NovelToon NovelToon
ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: ThiaSulaiman

Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Kalung Berlian yang Hilang

Pagi di mansion Moretti selalu tampak sempurna dari luar.

Rumput taman dipangkas rapi. Air mancur di halaman depan memantulkan cahaya matahari. Deretan mobil mewah terparkir berkilau. Jendela-jendela besar memantulkan langit biru tanpa noda.

Namun di dalam rumah itu, kesempurnaan hanyalah topeng.

Setelah kejadian tamparan kemarin, suasana pagi ini jauh lebih tegang. Para pelayan bergerak lebih cepat dari biasanya. Kepala pelayan terus memeriksa setiap sudut seolah mencari kesalahan yang belum terjadi.

Alasannya sederhana.

Hari ini Madam Seraphina akan menghadiri acara makan siang amal bersama para sosialita paling berpengaruh di kota. Itu berarti penampilannya harus sempurna, dan jika ada satu hal kecil saja yang tidak sesuai, seluruh rumah akan merasakan amarahnya.

“Elara!”

Suara tajam itu menggema dari lantai dua.

Elara yang sedang menyusun bunga di ruang tamu langsung meletakkan vas.

“Ya, Madam.”

“Ke kamar saya. Sekarang!”

Ia menaiki tangga dengan langkah tenang. Seragam hitam putihnya rapi seperti biasa, rambut terikat sederhana, wajah tenang tanpa ekspresi. Bekas merah di pipi kirinya sudah memudar, tetapi rasa panas dari tamparan kemarin masih tersisa di ingatan.

Saat pintu kamar utama dibuka, aroma parfum mahal langsung menyambut.

Kamar Seraphina sebesar apartemen mewah. Lemari pakaian memenuhi satu sisi ruangan. Meja rias penuh kosmetik bermerek. Di tengah ruangan, Madam Seraphina berdiri di depan cermin dengan gaun emas ketat berkilau.

Ia menoleh sambil mengangkat dagu.

“Pilihkan perhiasan.”

Elara mendekat ke meja kaca tempat kotak-kotak beludru tertata rapi. Berlian, safir, zamrud, mutiara. Nilainya bisa membeli satu gedung.

Ia membuka beberapa kotak, lalu mengangkat satu kalung berlian klasik dengan desain elegan.

“Yang ini akan cocok dengan gaun Madam.”

Seraphina menatap cermin, lalu mengangguk kecil.

“Tentu saja. Kau setidaknya masih punya sedikit mata.”

Elara tak menjawab. Ia memakaikan kalung itu di leher wanita tersebut dengan hati-hati.

Kalung berlian itu sangat indah. Potongan utamanya berbentuk tetesan air mata, dikelilingi batu-batu kecil yang memantulkan cahaya dari segala arah.

Elara mengenal desain itu.

Buatan rumah perhiasan tua di Swiss. Seri langka. Sangat mahal.

Namun yang lebih menarik baginya adalah kenyataan bahwa batu utama di tengah bukan berlian asli.

Itu replika.

Nyaris sempurna, tapi tetap replika.

Ia menyadarinya hanya dari kilau dan pantulan sudut tertentu.

“Kau menatap apa?” tanya Seraphina curiga.

“Tidak ada, Madam.”

“Kalau begitu keluar.”

Elara menunduk dan pergi.

Saat pintu tertutup, bibirnya membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

Menjelang siang, mansion semakin sibuk.

Selene mondar-mandir sambil menelepon temannya.

“Ibu harus pakai kalung itu. Semua wanita di sana iri setengah mati.”

Di ruang makan, chef pribadi menyiapkan menu makan malam. Kepala pelayan mengatur jadwal supir. Marta sibuk mengelap pegangan tangga.

Elara membawa nampan teh ke ruang keluarga saat Damian masuk dari pintu depan.

Ia tampak baru kembali dari rapat. Jas abu-abu gelapnya masih sempurna, wajahnya datar seperti biasa.

“Tuan Damian.”

Elara menunduk.

Damian berhenti sejenak.

Tatapannya sekilas jatuh pada wajah Elara.

“Masih sakit?”

Elara terdiam beberapa detik sebelum menyadari maksudnya.

“Sudah tidak, Tuan.”

Damian mengangguk singkat lalu berjalan pergi.

Percakapan itu terlalu pendek. Namun bagi pelayan lain yang melihat dari jauh, itu cukup untuk memancing bisik-bisik.

Selene yang baru turun tangga langsung menyipitkan mata.

“Apa yang kakakku bicarakan denganmu?”

Elara menoleh sopan. “Tidak ada, Nona.”

“Jangan berbohong.”

“Saya tidak berbohong.”

