Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Pengabdian
Mayra meminta bertemu, tapi Ivy yang menentukan tempatnya, sebab waktu yang hanya tinggal satu jam itu tak akan bisa jika harus kesana kemari terlebih mendengarkan Mayra yang sepertinya akan mengeluh, bercerita dan yap! Tentu saja mungkin menyalahkannya atas kejadian yang menimpanya kemarin.
Oke, Ivy siap bertemu.
Dan akhirnya disinilah mereka bertemu. Ada air muka keruh meski wajah Mayra itu terlihat sembab dan pucat, sepertinya beberapa waktunya belakangan ini, ia gunakan untuk menangis. Dalam balutan baju casual seperti yang biasa ia pakai ke kampus, Mayra cukup bisa dikatakan kusut.
"Apa yang Lo bilang sama Panji, Vy? Kalo Lo ngga ngomong, Panji ngga mungkin datang ke kostan Zein." Cecarnya. Ia terlihat murka, menahan emosi dan air mata yang hendak meluruh kembali. Sementara Ivy menatapnya gamang, setengah kesal juga.
"Jadi lo nuduh gue, May?" tanya Ivy.
Hening kembali. Tak ada yang angkat bicara, meninggalkan suara bising sekitar saja yang mengambil alih, baik Ivy atau Mayra memilih membuang pandangan dari satu sama lain, memperhatikan sekeliling dengan hati yang teramat gusar.
Sementara kedua gelas ice coffee milik mereka dibiarkan saja sampai dinding gelas keduanya menimbulkan efek berkeringat yang basah.
"Gila ya..." dengus Ivy sumbang, menunjukan ketidak percayaan sekaligus kegetirannya akan sikap Mayra ini.
"Kenapa ngga lo tanya cowok lo itu, gue ada bilang apa sama dia? Dia sendiri yang tau kalo Lo ngga beres. Lo ngga merasa bersalah sama gue ya, May? Yang ada di otak Lo tuh cuma Lo, kepentingan Lo, kesenangan Lo, dan semua tentang Lo." Ujar Ivy, sekelebat bayangan pertemanan yang telah terjalin lama penuh tawa canda membuat dadanya sesak, "ngga ngerti deh. Kenapa Lo jadi begini, sejak----"
Sejak pacaran sama si breng sek, Zein. Ivy hanya bisa menggerutu.
"Gue ngga ngerti sih May, yang ada di otak lo tuh apa. Lagian ngapain juga gue mesti mikirin Lo, setelah Lo dengan sengaja ngumpanin gue sementara Lo enak-enakan sendiri."
"Kita tuh temenan udah lama, Vy..." ucapnya mele nguh, seolah ia menyalahkan semua yang terjadi kemarin, keruwetan kemarin pada Ivy.
Brakk!
Ivy menggebrak meja, nafsu makannya kini membumbung terbawa angin, orang-orang sekitar mereka menengok dengan tatapan kaget sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi, "iya. Kita temenan udah lama, tapi Lo seenaknya sama gue, selalu begitu. Lo juga harusnya tau kalo gue paling ngga suka orang yang ngumpetin sesuatu tapi gue yang disuruh bersih-bersih, Lo temen gue bukan, May?"
"Dan satu lagi, gue ngga nyangka lo semenjijikan itu ternyata. Jangan panggil gue lagi, May...Lo tau, karena kasus lo ini, gue yang kena imbasnya, dituduh terlibat kasus narkoba plus prostitusi! Toxic tau ngga..." Benar, Ivy mencebik, apa yang ia katakan sekarang adalah kabar burung yang berhembus kemarin-kemarin dan mengancam reputasinya.
Ivy menarik tas dan beranjak dari meja yang Mayra duduki ke meja lain, dimana setelah ini kelompok KKN nya bertemu.
"Ivy! Vyy!" teriak Mayra tak digubris Ivy yang langsung mencebik, "ck. Gue yang lagi kasus Lo yang marah, fineee! Kita ngga usah temenan lagi, Vy!"
Ivy yang mengangkat tangannya dan melambai seolah berkata, good bye!
Ia menghela nafasnya, jujur saja sedikit kecewa pertemanan yang terjalin harus hancur hanya karena keegoisan. Dan yeah! Ia hanya bisa menyemangati dirinya sendiri, oke Ivy---orang kaya gitu ngga pantes ditemenin, orang kaya begitu toxic...hufft! gue ngga butuh!
Duhh! Lelehan air mata menetes dari matanya, lain di luar lain di dalam hatinya yang teramat sedih, kecewa, menyayangkan... lagi-lagi bayangan pertemanan selama ini yang membuat air mata Ivy lolos mengalir.
Meninggalkan Mayra yang kini sudah beranjak dan pergi dari cafe, satu persatu teman satu timnya mulai berdatangan mulai dari Imel lalu ada Prakarsa, Tami, Nanda, Gabriel, Gege, Bumi, Raudhah, Made.
Ivy mengaduk ice coffee yang tentunya sudah berkurang rasa manisnya dibanding tadi, lalu menyeruputnya.
"Sorry gue sambil pesen makan lah ya, laper oy." Dia Gabriel, anak teknik sipil yang akhirnya Ivy tak sendiri, "gue juga deh. Niat awal sambil makan soalnya.." ringis Ivy.
"Boleh--boleh, santai aja." Jawab Made mendorong kacamatanya.
"Sambil berjalan aja ya, ini siapa yang belum datang?" tanya Prakarsa yang sejak awal begitu vokal ini.
"Bumi." jawab Gege, "bentar deh, kayanya dia ada ijin tadi di grup agak telat, ketemu dulu dosen katanya." Dan yahh! "itu dia...Bum!" Gege melambaikan tangannya.
