Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelangkah
Satu tahun berlalu menyandang status sebagai seorang janda tak begitu mudah bagi Maura. Pertemuan tanpa di sengaja dengan keluarga Priawan selalu saja membekas di hati. Apalagi jika mereka membahas mengenai dirinya yang katanya mandul. Pernyataan itu sedikit mengusik relung hati Maura. Walaupun dirinya sadar jika pernyataan itu tidaklah benar sebab berhubungan pun tidak pernah.
Saat Maulida memberitahukan keluarganya jika kekasihnya akan melamar dia ada berbagai pertimbangan dari kedua orang tua mereka. Namun, Maura meyakinkan jika dirinya tak merasa di langkah sebab pernah menikah jadi Maura tak menginginkan pelangkah. Maulida pun telah mempertimbangkan segalanya ketika dirinya berbicara dengan keluarganya.
"Kakak hanya berpesan jagalah sikap kamu setelah menjadi istri nanti. Ikuti suami mu jika benar dan tegur dia jika salah."Maura.
"Iya Kak. Maafin adek ya Kak." Maulida.
"Untuk apa? Tidak ada yang perlu di maafkan. Kakak sudah pernah melewatinya walau gagal. Dan Kakak harap semua yang terjadi di Kakak jangan pernah terjadi lagi pada siapapun apalagi kamu adek kakak." Maura.
"Terima kasih Kak."
Mereka pun saling berpelukan. Tak tega melihat kedua putrinya Pak Budi pun mendekati keduanya dan memeluk erat dua putrinya. Kemudian Ibu Tias pun bergabung bersama mereka.
"Ibu dan Ayah akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian." Ibu Tias.
Di kantor Maura menceritakan tentang sang adik yang akan segera di lamar. Tasya heboh bukan main. Pasalnya Tasya baru saja wisuda beberapa bulan yang lalu dan sekarang sudah akan lamaran.
"Lu seriusan La?" Tasya.
"Serius dong Sya." Maura.
"Kenapa sih heboh banget?" Tanya Maura.
"Ya ngga. Gw yang tua ini malah santai aja gitu lah Lida baru anak kemarin udah mau lamaran Mak." Tasya.
"Mereka sama-sama kerja di hotel. Ngga enak katanya kalo berduaan belum muhrim. Jadi, biar ngga ada fitnah calon nya itu mutusin buat lamar Lida. soalnya dia juga udah mantap sama Lida. Orang tuanya juga udah oke." Jelas Maura.
"Kapan?"
"Kayanya sih minggu ini." Maura.
"Yang bener? Satu set juga ya." Tasya.
"Eh, terus lu dapet pelangkah dong?" Tasya.
"Ngga lah. Gw kan udah pernah nikah jadi gw rasa ga perlu deh." Maura.
"Emang iya? Perlu ah. Kan sekarang ku jomblo. Jompo lagi hahha..." Canda Tasya.
"Seenggaknya gw masih ada yang nanyain kabar sih." Maura.
"Siapa? Paling Oma Mia." Tasya.
"Iya lagi hahaha..."
"Lu masih komunikasi ya sama Oma?" Tasya.
"Masih. Beberapa kali Oma ngajak ketemuan tapi selalu pas gw ga bisa. Bukan ngada-ngada ya rapuh beneran ngga pas banget jadwalnya." Maura.
"Lu mau di kenalin tuh sama anak atau cucu nya." Ledek Tasya.
"Yaa... Terserah deh. Asal bukan punya orang aja sih gw." Maura.
"Lu mah pasrahan orangnya." Tasya.
"Ya kan kata lu. Mau gw ngehindar kaya apaan tau kalo jodoh gw ternyata CEO ya mau di apain lagi." Maura.
"Pinter... Udah buka tuh pintu hati bentar lagi ada yang masuk." Tasya.
"Eits entar dulu main masuk aja." Maura.
"Ish... Kaget gw ih..." Omel Tasya.
"Pokoknya siapapun jodoh kita nanti pastinya yang terbaik." Maura.
"Aamiin."
"La, lu merhatiin ga? akhir-akhir ini gw liat Pak Bos merhatiin lu mulu deh." Tasya.
"Salah liat Lu." Maura.
"Kayanya bos suka deh sama lu La." Tasya.
"Jangan ke tinggian mimpinya Sya. Udah ah gw lanjut kerja.
Laaannnjuuuttt....