Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Penyelamatan Lambung Arlan
Jika ada satu hal yang paling Ghea benci selain rumus Glbb (Gerak Lurus Berubah Beraturan—yang menurut Ghea lebih cocok jadi Gerak Lurus Bikin Bingung), itu adalah suasana canggung. Dan ruang arsip OSIS adalah markas besar kecanggungan di SMA Garuda.
Hari Selasa ini, Ghea datang dengan persiapan matang. Di tasnya, selain buku catatan yang isinya cuma coretan gambar kucing, ada satu kotak bekal warna kuning terang berisi nasi goreng buatan Bundanya. Ghea tahu, Arlan tipe orang yang kalau kerja lupa napas, apalagi makan.
"Pagi, Robot Arlan!" sapa Ghea dengan suara cemprengnya sambil menendang pintu ruang arsip pelan.
Arlan, yang sudah duduk di posisinya sejak matahari bahkan belum bangun sepenuhnya, hanya melirik sekilas. "Pintu itu punya gagang, Ghea. Nggak perlu pakai kaki."
"Hehe, tangan gue penuh, Ar. Nih!" Ghea menaruh kotak bekal itu tepat di atas tumpukan berkas yang sedang Arlan baca.
Arlan berhenti bergerak. Dia menatap kotak bekal itu seolah-olah itu adalah bom waktu yang siap meledak. "Apa ini?"
"Itu namanya nasi goreng. Makanan manusia. Bahan dasarnya nasi, digoreng, pakai bumbu. Lo pernah denger kan?" jawab Ghea santai sambil naruh tasnya di lantai. "Bunda gue bikin kebanyakan, katanya buat 'temen kamu yang kaku itu'. Gue nggak tahu Bunda tahu dari mana kalau lo kaku, mungkin aura dingin lo nyampe ke rumah gue lewat satelit."
Arlan menghela napas, menggeser kotak itu menjauh dari berkasnya. "Gue udah sarapan. Ambil lagi."
"Bohong banget," Ghea mendekat, tangannya bertumpu di meja Arlan. "Muka lo itu pucat, Ar. Lo kayak orang yang cuma makan fotokopian kertas selama seminggu. Makan dikit, atau gue bakal nyanyi lagu 'Balonku Ada Lima' pakai versi metal di sini sampai lo pusing."
Arlan menatap Ghea tajam. Ada jeda lima detik di mana mereka cuma saling pandang. Ghea tetap dengan senyum lima jarinya, sementara Arlan dengan tatapan "Gue-Beneran-Bakal-Ngeluarin-Lo-Dari-Sini".
Akhirnya, Arlan kalah. Dia membuka kotak bekal itu. Bau harum bawang putih dan telur goreng langsung memenuhi ruangan yang biasanya bau apek. "Satu suap. Terus lo kerja," syarat Arlan.
"Sepuluh suap," tawar Ghea.
"Dua."
"Delapan."
"Tiga, atau gue buang."
"Oke, oke, lima ya? Deal!" Ghea menjabat tangan Arlan secara paksa sebelum cowok itu sempat protes.
Sambil Arlan makan dengan gerakan yang sangat sopan dan rapi (bahkan cara dia pegang sendok aja terlihat sangat berpendidikan, beda sama Ghea yang kalau makan suka belepotan), Ghea mulai lanjut ke tugasnya di pojok kardus.
"Ar," panggil Ghea sambil memilah laporan kegiatan Pramuka tahun 2018.
"Hm."
"Kenapa sih lo ambis banget jadi Ketua OSIS? Maksud gue, lo kan udah pinter. Tanpa jabatan ini pun lo pasti bisa masuk universitas mana aja yang lo mau."
Tangan Arlan yang sedang menyuapkan nasi berhenti di udara. Ekspresinya sedikit berubah, ada mendung tipis yang lewat di matanya sebelum kembali datar. "Ada hal yang nggak bisa lo pahami cuma dengan nanya, Ghea."
"Ya elah, rahasia-rahasiaan banget kayak agen FBI. Gue nanya kan karena gue penasaran. Lo itu kayak nggak punya waktu buat napas. Tiap kali gue liat, lo kalau nggak megang laptop, ya megang berkas, atau megang kening karena pusing."
Arlan menutup kotak bekalnya. "Gue punya target. Ayah gue selalu bilang kalau posisi kedua itu sama aja kayak kalah. Kalau gue nggak bisa jadi yang terbaik di sini, gue nggak akan bisa dapet beasiswa ke luar negeri."
Ghea terdiam. Posisi kedua sama aja kayak kalah? Ghea jadi ingat ayahnya sendiri yang kalau dia dapet nilai 60 aja udah bilang, "Wah, meningkat 5 poin dari kemarin ya, Ghe? Keren!". Perbedaan dunia mereka ternyata sejauh bumi dan Pluto.
"Tapi kan lo bukan mesin, Ar," gumam Ghea pelan.
