NovelToon NovelToon
Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nana_riana

Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 — Rahasia yang Disembunyikan

Pagi itu, Alya datang ke kantor dengan suasana hati yang jauh lebih baik dibanding beberapa minggu terakhir.

Sejak resmi bersama Reno, hidupnya perlahan terasa lebih hangat.

Meski masalah keluarga Mahardika masih menggantung, Reno selalu berusaha membuat Alya merasa aman.

Dan tanpa sadar, Alya mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu dalam hidupnya.

“Selamat pagi, pacarnya Pak Reno,” goda Siska pelan saat Alya baru duduk.

Pipi Alya langsung memerah.

“Jangan keras-keras.”

“Sekantor juga udah tahu kali.”

Alya langsung menutup wajah malu sementara Siska tertawa puas.

Namun senyum Alya perlahan memudar saat melihat sebuah amplop cokelat tergeletak di atas mejanya.

Tidak ada nama pengirim.

“Aneh…” gumam Alya pelan.

“Apa tuh?” tanya Siska penasaran.

“Nggak tahu.”

Perasaan Alya mendadak tidak nyaman.

Perlahan ia membuka amplop tersebut.

Dan detik berikutnya,wajah Alya langsung pucat.

Beberapa lembar foto jatuh ke meja.

Foto-foto lama saat masa SMA.

Foto dirinya menangis di belakang sekolah.

Foto tasnya yang pernah dibuang ke kolam.

Dan yang paling membuat jantung Alya terasa berhenti,foto Reno yang sedang tertawa bersama gengnya sambil memegang buku gambar milik Alya yang sudah disobek.

Tangan Alya langsung gemetar hebat.

Napasnya mulai tidak teratur.

Siska yang melihat ekspresi Alya langsung panik.

“Alya?!”

Di dalam amplop itu juga terdapat secarik kertas kecil.

“Kamu yakin orang seperti Reno pantas dapat kesempatan kedua?”

Deg.

Dunia Alya terasa berputar.

Kenangan buruk yang susah payah ia kubur mendadak kembali menyerangnya tanpa ampun.

Sementara itu, Reno sedang meeting bersama beberapa klien ketika ponselnya terus bergetar.

Awalnya ia mengabaikan.

Namun saat melihat nama Siska muncul berkali-kali, firasat buruk langsung muncul.

Reno segera mengangkat telepon tersebut.

“Halo?”

“Pak Reno!” suara Siska terdengar panik. “Kak Alya kenapa nggak mau ngomong dari tadi!”

Reno langsung berdiri.

“Apa maksud kamu?”

“Saya nggak tahu! Dia cuma diam sambil nangis!”

Jantung Reno langsung terasa jatuh.

Tanpa peduli meeting yang belum selesai, Reno langsung keluar ruangan dan pergi menuju kantor Alya.

Saat Reno tiba, suasana ruangan langsung terasa tegang.

Alya duduk diam di kursinya dengan mata merah.

Sementara amplop cokelat itu masih berada di atas meja.

Begitu melihat foto-foto tersebut, wajah Reno langsung berubah dingin.

Sangat dingin.

“Siapa yang kasih ini?” tanyanya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Karena Alya sendiri tidak tahu.

Reno mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Ia tahu persis siapa yang mungkin melakukan ini.

Dimas.

Brengsek itu sengaja membuka luka Alya lagi.

“Alya…”

Namun begitu Reno mendekat, Alya justru mundur pelan.

Dan gerakan kecil itu berhasil membuat hati Reno terasa hancur.

“Alya, dengar aku dulu.”

“Kenapa?” suara Alya bergetar. “Kenapa dulu kamu bisa sejahat itu sama aku?”

Tatapan Reno langsung dipenuhi rasa bersalah.

“Aku bodoh waktu itu.”

“Tapi aku nggak pernah nyakitin kamu!”

Air mata Alya kembali jatuh.

“Aku cuma pengen sekolah dengan tenang…” suaranya semakin kecil. “Tapi setiap hari aku takut ketemu kamu.”

Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Reno.

Karena semua itu benar.

Dan tidak ada alasan yang bisa membenarkan perbuatannya di masa lalu.

“Aku tahu aku keterlaluan.” Reno mendekat perlahan. “Tapi aku berubah, Alya.”

“Apa benar?” Alya menatapnya dengan mata penuh luka. “Atau kamu cuma merasa bersalah sekarang?”

Reno membeku.

Karena pertanyaan itu adalah ketakutan terbesar dalam dirinya sendiri.

Apakah yang ia rasakan benar cinta?

Atau hanya rasa bersalah yang terlalu besar?

Namun sebelum Reno sempat menjawab, suara tepukan tangan pelan terdengar dari arah pintu.

“Drama banget.”

Semua orang langsung menoleh.

Dimas berdiri di sana sambil tersenyum sinis.

