NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Keesokan paginya setelah mengganti perban yang ada di tangan istrinya.

Yudiz mengajak istrinya untuk segera menuju ke pondok pesantren.

"Nanti Abi ke kantor dulu setelah mengantar kamu ke pondok, ya. Ada meeting mendadak" ucap Yudiz.

Rani yang mendengarnya langsung terdiam sejenak.

Pegangannya pada sabuk pengaman mobil mengencang, padahal mesin mobil baru saja dipanaskan.

"Maksudnya, Abi mau ninggalin aku sendirian di sana?" tanya Rani dengan nada suara lirih.

Yudiz menganggukkan kepalanya sambil memeriksa jam tangannya.

"Hanya sampai jam makan siang, Sayang. Selesai meeting aku langsung ke pondok. Bukankah disana ada Lilis dan Umi yang akan menjagamu." ucap Yudiz.

"Itu masalahnya, Abi. Lilis sih oke, tapi Nyai Salmah? Abi, kamu tahu kan kemarin Umi sudah istighfar berkali-kali lihat aku? Kalau Abi nggak ada, terus aku salah ngomong atau salah duduk sedikit saja, aku nggak punya tameng! Aku nggak mau debat kusir sama Umi di hari syukuran begini."

Rani membayangkan dirinya duduk di tengah-tengah lingkaran para santriwati yang santun, sementara ia sendiri bahkan belum tahu cara memakai jarit atau duduk bersimpuh yang benar tanpa merasa pegal dalam lima menit.

"Abi, apa meeting-nya nggak bisa di-zoom saja? Atau aku ikut Abi ke kantor saja? Aku janji bakal duduk diam di pojokan ruangan, nggak akan balapan pakai kursi kantor Abi!" pinta Rani dengan wajah memelas.

Yudiz tertawa kecil sambil menyentuh punggung tangan Rani yang tidak terluka.

"Rani, Umi itu tidak semenakutkan yang kamu kira. Beliau hanya butuh waktu untuk mengenalmu. Kalau kamu kabur terus, kapan kalian bisa akrab?"

"Tapi tanganku lagi perbanan begini, nanti kalau ditanya Umi kenapa, masa aku bilang 'habis mau perang sama sawi'? Jatuh harga diriku sebagai menantu idaman, Abi!"

"Bilang saja yang jujur, itu lebih baik. Lagipula, ada Lilis yang sudah tahu ceritanya. Dia pasti membantumu," hibur Yudiz.

Rani menyandarkan kepalanya ke kaca mobil dengan lesu.

Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia berada di garis start balapan.

Baginya, menghadapi sirkuit berlumpur jauh lebih mudah daripada menghadapi tatapan tajam Nyai Salmah tanpa ada Yudiz di sampingnya.

"Jangan tinggalkan aku lama-lama ya, Abi. Kalau dalam dua jam kamu nggak muncul, aku bakal nekat pulang naik ojek!"

Yudiz tersenyum tipis dan mulai melajukan mobilnya.

"Iya, janji. Dua jam, dan aku akan kembali menjadi penyelamatmu." ucap Yudiz.

Perjalanan yang masih sepi membuat mereka lekas sampai di rumah Kyai Abdullah.

Yudiz mengajak istrinya yang masih melepas sabuk pengamannya untuk masuk ke dalam rumah.

"Assalamualaikum, Kyai Abi, Umi," sapa Yudiz.

Kyai Abdullah, Nyai Salmah dan para santri langsung menoleh ke arah Yudiz.

"Waalaikumsalam warahmatullah. Ah, akhirnya sampai juga pengantin baru kita," jawab Kyai Abdullah dengan suara yang berwibawa namun menyejukkan.

Beliau bangkit dari duduknya, menyambut putra dan menantunya dengan senyum lebar yang tulus.

Namun, suasana di serambi samping tempat para santriwati berkumpul mendadak berubah.

Kedatangan Yudiz seperti magnet yang menarik seluruh pasang mata.

Yudiz yang pagi ini mengenakan kemeja koko berwarna putih bersih dengan celana kain gelap tampak begitu berwibawa.

Wajahnya yang tenang dan sorot matanya yang teduh membuat beberapa santriwati yang sedang memotong sayur tanpa sadar menghentikan aktivitas mereka.

"Masya Allah, Gus Yudiz gantengnya nggak luntur-luntur ya," bisik seorang santriwati berbaju biru pada temannya.

"Iya, tapi sayang ya. Gus Yudiz harus punya istri seperti itu," temannya menyahut sambil melirik ke arah Rani yang berdiri di samping Yudiz dengan wajah yang tampak tidak nyaman.

Rani yang pagi ini terpaksa mengenakan gamis panjang namun tetap dipadukan dengan sepatu sneakers putih dan rambut yang hanya dikuncir kuda, tampak seperti "benda asing" di sana.

Apalagi balutan perban di tangan kanannya terlihat sangat mencolok.

"Kok bisa ya Gus Yudiz dapatnya yang begitu? Nggak pakai jilbab, gayanya cuek banget, terus itu tangannya kenapa lagi? Masa mau acara syukuran malah luka-luka," bisik santriwati lain dengan nada menyayangkan.

"Padahal dulu kita kira Gus Yudiz bakal dijodohkan sama Ning dari Jawa Timur yang hafidzah itu. Eh, malah dapatnya yang begini. Kasihan Gus Yudiz, pasti sabar banget ngadepinnya."

Rani yang mendengarnya hanya bisa mengepalkan tangan kirinya, mencoba menahan emosi.

