Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah faham
Pagi yang cerah di Jakarta sama sekali tidak tercermin di wajah Kamila. Langit hatinya mendadak mendung setelah mendengar tawa Evan di balik pintu ruang kerja tadi. Saat Evan keluar dengan setelan jas rapi dan aroma parfum yang maskulin, Kamila hanya diam mematung di dekat tangga sambil menggendong Baby Zevan.
"Aku berangkat sekarang, Kamila. Mungkin pulang sedikit terlambat karena ada beberapa urusan di kantor," ucap Evan sambil mendekat, hendak mengecup kening istrinya seperti biasa.
Namun, Kamila sedikit memalingkan wajah. Kecupan itu hanya mendarat di pelipisnya. Dingin. Tak ada senyum manis atau ucapan "hati-hati" yang biasanya mengiringi keberangkatan Evan.
"Ooo-da! Pa-ba! Ghaaa!"
Tiba-tiba, Baby Zevan yang baru berusia lima bulan itu mengoceh dengan nada tinggi. Tangan mungilnya menepuk-nepuk dada Evan dengan keras, wajah bayinya terlihat serius seolah sedang melancarkan protes besar.
"Lihatlah anakmu, Mas. Sepertinya dia pun tahu kalau Ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu," sindir Kamila halus, suaranya bergetar menahan cemburu.
Evan tertawa kecil, menganggap itu hanya tingkah lucu bayi. "Zevan sedang semangat ya pagi ini? Jaga Bunda baik-baik di rumah, Jagoan." Evan mengusap kepala Zevan tanpa menyadari bahwa ocehan bayinya adalah 'peringatan' atas kesalahpahaman yang terjadi.
Di ruang tamu, Tuan Chen sudah menunggu dengan tongkatnya. "Sudah siap, Evan? Aku bosan terus-menerus melihat tembok rumah. Biar hari ini aku ikut melihat bagaimana kau memimpin Chendana."
"Tentu, Ayah. Mari," jawab Evan singkat. Keduanya berlalu, meninggalkan Kamila yang menatap punggung suaminya dengan perasaan sesak.
Setibanya di gedung perusahaan Chendana, suasana mendadak formal. Kevin menyambut di lobi dengan sigap, diikuti barisan karyawan yang membungkuk hormat kepada dua penguasa perusahaan tersebut.
"Selamat pagi, Tuan Besar Chen, Tuan Evan," sapa Kevin.
Setelah mengantar Tuan Chen ke ruangannya untuk memeriksa dokumen lama dan bersiap bertemu rekan bisnis lamanya dari Amerika nanti siang. Kevin segera mendekati Evan di lantai atas.
"Tuan, nanti siang pertemuan dengan Eva sudah diatur. Riko sedang mengawasinya di lokasi. Kita harus waspada, wanita itu seperti belut," lapor Kevin setengah berbisik.
Evan mengangguk tajam. "Aku tahu. Eva hanya pion, tapi dia kunci untuk menghancurkan mental Siska sepenuhnya. Pastikan Riko tidak lengah."
Sementara itu di Mansion, rasa jenuh dan curiga membuat Kamila tidak betah. Bayangan nama "EVA" terus menari-nari di kepalanya.
"Zevan, kita jalan-jalan keluar ya? Kita cari udara segar supaya pikiran Bunda tidak kacau," bisik Kamila pada putranya yang kini sudah berpakaian rapi.
Tanpa memberi tahu Evan, Kamila melangkah keluar. Dua bodyguard bertubuh tegap langsung bersiaga di depan mobil. "Nyonya, ada perintah khusus dari Tuan Evan untuk selalu mengawal kemanapun Anda pergi," ucap salah satu bodyguard.
"Antarkan saya ke Mall Cendrawasih. Saya ingin membelikan mainan baru untuk Zevan," jawab Kamila tegas. Ia tidak keberatan dikawal, selama ia bisa keluar dari tekanan suasana rumah yang membuatnya tercekik.
Hanya terpaut beberapa blok dari tujuan Kamila, Evan saat ini sudah berada di sebuah ruangan VIP di restoran mewah yang remang. Di hadapannya, duduk seorang wanita cantik dengan gaya bicara yang berani yakni Eva. Penampilan Eva memang sedari awal cukup mencolok dan berani. Di sampingnya, Riko menjaga dengan tatapan waspada.
"Jadi, apa langkah selanjutnya, Tuan Evan? Siska sudah hampir gila karena pesanku pagi ini," Eva menyesap minumannya, matanya melirik Evan dengan penuh arti.