Lalu mereka sempat memesan terlebih dahulu makanan bersamaan dengan satu sama lain berkenalan.
"Ini seriusan ya, kita ke kota seribu sunset? Ngga kurang jauh lagi?" tanya Ivy buka suara.
"Lah, bumi cendrawasih mau Vy?" tawar Nanda menyugar rambutnya, si anak teknik perminyakan ini cukup mengenal Ivy, tentu saja siapa yang tak tau namanya Ivy, bahkan sebelum pembentukan grup KKN ini.
Raudhah membetulkan jilbab panjangnya, gadis cantik dengan kerudung menutupi hampir sebagian pakaian hingga ke perut namun cukup modis ini tersenyum, ah tentu saja siapa yang tak tau dia seorang beauty vlogger juga, "program kampus yang baru, Vy...menyukseskan program pemerintah."
"Jadi kerjasama sama pemerintah gitu?" tanya Imel, tentu saja salah satu teman yang cukup mengenal Ivy.
"Yap! Betul." Made mengangguk, oke pesanan datang nyatanya diantara mereka hampir semua memesan selain dari minuman, selain karena mereka baru selesai beraktifitas dan belum sempat makan siang, menjelang masa kkn begini memang para mahasiswa dibuat cukup sibuk.
"Jadi kota seribu sunset ini tetep masuk Nusantara bagian timur?" tanya Tami diangguki Prakarsa, ia mengotak atik iPad di tangannya lalu menunjukan itu ke arah wajah-wajah yang anteng makan, diantara kunyahannya Arsa menjelaskan, "ini menurut google earth yang gue liat dari kemaren...."
Ivy menghentikan kunyahannya, seolah ada lonjakan asam lambung yang mendadak ingin mendorong makanannya keluar dari tenggorokan dan mulut dan berkata, gue ngga mauuuuu!
"Lo langsung searching, bruh?" tanya Gabriel nampak syok juga melihatnya, ia cukup tau kota seribu sunset hanya saja secara garis besar yang pernah ia kunjungi adalah pieces of heavennya saja, bukan antah berantah yang dimana kini---jari-jari Arsa telah menzoom dan menggeser google earth di layar, dengan garis-garis dan koordinat yang tiap ia geser berubah melonjak angkanya.
"Bentar deh bentar..." Ivy mulai tersedak nafasnya sendiri, "ini yang ini apa?"
"Perbatasan Vy, ujung dunia." Tawa Bumi berseloroh. Beberapa diantara mereka sungguh tak ingin tertawa, seperti Gege, yang sudah mendaratkan geplakannya di bahu Bumi, "si alan, jangan nakutin begitu lah!"
Imel meringis, begitupun Raudhah.
"Jangan lupa bekal lotion anti nyamuk, obat-obatan."
"Kita memangnya ngerjain proker dimana?"
"Desa perbatasan disana, namanya Tanjung komodo. Warganya mayoritas jadi nelayan sekitar 80 persen, sisanya ada yang bertani, penyedia jasa wisata, budidaya rumput laut juga."
Lain hal Ivy dan Gege yang sudah blank sebab mengetahui jauhnya tempat, Raudhah sudah kembali bertanya yang jawabannya tidak bisa membuat Ivy semakin tersedak tomat di dalam menu nasinya, "terus krisis yang dihadapin apa?"
Arsa menghela nafasnya sebentar memperhatikan wajah-wajah teman-temannya yang terlampau penasaran itu, sedikit getir namun ia adalah spesies manusia jujur, "krisis air tanah, infrastruktur jalan, pembangunan, teknologi, dan----konflik tanah adat."
Gege menatap dengan berkaca-kaca, "gue---gue ngga mauuuu!"
Ivy menatap Gege semakin takut.
"Guys guys tenang. Kalo pemerintah kasih opsi, termasuk kampus berarti tandanya aman, ya kan?" Gabriel mendorong bahu Arsa, "Lo mah malah nakut-nakutin aja Sa ah!"
"Ambil sisi positifnya, kita kkn sambil liburan." Tami menaik turunkan alisnya.
Arsa mengangguk, "Lo tenang Ge.." sementara Gege sudah ditenangkan Raudhah dan Bumi, Ivy sendiri, oke aku tegar----aku tegar, ngga mau mewek, sumpah! Tapi yang terjadi ia pun sudah terisak.
"Disana kita tetep dijagain militer kok, keamanan dijaga. Kita juga bikin basecamp yang ngga jauh dari lanal."
Ivy masih diam seribu bahasa, padahal Gege sudah sewot, "lanal apaan?!"
"Pangkalan militer laut, Ge...elah gitu aja ngga tau."
Ivy menyentuh tangan Imel yang ada di sampingnya, "Mel, gue boleh pegang tangan lo, ngga?" Imel menyemburkan tawanya, "boleh. Biar ngga mewek ya, Vy?"
"Guys, pengabdian loh ini, pengabdian..." Nanda bicara turut menenangkan dan memberikan stimulasi semangat.
"Pengabdian nenek Lo surfing! Diem ngga?! Semangat Lo ini ngga ngaruh, gue ngga sepatriot itu, rasa nasionalisme gue cukup di upacara doang." omel Ivy membuat Arsa hampir tersedak jusnya.
/
Acara 4 bulanan Gala sudah selesai. Panji bahkan sudah pamit pada keluarganya sebab ia akan menjalankan kembali dinas luar selama 3 bulan lamanya, menjaga kedaulatan negri, di batas maritim timur bumi Pertiwi.
"Kapan berangkat?"
"Besok."
aaaahhh sok nyesek we kalo ngabayangkeun hal seperti ini th aku mh 😭😭
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati