NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KENANGAN YANG HIDUP DAN IMPIAN YANG BERTUMBUH

Mentari pagi menyinari atap Panti Asuhan Qinara dengan cahaya yang hangat. Sudah setahun sejak panti asuhan itu dibuka, dan kini telah menampung lebih dari 30 anak yatim. Qinara, yang sekarang berusia tujuh tahun, berdiri di teras panti asuhan, memandang anak-anak yang sedang bermain di taman. Beberapa dari mereka sedang bermain bola, yang lain sedang melukis di atas kertas—semua terlihat bahagia dan bebas dari kekhawatiran.

Pak Santoso mendekatinya dengan cangkir teh hangat. "Nak, pagi ini kamu terlihat senang ya," ucapnya dengan senyum.

"Ya, Pak. Lihat mereka—semua bahagia. Ayahmu pasti bangga," jawab Qinara, masih memandang anak-anak.

Pak Santoso mengangguk. "Ayahmu memang bangga, Nak. Kamu telah membuat harapannya menjadi kenyataan."

Hari ini, Yayasan Hadian akan mengadakan acara khusus untuk merayakan ulang tahun Qinara. Banyak orang telah diundang—teman-temannya dari sekolah, tokoh masyarakat yang telah membantu yayasan, dan tentu saja Pak Rio, Pak Slamet, dan semua anak di panti asuhan.

Qinara kembali ke kamar kamarnya di panti asuhan—kamar yang dia bagikan dengan dua anak yatim lain, Siti dan Dewi. Kedua gadis itu sedang menyiapkan hadiah untuknya. "Qinara! Kamu cepat siap ya! Acara akan dimulai dalam sejam!" teriak Siti dengan senyum lebar.

"Baik, aku akan siap cepat," jawab Qinara, mulai mengenakan baju baru yang diberikan Pak Rio—kemeja merah muda dan rok putih yang cantik.

Ketika dia siap, dia pergi ke aula panti asuhan yang telah dihias dengan bunga dan balon. Semua orang sudah ada di sana, menunggu dia. Pak Rio berdiri di panggung dan membuka acara. "Selamat pagi, semuanya! Hari ini kita merayakan ulang tahun Qinara, yang telah menunjukkan keberanian yang luar biasa. Dia adalah hati dan jiwa yayasan ini, dan kita semua bangga padanya!"

Suara tepuk tangan terdengar, dan semua orang melihat Qinara dengan rasa hormat. Dia merasa sedikit malu, tapi juga bangga.

Setelah pidato Pak Rio, anak-anak di panti asuhan menyanyikan lagu ulang tahun. Kemudian, mereka memberikan hadiah kepada Qinara—mainan, buku, dan lukisan yang mereka buat sendiri. Siti dan Dewi memberikan hadiah yang paling spesial: boneka kayu yang mereka buat dengan bantuan Pak Santoso, mirip dengan boneka yang ayahnya buat untuk Qinara.

"Kita buat ini untukmu, Qinara. Seperti yang ayahmu lakukan dulu," kata Dewi dengan suara lemah.

Qinara menangis dengan senang. Ini adalah hadiah yang paling berarti yang dia terima. Dia memeluk Siti dan Dewi dengan erat. "Terima kasih, teman-teman. Aku sangat menyukainya."

Setelah pemberian hadiah, mereka makan kue ulang tahun yang dibuat oleh Bu Minah, ibunya Pak Joko yang sering membantu di panti asuhan. Kue itu berbentuk bintang, dengan tulisan "Selamat Ulang Tahun Qinara—Pahlawan Kita" di atasnya.

Saat mereka makan, Pak Slamet berdiri dan mulai berbicara. "Saya ingin menceritakan sesuatu tentang Qinara. Ketika saya melihat kecelakaan ayahnya, saya takut untuk berbicara. Tapi Qinara datang padaku dan memberiku kekuatan untuk memberitahu kebenaran. Dia adalah anak yang kuat, dan dia telah mengajarkanku bahwa kebenaran akan selalu menang."

Suara tepuk tangan kembali terdengar. Qinara merasa bersyukur memiliki orang-orang seperti Pak Slamet di hidupnya.

Setelah acara selesai, Qinara pergi ke taman bersama Pak Rio. Mereka duduk di bangku yang ayahnya pernah buat, memandang pohon mawar yang telah tumbuh besar. "Qinara, aku punya sesuatu untukmu," kata Pak Rio, mengambil kotak kayu dari tasnya.