Tatapan Reno langsung berubah penuh amarah.

“Lo.”

Dimas berjalan santai masuk ke ruangan.

“Gue cuma bantu Alya lihat siapa diri lo sebenarnya.”

“Apa lo yang kirim amplop itu?” tanya Reno dingin.

Dimas tersenyum puas.

“Bagus dong kalau dia akhirnya ingat.”

Reno langsung maju dan mencengkeram kerah baju Dimas keras.

Suasana kantor mendadak heboh.

“Jangan main-main sama Alya,” desis Reno penuh amarah.

Namun Dimas justru tertawa kecil.

“Kenapa marah?” Ia melirik Alya sekilas. “Takut rahasia lo yang lain ikut kebongkar?”

Kalimat itu membuat Reno langsung menegang.

Dan Alya menangkap perubahan ekspresi tersebut.

Deg.

Jantung Alya langsung terasa tidak tenang lagi.

Karena untuk kedua kalinya,Dimas memberi kesan bahwa Reno masih menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar.

Reno melepaskan cengkeraman pada kerah Dimas dengan kasar.

Tatapannya tajam penuh amarah.

“Keluar sebelum gue beneran hajar lo.”

Namun Dimas justru tersenyum santai seolah menikmati situasi itu.

“Kenapa emosi banget?” Ia melirik Alya sekilas. “Bukannya lebih baik dia tahu semuanya sekarang?”

“Apa maksud kamu?” suara Alya mulai gemetar.

Suasana ruangan langsung terasa semakin menyesakkan.

Reno menoleh cepat ke arah Alya.

“Alya, jangan dengerin dia.”

“Tapi dia ngomong apa?”

Tatapan Reno berubah rumit.

Dan diamnya itu justru membuat hati Alya semakin tidak tenang.

Dimas terkekeh kecil.

“Nah, itu dia masalahnya.” Ia menyandarkan tubuh santai ke meja kerja. “Reno nggak pernah benar-benar jujur sama kamu.”

“Diam, Dimas.”

“Kenapa? Takut?” Tatapan Dimas berubah tajam. “Atau lo malu kalau Alya tahu alasan sebenarnya dia pindah sekolah dulu?”

Deg.

Mata Alya langsung membesar.

“Pindah sekolah?”

Karena setahunya, Reno hanya bilang keluarganya memindahkannya keluar negeri setelah lulus.

Namun ekspresi Reno sekarang terlihat berbeda.

Dan itu membuat firasat Alya semakin buruk.

“Alya.” Reno mendekat pelan. “Aku bakal jelasin semuanya, tapi bukan sekarang.”

“Kenapa bukan sekarang?”

Karena untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, Alya melihat keraguan di mata Reno.

Dimas tersenyum puas melihat situasi tersebut.

“Biar gue bantu jelasin.”

“Dimas!” bentak Reno marah.

Namun pria itu tetap melanjutkan dengan santai,

“Dulu setelah lo nangis besar di belakang sekolah…” tatapannya beralih pada Alya, “ada seseorang yang hampir celaka gara-gara Reno.”

Suasana langsung membeku.

Napas Alya terasa tercekat.

“Apa maksud kamu?”

Reno mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Cukup.”

Namun Dimas tidak peduli.

“Reno berantem sama senior yang nyebarin video lo waktu nangis.” Ia tertawa kecil hambar. “Dan itu nggak berakhir baik.”

Wajah Alya langsung pucat.

Video?

“A-apa…”

Reno memejamkan mata sesaat penuh frustrasi.

Sementara Dimas terus berbicara tanpa belas kasihan.

“Senior itu masuk rumah sakit.” Senyum tipis muncul di bibirnya. “Dan keluarga Reno buru-buru nutup semua masalahnya.”

Deg.

Jantung Alya langsung berdetak kacau.

Ia benar-benar tidak tahu soal itu.

“Aku nggak pernah nyuruh video itu disebar,” ucap Reno akhirnya dengan suara rendah. “Dan waktu aku tahu…” rahangnya mengeras, “aku kehilangan kendali.”

Tatapan Alya langsung bertemu dengan mata Reno.

Untuk pertama kalinya…

Ia melihat kemarahan dan penyesalan yang begitu dalam di sana.

“Alya,” lanjut Reno lirih, “aku memang brengsek waktu sekolah. Tapi satu hal yang nggak pernah aku bohongin…” Tatapannya melembut penuh rasa sakit. “Aku nggak tahan lihat orang lain nyakitin kamu.”

Air mata Alya perlahan jatuh lagi.

Karena semakin ia mengetahui masa lalu Reno semakin ia sadar bahwa hubungan mereka ternyata jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan.

1
tinuet'z
sangat menarik
partini
hoki Banggt si Reno di cinta ugal-ugalan wehhh mau sakiti Ampe darah" tetep cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!