Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggota Keluarga Baru
Satu bulan setelah Larissa di adopsi oleh Laura dan Dave, keduanya membuat acara untuk memperkenalkan anak angkatnya kepada keluarga besar dan juga perusahaan.
Acara itu di buat semewah mungkin, mengingat reputasi keluarga Wijaya dan juga Kusuma yang merupakan keluarga terpandang di kalangan konglomerat.
"Apa semuanya sudah siap? Acara tinggal beberapa menit lagi," ucap seorang Event Organizer yang mengatur acara.
Laura kini sudah bersiap dengan balutan gaun mewah berwarna maroon dengan potongan asimetris di bagian bahu. Sementara Dave dengan jas berwarna hitam yang di combo dengan kemeja maroon. Begitupun Larissa, yang mengenakan gaun berwarna senada dengan ibu angkatnya.
Acara perkenalan tersebut bertepatan dengan ulang tahun Larissa. Dave yang mengatur semua dan meminta Laura hanya duduk manis saja.
"Kau menghabiskan banyak uang untuk acara Larissa. Padahal aku hanya ingin perkenalannya di hadiri keluarga inti saja," ucap Laura yang merasa Dave semakin berlebihan.
"Aku ingin memberikan kesan pada acara ini. Karena Larissa adalah putri pertama kita," jawab Dave yang membuat perasaan Laura semakin berkecamuk. Ada banyak pertanyaan di pikirannya yang membuat Laura kali ini meragukan Dave. Dia menatap Larissa yang sedang duduk di atas kasur.
Acara pun di mulai, beberapa tamu kini fokus pada MC yang membuka acara. Laura dan Dave yang sudah siap duduk di atas kursi yang sudah di sediakan oleh event organizer. Bersama dengan Larissa, yang duduk di pangkuan Laura.
"Aku tahu jika Larissa hadir di keluarga ini karena keputusanku, tapi kenapa aku merasa ada hal yang janggal?" Gumam Laura yang melihat wajah sumringah Dave membawa main putri angkatnya.
"Dan kita sambut, sang pemilik pesta. Tuan Dave dan nyonya Laura," panggil sang MC yang membuat Dave dan juga Laura berdiri.
Keduanya berjalan sambil menuntun seorang gadis kecil yang tentu membuat semua tamu mengalihkan perhatian padanya.
"Selamat malam untuk keluarga besar Kusuma dan juga Wijaya, serta para tamu yang sudah hadir di acara kami," sambut Dave pada semua orang yang hadir di pesta tersebut.
Dia pun mulai membicarakan pernikahan bersama Laura yang tak kunjung di karuniakan oleh kehadiran momongan dalam rumah tangga mereka.
"... jadi disini kami ingin perkenalkan pada kalian, anggota keluarga baru kami, dan juga anak pertama kami, Larissa Nada Kusuma."
Anggota keluarga yang lain dan juga tamu undangan terdiam mendengar penuturan Dave mengenai pengangkatan anak yang dilakukan pasangan suami istri tersebut.
Laura hanya diam, tak ikut berbicara dan menyerahkan semuanya pada sang suami.
"Jadi, Larissa resmi menjadi bagian keluarga dan juga perusahaan."
Semua tamu bertepuk tangan, walau suaranya tak begitu nyaring. Ada beberapa wajah yang turut senang dengan keputusan ini, dan ada juga yang menunjukan ekspresi bingung.
Laura tak berkutik, semua intinya sudah di sampaikan oleh suaminya sendiri. Setelah memperkenalkan Larissa di hadapan semua tamu, acara pun beralih pada acara makan malam dan juga penerimaan doorprize.
"Tapi apa kalian tak lihat? Anak itu mirip dengan Pak Dave," bisik seorang gadis muda yang kini mengobrol dengan Andreas.
Andreas mencoba menepis perkataan gadis tersebut, namun melihat anak itu dari dekat membuat perkataan gadis muda itu tervalidasi.
"Apa jangan-jangan, Larissa?" Gumamnya penuh keraguan. Pikirannya diliputi pertanyaan pada Laura mengenai anak angkatnya.
***
Dua bulan setelah pesta perkenalan dan ulang tahun Larissa, Laura dan Dave lebih sering menginap di rumah orang tua mereka setiap minggu.
