NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Bab 19 Terbongkar

Nenek menatap Anita Lewis dengan sorot mata tajam dan penuh tanda tanya.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Anita?” tanyanya pelan namun tegas.

Di hadapannya, Gerry Lewis, putranya, masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kaki kanannya patah, dan kedua tangannya dibalut perban tebal. Sebagai seorang ibu, wajar jika hatinya hancur melihat anaknya dalam keadaan seperti itu.

Namun suasana di ruangan itu lebih dari sekadar duka , ada udara dingin penuh kebohongan yang menggantung di antara mereka.

Anita melirik sekilas ke arah Suzanne, yang berdiri di sisi ruangan dengan senyum samar di wajahnya , senyum kemenangan yang menimbulkan rasa tidak nyaman bagi siapa pun yang melihatnya.

Nenek selama ini menjunjung tinggi nilai kesetiaan dan penghormatan pada orang tua. Ia tidak akan pernah bisa menerima seorang anak perempuan yang berani melukai ayahnya sendiri. Dan bila ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bisa dipastikan bahwa ia tidak akan pernah memaafkan Anita.

Tiba-tiba, Selene ,cucunya yang lain angkat bicara dengan raut wajah penuh keraguan.

“Ngomong-ngomong… kaki kanan Kak Anita juga terluka waktu itu, kan? Dan besoknya, kaki Ayah malah tertusuk batang baja. Bukankah itu agak… mencurigakan?”

Semua mata langsung menoleh padanya. Menyadari bahwa ia sudah berbicara terlalu jauh, Selene buru-buru menutup mulutnya dan berujar dengan gugup, “Aku cuma menebak aja, mungkin cuma kebetulan.”

Namun di dalam hati, Selene tahu ucapan itu mendekati kebenaran.

Memang bukan Anita yang membuat kaki Gerry patah tapi Dion Leach, suaminya, yang melakukannya sebagai bentuk balas dendam pada keluarga Lewis.

Nenek menatap Anita dengan tatapan penuh tekanan. “Anita, jelaskan semuanya padaku,” katanya pelan tapi berwibawa.

Anita menarik napas panjang, menatap satu per satu wajah yang ada di ruangan itu.

“Keluarga Leach ingin aku menikah dengan Dion,” ucapnya akhirnya. “Mereka memberi Ayah seratus juta dan menjanjikan sebidang tanah di selatan kota. Aku menolak, Nenek. Aku bahkan mencoba melompat ke sungai untuk kabur dari pernikahan itu. Tapi waktu itu, Selene justru mendorongku…”

Sebelum Anita sempat melanjutkan, Selene langsung memotong dengan cepat.

“Itu tidak benar, Kak! Kau sendiri yang melompat! Joshua bisa bersaksi!” katanya tergesa, menunjuk pada pria muda di pojok ruangan. “Lagipula, bukankah kau dulu juga memaksa Joshua menikah denganmu? Aku bahkan tidak pernah menyalahkanmu karena merebut pacarku. Tapi sekarang kau malah menuduhku mendorongmu ke sungai?”

Nada Selene terdengar sedih, tapi Anita bisa merasakan kepura-puraan di balik suaranya.

Saat kejadian itu memang hanya ada mereka bertiga yaitu Selene, Joshua, dan Anita , dan tentu saja Joshua selalu berada di pihak Selene. Jadi, kesaksiannya tidak akan berarti apa-apa.

Nenek memejamkan mata, terlihat kecewa. Dalam pikirannya, bayangan masa lalu muncul kembali tentang Anita yang pernah nekat menyakiti diri sendiri demi memaksa Joshua bersamanya. Baginya, bukan tidak mungkin gadis itu kembali melakukan hal yang sama.

Namun Anita kali ini tidak tinggal diam. Ia menatap Selene dan tersenyum miring.

“Selene,” ucapnya tenang, “kau pikir aku tidak tahu ada kamera pengawas di sana?”

Wajah Selene langsung memucat. “A-apa?” gumamnya dengan suara gemetar. “Tidak mungkin. Di tempat itu tidak ada CCTV. Itu area terpencil, tidak ada siapa-siapa.”

Anita mengeluarkan ponselnya perlahan, lalu menatap neneknya.

“Nenek,” katanya sambil menyerahkan layar ponselnya, “lihat ini. Ini rekaman dari CCTV di tepi sungai. Lihat sendiri siapa yang mendorongku waktu itu.”

Selene langsung merebut ponsel itu dengan panik, menatap layar dengan mata membesar.

Video itu menampilkan dengan jelas , dirinya yang berdiri di belakang Anita, lalu mendorongnya ke sungai tanpa ragu.