Rasanya ia ingin berteriak bahwa dirinya adalah juara sirkuit, bukan beban bagi Yudiz.

Nyai Salmah mendekat, matanya langsung tertuju pada tangan Rani yang diperban.

"Kenapa tangan kamu, Ran? Jangan-jangan malas bantu ya disini." ucap Nyai Salmah dengan nada tidak suka.

Para santri yang melihatnya tertawa kecil dan puas saat Nyai Salmah tidak suka dengan Rani.

Rani merasakan darahnya berdesir naik ke wajah. Sindiran Nyai Salmah barusan, ditambah tawa kecil para santriwati di belakang sana, terasa lebih panas daripada knalpot motor yang menyentuh kulitnya.

Ia baru saja akan membuka mulut untuk membela diri, namun Yudiz lebih dulu melangkah maju, berdiri sedikit di depan Rani seolah menjadi tameng.

"Bukan begitu, Umi," potong Yudiz dengan suara yang tetap lembut namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dibantah.

"Rani justru terlalu semangat ingin menyiapkan sarapan untuk Yudiz di rumah baru kami kemarin. Saking semangatnya, ia sampai tidak sengaja terkena api. Ini murni kesalahan Yudiz yang kurang memperhatikannya."

Nyai Salmah terdiam, alisnya sedikit terangkat mendengar pembelaan putranya yang begitu telak.

Ia melirik Yudiz, lalu beralih menatap Rani yang masih menunduk sambil menggigit bibir.

"Mau masak sampai tangan melepuh begitu? Memangnya apa yang dimasak?" tanya Nyai Salmah lagi, suaranya sedikit melunak namun tetap terasa dingin.

"Sawi goreng, Umi," jawab Rani jujur, meskipun ia tahu jawaban itu terdengar sangat konyol bagi para wanita di dapur pesantren ini.

Mendengar jawaban dari Rani, mereka semua tertawa tawa kecil.

"Masak sawi saja sampai masuk rumah sakit? Duh, bagaimana kalau masak rendang buat acara besar ya?" bisik salah satu dari mereka yang cukup dekat dengan posisi Rani.

Rani sudah hampir meledak, namun Lilis tiba-tiba muncul dari arah dapur belakang sambil membawa nampan berisi gelas-gelas teh.

"Eh, Mbak Rani sudah sampai!" seru Lilis dengan nada ceria yang sengaja dikencangkan untuk memecah suasana tegang.

"Umi, jangan galak-galak dong sama Mbak Rani. Justru Lilis bangga, Mbak Rani itu berani. Daripada cuma jago gosip tapi masaknya cuma bisa goreng kerupuk, kan?"

Lilis melirik tajam ke arah para santriwati yang tadi berbisik, membuat mereka seketika menunduk dan pura-pura sibuk kembali dengan sayuran mereka.

Lilis kemudian menghampiri Rani dan merangkul pundaknya.

"Sini, Mbak. Duduk bareng Lilis saja. Mbak Rani jadi 'mandor' Lilis hari ini ya. Lilis mau bikin adonan, Mbak Rani tinggal kasih instruksi saja pakai suara knalpotnya itu!" canda Lilis yang berhasil membuat Rani sedikit tersenyum.

Yudiz menoleh ke arah istrinya, menatap matanya dalam-dalam untuk memberikan kekuatan.

"Aku berangkat sebentar ya. Ingat, jangan sampai kena air."

"Iya, Abi," jawab Rani singkat.

Setelah mobil Yudiz meluncur pergi, Rani duduk di kursi kayu di teras samping dapur bersama Lilis.

Nyai Salmah masih ada di sana, mengatur para santriwati dengan instruksi-instruksi yang detail. Rani merasa sangat tidak nyaman menjadi satu-satunya orang yang tidak bekerja.

Tiba-tiba, seorang santriwati senior bernama Sarah mendekat sambil membawa sebaskom besar kelapa parut.

Dengan wajah yang dibuat sesantun mungkin, ia meletakkan baskom itu di depan Rani.

1
lin sya
smga laila msuk pnjara smga jg umi Salamah ikut terseret dan smga rani bneran cerai thor, biar ksih pelajaran buat umi Salamah krn ulahnya rmh tangga anak nya berantakan dan menantu yg dibnci berubah liar sesuai yg dia kira🤭
Anita Rahayu
buat nyai salma kena azab karna zalim ama mantunya😈😈😈😈😈👌👌👌👌
my name is pho: siap kak 🥰
total 1 replies
Anita Rahayu
NYAI SALMA TOBATNYA TOBAT PEJABAT YG SALAH
kalea rizuky
lampir g taubat jg
my name is pho: sabar kak🤭🥰🙏
total 1 replies
kalea rizuky
MC nya tolol males deh Thor
kalea rizuky
klo q jd ortu nya Rani uda q masukin. penjara si. layla ini kriminal.
kalea rizuky
males deh
kalea rizuky
kapok salah sendiri g tegas sama pelakor sama emak mu jg yudis
lin sya
gpp thor klo nyai salmah dan laila bikin badai buat rmh tangga yudiz dan rani biar rani jd istri tangguh, klo suatu saat kbngkar, berharap sih kyai Abdullah dan yudiz, jg laila ksih pelajaran yg woww gtu biar diinget seumur hdup🤭, org tua rani jg gk akan tinggal diem💪
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
lin sya
hihi..enakan akur jd kluarga Cemara dripd saling ego, smga gk ada drama pelakor, hempaskan, fokus yudiz dan Rani bikin baby 💪
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!