Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Yang Melindungi
Sore itu Sunak masih kepikiran Ninda dan Jessica. Ia semakin khawatir mengingat mereka perempuan, yang rentan menjadi korban kejahatan, apalagi dalam keadaan mabuk. Ia melamun sambil berjalan kaki menuju tempat parkir sepeda.
Di sela lamunannya, tiba-tiba saja ia menabrak sosok yang ada di hadapannya. Buku-bukunya jatuh bertebaran, begitu pula kacamatanya.
"Maaf, maaf," kata seseorang itu sambil membantu mengambil kacamata Sunak, kemudian memberikan kacamata itu kepada Sunak.
Sunak memakai kacamatanya perlahan, seketika Sunak bisa melihat orang yang menabraknya sekarang dengan jelas.
Orang itu sedang memungut buku-buku milik Sunak. Sunak langsung teringat kepada satu nama yang sering Ninda sebut, dia juga pernah melihatnya beberapa kali saat menjemput Ninda di apartemen bersama Jessica.
"Noah, Anda Noah bukan?" Noah menatap Sunak, dia heran Sunak bisa mengenalnya.
"Iya, Anda tahu nama saya?" Ucap Noah ragu, sambil memberikan setumpuk buku kepada Sunak.
'Aku tak menyangka aku sangat populer sampai ke seluruh Asia, orang India ini mengenal ku," ucap Noah dalam hati. Dia sedikit tersenyum bangga.
"Oh, saya Sunak, teman Ninda," ucap Sunak memperkenalkan diri. Seketika wajah Noah berubah datar.
"Maaf, aku tidak mengenal mu," Kata Noah lagi.
"Anda kemari mencari Ninda?" tanya Sunak menebak sambil menatap Noah serius.
"Ya, aku sedang mencarinya," sahut Noah Singkat, agak sedikit kecewa karena Sunak ternyata bukan fansnya.
"Dia sudah pulang hampir 30 menit yang lalu," kata Sunak. Wajah Noah sedikit kecewa mengetahui Ninda sudah pulang.
"Sayang sekali," ucap Noah sedikit putus asa.
Karena beberapa hari ini, dari semenjak terakhir kali Noah bertemu Ninda, Ninda tak pernah mau membalas Chatt dan mengangkat telpon darinya.
Noah pun melengos hendak pergi.
"Eh, Tunggu," Kata Sunak menghentikan langkah Noah.
"Ada yang ingin aku sampaikan tentang Ninda," ucap Sunak sambil menatap Noah. Noah agak kaget sekaligus penasaran dengan apa yang akan Sunak bicarakan dengan dirinya.
Sunak pun mengajak Noah untuk duduk di taman di sekitar falkutas arsiktektur, Sunak menyimpan setumpuk bukunya di antara Noah dan dirinya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Noah sangat penasaran.
"Aku kuatir sekali dengan dua teman ku yang malam ini akan pergi ke club dengan laki-laki yang baru mereka kenal," ungkap Sunak, Noah menatap Sunak sedikit kaget.
"Lantas, apa yang bisa aku lakukan," Jawaban Noah di luar perkiraan, Sunak memandang Noah dengan heran.
"Apa anda tidak kuatir dengan Ninda, kalau seandainya dia mabuk lalu para laki-laki ," Sunak tak meneruskan bicaranya, seketika pikiran Noah langsung kemana-mana.
Awalnya dia tidak merasa itu adalah hal yang berbahaya, karena baginya pergi ke Club atau bar hal yang biasa untuk wanita seumuran Ninda. Namun setelah dia fikir itu sangat riskan untuk gadis seperti Ninda yang polos.
"Apa Nama clubnya, atau begini saja kau bisa ikut dengan ku," Ucap Noah, sambil beranjak mengajak Sunak ikut dengannya.
"Aku tidak pergi ke Club," ucap Sunak. Noah tampak jengkel mendengar ucapan si kutu buku itu.
"Ini demi teman-teman mu," ucap Noah meyakinkan Sunak. Sunak berfikir sejenak kemudian dia mengangguk seraya berkata.
