Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Ke Klub
"Ninda, aku mohon banget..." Jessica merengek, suaranya memelas.
Jessica, yang sudah kehabisan akal, dengan dramatis merebut buku dari hadapan Ninda.
"Hei! Balikin buku gue!" seru Ninda, nada bicaranya sedikit meninggi,
"Ayolah, Ninda sayang... Aku minta tolong sekali ini aja," Jessica mencoba merayu, wajahnya dibuat semelas mungkin, berharap Ninda luluh dengan tatapan puppy eyes-nya.
"Mama pasti ngamuk kalau tahu aku pergi ke klub sama cowok," ungkap Ninda, mencoba memberikan Alasan agar dia berhenti membujuknya.
"Ayolah, Ninda... Aku udah lama banget naksir sama si Hae In," Jessica kembali merengek, suaranya semakin memelas.
"Hae In mau pergi sama aku, tapi dia minta syarat yang aneh. Dia bilang, dia mau pergi kalau sama kamu," lanjut Jessica, mencoba memberikan alasan mengapa Ninda sangat dibutuhkan dalam misi mendekati Hae In ini.
"Lho, kok aneh? Kamu yang mau PDKT, tapi syaratnya malah harus bawa aku?"
"Kamu tahu kan Vincent, anak teknik lingkungan yang gantengnya kebangetan itu? Nah, dia tuh naksir berat sama kamu!"
"Terus, apa hubungannya sama Hae In?"
"Vincent itu kan seniornya Hae In. Nah, Vincent tahu kalau aku lagi deket sama Hae In,"
" Dan dia juga tahu kalau kamu itu sahabat terbaikku," Jessica berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan,
"Jadi, Vincent bilang, dia mau bantu aku deketin Hae In, asalkan kamu mau dikenalin sama dia!"
"Nggak tahu deh, Jess... Aku takut banget ketahuan orang tua ku," Ninda akhirnya bersuara, mengungkapkan keraguannya.
"Kalau kamu ujung-ujungnya izin sama Mamah mu, ngapain aku sampai mohon-mohon kayak gini? Dia pasti nggak bakalan ngizinin!" celetuk Jessica dengan nada ketus.
"Jangan marah dong... Iya deh, aku ikut, tapi cuma kali ini aja ya?" ucap Ninda dengan nada lembut, mencoba menenangkan sahabatnya yang sedang merajuk.
"Yesss! Makasih banget, Ninda! Kamu emang sahabat terbaikku!"
"Jessica kalau Jatuh itu ya keliatan dari IPKnya sih,!" Sunak, teman sekelas mereka, muncul di ambang pintu, baru saja selesai mengikuti kelas kalkulus yang terkenal mematikan.
"Nggak apa-apa bego, daripada jomblo ngenes kayak kamu!" sahut Jessica, meledek Sunak dengan nada riang.
Sunak tertawa, lalu membalas, "Nggak apa-apa jomblo, yang penting cepet lulus dengan IPK cumlaude!"
Sunak menyindir Jessica, yang memang dikenal kurang pintar dalam belajar."
"Ninda, aku cuma mau ngingetin, kita ini mahasiswa beasiswa. Jangan sampai nilai kamu jeblok gara-gara keseringan main sama Jessica," ucap Sunak dengan nada khawatir.
Ninda tersenyum, lalu merangkul Sunak dengan sayang. "Tenang aja, sobat. Aku bakal tetap fokus belajar kok,"
Sunak melirik ke arah Jessica dengan tatapan sinis. "Kita kan nggak sekaya dia,"
Jessica memutar bola matanya, lalu menjawab dengan nada angkuh, "Ih, apaan sih? Masing-masing orang tuh punya kapasitas otak masing-masing. Aku nggak mungkin sejenius Anda, Mr. Sunak!"
Sunak menghela napas, lalu kembali menatap Ninda. "Dia ngajakin kamu ke mana, Ninda?" tanya Sunak, nada bicaranya terdengar khawatir.
"Jessica ngajakin aku ke klub. Katanya, dia mau janjian pergi sama Hae In, terus seniornya, Vincent," jawab Ninda, menjelaskan rencana malam itu. "Vincent katanya pengen kenal sama aku,"
"Kalau saran aku sih, hati-hati deh. Hae In sama Vincent itu anak-anak orang kaya yang hobinya party, narkoba, dan... ya, kamu taulah."
Jessica menatap Sunak dengan tatapan bingung. "Kok kamu sotoy banget sih? Kesannya anak-anak orang kaya itu imagenya jelek semua,"
Sunak mengangkat bahunya, lalu menjawab dengan nada pasrah, "Terserah kamu deh. Tapi aku lihat kamu udah kehilangan fokus belajar gara-gara sekarang deket sama Hae In."
Jessica membela diri, "Ya, aku suka sama dia! Kita itu punya banyak kesamaan!"
Sunak menyeringai, lalu menyahut, "Sama-sama kaya dan sipit, maksudnya?"
Jessica menatap Sunak dengan tatapan marah. "Kok kamu jadi rasis gitu sih?"
Sunak tertawa, lalu menjawab, "Emang kamu aslinya begitu kok. Kamu emang sipit kan?"
Jessica mendengus kesal, lalu berteriak, "Diem deh kamu, prindapan!"
Ninda menunduk malu mendengar perkataan Jessica, karena dialah yang pertama kali memberitahu Jessica tentang istilah "prindapan" itu.
"Oke, Ninda, sampai jumpa nanti sore! Males aku ngeliat dia," kata Jessica seraya pergi meninggalkan Sunak dan Ninda.
Ninda melirik ke arah Sunak, yang hanya mengangkat bahunya. Ninda kemudian mengajak Sunak untuk bicara lebih lanjut.
"Kamu kalau mau kasih tahu Jessica, pelan-pelan dong," kata Ninda pelan sambil menatap Sunak dengan tatapan memohon.
"Nin, maksud aku tuh baik. Hae In tuh nggak baik buat dia," kata Sunak menjelaskan, mencoba meyakinkan Ninda bahwa ia hanya ingin yang terbaik untuk Jessica.
Ninda tersenyum getir, lalu menjawab, "Iya, namanya juga orang lagi jatuh cinta, pasti bakalan bebal."
Sunak tertawa, lalu menggoda Ninda, "Cie, pengalaman."
Ninda tersipu malu, lalu menjawab, "Diih, apaan sih? Noah sih baik, maaf ya."
"Kamu ngapain juga mau diajak pergi ke klub? Reputasi Hae In sama teman-temannya tuh buruk, Nin," ucap Sunak, kembali mengingatkan Ninda tentang bahaya yang mungkin mengintai.
Ninda menghela napas, lalu menjawab dengan nada meyakinkan, "Aku janji bakal jaga diri. Kalau bukan sama aku, bahaya buat Jessica."
"Iya, aku cuma mau ngingetin. Hati-hati, ya," ucap Sunak, menatap Ninda dengan tatapan khawatir.
Ninda mengangguk, lalu tersenyum ke arah Sunak, mencoba meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja.