"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Seragam Sekolah dan Cincin Berlian
Gerakan yang sangat kaku dan penuh dengan keraguan itu akhirnya membuat pintu kamar terbuka perlahan. Gwenola berdiri mematung di ambang pintu sambil meremas ujung seragam sekolah menengah atas miliknya yang mulai terasa lembap. Di hadapannya, Xavier berdiri dengan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah darah yang berkilau di bawah lampu selasar.
Pimpinan perusahaan itu tidak berkata-kata saat ia meraih tangan kanan Gwenola secara paksa. Ia mengeluarkan sebuah cincin dengan mata berlian yang sangat besar serta jernih, lalu menyematkannya di jari manis gadis itu. Dinginnya logam mulia tersebut menyentuh kulit Gwenola, memberikan sensasi gigil yang merambat hingga ke seluruh tulang belakangnya.
"Gunakan ini setiap saat dan jangan pernah sekalipun kau berani melepaskannya dari jarimu," perintah Xavier dengan nada yang sangat mutlak.
Gwenola menatap benda mewah itu dengan pandangan yang sangat nanar dan penuh dengan luka batin. Cincin itu nampak sangat asing dan terlalu dewasa untuk melingkar di tangannya yang biasanya hanya memegang pena sekolah. Ia merasa benda itu bukan sekadar perhiasan, melainkan sebuah segel kepemilikan yang mengunci seluruh masa depannya.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan benda semahal ini kepada teman-teman di sekolah esok pagi?" tanya Gwenola dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Xavier justru menyeringai tipis, menunjukkan sebuah ekspresi yang sangat dingin sekaligus penuh dengan rencana tersembunyi. Ia mengusap permukaan berlian itu dengan ibu jarinya sambil menatap Gwenola dengan pandangan yang sangat posesif. Cahaya lampu kristal memantulkan binar berlian tersebut ke dalam mata Gwenola, membuatnya merasa semakin silau oleh kekuasaan pria di depannya.
"Kau hanya perlu menyembunyikannya di balik saku seragammu saat berada di dalam lingkungan sekolah menengah atas itu," sahut Xavier dengan tenang.
Ia menarik tubuh Gwenola agar lebih dekat hingga aroma parfum kayu cendana yang sangat kuat kembali memenuhi indra penciuman sang gadis. Xavier membungkuk sedikit, membisikkan instruksi yang terasa seperti ancaman nyata bagi keselamatan rahasia mereka. Gwenola hanya bisa mematung saat merasakan hembusan napas Xavier yang terasa hangat namun sangat mengintimidasi saraf-sarafnya.
"Jika ada satu saja pasang mata yang mengetahui pernikahan ini, maka ayahmu akan segera membusuk di dalam penjara," ancam Xavier dengan nada yang sangat serius.
Gwenola tersentak dan segera menyembunyikan tangannya di balik punggung seolah ingin melindungi rahasia besar itu dari dunia luar. Ia menyadari bahwa mulai besok, hidupnya akan dipenuhi oleh sandiwara yang sangat melelahkan dan penuh dengan resiko besar. Gadis itu menatap seragam sekolahnya yang tergantung di balik pintu, menyadari adanya kontras yang sangat menyakitkan antara statusnya sebagai siswi dan sebagai seorang istri.
"Aku akan mematuhi semua aturanmu, asalkan kau tetap menepati janji mengenai biaya rumah sakit ibuku," rintih Gwenola sambil menahan tangis yang mulai menyesakkan dada.
Xavier tidak memberikan jawaban secara lisan, ia justru menarik dagu Gwenola agar mereka saling bertatapan mata secara langsung. Di dalam manik mata pria itu, Gwenola tidak melihat adanya kasih sayang, melainkan hanya ada obsesi untuk menguasai segalanya. Keheningan malam di rumah mewah itu kembali terasa sangat mencekam saat Xavier mulai mematikan lampu selasar satu demi satu.
"Masuklah kembali ke kamarmu dan bersiaplah karena mobil jemputan akan membawamu ke sekolah tepat pukul enam pagi," ucap Xavier sebelum berlalu pergi.
Gwenola menutup pintu kamarnya dengan sisa tenaga yang ia miliki, lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lemas ke daun pintu. Ia menatap cincin berlian itu sekali lagi, meraba setiap sudutnya yang tajam dan terasa sangat nyata di jarinya yang kecil. Rasa takut akan hari esok mulai merayap di pikirannya, membayangkan bagaimana ia harus berpura-pura hidup normal saat memakai beban sepuluh miliar rupiah di jarinya.
Ia duduk di tepi ranjang yang sangat empuk, namun hatinya merasa sangat hampa dan dipenuhi oleh bayang-bayang ketakutan yang mendalam. Tidurnya malam itu tidak pernah benar-benar nyenyak karena ia terus terbangun oleh mimpi buruk tentang jeruji besi dan rumah sakit yang gelap gulita. Ketika alarm ponselnya berbunyi, Gwenola segera bangkit dengan wajah yang sangat pucat dan mata yang nampak sangat sembab.
Dengan tangan yang masih sedikit berguncang, ia mulai mengenakan seragam sekolahnya dengan sangat hati-hati dan penuh ketelitian. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar, melihat seorang gadis remaja yang nampak sangat asing karena memakai cincin pernikahan rahasia. Gwenola memasukkan tangan kanannya ke dalam saku rok sekolahnya, mencoba memastikan bahwa rahasia besar itu tetap tersembunyi dengan sangat rapat.