"Ya baik lah,"kata Sunak lagi, dia sulit menolak kali ini.
Kemudian mereka meluncur dengan mobil Noah, mereka menunggu di parkiran apartemen Jessica. sekarang sudah menujukan waktu jam 9 malam.
"Kira-kira mereka pergi jam berapa?" tanya Noah mulai cemas.
"Kita belum melihat mereka kan, kita tidak mungkin melewatkan mereka bukan," kata Noah lagi semakin panik.
"Bukan kah kita seharusnya tenang," ucap Sunak pelan. Noah melirik Sunak sambil menghela nafasnya, sejak dari tadi kerja Sunak hanya membaca buku sama sekali tidak mengawasi situasa di sana. Bisa saja Jessica dan Ninda terlewatkan pikir Noah.
Dan tak lama kemudian Noah melihat Ninda dan Jesicca beserta dua orang laki-laki yaitu Hae in dan Vincent masuk kedalam sebuah mobil. tak lama mobil itu pun melaju.
"Itu mereka," ucap Sunak sambil menujuk ke arah mobil berwarna hitam metalik yang meluncur. Noah malas menyahut sebelum dia bicara pun Noah sudah lebih dulu melihat mereka.
Noah langsung tancap gas mengikuti mobil itu, setelah sekitar 20 menit tibalah mereka di sebuah Club bernama Locus.
Noah menelpon seseorang saat itu Sunak hanya memperhatikan Noah dari samping.
"Kamu bisa datang ke Locus sekarang" Ungkap Noah.
"Bawa beberapa orang bersama mu segera aku tunggu," ucap Noah lagi seraya menutup telponya dan bergegas masuk ke dalam Club itu.
Sedangkan Ninda dan Jessica sudah masuk terlebih dahulu, mereka di bawa ke sebuah meja dan di sana sudah ada empat orang lagi menyambut mereka.
"Hi, bro" kata Vincent sambil menyalami beberapa orang di sana.
"Ayo silahkan duduk," ucap Vincent ke arah Jessica dan Ninda.
Jessica melirik Ninda kemudan menarik tangan Ninda untuk duduk bergabung dengan mereka.
"Ini Jessica pacarnya Hae in," ucap Vincent lagi Jessica tersenyum ramah sambil melambaikan tangannya.
"Dan ini Ninda" kata Vincent lagi. Ninda tak begitu ramah dia hanya terdiam saja menatap satu persatu orang yang ada di sana.
"Antony," kata salah satu dari mereka mengulurkan tangan ke arah Ninda, Ninda membalas uluran tanganya dengan ragu.
"Hi, aku Liam" kata laki-laki dari sisi yang lain sambil melabaikan tangan.
"Ini son bin, dan Hong" sambung hae in sambil memperkenalkan dua orang temannya lagi merekapun tersenyum.
"Jess sebaiknya kita pergi saja," bisik Ninda merasa tidak nyaman berada di antara ke 6 laki-laki asing yang tak dia kenal sama sekali.
Kemudian mereka membuka botol minuman dan menuangkannya ke pada gelas mereka masing-masing. mereka semua minum hanya Ninda yang tak berani minum saat itu.
"Santai saja Ninda, ini akan menyenangkan" bisik Jessica, kemudian dia kembali berbincang-bincang dengan Hae in.
Sedang beberapa orang menatap Ninda sambil menawarinya minuman, Ninda merasa tak nyaman terlebih lagi dia melihat Jessica sudah beberapa kali menenggak minumannya, sedang orang-orang terus mencekoki Jessica.
"Permisi," kata Ninda beranjak, dia sedikit syok dan ketakutan awalnya dia ingin kabur saja tapi dia tidak tega meninggalkan Jessica.
"Mau ke mana kamu belum minum dari tadi" kata Liam sambil memegang tangan Ninda, kemudian Ninda melepaskan tangan Liam.
"Aku mau ke kamar mandi," kata Ninda bergegas pergi dari tempat itu, dia berjalan terburu-buru ketakutan. Dia pergi ke kamar mandi dan lama berada di sana, dia merasa ada yang janggal dari orang-orang itu. Sekarang dia merasa ucapan Sunak itu memang benar.
