Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat baru
...Bab 15...
Setelah menjalani proses pendaftaran, Jhon pun diberikan satu kartu yang dipakai oleh mahasiswa untuk menyelesaikan beberapa transaksi misalnya makan di kafetaria, mengajukan pinjaman di bank dengan suku bunga terendah sebagai mahasiswa, membuka pintu kamarnya di asrama, juga jika ingin berobat di rumah sakit universitas dan banyak lagi kegunaan lainnya. Hanya saja yang membuat Jhon pusing seratus keliling adalah, dia memiliki kartu akses sebagai mahasiswa. Tapi isinya kosong. Ibarat dirinya hanya memiliki dompet tanpa ada uang yang menjadi isinya. Pusing kepala Jhon memikirkan.
Sebenarnya Jhon bukannya tidak punya uang. Hanya saja dia lupa atau karena mungkin dirinya terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa di kartu pemberian Matt, di dalamnya juga memiliki uang. Dan kartu itu sampai berjamur di dalam sakunya.
Sebagai mahasiswa baru, dirinya sudah diberitahu oleh para senior di mana asrama tempat tinggal dan apa saja peraturan di asrama yang memiliki pengawas bagaikan singa betina tersebut. Dan benar saja. Ketika Jhon sampai di asrama, ada lebih dari seratus mahasiswa dan mahasiswi baru sedang diceramahi oleh pengawas asrama mulai dari A sampai Z.
Jhon yang baru tiba saja sudah tertekan mendengar isi ceramah yang tepatnya adalah Omelan berbau ancaman. Apa lagi mereka yang sejak awal berada di sana. Mungkin kuping mereka sudah berasap sejak awal lagi.
"Ini lagi anak baru. Dari mana saja kau sampai terlambat. Apa kau tidak tau aku sedang memberi ceramah? Masih baru saja sudah begini, apa lagi kalau sudah lama. Duduk dan dengarkan karena aku akan mengulangi ceramah ku dari awal lagi supaya kalian dapat memahaminya dengan jelas!"
Begitu kepala asrama mengatakan demikian, para mahasiswa dan mahasiswi baru langsung menatap tajam ke arah Jhon. Mungkin dalam hati mereka mengutuk, sialan kenapa terlambat? Jadinya telinga kami harus kembali berasap.
Jhon menggaru kepalanya lalu dengan kikuk dia mencari tempat duduk lalu mendengarkan sambil menahan rasa ngantuk.
"Huh akhirnya selesai juga ceramah pengawas asrama yang seperti singa itu,"
"Bagaimana kuping mu, apakah aman?"
"Masih aman. Itu karena orang ini pakai acara terlambat segala,"
Beberapa mahasiswa menatap ke arah Jhon lalu mereka seperti baru menyadari. "Eh, bukankah orang ini yang berselisih dengan Freddy Birmingham si anak kaya yang sombong itu?"
Seolah ikut menyadari, yang lain pun menatap ke arah Jhon sambil mengangguk.
Jhon, yang sebenarnya tidak menyadari bahwa dirinya akan menjadi terkenal di kampus gara-gara bermasalah dengan Freddy Birmingham hanya tersenyum sumbing tanpa tau harus menjawab apa.
"Kau yang bernama Jhon kan?" Tanya salah seorang dari empat mahasiswa itu.
"Ya!" Jawab Jhon.
"Wah. Aku mengagumi keberanian mu. Apa kau sudah punya teman sekamar?"
Jhon menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana teman-teman? Apakah anak ini layak menjadi sahabat kita?"
"Layak sih layak. Hanya saja, apakah kau tidak takut kalau nanti kita kena getahnya. Bagaimanapun, Jhon ini sedang bermasalah dengan Freddy,"
"Eh, apa kau takut? Hanya segitu saja nyali mu. Tadi kau bukan main bersemangatnya mengatakan kalau ayah mu adalah peternak sapi yang tersohor di Distrik barat. Selatan dan bersahabat baik dengan beruang selatan!"
"Eh. Aku bukannya takut. Walaupun identitas Freddy Birmingham terkenal kaya, tapi keluarga Landers ku juga bukan tanpa status. Ternak sapi hanyalah sampingan. Tapi produk susu keluarga Landers ku adalah yang nomor satu di Canyon City. Bahkan sebentar lagi akan membuka cabang di beberapa negara. Tinggal menunggu waktu saja sebelum merek dagang kami terdaftar. Keluarga Birmingham jelas bukan apa-apa bagiku," katanya mulai panas.
"Kalau begitu bagaimana dengan kalian berdua?"
