Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Keheningan kembali menyelimuti ruangan kerja yang luas itu. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan, namun sama sekali tidak mampu mendinginkan suasana hati yang sedang berkecamuk di dalam dada Darren Wijaya.
Pria itu menatap layar komputer di depannya, namun matanya tampak kosong. Angka-angka dan grafik bisnis yang biasanya menjadi dunianya, saat ini terlihat samar dan tak bermakna. Pandangannya perlahan bergeser, tertuju pada kotak bekal berwarna pastel yang ditinggalkan oleh Selly beberapa saat yang lalu.
Aroma masakan rumah yang harum semerbak perlahan memenuhi udara, menciptakan kontras yang aneh dengan kesan maskulin dan formal ruangan itu. Namun bagi Darren, aroma itu justru terasa mengganggu. Mengganggu konsentrasinya, dan yang paling parah... mengganggu pertahanan hatinya yang sudah ia bangun setinggi tembok besar.
'Gadis itu... kenapa dia selalu berusaha sekeras itu?' batinnya bertanya-tanya, disertai rasa kesal yang bercampur dengan perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan.
Namun segera saja Darren menggelengkan kepalanya dengan kasar, seolah ingin membuang jauh-jauh pikiran-pikaran tidak penting itu. Ia menegakkan punggungnya, kembali memasang topeng dingin dan tak tersentuh yang selama ini menjadi identitas dirinya.
'Semua wanita sama saja. Tidak ada yang berbeda. Mereka semua sama saja, hanya memikirkan materi, kepentingan, dan kesenangan sesaat.'
Pikiran itu bagaikan pemicu yang langsung menarik ingatannya terlempar jauh ke masa lalu, kembali ke titik terendah dalam hidupnya yang sampai detik ini lukanya masih terasa perih, bahkan mungkin belum pernah benar-benar sembuh.
🔙 FLASHBACK
Lima Tahun Yang Lalu
Saat itu, Darren belum menjadi sosok raja bisnis yang begitu ditakuti seperti sekarang. Meskipun perusahaannya sudah mulai besar dan namanya mulai dikenal, ia masih memiliki sisi manusiawi yang hangat. Ia masih percaya pada kata cinta, masih percaya bahwa ada seseorang yang bisa menerima dirinya apa adanya, bukan karena harta atau jabatan.
Dan saat itu, ia merasa telah menemukan wanita itu. Namanya Natasha.
Natasha adalah tipe wanita yang terlihat anggun, lembut, dan selalu tahu cara membuat pria merasa dihargai. Senyumnya manis, tutur katanya halus, membuat Darren merasa sangat beruntung memilikinya. Darren mencintainya dengan tulus, bahkan ia sudah menyiapkan cincin berlian yang cukup besar di dalam laci meja kerjanya, berniat akan melamar wanita itu dalam waktu dekat.
Ia berpikir, hidupnya akan sempurna. Namun siapa sangka, kebahagiaan itu hanyalah ilusi yang dibangun di atas kebohongan belaka.
Semua hancur total pada suatu malam yang basah oleh hujan.
Hari itu Darren memutuskan pulang lebih awal dari perjalanan dinas luar kota. Ia ingin memberikan kejutan untuk Natasha, membawa bunga favorit wanita itu, dan tentu saja cincin lamaran tersebut. Dengan hati berbunga-bunga, ia membuka pintu apartemen mewah yang seharusnya menjadi rumah kebahagiaan mereka.
Suasana di dalam gelap, hanya ada cahaya remang dari lampu tidur yang menembus celah pintu kamar utama.
Darren tersenyum kecil, mengira Natasha sudah tidur. Ia berjalan pelan, berniat mengejutkan kekasihnya. Namun langkahnya terhenti tepat di ambang pintu saat mendengar suara-suara yang keluar dari balik pintu itu.
Bukan suara tidur, melainkan suara yang membuat darah di tubuh Darren seketika membeku.
"Ahh... Ren... lebih cepat lagi sayang..."
Suara itu. Itu suara Natasha. Tapi siapa "Ren" yang dipanggilnya? Darren ada di sini.
Jantung Darren berdegup kencang, bukan karena bahagia, melainkan karena firasat buruk yang begitu kuat. Dengan tangan gemetar, ia perlahan mendorong pintu itu hingga terbuka cukup lebar.
Dan apa yang ia lihat selanjutnya... cukup untuk menghancurkan seluruh kepercayaannya pada dunia.
Di atas ranjang besar yang masih berantakan, terlihat dua tubuh yang saling bertaut erat. Tanpa sehelai benang pun yang menyelimuti mereka. Natasha, wanita yang ia cintai, sedang bercumbu panas dengan pria lain.
Gerakan tubuh mereka yang liar, suara desahan nafas yang berat, dan bisikan-bisikan mesra yang menjijikkan terdengar begitu jelas, menusuk tajam ke gendang telinga Darren.
"Ahh... enak banget sayang... kamu jauh lebih baik daripada dia..." desah Natasha dengan suara yang bergetar penuh nikmat, kepalanya terlemah ke belakang membiarkan pria di atasnya memuaskan hasrat.
Pria itu terkekeh jahat sambil mencengkeram pinggang ramping wanita itu. "Tentu saja dong, sayang. Mana bisa dibandingin sama si Darren tua itu? Dia cuma bisa kerja dan kerja. Uangnya banyak tapi bisu soal begini."
