NovelToon NovelToon
Mawar Memar

Mawar Memar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas

“Pak, Sharga sedang mendekati Elvander.”

“Berapa yang dia ajukan pada Elvan?”

“Sepuluh milyar.”

“Kali ini dia sedang diperalat siapa?” Tanya Rex sambil memeriksa dokumen proyek yang sedang dikerjakan.

“Entahlah, saya belum mendapatkan informasi tentang hal ini.”

Rex menyelesaikan pekerjaan menandatangani berkas proyek yang akan segera dia jalankan.

“Kasian dara jika harus diberikan pada Elvan.”

“Benar. Elvan sudah punya empat istri. Selain itu dia memiliki sikap yang kasar pada perempuan.”

“Kamu segera kasih kabar.”

“Siap, Pak.”

Angga kembali keluar dari ruangan Rex.

Pria itu mengambil ponsel, lalu menghubungi seseorang.

“Bagaimana? Sudah kamu dapatkan para bedebah itu? Hemm, baiklah. Segera cari orang dalam. Saya tidak ingin mereka hidup.”

Rex mematikan ponselnya, lalu melemparkan benda itu ke atas meja. Dia berdiri di depan dinding kaca yang memperlihatkan luasnya kota dengan gedung-gedung yang tidak lebih tinggi dari tempat dia berada kini.

...***...

“Coba kamu cek bagian ini udah bener belum? Aku kok ngerasa anak-anak bakalan kebingungan gak sih?”

“Kayaknya sih iya. Harusnya kita bikin yang lebih simple biar mudah di faham.”

“Kamu benar.”

“Oke guys, ayo kita kerjakan dari awal.”

Delana dan ke empat teman nya sedang mengerjakan tugas bahan ajar yang akan mereka bawa untuk tugas lapangan besok.

“Aku bikin ini bagus nggak?” Tanya Retno.

“Lucu. Anak kelas satu sih pasti seneng. Oke, good.” Delana menyetujui pun dengan yang lain.

“Delana, kamu bagian bahasa Inggris kan?”

“Hmmm. Nih, kita bikin lebih simpel dari yang tadi. Gimana?”

“Nah, iya. Itu lebih gampang.”

Kelima mahasiswa itu sibuk mengerjakan bahan ajar sesuai dengan pelajaran dan jurusan yang mereka ambil. Besok mereka akan pergi ke sekolah dasar untuk melaksanakan tugas lapangan.

Dari pagi sekitar pukul sembilan, mereka mengerjakan tugas hingga pukul tiga sore dan belum selesai.

Rex yang sibuk dengan pekerjaan nya pun baru menyadari jika seharian ini dia tidak mendapat kabar dari Delana. Dia pun menelpon wanitanya itu.

“Kenapa, Pak?”

“Kamu sadar ini pukul berapa?”

Delana melihat jam tangan nya.

“Pukul tiga. Kenapa memangnya?”

“Seharian kamu tidak ada kabar.”

“Sibuk, Pak. Lagian kenapa harus aku duluan coba yang telpon atau kirim pesan? Bapak lah telpon saya.”

“Kamu pikir kita sedang apa sekarang?”

Delana tertawa.

“Di mana?”

“Di kampus masih ngerjain tugas buat besok. Bapak di mana? Udah makan?”

“Di kantor. Kamu sendiri?”

“Belum sempet, ini aku sama temen-temen baru makan roti sama susu tadi. Pak, anak buah Bapak kan banyak, bisa gak sih kita minta bantuan?”

“Katakan.”

Delana tersenyum riang. Telpon pun berakhir.

“Guys, kita pindah tempat.”

“Ke mana?”

“Ikut aja pokoknya. Kita tinggal tunjuk aja, tugas kita kelar. Ampun banget nih otak, kenapa gak gunain previlage yang ada dari tadi coba.”

Setelah Delana dan ke empat teman nya merapikan alat-alat, mereka segera pergi ke depan gerbang menunggu jemputan.

Tidak lama kemudian sebuah mobil hitam datang. Mobil Rex, di susul dua mobil lain nya.

“Nyonya, silakan.” Salah satu anak buah Rex membukakan pintu untuk Delana. Sementara teman-teman nya digiring menuju mobil lain.

“Ahhhhh sejuknya,” ujar Delana saat duduk dalam mobil.

“Minumlah.” Rex memberikan jus avocado kesukaan Delana.

“Thanks.”

“Mau makan dulu?”

“Nanti aja di rumah, pesen aja dari sekarang. Soalnya kami masih harus mengerjakan tugas. Jadi makan sambil kerja aja.”