"Aku ingin kau memberikan pesan terror sekali lagi, bahwa kau sebagai pelaku yang membunuh Jaka di rumah sakit atas perintahnya itu, ancam dia. Buat dia semakin ketakutan dan meragukan kewarasannya sendiri," perintah Evan dingin. "Riko, bagaimana kabar Jaka?"
"Jaka sudah kembali ke rumah sakit, Tuan. Luka bekas operasinya sedikit terbuka karena aksi semalam, tapi dia bersikeras tetap ikut dalam misi ini. Dia sangat haus akan pembalasan," jawab Riko.
Evan mengetuk meja perlahan. "Katakan pada Jaka, sabar sedikit. Saat bukti lengkap dan Siska mengakui semuanya di depan polisi, itulah saatnya dia benar-benar bebas dari bayang-bayang masa lalu."
Tanpa Evan sadari, di lantai bawah restoran yang menyatu dengan area mall tersebut, sebuah mobil mewah berhenti. Kamila turun sambil menggendong Zevan, melangkah masuk ke area yang sama di mana suaminya sedang menyusun rencana gelap bersama wanita bernama Eva itu.
Langkah kaki Kamila terhenti tepat di depan lobi restoran yang menyatu dengan Mall Cendrawasih. Niatnya untuk membelikan mainan bagi Zevan mendadak luntur saat matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali. Di sebuah meja di sudut area semi VIP yang dibatasi kaca transparan, ia melihat Evan.
Bukan keberadaan suaminya yang membuat jantung Kamila seolah berhenti berdetak, melainkan sosok wanita yang duduk di hadapan Evan. Wanita itu cantik, modis, dan tampak tertawa akrab sambil sesekali menyentuh lengan Evan.
"Itu... Mas Evan?" gumam Kamila lirih.
Baby Zevan yang ada di gendongannya mendadak gelisah. Ia mulai merengek, seolah merasakan kegundahan ibunya. Suara tangisan kecil Zevan memancing perhatian beberapa orang, termasuk Riko yang sedang berjaga tidak jauh dari meja Evan.
"Tuan... itu Nyonya Kamila," bisik Riko dengan nada panik.
Evan tersentak. Ia menoleh dan seketika wajahnya pucat pasi melihat istrinya berdiri mematung dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tanpa membuang waktu, Evan bangkit berdiri dan menghampiri Kamila, meninggalkan Eva yang tampak bingung.
"Kamila? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Evan dengan nada yang sulit diartikan antara terkejut dan takut.
Kamila mundur selangkah, mempererat dekapannya pada Zevan. "Harusnya aku yang bertanya, Mas. Apa ini alasan kamu buru-buru pergi tadi pagi? Untuk bertemu dengan 'Eva' ini?"
"Kamila, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelaskan," Evan mencoba meraih tangan Kamila, namun Kamila menepisnya.
"Menjelaskan apa lagi? Kamu tertawa bahagia dengannya, sementara aku di rumah merasa seperti orang asing di hidupmu sendiri!" suara Kamila meninggi, menarik perhatian pengunjung lain. "Apa wanita ini yang ada di telepon tadi? Apa dia alasan kamu menyembunyikan banyak hal dariku?"
Eva, yang merasa situasi semakin tidak terkendali, mencoba mendekat. "Hai, kau pasti istrinya Tuan Evan? Dengar, ini hanya urusan pe..."
"Jangan mendekat!" potong Kamila tajam. Ia menatap Evan dengan kekecewaan mendalam. "Kamu bilang ada masalah yang menemukan titik terang. Apa 'titik terang' itu adalah kembali ke masa lalu mu atau mencari wanita baru?"
Baby Zevan mulai menangis kencang, suaranya memenuhi ruangan. Evan merasa dunianya runtuh seketika. Ia ingin menarik Kamila ke dalam pelukannya dan menceritakan bahwa Eva adalah wanita yang kini telah menjadi komplotannya untuk menjebak Siska, namun ia terikat janji untuk menjauhkan Kamila dari sisi gelap rencana balas dendamnya.
"Zevan sayang, tenang ya..." Kamila berusaha menenangkan putranya sambil terisak. Ia menatap Evan untuk terakhir kalinya sebelum berbalik. "Jangan pulang kalau kamu masih belum bisa jujur siapa dirimu sebenarnya, Mas."
"Kamila! Tunggu!" seru Evan.
Namun, dua bodyguard yang sedari tadi mengikuti Kamila tampak serba salah. Mereka hanya bisa mengawal Kamila yang berjalan cepat meninggalkan restoran menuju mobil, meninggalkan Evan yang berdiri mematung di tengah keramaian, dihantam badai kesalahpahaman yang ia ciptakan sendiri.
kopi untuk mu👍