"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Kebenaran yang Menyilaukan
Fajar menyingsing di cakrawala, ketenangan pagi di Mansion Tarkan hancur oleh kerumunan media yang semakin menggila di depan gerbang. Hamdan berdiri di tengah aula, mengenakan kemeja hitam yang rapi, memberikan aura otoritas yang tak tergoyahkan. Di sampingnya, dua dokter dari Swiss yang dikawal ketat oleh Farid telah menyiapkan peralatan medis di meja marmer.
Layla Tarkan turun dari tangga dengan wajah yang sangat kaku. Ia mencoba mendekat, namun Hamdan mengangkat tangannya, memberi tanda berhenti.
"Jangan satu langkah pun lagi, Ibu," ucap Hamdan dingin. "Proses ini akan dilakukan di bawah pengawasan kamera yang terhubung langsung secara live ke sepuluh kanal berita utama. Tidak akan ada tangan yang bisa menyentuh sampel ini selain tim medis yang kubawa."
Amora turun dengan gaun putih yang sederhana, nampak anggun namun pucat. Hamdan menghampirinya, meraih tangannya, dan membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Amora. "Tunjukkan pada dunia siapa kau sebenarnya, Mawar-ku."
Di bawah sorot kamera live streaming, dokter mengambil sampel darah dari lengan Hamdan, kemudian dari lengan Amora. Suasana begitu sunyi hingga suara detak jarum jam terdengar seperti ledakan. Amora bisa melihat tangan ibunya, Saphira, yang mengintip dari balik tirai lantai atas dengan doa di matanya.
Hasil tes DNA kilat dengan teknologi terbaru itu membutuhkan waktu tiga jam. Selama itu pula, Hamdan tidak melepaskan tangan Amora. Ia berdiri di hadapan para wartawan yang memantau dari layar di depan gerbang, memberikan pernyataan resmi yang dewasa dan berwibawa.
"Jika hasil ini membuktikan kami tidak sedarah, aku akan menuntut setiap orang yang telah menghina kehormatan Amora Gayana Klan," tegas Hamdan.
Tiba-tiba, seorang pelayan yang tampak gugup mencoba menyenggol tabung reaksi di meja medis saat tim sedang lengah. Namun, dengan gerakan refleks yang cepat, Hamdan menangkap tangan pelayan itu sebelum tabung itu jatuh.
"Farid! Bawa dia keluar! Jangan biarkan tikus ini melihat matahari besok pagi!" raung Hamdan. Sabotase Layla gagal total di depan mata publik yang sedang menonton secara langsung.
Pukul sepuluh pagi, dokter senior dari Swiss itu melangkah maju memegang sebuah map berlogo resmi internasional. Ia berbicara ke arah kamera dengan suara yang jernih.
"Berdasarkan analisis perbandingan 24 lokus DNA, probabilitas hubungan saudara tiri antara Hamdan Tarkan dan Amora Gayana Klan adalah 0%. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah."
Suasana seketika meledak. Wartawan di luar gerbang riuh rendah, namun di dalam aula, waktu seolah berhenti. Amora jatuh terduduk sambil menangis lega, sementara Hamdan langsung berlutut di depannya, memeluknya dengan kekuatan penuh di depan kamera yang masih menyala.
"Sudah berakhir, Amora. Kau bebas," bisik Hamdan, suaranya pecah karena haru.
Hamdan kemudian berdiri, menatap tajam ke arah kamera. "Amora bukan saudaraku. Dia adalah tunanganku, pewaris sah Dinasti Klan, dan mulai detik ini, siapa pun yang mengusiknya akan berhadapan langsung denganku!"
Setelah pengumuman hasil tes DNA yang disiarkan secara live itu, suasana di aula Mansion Tarkan yang tadinya tegang seketika berubah menjadi medan kemenangan. Hamdan masih memeluk Amora, membiarkan dunia melihat bahwa pelindung "kulkas dua pintu" ini memiliki hati yang bisa luluh.
Di sudut ruangan, Layla Tarkan berdiri dengan kepalan tangan yang bergetar. Rencananya untuk menyingkirkan Amora lewat fitnah sedarah telah hancur berkeping-keping di depan jutaan pasang mata.
Layla mencoba melangkah maju, hendak bicara, namun Hamdan menoleh dengan tatapan yang sangat dingin—tatapan seorang pria yang sudah benar-benar lepas dari bayang-bayang ibunya.
"Jangan katakan sepatah kata pun, Ibu," ucap Hamdan, suaranya pelan namun tajam. "Sabotasemu gagal. Sekarang, kembalilah ke kamarmu sebelum aku memutuskan untuk melaporkan keterlibatanmu dalam pemalsuan dokumen awal kepada pihak berwenang."
Layla tertegun, wajahnya pucat pasi. Tanpa dukungan penasihat hukumnya yang sudah lari duluan, ia hanya bisa berbalik dan menaiki tangga dengan langkah gontai, menyadari bahwa takhta kekuasaannya di mansion ini telah berakhir.
Saphira Elara keluar dari persembunyiannya di lantai atas. Ia berlari kecil menuruni tangga dan langsung memeluk Amora. Ibu dan anak itu menangis bersama, sebuah pemandangan yang tertangkap kamera media dan membuat publik yang menonton ikut terharu.
Hamdan berdiri di samping mereka, memberikan ruang. Ia menatap Saphira dengan hormat. "Nyonya Saphira, mulai hari ini, Anda tidak perlu lagi bersembunyi. Kamar terbaik di sayap utama adalah milik Anda, dan seluruh fasilitas medis terbaik akan tersedia untuk pemulihan Anda."
Saphira menatap Hamdan dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Tuan Hamdan. Kau telah menepati janjimu pada Alaric."
Hamdan melangkah menuju kamera live yang masih menyala. Ia merapikan kerahnya, kembali ke mode pria yang paling berkuasa.
"Kepada rekan bisnis, media, dan musuh-musuh tersembunyi keluarga Klan di luar sana... dengarkan ini baik-baik," ujar Hamdan dengan nada tegas. "Amora Gayana Klan bukan lagi gadis yatim piatu yang bisa kalian tindas. Dia adalah calon pendamping hidupku. Dan siapa pun yang mencoba menggali masa lalunya dengan niat jahat, akan berhadapan dengan seluruh kekuatan Tarkan Group."
Hamdan mematikan kamera dengan tangannya sendiri, mengakhiri siaran yang akan menjadi sejarah terbesar di negara itu. Ia berbalik, menatap Amora yang kini tersenyum padanya di sela tangisnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Amora menginjakkan kaki di mansion, suasana makan malam terasa hangat. Hamdan duduk di samping Amora, sesekali mengelus punggung tangannya di bawah meja, menunjukkan bahwa "Abang Hamdan" yang dewasa kini telah kembali sepenuhnya sebagai penjaga jiwanya.
Amora terharu dan bersyukur. "Terimakasih Hamdan," ucapnya dalam hati.
To be continued...