Selene mendekat, menatap tajam.

“Ingat posisimu. Jangan bermimpi terlalu tinggi hanya karena wajahmu lumayan.”

Elara menunduk.

“Baik, Nona.”

Selene mendengus dan pergi.

Dua jam kemudian, rumah yang semula sibuk mendadak gempar.

Jeritan Madam Seraphina mengguncang lantai dua.

“SEMUA ORANG KE SINI!”

Para pelayan berhamburan naik tangga.

Elara datang paling akhir dan mendapati kamar utama kacau. Laci terbuka. Kotak perhiasan berantakan. Seraphina berdiri dengan wajah merah padam.

“Kalungku hilang!”

Kepala pelayan pucat.

“Kalung berlian Madam?”

“Ya, bodoh!” bentak Seraphina. “Kalung yang kupakai tadi pagi! Aku melepasnya sebentar saat mandi, dan sekarang hilang!”

Selene menutup mulut dramatis.

“Oh Tuhan… itu kalung favorit Ibu.”

Damian yang mendengar keributan ikut masuk kamar.

“Ada apa?”

“Ibu dicuri!” teriak Selene.

Seraphina menunjuk semua pelayan satu per satu.

“Tak ada orang luar masuk kamar ini! Artinya pencurinya salah satu dari kalian!”

Ruangan seketika hening.

Semua pelayan menunduk ketakutan.

“Periksa semuanya!” perintah Seraphina.

Tas dibuka. Saku diperiksa. Lemari kecil para pelayan dibongkar.

Elara berdiri tenang di sudut ruangan.

Selene memperhatikannya dengan senyum samar.

Tak lama kemudian, seorang pelayan muda berteriak.

“Madam… saya menemukan sesuatu!”

Semua menoleh.

Di dalam keranjang linen milik Elara, terbungkus kain putih, terletak kalung berlian itu.

Ruangan membeku.

Seraphina menatap Elara seolah ingin membunuh.

“Kau!”

Marta langsung berseru, “Tidak mungkin! Elara tidak akan—”

“Diam!” bentak Seraphina.

Selene pura-pura terkejut.

“Elara… kenapa kau melakukan ini?”

Elara menatap kalung itu tanpa ekspresi.

“Saya tidak mengambilnya.”

“Kau masih berani menyangkal?” Seraphina melangkah maju. “Barang bukti ada di keranjangmu!”

“Itu bukan milik saya.”

Plak!

Tamparan kedua mendarat lebih keras dari yang pertama.

Kepala Elara sedikit berpaling, tetapi tubuhnya tetap tegak.

Damian menegang.

“Ibu.”

“Jangan campuri!” bentak Seraphina. “Perempuan ini mencuri!”

Elara perlahan menoleh kembali. Sudut bibirnya pecah sedikit karena tamparan.

“Saya tidak mencuri.”

Selene menyilangkan tangan.

“Lalu bagaimana kalung itu ada di keranjangmu?”

Elara menatapnya tenang.

“Mungkin orang yang menaruhnya lebih tahu.”

Mata Selene berkedip cepat sesaat.

Seraphina semakin murka.

“Kurang ajar! Setelah mencuri, kau menuduh anakku?”

Damian menatap Elara lama.

“Kalau bukan kau, buktikan.”

Semua orang menoleh pada Damian.

Itu pertama kalinya ia berpihak… meski hanya setengah.

Elara mengangkat wajah menatap pria itu.

Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

“Apakah Tuan akan percaya jika saya membuktikan?”

Damian tak langsung menjawab.

“Buktikan dulu.”

Elara tersenyum tipis. Senyum yang membuat Damian merasa asing.

“Baik.”

Ia melangkah ke meja rias, mengambil kalung dari tangan pelayan, lalu mengangkatnya ke cahaya lampu.

“Pertama… ini bukan kalung asli.”

Ruangan hening.

Seraphina membeku.

“Apa?”

Elara memutar batu utama ke arah jendela.

“Potongan cahaya batu ini salah. Beratnya terlalu ringan. Kait belakang diganti dengan logam murah.”

Selene tertawa mengejek.

“Kau pikir kau ahli perhiasan sekarang?”

Elara menoleh.

“Tidak. Tapi saya tahu ini palsu.”

Seraphina merebut kalung itu, wajahnya berubah.

“Mustahil…”

Damian maju, mengambil kalung dari tangan ibunya, memeriksanya.

Ekspresinya menegang.

“Ini memang replika.”

Semua pelayan tersentak.

Selene mendadak pucat.

Seraphina hampir tak bisa bicara.

“Kalau ini palsu… lalu yang asli di mana?”

Elara menatap satu orang.

Selene.