Wajahnya mendadak pucat pasi. Ia terbata-bata mencoba menjelaskan, “Nenek, aku… aku tidak bermaksud mendorongnya. Aku cuma mau menarik Anita, tapi kakiku tersandung, jadi… jadi aku tidak sengaja mendorongnya!”

Anita menatapnya tajam. “Tempat itu memang tidak ada pengawasan, Selene,” katanya dingin. “Aku hanya ingin tahu, kenapa kau langsung panik dan mengaku sebelum Nenek sempat memeriksa videonya?”

Wajah Selene seketika kosong , ia baru sadar bahwa dirinya baru saja terperangkap oleh kata-katanya sendiri.

Nenek menatap cucunya dengan kecewa mendalam. “Selene… jadi semua itu benar?” suaranya bergetar, nyaris tak percaya.

Selene menangis pura-pura, “Aku tidak bermaksud melukainya, Nek. Aku takut Nenek salah paham, makanya aku bilang seolah dia melompat sendiri.”

Anita lalu mengeluarkan satu lagi bukti dari tangkapan layar dari media sosial.

“Nenek, lihat ini,” katanya sambil memperlihatkan gambar di ponselnya. “Inilah yang Selene dan Suzanne tulis tentang aku di media sosial. Mereka mencemarkan namaku, lalu pura-pura jadi korban.”

Nenek membaca tulisan yang penuh fitnah dan olok-olok itu dengan gemetar.

Ternyata selama ini, Selene dan Suzanne berdua telah menebar kebencian di dunia maya, mempermalukan Anita dan membuat reputasinya hancur.

Meski unggahan itu kini sudah dihapus, jejaknya tidak bisa hilang.

Warganet sudah terlanjur tahu siapa mereka berdua , ibu tiri dan saudara tiri yang kejam, yang menjatuhkan wanita lain demi kepentingan pribadi.

Mereka dicaci, dijuluki “keluarga palsu penuh dosa” oleh publik.

Namun yang paling menyakitkan adalah… hanya Nenek yang tidak tahu.

Ia tinggal di rumah tua di pinggiran kota, jauh dari hiruk pikuk dunia digital, masih percaya bahwa keluarganya harmonis dan saling menyayangi.

Sekarang, semua itu terbongkar di hadapannya tanpa topeng, tanpa kebohongan.

Dan Anita Lewis, dengan bukti di tangan dan luka di hatinya, akhirnya menyingkap wajah asli dari dua orang yang paling sering berpura-pura mencintainya.

Setelah membaca semua unggahan dan bukti yang ditunjukkan Anita Lewis, wajah Nenek Lewis memerah karena murka. Dengan tangan gemetar namun kuat, ia meraih ponsel di tangan Anita dan tanpa berpikir panjang, dilemparkannya tepat ke arah Suzanne.

Braakkk!

Ponsel itu menghantam wajah Suzanne dengan keras, membuat wanita itu terhuyung dan menjerit kesakitan sambil menutupi wajahnya yang mulai berdarah di pelipis.

“Inikah ibu tiri yang baik seperti yang selalu kau banggakan?!” seru Nenek dengan suara bergetar karena emosi. “Beginikah cara kau mendidik putrimu agar ‘menyayangi’ Anita?”

Dulu, Nenek pernah ingin membesarkan Anita sendiri. Namun karena melihat seolah-olah Suzanne benar-benar menyayangi anak tirinya, ia luluh. Ia membiarkan Anita tumbuh di bawah asuhan mereka, berharap kasih sayang itu tulus.

Siapa sangka semua itu hanya sandiwara? Semua kebaikan yang diperlihatkan Suzanne ternyata palsu di baliknya tersembunyi rasa iri dan kejahatan yang membuat Anita menderita bertahun-tahun.

Kini Nenek benar-benar menyesal telah mempercayakan cucunya pada wanita seperti itu.

Selene yang melihat darah menetes dari tangan ibunya, langsung panik. “Bu! Ada darah! Tolong, panggil dokter!” teriaknya ketakutan.

Sementara itu, Anita hanya memandang ponselnya yang kini tergeletak di lantai, layarnya retak parah. Ia menarik napas dalam-dalam.

Itu teleponku... pikirnya dengan getir.

Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, Nenek kembali berteriak, nadanya penuh kemarahan dan keputusan bulat.

“Tidak ada satu pun dari kalian yang akan mendapatkan dua puluh persen saham Anita!” ujarnya tegas. “Ayo, Anita! Kita pulang sekarang juga!”