"Di mata bokap gue, gue harus jadi mesin yang nggak boleh rusak," jawab Arlan pendek. Dia berdiri dan mengembalikan kotak bekal itu ke Ghea. "Makasih nasinya. Sekarang, lanjutin kerjaan lo. Kardus nomor empat isinya arsip keuangan, jangan ada yang lecek."
Ghea menerima kotak bekalnya dengan perasaan agak aneh. Ada sedikit rasa sesak di dadanya—rasa angst yang mulai merayap. Dia baru sadar kalau di balik sikap kaku Arlan, ada tekanan yang besar banget.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka kasar. Juna muncul dengan napas tersengal-sengal. "GHE! BAHAYA GHE!"
Ghea kaget sampai hampir terjungkal ke dalam kardus. "Apaan sih, Jun? Ada razia rambut? Rambut gue aman!"
"Bukan! Itu... si Pak Broto! Dia lagi jalan ke sini bareng Kepala Sekolah! Katanya mau sidak progres ruang arsip!" Juna panik sambil celingukan. "Masalahnya, lo belum beresin debu di lantai, dan itu... ada bekas nasi goreng!"
Arlan langsung sigap. Dalam sekejap, dia sudah menutup laptopnya, merapikan meja, dan menyembunyikan kotak bekal Ghea ke dalam laci bawah. "Ghea, ambil sapu di balik pintu! Cepet!"
"Gue nggak tahu sapunya di mana!" Ghea panik, malah muter-muter kayak gasing.
"Di belakang lo, Ghea! Astaga, lo itu punya mata buat apa?" Arlan gemas sendiri, dia akhirnya narik tangan Ghea dan nunjukkin sapunya.
Dalam waktu kurang dari dua menit, mereka berdua—dan Juna yang cuma nambah-nambahin kepanikan—berusaha membuat ruangan itu terlihat "manusiawi". Ghea menyapu debu dengan kecepatan cahaya sampai debunya terbang ke mana-mana.
Cklek.
Pintu terbuka. Pak Broto masuk bareng Pak kepsek yang perutnya maju duluan dibanding badannya. Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu, lalu serempak terbatuk-batuk.
"Uhuk! Uhuk! Waduh, ini kenapa udaranya kayak penuh asap?" tanya Pak Kepsek sambil mengibas-ngibaskan tangan.
Ghea berdiri kaku memegang sapu, sementara Arlan berdiri tegak di samping mejanya dengan senyum formal yang sangat meyakinkan.
"Maaf Pak, kami baru saja melakukan pembersihan total. Debunya memang sedikit naik ke udara, tapi ini demi kebersihan maksimal," jawab Arlan tenang. Gila, cowok ini jago banget bohong dengan muka lempeng.
Pak Broto melirik Ghea. "Ghea, kamu beneran kerja? Bukan cuma gangguin Arlan kan?"
"Beneran, Pak! Lihat nih, tangan saya sampai item-item kena debu sejarah," Ghea menunjukkan telapak tangannya dengan bangga.
Pak Kepsek manggut-manggut. "Bagus, Arlan. Saya senang kamu membimbing teman kamu yang... agak kurang fokus ini. Lanjutkan. Minggu depan saya mau lihat ruangan ini sudah bisa digunakan untuk rapat."
Begitu pintu tertutup kembali, Ghea langsung ambruk ke lantai. "Jantung gue mau copot, sumpah."
Juna ketawa ngakak. "Gila, Ar, lo tadi aktingnya dapet banget. 'Kebersihan maksimal' katanya? Padahal Ghea tadi nyapunya kayak lagi ngajak debu berantem."
Arlan nggak ketawa, tapi Ghea bisa melihat sudut bibir cowok itu sedikit berkedut. Sedikit banget, hampir nggak kelihatan. Tapi buat Ghea, itu adalah sebuah kemenangan besar.
"Lo... hampir senyum ya?" tuduh Ghea sambil menunjuk muka Arlan.
"Nggak," jawab Arlan cepat, kembali duduk di kursinya.
"Iya! Gue liat tadi! Bibir lo gerak satu milimeter!" Ghea kegirangan.
"Ghea, balik ke kardus lo sekarang atau gue laporin Pak Broto kalau lo tadi makan di sini," ancam Arlan, tapi suaranya nggak sedingin biasanya.
Ghea menjulurkan lidahnya. "Dasar Robot Gengsian. Tapi makasih ya, udah nyembunyiin kotak bekal gue."
Sore itu, di tengah debu yang masih beterbangan, Ghea menyadari satu hal. Arlan mungkin memang dipaksa jadi mesin oleh ayahnya. Tapi di sini, di ruang arsip yang sumpek ini, Ghea berjanji bakal bikin Arlan sadar kalau jadi manusia—yang sesekali ceroboh dan ketawa—itu jauh lebih asik.
"Ar," panggil Ghea lagi saat mereka sudah mau pulang.
"Apa lagi?"
"Besok gue bawa seblak ya? Biar lo tahu rasanya idup yang penuh micin dan tantangan."
Arlan cuma mendengus, tapi dia tidak bilang 'enggak'. Dan bagi Ghea, itu adalah progres luar biasa.