Tatapan itu tenang, tapi tajam seperti pisau.

“Pertanyaan yang bagus, Madam.”

Selene langsung berteriak.

“Kau menuduhku?!”

“Saya tidak menyebut nama siapa pun.”

“Kau menatapku!”

Elara mengangkat bahu kecil.

“Kalau Nona merasa tertuduh, mungkin karena hati Nona sendiri tahu sesuatu.”

“Kurang ajar!”

Selene maju hendak menamparnya, tapi Damian menangkap pergelangan tangan adiknya.

“Cukup.”

Nada suaranya dingin dan tegas.

Selene membeku.

Damian melepaskannya lalu menatap semua orang.

“Tak seorang pun keluar dari rumah sampai kalung asli ditemukan.”

Seraphina panik.

“Damian, apa maksudmu? Kau curiga pada keluargamu sendiri?”

“Aku curiga pada siapa pun yang berbohong.”

Ia menoleh ke Elara.

Dan untuk pertama kalinya sejak gadis itu bekerja di rumah ini, Damian menatapnya bukan sebagai bayangan.

Melainkan sebagai seseorang yang perlu diperhitungkan.

Sore menjelang malam, mansion berubah menjadi medan perang diam-diam.

Setiap sudut diperiksa.

Setiap orang saling mencurigai.

Selene mengurung diri di kamar.

Seraphina mondar-mandir sambil memaki.

Damian menerima telepon sambil wajah gelap.

Elara kembali ke dapur seolah tak terjadi apa-apa.

Marta mendekat pelan.

“Kau benar-benar tahu itu palsu?”

Elara terus memotong buah.

“Ya.”

“Siapa yang mencuri yang asli?”

Elara berhenti sebentar.

“Orang yang paling butuh uang… atau paling haus perhatian.”

“Kau tahu siapa?”

Elara menatap jendela yang mulai gelap.

“Saya tahu permainannya baru dimulai.”

Di lantai atas, Selene membuka laci rahasia di balik lemari.

Tangannya gemetar.

Kotak beludru merah masih ada di sana.

Di dalamnya, kalung berlian asli berkilau sempurna.

Ia menggigit bibir.

“Bagaimana wanita itu bisa tahu…?”

Namun sebelum ia sempat menutup kotak, terdengar ketukan pintu.

Tok. Tok.

Suara Damian dari luar.

“Selene. Buka pintunya.”

Wajah Selene memucat.

1
Noey Aprilia
Msih aja iri.... orng kl udh biasa jd psat prhtian,trs tiba2 d acuhkn psti mkin bnci....pdhl kn dia sndri yg slah.....
Noey Aprilia
Mga aja elara udh mnyiapkn blsan buat spa aja yg mngusiknya,kli nu jgn ksih ampun.....bsmi smp k akarnya biar ga tmbuh lg s msa dpn...
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Noey Aprilia
Yg koar2 emng biasanya krna ktakutan,yg diam jstru lbh brbhya...
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
Noey Aprilia
Mngkn krna dia trbiasa brkuasa,saat sprti itu pun blm jg sdar....mskpn kl dia dtng buat mnta maaf sm elara,blm tntu jg d maafkn...tp mnimal dia tau lh apa kslahnnya....ni mlah mkin dndam.....cckk....
Noey Aprilia
Apa lg yg lbih mnyiksa slain pnyesalan yg trlambat....dan damian sdng mrsakannya.....so,slmt mnkmti....
Noey Aprilia
Mkin d rgukan,elara mkin smngt.....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
Nurhartiningsih
seru
Noey Aprilia
Dlu elara bkrja krna pelarian,skrng smua orng brgntung sm dia......tp ykin bgt kl dia bkln jd pmimpin yg tgas dn sukses d msa dpn.....
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih
luar biasah
Istia Ningsih
terimakasih 😍🙏
Himna Mohamad
ditunggu notifnya kk
Istia Ningsih: siaaapp
total 1 replies
Noey Aprilia
Ank orng kya mnja,trnyta jd pncuri d rmhnya sndri.....alasannya btuh uang,plus cmburu.....jdilh elara yg jd krban....glirn fkta trungkap,nyesel brjmaah.....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Hmmmm......
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
Istia Ningsih: tetappp semangaat tungguin updatenya
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Noey Aprilia
Bgtulh mnusia.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄
Himna Mohamad
kereeen kk👍👍👍👍👍
Istia Ningsih: alhamdulillah masya allah terimakasih
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih: siap siap
total 1 replies
Noey Aprilia
Brsa lngsng kna tikam,tepat d jntung....mngkn bntr lg bkln ada yg pingsan.....😛😛😛
Istia Ningsih: nacep bner yaa kaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!