Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Peti Legendaris
"Bangsat itu hampir bikin tulang tanganku jadi serbuk."
Asap rokok murahan mengambang lelah di udara. Mengotori langit-langit markas yang catnya sudah lama mengelupas akibat erosi cuaca. Bau pesing dan karat besi tua menempel permanen di dinding ruangan sempit itu. Membusuk berlapis-lapis.
Pria berjaket kulit sintetis itu membuang putung rokoknya ke lantai semen. Menginjaknya kasar. Tangan kirinya terbalut perban putih kusam yang bernoda kekuningan.
"Tanganku. Tanganku hampir diamputasi karena kuli sialan itu."
Dua temannya yang duduk di atas peti kayu reyot hanya mendengus. Mereka menyesap kopi hitam yang rasanya lebih mirip air sisa cucian wajan.
"Kau kurang cepat menarik kerahnya," gumam salah satu dari mereka santai. "Lagipula, kau dengar kabar barunya, kan?"
Pria berperban meludah ke sudut ruangan. Ludahnya bercampur dahak kotor. "Kabar apa?"
"Apartemen kelas atas. Dia melunasi semua hutangnya kemarin sore. Kontan."
Udara di ruangan sempit itu mendadak terasa lebih padat. Mengimpit paru-paru. Kuli bangunan miskin yang biasa makan nasi sisa itu kini tidur di kasur empuk. Mustahil. Sangat mustahil. Logika jalanan menolak kenyataan tersebut mentah-mentah.
"Ada yang mendanainya," tebak pria berperban tajam. Matanya menyipit penuh kecurigaan. "Ada cukong besar di belakangnya sekarang. Pasti. Tidak mungkin gembel itu bisa meraup uang secepat itu."
Suara sol sepatu beradu dengan lantai semen menghentikan obrolan itu seketika.
Pintu seng yang berkarat terbuka pelan. Engselnya menjerit menyedihkan digesek gesekan logam kering.
Wawan berdiri di ambang pintu.
Langkahnya berhenti total di sana. Tidak ada yang berani mengambil napas panjang. Kehadiran Wawan membawa atmosfer korosi yang merusak nyali siapa pun di ruangan itu. Bos besar mereka jarang turun tangan langsung melintasi area bawah tanah ini.
Wawan menatap pria berperban. Wajahnya datar. Sangat datar.
"Apartemen elit?" tanya Wawan.
Suaranya tidak membentak. Tidak tinggi. Tapi cukup membuat lambung ketiga penagih hutang itu memuntir mual. Wawan mengulang apa yang baru saja telinganya tangkap.
"I-iya, Bos." Pria berperban itu menunduk menatap sepatunya sendiri. "Fais. Kuli yang kemarin kita tagih. Mendadak pindah ke apartemen di pusat kota. Semua tagihannya ditutup tuntas."
Wawan berjalan masuk. Ia memilih kursi plastik terdekat lalu duduk bersandar pelan. Tangannya bersendekap santai.
Ruangan itu dikubur sepi. Sepi keparat yang membunuh sisa ketenangan di tenggorokan para kroco itu.
"Jelaskan," perintah Wawan singkat.
Anak buahnya bergantian bicara. Gagap. Terburu-buru. Menceritakan bagaimana Fais yang dulunya hanya remah-remah debu aspal, sekarat dan miskin, kini sanggup memuntahkan lembaran uang tunai segar ke wajah mereka.
Wawan mendengarkan tanpa mengubah ekspresi. Matanya menatap lurus ke tembok berlumut di depannya. Pikirannya menghitung probabilitas demi probabilitas secara mekanis.
Kemiskinan itu seperti penyakit kulit menahun. Mengakar. Membusuk dari dalam. Merusak moral.
"Orang miskin tidak berubah secepat itu," ucap Wawan akhirnya.
Ia berdiri perlahan. Tidak ada emosi berlebih di nada bicaranya. Ketertarikan yang dingin mulai merayap di pupil matanya. Tatapannya menajam.
"Pantau dia. Dari jauh." Wawan menunjuk pintu dengan dagunya, memberi isyarat arah keluar. "Cari tahu dari mana mata airnya mengalir. Telusuri sumbernya. Dan ingat."
Wawan menghentikan langkahnya tepat di depan pria berperban.
"Jangan menyentuhnya. Jangan bergerak sembarangan ke arahnya. Paham?"
Ketiga anak buahnya mengangguk kaku layaknya manekin. Wawan belum berniat menemui Fais. Belum saatnya. Ia butuh lebih banyak informasi sebelum membongkar anomali hidup pria miskin ini.
Di belahan kota yang berbeda, malam turun merangkul menara-menara kaca.
Fais masih mematung di balkon apartemen mewahnya. Kaca jendela memantulkan siluetnya yang berdiri tegak.
[Apakah Anda ingin memakai peluang 100%?]
Teks di layar antarmukanya berkedip terang. Menunggu. Menggoda sisa kewarasan otaknya secara perlahan.
Fais menghela napas panjang. Udara malam di sini tidak lagi berbau got selokan. Hanya ada aroma pendingin ruangan tersaring dan kesunyian yang mahal.