Kehadiran Larissa yang awalnya tak di terima oleh keluarga Dave, perlahan mulai melunak dan bisa menerima kehadiran cucu angkat mereka.
"Apa kau sudah menemui eyang ibu? Dia pasti senang melihat anak kecil ini," ucap ayah Dave yang kini tak segan memangku Larissa.
"Ya, sepertinya minggu depan aku dan Laura akan menginap di sana."
Di saat semua anggota keluarga terlibat obrolan, Laura justru sedang terdiam mengingat perkataan dari beberapa orang di kantornya.
"Aku merasa jika nona kecil sangat mirip dengan Pak Dave."
Bukan hanya satu atau dua orang, bahkan Andreas pun mengatakan hal yang sama.
Dave pun mengajak sang istri untuk sejenak menikmati halaman belakang kediaman keluarga Kusuma. Laura yang memiliki bakat melukis dari sang ayah pun meminta peralatan melukis pada mertuanya.
Laura mulai menyapu kuasnya yang menonjolkan warna dasar untuk memulai kegiatan melukisnya. Dia pun mengambil Dave dan Larissa yang duduk di halaman belakang sebagai objek.
Sambil fokus melukis, dia pun memperhatikan wajah suami dan juga anak angkatnya. Apalagi setelah beberapa orang berbicara mengenai kemiripan Dave dan Larissa.
Semakin lama, semakin serius Laura menyelesaikan lukisannya. Dan juga memudahkannya untuk melakukan pengawasan pada Dave juga Larissa.
Dadanya sedikit sesak, karena menganggap perkataan orang-orang di kantor adalah fakta. Larissa, begitu mirip dengan suaminya.
Dia pun merasa aneh dengan kehadiran Mona yang tentunya tak ada undangan untuknya. Namun, dia tak berani mengatakan hal tersebut pada Dave sebelum dia benar-benar mendapat bukti jika memang Dave melakukan kesalahan.
"Wah, lukisanmu sangat bagus Laura. Apa mama boleh menyimpannya?" Tanya sang ibu mertua yang tak segan memuji bakat yang Laura miliki.
"Boleh ma, lagi pula aku hanya mau melukis untuk kesenanganku."
Laura pun duduk dekat dengan suami dan anak angkatnya, lalu meminta keduanya untuk masuk ke rumah saat melihat langit sudah menjelang malam.
"Bagaimana kalau besok saja kita bermain ke rumah eyang ibu?" Ucap Dave yang pastinya di setujui oleh Laura.
Larissa pun terlelap di pangkuan Dave, Laura pun membawa anak tersebut ke kamar mereka yang sudah di siapkan oleh mertuanya.
Di kamar itu sudah di sediakan baby crib untuk tempat tidur Larissa, sesuai permintaan Dave.
"Mama sengaja membeli ini untuk Larissa?" Tanya Laura pada suaminya.
"Tidak, aku yang meminta mama untuk menyimpan benda ini di kamar kita. Agar kita berdua bisa tidur dengan saling berpelukan," jawab Dave sambil memeluk Laura dari belakang.
Laura tersenyum, walau hatinya masih mengingat kejadian igauan Dave yang menyebut nama lain.
"Na, sepenggal nama yang bisa saja di ambil dari nama seseorang. Na, Dina, Mona," gumam Laura dalam hati sambil terus meyakinkan dirinya jika Dave tak sebaik itu.
Paginya, Laura terlihat masuk ke dalam kamar mandi. Dia membuka beberapa alat berbentuk panjang dan berwarna putih.
"Aku sudah telat selama 4 hari. Dan aku harap ada kehidupan yang tumbuh di dalam rahimku," lirih Lura sambil mengusap, menunggu alat itu menunjukan hasilnya.
"Hiks... hiks... "
Suara tangisan itu pecah walau terdengar pelan. Dua garis merah samar di benda pipih, dan tanda plus di alat yang lebih canggih. Laura merasa bahagia karena hal yang dia inginkan sejak dulu, telah hadir dalam hidupnya.
"Aku hamil."
saat lbh memilih mndua krna nafsu dan serakah....
tpi trnyata perempuan yg di piara... dan bhkn rela mnyakiti laura.. tak lbh dri seorang jalang....
makin hncurlah kau dave... klo trnyata ank yg km sayangi dri gundikmu... trnyata bukan ank kndungmu.... tpi ank org lain🤣🤣🤣
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