Anita segera memungut ponselnya, lalu membantu Nenek yang masih gemetar karena marah. Ia menuntun wanita tua itu keluar dari ruangan, sambil sesekali menepuk lembut punggungnya untuk menenangkannya.

Setelah mereka masuk ke dalam mobil, suasana perlahan mulai tenang. Tapi amarah Nenek belum sepenuhnya padam.

“Anita,” katanya dengan suara berat, “Kau harus pulang bersamaku. Dan satu hal yang harus kau lakukan , ceraikan Dion Leach! Aku tidak akan membiarkan cucuku hidup bersama orang seperti itu.”

Anita menatapnya pelan, berusaha berbicara dengan hati-hati.

“Nenek, Dion tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Dia tidak seburuk itu,” ujarnya lembut.

Pernikahannya dengan Dion memang aneh dan penuh tekanan, tapi pria itu tidak pernah benar-benar menyakitinya. Bahkan, akhir-akhir ini, Anita mulai melihat sisi lain Dion yang tidak diketahui oleh siapa pun sisi yang hangat dan melindungi.

Namun Nenek sama sekali tidak ingin mendengarnya. Ia menggenggam tangan Anita erat-erat, matanya berkilat penuh tekad.

“Tidak, Anita. Aku tahu reputasi keluarga Leach. Aku tidak akan duduk diam melihatmu dikirim ke sana hanya untuk dipukuli sampai mati! Tidak peduli apa pun alasannya, kau harus keluar dari pernikahan itu!”

Anita tahu tak ada gunanya membantah. Ia akhirnya mengangguk pelan dan berkata menenangkan,

“Nenek, tolong jangan marah dulu. Kita bicarakan semuanya nanti, setelah Nenek bertemu langsung dengan Dion. Mungkin Nenek bisa menilai sendiri seperti apa dia sebenarnya.”

Nenek berpikir sejenak, lalu menghela napas berat. “Baiklah. Tapi untuk malam ini, kau harus ikut pulang dulu bersamaku.”

Sepanjang perjalanan pulang, Nenek terus berbicara tanpa henti , tentang betapa menyesalnya ia mempercayai Suzanne, tentang kesalahannya karena tidak bersikeras membesarkan Anita sendiri, dan betapa ia tidak akan membiarkan tragedi yang sama terulang.

Kata-kata itu diulang berkali-kali, sampai telinga Anita terasa lelah mendengarnya.

Namun di balik keletihan itu, ada rasa hangat di hatinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seseorang benar-benar peduli padanya bukan karena status, bukan karena harta, tapi karena cinta keluarga yang tulus.

Setibanya di rumah tua keluarga Lewis, Nenek langsung mengambil kunci mobil Anita agar ia tidak bisa pergi diam-diam. Ia juga memerintahkan para pembantu rumah tangga, “Jangan biarkan Nona Anita keluar tanpa izinku!”

Anita hanya bisa tersenyum kecil. Ia tahu tindakan itu lahir dari rasa takut kehilangan, bukan dari niat mengurung.

Dalam hati, ia merasa bersyukur meski hidupnya penuh luka, setidaknya masih ada seseorang yang benar-benar mencintainya.

Malam itu setelah makan, Anita duduk di balkon kamarnya. Udara malam terasa sejuk. Dari kejauhan, ia bisa melihat kebun sayur kecil yang ditanam Nenek sendiri bukti bahwa wanita tua itu tak pernah bisa diam, selalu berusaha menjaga kehidupan di sekitarnya.

Anita menatap ponselnya yang layarnya retak parah. Setengah dari layar kini gelap, tapi masih bisa digunakan untuk menelepon.

Dengan hati-hati, ia mencari nomor Dion dan menekannya.

Nada sambung terdengar. Beberapa detik kemudian, suara Dion Leach yang dalam dan berat terdengar di seberang sana.

“Selamat malam, Nyonya Leach,” katanya dengan nada rendah namun penuh kelembutan. Ada senyum yang bisa terasa hanya dari suaranya.

Ia benar-benar tidak menyangka Anita akan meneleponnya lebih dulu , apalagi setelah kejadian pagi tadi, ketika ia sempat menciumnya tanpa izin. Dion sempat takut wanita itu akan marah dan menghindarinya.

Namun justru kini, Anita yang menghubungi.

“Aku tidak akan kembali pulang malam ini,” kata Anita singkat, suaranya tenang namun tegas.

Beberapa detik hening. Senyum Dion yang sempat terukir perlahan memudar.

Nada suaranya berubah dingin ketika ia akhirnya menjawab,

“…Baik. Tapi pastikan kau tahu, Anita .... rumah ini akan terasa kosong tanpamu.”

Bersambung....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!