Qinara membuka kotak itu dan menemukan surat dan selembar sertifikat. Surat itu ditulis oleh pengadilan Bandung, mengkonfirmasi bahwa semua harta ayahnya telah resmi menjadi miliknya. Sertifikat itu adalah sertifikat keanggotaan di sekolah hukum terbaik di Indonesia. "Ini adalah hadiah untukmu, Qinara. Ketika kamu dewasa, kamu bisa belajar di sini dan menjadi pengacara seperti yang kamu impikan," kata Pak Rio.

Qinara terkejut dan senang. Ini adalah impiannya—menjadi pengacara untuk membantu orang lain yang menderita. "Terima kasih, Pak Rio. Aku akan bekerja keras untuk itu."

"Kamu pasti bisa, Nak. Ayahmu adalah orang yang bekerja keras, dan kamu mewarisi sifat itu dari dia," jawab Pak Rio.

Malam itu, Qinara berdiri di teras panti asuhan, memegang kotak pemberian ayahnya. Di dalamnya, ada surat ayahnya, surat dari Laras, boneka kayu yang dibuat Siti dan Dewi, dan sertifikat yang diberikan Pak Rio. Semua itu adalah bagian dari kehidupannya—kenangan yang menyakitkan dan kenangan yang bahagia, semuanya bergabung membentuk dirinya yang sekarang.

Dia melihat langit malam yang penuh bintang, dan menemukan bintang yang terang yang dia lihat beberapa bulan yang lalu. Dia membicarakan kepada ayahnya. "Ayah, hari ini aku berulang tahun tujuh. Aku punya banyak teman, aku punya panti asuhan yang penuh kasih, dan aku punya impian untuk menjadi pengacara. Aku telah membuatmu bangga, kan? Aku mencintaimu, ayah."

Beberapa hari kemudian, Qinara mengunjungi penjara untuk melihat Laras. Dia ragu apakah akan melakukannya, tapi dia merasa bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan ibunya.

Mereka bertemu di ruang kunjungan, dipisahkan oleh kaca baja. Laras terlihat kurus dan pucat, tapi matanya penuh harapan. "Qinara... kamu datang," kata dia dengan suara lemah.

"Ya, aku datang," jawab Qinara.

"Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu memiliki tempat tinggal yang baik?"

"Ya, aku baik-baik saja. Aku tinggal di panti asuhan yang dibuat atas nama ayahmu. Banyak orang membantu aku."

Laras menangis. "Aku senang mendengar itu. Aku berdoa untukmu setiap hari. Aku menyesal semua yang aku lakukan, Qinara. Aku harap suatu hari kamu bisa memaafkanku."

Qinara diam sebentar, memikirkan kata-katanya. "Aku masih tidak bisa memaafkamu sekarang, Ibu. Tapi aku berharap suatu hari aku bisa. Aku berharap kamu bisa berubah di sini, dan menjadi orang yang baik."

Laras mengangguk. "Aku akan mencoba, Qinara. Untukmu, aku akan mencoba."

Setelah bertemu dengan ibunya, Qinara merasa lega. Dia tahu bahwa pembaikan membutuhkan waktu, tapi dia berharap bahwa ibunya bisa menemukan jalan untuk memaafkan dirinya sendiri.

Keesokan pagi, Qinara kembali ke sekolah. Dia membawa buku baru yang diberikan Pak Rio—buku tentang hukum dan keadilan. Dia ingin mempelajarinya sejak sekarang, agar dia bisa siap ketika waktunya tiba untuk menjadi pengacara.

Teman-temannya melihat buku itu dan menjadi penasaran. "Qinara, apa itu buku itu?" tanya Rani.

"Ini buku tentang hukum. Aku ingin menjadi pengacara nanti, untuk membantu orang lain," jawab Qinara.

"Tentu kamu bisa! Kamu adalah pahlawan kita, kan?" kata Rani dengan senyum.

Qinara tersenyum. Dia tahu bahwa perjalanannya masih panjang, tapi dia yakin bahwa dia akan mencapai impiannya. Dia memiliki kekuatan dari ayahnya, dukungan dari orang-orang yang mencintainya, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Mentari pagi menyinari jalan ke sekolah, dan Qinara berjalan dengan kepala tegak. Dia adalah anak yang telah melalui banyak kesulitan, tapi dia telah keluar sebagai pemenang. Kenangan ayahnya hidup di hatinya, dan impiannya tumbuh semakin kuat setiap hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!