NovelToon NovelToon
Aku Ternyata Putra Kaisar Wanita Dinasti Zhou

Aku Ternyata Putra Kaisar Wanita Dinasti Zhou

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Mengubah sejarah
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: RRS

Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 22: Hukum Baja dan Keadilan Langit

​15 November 700 Masehi — Gerbang Abadi Varanasi

​Debu tebal yang dihasilkan oleh rantai baja 10 unit Tank MBT menyelimuti udara Varanasi yang biasanya dipenuhi aroma dupa dan bunga persembahan. Tembok luar kota abadi umat Hindu itu telah runtuh, namun pemandangan di dalamnya tidak seperti penaklukan kota pada umumnya di abad ke-8. Tidak ada api yang membakar rumah warga, tidak ada jeritan wanita yang diseret, dan tidak ada penjarahan massal.

​Yudi Rahmad, berdiri di atas tank komandonya yang perlahan memasuki alun-alun kota, menatap ribuan warga dan pendeta yang bersujud dengan tubuh gemetar. Di sampingnya, Galuh memastikan perintah Kaisar bergema melalui sistem pengeras suara yang dipasang di setiap kendaraan tempur.

​"Dengarkan rakyat Varanasi dan Lumbini!" suara Galuh menggelegar, diterjemahkan secara instan ke dalam bahasa Sanskerta dan Prakrit oleh sistem kecerdasan buatan. "Perintah langsung dari Kaisar Yudi Rahmad: Tidak ada satu pun tentara Dinasti Rahmad yang boleh menyentuh warga sipil! Tidak ada satu pun peluru yang boleh mengenai rumah ibadah! Siapa pun yang melanggar hukum ini, nyawanya adalah bayarannya!"

​Warga yang tadinya mengira akan terjadi pembantaian massal perlahan mengangkat kepala mereka. Mereka melihat tentara kavaleri bermotor Yudi tetap berada di atas kendaraan mereka, senapan otomatis mereka tersampir di punggung, tidak diarahkan ke kerumunan.

​Yudi melangkah turun dari tank, berjalan menuju tangga kuil utama. Ia menatap para Brahmana yang ketakutan. "Aku datang bukan untuk menghancurkan iman kalian," ucap Yudi dengan nada tenang namun penuh wibawa. "Aku datang untuk menghukum raja-raja kalian yang pengecut. Kalian tetap bebas beribadah sesuai keyakinan kalian. Kuil-kuil ini tetap milik kalian. Dinasti Rahmad menjamin keamanan setiap jiwa yang tidak mengangkat senjata."

​Pernyataan ini segera menyebar seperti api di antara kerumunan. Air mata haru mulai menetes di pipi para peziarah. Mereka belum pernah melihat penakluk yang begitu kuat namun begitu menghormati kesucian tempat ibadah mereka. Di Lumbini, hal yang sama terjadi. Taman suci kelahiran Buddha dijaga ketat oleh kavaleri Rahmad, bukan untuk dihancurkan, melainkan untuk dipastikan tidak ada penyusup yang merusaknya.

​Lhasa — Ruang Operasi Pusat

​Kabar jatuhnya Varanasi dan Lumbini tanpa pertumpahan darah warga sipil segera terverifikasi di layar monitor pusat. Yudi kembali ke pusat komando melalui transmisi satelit untuk merencanakan langkah selanjutnya. Dua kota suci telah aman, namun perang belum usai.

​"Galuh, siapkan laporan intelijen terbaru," perintah Yudi. "Aliansi India tidak akan menyerah hanya karena kita menguasai pusat spiritual mereka. Kita harus menghantam jantung administrasi mereka."

​Peta hologram di depan Yudi menyala terang, menampilkan tiga titik krusial yang menjadi target selanjutnya:

​Pataliputra: Ibu kota Kekaisaran Pala yang megah di Timur.

​Kannauj: Ibu kota Gurjara-Pratihara yang merupakan kunci penguasaan India Utara.

​Manyakheta: Ibu kota Dinasti Rashtrakuta di wilayah Selatan yang jauh.

​"Kita akan menyerang secara simultan," lanjut Yudi. "Gunakan keunggulan kecepatan kavaleri bermotor kita. Aku ingin ketiga raja itu berlutut di depanku sebelum bulan ini berakhir."

​Bagdad — Istana Al-Khulud

​Kabar tentang jatuhnya Varanasi dan Lumbini, serta kebijakan Yudi yang luar biasa terhadap warga sipil dan rumah ibadah, sampai ke telinga Khalifah Abbasiyah. Utusan Rahmad yang masih berada di Bagdad menyerahkan laporan tertulis melalui perangkat digital yang memancarkan teks bercahaya.