"Kami tidak keberatan. Tambah satu lagi orang gila maka lengkaplah sudah. Aku tidak pernah takut terhadap masalah. Bagaimanapun, aku tidak takut akan kehilangan. Bagi ku asalkan bisa setiap hari berkelahi, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri!"
"Baiklah kalau semuanya sudah setuju. Sekarang mari kita saling memperkenalkan diri. Oh ya, nama ku Jay!"
"Nama ku Erick!"
"Aku David!"
"Kalau aku bernama, Jasson!"
Mereka berempat menyalami Jhon satu persatu sembari memperkenalkan nama mereka.
Jhon mau tak mau juga menyambut salam perkenalan mereka kemudian menyebutkan namanya.
"Oh ya, Jhon. Kamu tidak menyebutkan nama keluarga mu. Seperti aku, nama ku Jay Landers. Kalau kamu?"
"Ini?!. Aku tidak tau apa nama keluarga ku," kata Jhon tampak malu.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Mungkin keluarga nya tidak terkenal. Ada banyak orang yang tidak menyertakan nama keluarga mereka di belakang namanya," kata Jay Landers pula berusaha untuk menenangkan hati Jhon yang tampak murung serta malu.
"Ayo jangan banyak bicara. Sebaiknya kita segera ke kamar. Kalau terus di sini, kita bisa disembur sekali lagi sama ibu penjaga asrama itu. Jujur saja aku takut!" Jasson yang terlihat lebih kalem dan lugu diantara keempat sahabat baru Jhon pun segera mengingatkan kepada keempat sahabatnya yang lain.
"Iya ayo!"
Mereka pun akhirnya bersama-sama menuju ke kamar mereka yang bernomor enam puluh sembilan.
Melihat nomor kamar mereka. Kelima anak muda itu pun saling pandang, nyengir lalu mendesah. Hanya mereka yang tau apa arti dari angka enam sembilan tersebut.
Setelah memasuki kamar, mereka mulai melemparkan tas bawaan mereka secara sembarangan kemudian menuju tempat tidur lalu rebahan. Hanya Jasson yang segera mengambil penyapu untuk membersihkan pasir dan debu di lantai.
"Huh. Kalian ini. Ayo gotong royong. Kalau tidak, aku hanya akan membersihkan tempat tidur ku saja!" Erick segera menegur mereka ketika dia melihat bahwa Jasson mulai berkeringat.
Kompak, mereka sama-sama bangkit lalu bergotong royong membersihkan kamar.
"Eh, kita masih belum tau siapa yang layak dipanggil adik dan siapa yang paling tua di antara kita," di sela-sela pekerjaan mereka, Jay Landers kembali berbicara.
"Kalau begitu di mulai dari kamu Jhon! Berapa usia mu sekarang!"
"Ini.., aku..," Jhon buru-buru membuka tas nya membuat keempat lainnya mengerutkan dahi mereka. Kenapa hanya untuk mengetahui umur saja, Jhon harus melihat catatan?
Setelah melirik sejenak, Jhon pun berkata. "Sembilan belas tahun lebih sedikit," katanya.
"Wah. Kalau begitu kita sebaya," kata Jay Landers pula.
"Usia ku juga sembilan belas tahun. Dua bulan yang lalu aku baru saja merayakan hari jadi ku," jawab Jasson polos.
"Kalau kamu David?" Tanya Jay.
"Sama. Aku juga sembilan belas. Hanya saja sepertinya aku lebih muda satu bulan dibandingkan Jasson,"
"Aku Balum genap sembilan belas tahun. Kurang tiga bulan lagi," giliran Erick yang menyebutkan usianya.
"Nah. Kalau begitu, aku adalah kakak pertama. Jhon kakak ke dua. Jasson kakak ke tiga. David kakak ke empat dan Erick adik bungsu. Kita harus rukun. Bagaimanapun, kita merantau di sini. Kita dari daerah yang berbeda. Aku tadi hanya becanda tentang Freddy. Kalau boleh, kita jangan memprovokasi orang ini. Bagaimanapun, dia adalah tiran lokal. Kampung nya di sini. Kalau sampai kita bentrok, kita pasti akan babak belur duluan sebelum bantuan tiba,"
"Aku tidak perduli dia mau ular lokal, tiran lokal atau apapun itu. Jika mengusikku, maka dia tidak akan pernah terpikir apa yang akan aku lakukan. Bagiku, Freddy hanyalah badut!" Kata Erick yang dari pandangan keempat lainnya adalah anak yang sangat mudah naik darah.
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪
itu adalah angka keramat 18+++