telinganya—suara yang hanya bisa didengar oleh Alana sendiri.

"Dengar itu? Mereka hanya bersikap sopan karena mereka kasihan padaku harus menikah dengan makhluk sepertimu. Jangan biarkan pujian mereka membuatmu besar kepala, pinky."

Alana tetap diam, memaksakan sebuah senyum tipis di wajahnya yang kaku. Ia terus berdiri di sana, menjadi aksesori cantik bagi Brixton, mendengarkan pria itu tertawa dan berbincang seolah mereka adalah pasangan paling bahagia sedunia.

Makan malam dimulai. Mereka duduk di meja panjang yang dipenuhi lilin-lilin perak. Elara Vance, ibu Brixton, duduk di ujung meja dengan tatapan tajam yang mengawasi setiap gerak-gerik menantunya.

"Alana, sayang," suara Elara memotong percakapan meja. "Kudengar kau merawat Brixton saat ia demam kemarin. Sungguh istri yang berbakti."

Brixton memegang tangan Alana di atas meja, mengelusnya dengan ibu jari seolah itu adalah gestur kasih sayang yang spontan. "Dia sangat luar biasa, Ibu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku tanpa dia di sisiku."

Namun di bawah meja, tangan Brixton yang bebas meremas paha Alana dengan sangat keras hingga wanita itu hampir menjerit. Mata Brixton menatap ibunya dengan binar penuh cinta, namun kakinya di bawah meja menendang kaki Alana dengan sengaja setiap kali wanita itu hendak membuka mulut untuk berbicara.

Sepanjang makan malam, Alana merasa seperti sedang berjalan di atas ranjau. Ia melihat bagaimana teman-teman Brixton terus memberikan tatapan memuja padanya, memuji kecantikannya yang unik, sementara pria di sampingnya terus melontarkan hinaan-hinaan halus yang disamarkan sebagai candaan suami-istri.

"Alana memang sedikit... unik," ucap Brixton sambil tertawa ringan menanggapi pujian Marcus tentang warna matanya. "Terkadang aku merasa seperti menikahi seekor kucing liar dari hutan. Susah dijinakkan dan matanya... yah, kalian lihat sendiri, terkadang terlihat menakutkan jika kau menatapnya terlalu lama."

Para tamu tertawa, menganggap itu sebagai godaan mesra. Hanya Alana yang merasakan racun di balik kata-kata itu. Baginya, setiap tawa di ruangan itu terdengar seperti ejekan.

Setelah makan malam selesai, saat para tamu mulai berpencar ke area taman dan bar, Brixton segera menarik Alana menuju koridor yang sepi di dekat perpustakaan. Begitu mereka tersembunyi dari pandangan orang, ia melepaskan tangan Alana dengan kasar hingga wanita itu terhuyung menabrak dinding.

"Selesai sudah sandiwaranya," desis Brixton. Ia melonggarkan dasinya, napasnya memburu karena menahan kemarahan sepanjang malam. "Kau lihat betapa memuakkannya mereka? Memujimu seolah kau adalah dewi? Mereka tidak tahu betapa menjijikkannya kau saat kau memohon agar tidak kutinggalkan semalam."

"Mereka tulus memujiku, Brixton! Kenapa kau tidak bisa menerima bahwa mungkin... hanya mungkin, aku tidak seburuk yang kau pikirkan?" Alana berteriak pelan, air mata mulai menggenang di matanya yang hijau.

"Karena aku tahu kebenarannya!" Brixton melangkah maju, memukul dinding di samping kepala Alana. "Aku tahu kau menggunakan kecantikan anehmu itu untuk memanipulasi mereka, sama seperti kau memanipulasi ibuku. Warna rambut sialan ini, mata mengerikan ini... semuanya hanyalah jebakan agar orang tidak melihat betapa busuknya hatimu karena telah menghancurkan hidupku!"

"Aku tidak pernah menghancurkan hidupmu!" Alana membalas, suaranya pecah. "Aku juga menderita di sini! Aku harus menahan hinaanmu setiap hari, aku harus berpura-pura bahagia di depan orang-orang yang menganggap kita sempurna, sementara aku tahu suamiku sendiri menganggapku lebih rendah dari binatang!"

Brixton terdiam sejenak, menatap Alana yang kini menangis tersedu-sedu. Untuk sesaat, ia melihat kerentanan di mata hijau itu—kerentanan yang sama yang ia rasakan semalam saat ia meracau dalam demamnya. Namun, ia dengan cepat membuang perasaan itu.

"Menangislah sepuasmu," kata Brixton dingin. "Air matamu tidak akan mengubah fakta bahwa kau adalah beban dalam hidupku. Sekarang, bersihkan wajahmu. Kita harus kembali ke sana dan berpura-pura sampai tamu terakhir pulang. Dan jangan berani-berani menatap Marcus atau Julian dengan mata menjijikkanmu itu lagi. Kau milikku hanya di atas kertas, tapi kau adalah musuhku di dunia nyata."

Brixton berbalik dan pergi, meninggalkan Alana yang terisak dalam kegelapan koridor. Ia menatap bayangannya di kaca jendela perpustakaan. Rambut pink dan mata hijau yang dipuji semua orang sebagai keajaiban, kini terasa seperti kutukan baginya karena itulah alasan Brixton semakin membencinya.

Malam itu, jamuan makan malam keluarga Vance berakhir dengan sukses besar di mata publik. Semua orang pulang dengan cerita tentang betapa serasinya Brixton dan istrinya yang cantik dan unik. Namun, di dalam rumah itu, sumpah yang diucapkan di atas luka semakin menganga lebar, meninggalkan dua jiwa yang saling membenci, terikat dalam kemewahan yang terasa seperti neraka.

1
kalea rizuky
males deh Thor mending cerai selingkuh lagi nanti dia wong cwok plin plan uda ciuman ma jalang remes2
kalea rizuky
mual. g sih liat suami ciuman ma cwek lain
kalea rizuky
pergi jauh Alana
kalea rizuky
cerai aja selingkuh pasti nanti. gt lagi
kalea rizuky
selingkuh g ada obat ceraikan saja
kalea rizuky
km akan kehilangan berlian demi sampah
kalea rizuky
cerai aja lah suami dajjal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!