​Khalifah tertegun saat membaca laporan tersebut. "Dia menaklukkan kota musuh namun membiarkan mereka beribadah dengan tenang? Dia menjaga kuil-kuil mereka?" tanya Khalifah dengan nada takjub.

​"Benar, Amirul Mukminin," jawab utusan tersebut. "Kaisar Yudi mengikuti hukum keadilan yang tinggi. Beliau hanya memerangi mereka yang memerangi kita."

​Khalifah tersenyum lebar. "Ini adalah dakwah yang paling nyata. Kekuatan baja yang dipadukan dengan kemuliaan akhlak. Sampaikan pada saudaraku Yudi, bahwa Abbasiyah akan selalu berdiri di belakangnya. Kemenangan ini bukan hanya milik Dinasti Rahmad, tapi kemenangan bagi seluruh Aliansi Sabit."

​Segera setelah itu, Khalifah memerintahkan pengiriman bantuan logistik dan ribuan kuda terbaik dari tanah Arab sebagai bentuk dukungan moral bagi kampanye militer Yudi di India.

​Luoyang — Reaksi Maharani dan Yue Qing

​Di Timur, Maharani Wu Lin merasa sangat lega mendengar bahwa Yudi melarang penghancuran rumah ibadah di Varanasi. Sebagai seorang penguasa yang juga menghormati tradisi spiritual, tindakan Yudi menyelamatkan posisinya dari tekanan para pemuka agama di Tiongkok.

​"Putraku memang ditakdirkan untuk memerintah," ucap Wu Lin di depan para menterinya. "Dia memiliki kekuatan naga, namun hatinya setenang air sungai. Beritahu rakyat Zhou bahwa putraku telah membebaskan Varanasi dari ketakutan!"

​Sementara itu, Yue Qing merasa semakin terobsesi. Baginya, sisi kemanusiaan Yudi yang dipadukan dengan kekuatan militer yang tak tertandingi menjadikannya pria paling sempurna di bawah langit. "Dia tidak hanya menaklukkan tanah mereka, Ayah," bisik Yue Qing pada Menteri Besar. "Dia sedang menaklukkan hati mereka. Itulah mengapa dia tidak akan pernah bisa dikalahkan."

​Garis Depan — Menuju Pataliputra dan Kannauj

​Dengan moral pasukan yang sangat tinggi dan dukungan dari sekutu-sekutunya, Yudi memerintahkan pergerakan besar-besaran. Kavaleri bermotor mulai menderu kembali, membelah padang rumput India menuju Pataliputra dan Kannauj.

​Sistem radar Aegis memantau setiap pergerakan sisa-sisa pasukan India yang mencoba menyusun barikade. Namun, di mata para prajurit India, pasukan Yudi bukan lagi sekadar musuh, melainkan kekuatan alam yang tak terhentikan yang membawa hukum baru.

​"Target selanjutnya: Pataliputra!" perintah komandan lapangan melalui radio. "Majulah atas nama Kaisar Rahmad!"

​Dunia kuno kini benar-benar terguncang. Tiga ibu kota besar India sedang menghitung hari-hari terakhir kemerdekaan mereka, menunggu kedatangan Sang Penakluk dari Utara yang membawa baja di tangan kanan dan perdamaian di tangan kiri.

​HUBUNGAN KARAKTER & STATISTIK (BAB 22)

​Yudi (17 Thn): Mengukuhkan reputasinya sebagai penakluk yang adil (Just Conqueror). Kebijakannya di Varanasi dan Lumbini memenangkan simpati penduduk lokal.

​Yue Qing (16 Thn): Semakin aktif dalam persiapan penyambutan Yudi di Luoyang, merasa bangga menjadi calon permaisuri seorang penakluk yang bijak.

​Khalifah Abbasiyah: Memberikan dukungan penuh secara diplomatik dan logistik kepada Dinasti Rahmad.

​Warga Varanasi/Lumbini: Dari ketakutan menjadi tunduk karena rasa hormat atas kebebasan beribadah yang diberikan.

​KONDISI STRATEGIS (15 NOVEMBER 700 M)

​Wilayah Takluk: Varanasi, Lumbini (Sepenuhnya di bawah Rahmad).

​Target Aktif: Pataliputra, Manyakheta, Kannauj.

​Status Militer: 2.700 Motor Trail & 10 Tank MBT terus bergerak ke arah tiga koordinat ibu kota.

​Korban Sipil: 0 (Sesuai maklumat Kaisar).

1
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝☝aja, moga novelnya lancar.
Aisyah Suyuti
good
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua kedua itu thor
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor bikin mcnya membuat Kekaisaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!