“Sibuknya melebihi orang kerja rupanya.”

“Kan emang. Mahasiswa itu sibuk banget. Demi apa coba? Demi nilai. Kalau karyawan kan kerja dapet duit, capek juga enak. Pas gajian bisa shopping.”

“Yang enak malah kamu, Delana. Gak ngapa-ngapain juga bisa beli apa aja yang kamu mau,” ujar Angga.

“Itulah guna nya punya gadun,” seloroh Delana polos.

Uhukkk! Rex terbatuk.

Angga dan Dwisasono tertawa. Mereka sangat puas dengan kelakuan Delana pada Rex karena memang hanya dia yang bisa berbuat seenaknya pada bos mereka.

Rex tidak membawa teman-teman Delana ke mantion, karena mantion Rex memang tidak terbuka untuk orang luar. Dia membawa mereka ke villa pribadi Rex.

“Ini di mana? Kok ke sini?”

“Ini villa Pak Rex. Rumah Pak Rex tidak diijinkan untuk dikunjungi orang luar.” Angga menjawab pertanyaan Delana.

“Owh, oke. Gak masalah yang penting tugas aku dan yang lain, kelar.”

Teman-teman Delana: Retno, Galang, Mira, dan Lestari, begitu turun dari mobil langsung mendekati Delana. Mereka terlihat ketakutan.

“Kalian kenapa?” Tanya Delana heran melihat raut wajah teman-temannya yang pucat.

“Delana, mereka siapa? Kok vibes nya kayak mafia gitu ya,” celetuk Mira.

“Jujur, gue gak bisa ngomong apa-apa tadi di mobil. Gemetaran.” Galang menambahkan.

Delana tertawa.

“Udah, kalian tenang aja. Mereka itu ….” Delana kebingungan menjelaskan siapa mereka. Anak buah Rex, lalu siapa Rex baginya.

“Siapa, Delana. Jangan-jangan lo anak mafia ya.”

“Enak aja anak.”

“Siapa dong? Mereka gak bunuh orang kan?” Tanya Lestari.

“Nggak lah, udah kalian tenang aja. Mereka baik kok, kalian aman. Ayo, kita kerjakan tugas nya. Kalian boleh nyuruh mereka semau kalian. Nanti makanan datang, kita makan aja. Kita tinggal ngasih arahan aja ke mereka, bias mereka yang ngerjain.”

“Ok.”

Delana dan yang lain nya duduk ngemper di atas rumput di halaman villa milik Rex. Dibantu oleh sepuluh anak buah Rex.

Kadang gadis itu berdiri memberikan arahan pada anak buah Rex seperti anak SD yang sedang mendengarkan gurunya mengajar. Anak sekolah dengan tubuh tinggi dan kekar.

Makanan datang, Delana masih sibuk memberikan arahan sambil sesekali menyuapkan makanan. Bahkan mulutnya penuh pun dia masih sempat berteriak jika ada yang salah. Hari pun mulai larut dan mereka masih mengerjakan tugas untuk besok.

Rex memperhatikan dari jauh.

Pukul 21.45 wib, tugas mereka selesai. Ke empat teman Delana diantarkan ke rumah masing-masing. Sementara Delana dan Rex menginap di vila tersebut. Delana sudah kelelahan jika harus pergi ke mention.

“Lelahnyaaaaa.”

Rex tertawa sinis.

“Kenapa?”

“Yang sibuk anak buahku, yang lelah wanitaku.”

“Ya kan ngasih arahan sambil teriak pun lelah, menghabiskan banyak energi. Nih, lihat.” Delana menunjukkan paha, lengan dan betisnya yang kebiruan.

“Kenapa?” Tanya Rex serius.

“Tenang, Pak. Ini akibat terlalu lelah.”

“Aku pikir ada yang menyakitimu.”

“Kalaupun iya, ya kali aku ngadu. Cuma memar dikit doang.”

Rex menarik tangan Delana hingga gadis itu terkesiap kaget.

“Meski hanya seujung kuku, tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu.”

Delana mengerjapkan mata beberapa kali. Lama mereka saling menatap, Rex menatap kesal sementara Delana menatap kaget.

Kedua wajah mereka cukup dekat meski Delana harus menenggak kan kepala agar bisa menatap Rex. Hanya saja, tatapan kedunya berubah saat mata Delana tertuju pada bibir Rex.

1
Mujria Ria
padahal ceritanya bagus TPI belum ada yg baca yaa?? di tunggu kelanjutannya thor
Chaw_Mully: Hehehe gak apa-apa kak, mungkin belum rezekinya 😄. Makasih ya udah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!