"Ya"
Peluang seratus persen. Tidak ada celah untuk kemelesetan. Tidak ada ruang untuk erosi nasib yang menyedihkan.
Layar antarmuka mendadak meredup drastis. Kotak emas neon yang sedari tadi berputar kini berhenti berotasi. Cahayanya menua tajam. Berubah menjadi emas gelap yang pekat. Seolah menyerap semua gelombang cahaya di ruangan itu.
Layar bergetar hebat.
[PETI LEGENDARIS DIBUKA]
Teks baru menyembur keluar. Mentah dan mendominasi retina mata Fais.
[Reward:]
[Rp 500.000.000]
[Inventaris Dimensi]
[5 Tahun Pengalaman Bertarung]
Uang setengah miliar berpindah ke rekening perbankannya dalam hitungan mikrodetik. Notifikasi bank menyusul muncul pasif, bergetar hebat di kantung pakainnya. Tapi Fais tidak peduli.
Ia tidak sempat peduli pada angka-angka sialan itu.
Kepalanya meledak.
Rasa sakit yang gila menghantam tempurung kepalanya secara brutal. Seperti ada bor beton yang memaksa masuk melalui rongga telinganya. Fais terhuyung mundur kehilangan keseimbangan. Tubuhnya menabrak pintu kaca balkon dengan kasar.
Memori asing merobek masuk ke dalam jaringan otaknya. Paksa. Tanpa permisi.
Bau darah berkarat. Bau darah berkarat menjejal hidungnya. Rasa logam tumpul di pangkal lidah.
Ia melihat kepalan tinju melayang ke arah pangkal hidungnya. Ia merasakan tulang rusuknya patah berderak. Ia melihat sebilah pisau lipat berkilat di bawah temaram lampu jalanan kumuh. Bertahan hidup. Bertahan hidup. Insting itu menjerit dalam kepalanya.
Itu sama sekali bukan kenangannya. Tapi sel tubuhnya bereaksi mutlak. Ototnya merekam semua rentetan kebrutalan itu. Teknik kotor jalanan menancap kuat. Menggantikan kepolosan sarafnya. Refleks membunuh yang diukir dari ribuan malam penuh kekerasan mengalir liar menderaskan adrenalinnya.
Fais kehilangan kendali atas tangannya sendiri.
Otot lengan kanannya menegang keras. Mengunci sempurna tanpa instruksi sadar dari otaknya.
BRAK!
Satu pukulan lurus meluncur menembus udara. Menghantam meja kaca tebal di tengah ruang tamunya dengan kecepatan presisi.
Permukaan meja itu retak seketika. Garis-garis pecah menyebar ganas dari titik kepalan tangannya seperti jaring laba-laba. Serpihan kaca seukuran kuku melompat menabrak udara kosong.
Fais menarik tangannya mundur pelan-pelan. Napasnya memburu tidak teratur.
Ia membeku. Mematung menatap kepalan tangannya yang bergetar samar. Tidak ada luka robek yang parah. Hanya ada sensasi kebas dan sedikit lecet memerah di buku-buku jarinya. Kepadatan tulangnya terasa berbeda sepenuhnya. Berat. Padat. Siap meremukkan rahang siapa pun.
Kekuatan ini sinting. Sangat sinting. Fais menelan ludah yang terasa setajam pecahan kaca di kerongkongannya.
Otaknya masih berdenyut kencang menerima sinkronisasi lima tahun kehidupan liar yang baru saja dirangkum dalam penderitaan singkat.
Sistem belum selesai bermain dengannya.
[Ding!]
Suara sintetik itu kembali merayap mendenging di telinganya. Dingin. Menuntut rutinitas.
Layar antarmukanya menunjukkan di depannya berkedip. Menerangi layar biru tepat di depan mukanya.
[Misi Harian -- Konstitusi Dasar]
[- Lari 50 KM]
[- Meditasi 1 Jam]
[- Menyelesaikan 1 Buku]
[Reward: +0,1% Stored Probability]
Fais mengusap wajahnya dengan telapak tangan kasarnya. Jantungnya masih memompa darah dengan ritme yang terlalu agresif.
Ia membaca baris terakhir itu. Berulang kali. Memastikan retinanya tidak sedang kabur akibat trauma memori tempur tadi.
[Stored Probability: 0,1%]
Ia duduk di sandaran sofa mahal itu. Menatap angka desimal yang begitu menyedihkan terpampang di layarnya.
Peluang mutlak yang baru saja ia gunakan barusan ternyata tidak datang dengan harga obralan. Sistem ini punya tagihan tersendiri yang mengikat. Angka nol koma satu persen itu menampar kewarasannya secara frontal.
"Nol koma satu persen," gumam Fais pelan, nyaris berbisik.
Otaknya mulai memproses matematika sederhana itu di tengah sisa-sisa sakit kepala yang belum reda.
"...Seribu hari?"
Sistem merespons tanpa ragu. Teks baru menimpa layar di tangannya.
[Probabilitas absolut tidak dirancang untuk digunakan tanpa batas.]