Natasha tertawa renyah, suara tawanya terdengar begitu sinis dan kejam di telinga Darren. "Iya lah. Lagian gue butuh duit dia doang kok. Bodoh banget sih cowok itu, gue senyum dikit aja dia langsung luluh. Nanti setelah gue dapet semua hartanya, gue tinggalin dia. Kita bisa kawin dan hidup mewah selamanya, sayang."
"Lo emang jenius, Nat. Pintar manfaatin kesempatan."
"Yaelah, di dunia ini yang penting duit sama kesenangan. Cinta mah gak bisa dimakan," jawab Natasha santai, seolah apa yang ia lakukan adalah hal yang paling wajar di dunia.
Brak!
Cincin berlian yang sedari tadi Darren genggam terlepas dari tangannya, jatuh membentur lantai marmer dan menghasilkan bunyi yang nyaring memecah keheningan malam.
Seketika itu juga, aktivitas di atas ranjang terhenti total.
Natasha dan pria asing itu terlonjak kaget, buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang telanjang. Wajah mereka pucat pasi saat melihat Darren berdiri tegap di ambang pintu.
Mata Darren memerah menahan amarah yang luar biasa. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak seolah ditimpa beban berton-ton beratnya. Rasa sakit, kecewa, malu, dan marah bercampur menjadi satu, meledak di dalam kepalanya.
"Ren... Darren... sayang..." Natasha mulai panik, wajahnya pucat. "Ini... ini bukan kayak yang kamu lihat! Dengerin aku jelasin dulu, please!"
Darren tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan yang begitu dingin, kosong, dan mematikan. Tatapan yang membuat bulu kuduk siapa saja yang melihatnya akan merinding ketakutan.
Ia tidak berteriak, tidak memukul, tidak juga memaki. Keheningannya justru jauh lebih menakutkan daripada ledakan amarah.
Hanya ada satu kalimat yang keluar dari mulutnya, berbisik pelan namun penuh penekanan.
"Keluar."
"Ha... apa?"
"KU KATA KELUAR! DARI HIDUP GUE! SEKARANG!"
Malam itu adalah malam terakhir Darren melihat Natasha. Ia menghancurkan semua kenangan, memblokir segala akses wanita itu ke dalam hidupnya, dan memastikan Natasha tidak akan pernah bisa melihat wajahnya lagi. Sejak saat itu, Darren Wijaya berubah total.
Hatinya membeku. Tembok tinggi menjulang mengelilingi dirinya. Ia menjadi dingin, kejam, dan tidak pernah lagi mau percaya pada kata cinta.
🔙 KEMBALI KE MASA KINI
Napas Darren terasa berat dan tidak teratur. Kepalan tangannya di atas meja mengerat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan kejadian malam itu masih begitu jelas, begitu menyakitkan.
"Natasha..." gumamnya pelan, nama itu terasa seperti racun di lidahnya.
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak emosi yang kembali muncul. Matanya kembali menatap kotak bekal di depannya dengan tatapan yang kini berubah menjadi sinis dan penuh prasangka.
Dan saat itulah, ia mulai membandingkan.
'Selly...'
Gadis itu cantik, ceria, dan selalu terlihat bersinar. Tapi bagi Darren, itu semua hanyalah topeng. Sama seperti Natasha dulu.
Darren yakin, alasan Selly mengejarnya selama bertahun-tahun bukan karena cinta tulus. Itu mustahil. Baginya, Selly hanyalah anak manja yang hidupnya bergelimang harta, yang mungkin merasa bosan dan mencari sensasi baru dengan mengejar pria yang sulit didapatkan. Atau mungkin... gadis itu sama saja, tertarik pada statusnya sebagai orang terkaya nomor satu, tertarik pada kekuasaan dan kemewahan yang ia miliki.
'Kau pikir dengan membawakan makanan, tersenyum manis, dan bersikap manja seperti itu, aku akan percaya? Kau pikir aku sebodoh dulu lagi?' batin Darren mencaci.
Baginya, semua wanita sama saja. Mereka datang ketika ada yang bisa diambil, dan akan pergi meninggalkanmu saat mereka menemukan sesuatu yang lebih berharga atau lebih menarik. Selly juga akan begitu. Suatu saat nanti, saat gadis itu bosan atau menemukan pria lain yang bisa memberinya apa yang ia inginkan, Selly pasti akan pergi dan meninggalkannya dengan patah hati.
"Jauh lebih baik aku menolakmu sekarang, Selly. Lebih baik aku menyakiti perasaanmu sekarang, daripada nanti harus membiarkanmu masuk dan menghancurkan segalanya lagi," bisik Darren tegas, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Ia mendorong kotak bekal itu ke pinggir meja, seolah benda itu tidak berharga.
"Makanan ini... biarkan saja di situ. Atau buang saja," ucapnya lirih pada asistennya lewat interkom, dengan nada dingin yang tak bisa dibantah.
Meskipun entah kenapa, ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap tipis di sudut hatinya, Darren segera menepisnya. Ia tidak boleh lemah. Tidak untuk Selly. Tidak untuk siapa pun.
Semangattt thoorrr💚❤️🌺🍂🍁🌸🌼💮🔥