Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penerbit lagi
Di balik jendela perpustakaan Semarang, sinar bulan menyinari meja di mana Siti, Rama, dan Rian berkumpul. “Tadi penerbit Amerika mengirim email,” ucap Siti dengan mata berbinar, memegang ponselnya.
“Mereka ingin tambahkan catatan tentang budaya Asia di buku terjemahan kita.” Rama mengangguk, sambil meninjau rekaman video terbaru: “Maya dari Thailand baru saja mengirim gambar pad thai dengan tokoh Kiki yang sedang belajar memasak dari neneknya. Carlo juga berbagi foto pesta Fiesta di Filipina—warna-warni itu pas untuk ilustrasi.”
Rian menyela, “Saluran sosial kita ada komentar dari anak di Kanada. Dia mau mendirikan klub baca cabang. Gimana, kita bantu?” Tiba-tiba, ponsel Siti berdering. Itu Aisha dari Kuala Lumpur, bersamaan dengan Amir dan anak Thailand bernama Tao yang baru bergabung.
“Siti, Tao mau ceritakan tentang upacara Loy Krathong,” ucap Aisha melalui panggilan video. Tao menampakkan krathong yang digambarkannya: “Kita mengirimkannya ke sungai untuk meminta maaf dan berharap. Bisakah kita masukkan ke buku keempat?” “Tentu!” jawab Siti, melihat Rama yang sudah menulis catatan.
Beberapa hari kemudian, Ms. Ani datang dengan senyum lebar. “Kita undangan ke Vietnam untuk festival sastra. Bisa bertemu Linh secara langsung dan mengunjungi toko roti neneknya.” Semua teriak senyum. Saat tiba di Hanoi, Linh menjemput mereka dengan bánh mì hangat.
“Ini rasanya seperti cerita saya,” katanya. Di toko roti tua, mereka bertemu nenek Linh, yang bercerita tentang bagaimana membuat roti selama puluhan tahun. Siti mencatat setiap kata, sedangkan Rama mengambil foto roti yang dipanggang dengan cara tradisional.
Namun, tantangan datang ketika mereka berusaha menyatukan ide tentang adegan di Vietnam. Linh ingin menekankan keindahan Danau Halong, sedangkan Carlo ingin menambahkan elemen tarian Tinikling dari Filipina.
“Bagaimana kalau kita buat Kiki dan teman-teman menonton tarian di atas perahu di Danau Halong?” usulkan Tao. Semua menyetuju—itu menggabungkan budaya dua negara dengan indah. Komunikasi juga kadang sulit: ketika nenek Linh berbicara dalam bahasa Vietnam, Linh menerjemahkan, dan kadang mereka menggunakan bahasa isyarat untuk menyampaikan perasaan yang tak terkatakan dengan kata-kata.
Setelah kembali ke Semarang, mereka melanjutkan penulisan. Rian mengunggah video perjalanan ke Vietnam ke saluran sosial, dan dalam sehari, ada ribuan suka dari seluruh dunia.
Seorang penerbit dari Prancis mendekati mereka: “Cerita tentang persahabatan antar budaya sangat menarik. Bisakah kita menerjemahkan ke bahasa Prancis?” Anak-anak terkejut dan senang. Siti berkata, “Impian kita hanya dimulai dari perpustakaan kecil ini, tapi sekarang menyebar ke Eropa juga.”
Suatu malam, mereka berkumpul lagi di perpustakaan. Bulan bersinar cerah, dan di layar ponsel, teman-teman dari berbagai negara bergabung dalam rapat daring. Maya menunjukkan gambar baru tentang pad thai, Carlo memamerkan gambar pesta Fiesta, dan Linh menggambarkan tarian Vietnam.
Rama merekam semua itu, sedangkan Rian merencanakan serial dokumenter selanjutnya tentang perjalanan mereka ke Prancis. “Kita akan terus bercerita, terus berbagi, dan terus membangun persahabatan,” ucap Siti, memegang tangan teman-temannya. “Tak peduli seberapa jauh jaraknya, cinta dan cerita tak mengenal batas.”
Tak lama setelah itu, suara Rian memecah kesunyian. “Tadi ada pesan dari anak di Brasil—dia mau bergabung dan bercerita tentang festival Carnaval. Katanya, warna dan musiknya cocok dengan dunia Kiki.” Siti mengangguk, sambil mengetik catatan di ponsel. “Bagus! Kita bisa tambahkan adegan Kiki menonton tarian samba di pantai, bersamaan dengan teman Brasil bernama Sofia.” Rama menunjuk layar laptopnya: “Sofia sudah mengirim gambar kostum berwarna-warni. Saya akan gabungkan dengan ilustrasi Danau Halong yang sudah selesai.”
Tiba-tiba, panggilan video datang dari penerbit Amerika. “Hai anak-anak,” ucap wanita itu dengan senyum. “Kami ingin Anda menulis esai tambahan tentang bagaimana persahabatan Anda dimulai. Bisa untuk bagian depan buku.” Siti melihat teman-temannya, lalu jawab: “Tentu! Kita akan ceritakan tentang hari pertama di perpustakaan Semarang, ketika kita hanya sekelompok anak yang suka membaca.”
Beberapa minggu kemudian, mereka berangkat ke Prancis untuk festival sastra. Di sana, mereka bertemu dengan penerbit Prancis dan anak-anak dari berbagai negara Eropa. Saat membaca bagian cerita tentang pad thai dan bánh mì di depan penonton, seorang anak dari Spanyol mendekati mereka: “Saya juga suka menulis tentang makanan nenek saya, paella. Bisakah saya bergabung?” “Tentu saja!” jawab Tao, dengan senyum.
Namun, tantangan kembali muncul ketika mereka berusaha menyatukan ide tentang adegan di Prancis. Anak Prancis bernama Leo ingin menekankan keindahan Menara Eiffel, sedangkan Sofia ingin menambahkan elemen Carnaval Brasil.
“Bagaimana kalau kita buat Kiki dan teman-teman menonton pawai mini Carnaval di bawah Menara Eiffel?” usulkan Carlo. Semua menyetuju—itu menggabungkan budaya Amerika Selatan dan Eropa dengan sempurna. Komunikasi kadang sulit, tapi mereka menggunakan terjemahan daring dan bahasa isyarat untuk menyampaikan perasaan.
Setelah kembali ke Semarang, mereka melanjutkan penulisan buku keempat. Rian mengunggah video perjalanan ke Prancis ke saluran sosial, dan dalam beberapa jam, ada puluhan ribu suka.
Seorang penerbit dari Australia mendekati mereka: “Cerita Anda sangat menginspirasi. Bisakah kita menerjemahkan ke bahasa Inggris dan menerbitkannya di Australia?” Anak-anak teriak kegembiraan—cerita mereka kini sampai ke benua Australia.
Suatu malam, mereka berkumpul lagi di perpustakaan. Bulan bersinar lebih cerah dari sebelumnya, dan di layar ponsel, teman-teman dari seluruh dunia bergabung.
Sofia menunjukkan gambar kostum Carnaval, Leo menggambarkan Menara Eiffel, dan anak Spanyol bernama Maria memamerkan gambar paella. Rama merekam semua itu, sedangkan Rian merencanakan serial dokumenter tentang perjalanan mereka ke Australia.
“Kita akan terus bercerita, terus berbagi, dan terus membangun persahabatan,” ucap Siti, memegang tangan teman-temannya. “Tak peduli seberapa jauh jaraknya, cinta dan cerita tak mengenal batas.”