Tangannya sedikit gemetaran dia mengambil ponsel dan segera menelepon Sunak.
Di tempat lain Sunak merasakan ponselnya bergetar kemudian dia mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya.
"Ninda!!!" ucap Sunak sambil melirik ke arah Noah, Noah mengangguk kemudian Sunak mengangkat telpon itu.
"Iya Ninda,?" tanya Sunak
"Sunak, Aku di toilet," sahut Ninda panik suaranya agak terbata-bata.
"Ninda kamu baik-baik aja kan," tanya Sunak mulai cemas.
"Aku baik-baik aja hanya saja Jessica aku meninggalkannya," ungkap Ninda sedikit menangis.
"Kamu benar tentang mereka," ucap Ninda lagi gelagapan.
"Jessica!" Sunak agak cemas, Ninda mulai menangis saat itu.
Noah meminta Sunak memberikan ponsel miliknya, Tanpa berfikir Sunak langsung memberikan ponsel itu kepada Noah.
"Ninda ini aku kamu baik-baik saja di sana," Noah mencoba menenangkan Ninda yang ketakutan.
"Uncle," Ninda masih menangis sesegukan.
"Aku dan Sunak ada di dalam," kata-kata Noah membuat Ninda sedikit lega.
"Benar kah?"
"Sekarang kau keluar dari sana, aku dan Sunak akan menjaga mu, kau kembali ke tempat mereka kita bawa Jessica pulang, sekarang," ucap Noah lagi memberikan intruksi.
"Kamu harus tenang jangan panic,"
Ninda menarik nafasnya dalam-dalam dia coba menenangkan dirinya dia menyeka air matanya kemudian.
"Iya, aku akan kembali ke sana," kata Ninda mencoba memberanikan diri.
"Bagus, jangan takut ada aku," ucap Noah.
Ninda mengakhiri panggilan telpon itu, kemudian dia segera beranjak keluar dari toilet.
Ninda terdiam sejenak dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Sunak dan Noah dan akhirnya Ninda bisa menemukan keberadaan mereka. Noah mengangguk memberikan isyarat kepada Ninda untuk pergi membawa Jessica.
Tak Jauh dari situ, tampak Jessica yang sedang di cekoki minuman sambil di gerayangi cowok-cowok itu. Jessica yang mabuk berat hanya terdiah saja.
"Jangan " kata Jessica terlihat lemas.
Tawa beberapa orang yang ada di sana terdengar menjijikan. Ninda sangat marah kemudian menghampiri mereka.
"hey apa yang kalian lakukan," ungkap Ninda dengan Nada sedikit marah.
"Ninda ayo bergabung dengan teman mu minum lah," ucap salah satu orang bernama Antony sambil menarik tangan Ninda, membuat Ninda terduduk di antara mereka.
"Aku akan membawa teman ku pulang," kata Ninda bangkit mencoba meraih tangan Jessica.
kemudian Vincent merangkul Ninda sambil membawa segelas minuman.
"Hi santai kau harus sedikit bersenang-senang," katanya sambil menyodorkan minuman ke mulut Ninda.
"Sudah ku bilang aku tidak mau!"
Dari arah belakang Noah memegang tangan Vincent, vincent menoleh ke belakang seketika.
"Dia bilang tidak mau," ucap Noah sambil mendorong Vincent .
"Hi bung jangan ikut campur gadis ini bersama kami"
“Aku pacarnya,” kata Noah menatap Ninda.
Vincent tertawa, “Oh, maaf. Kenapa tidak bilang dari awal?”
"Benar dia pacar mu,"
Ninda mengangguk cepat.
Vincent mengangkat tangan, mundur pelan.
Hae In merangkul Jessica yang sudah tak sadarkan diri, “Jessica pacar ku jadi dia ikut denganku.”
Ninda menolak tegas, “Tidak! Jessica ikut bersamaku.”
Hae In mendorong Ninda, “Dia pacarku!”
Noah berdiri di depan Ninda, “Dia dalam keadaan tidak sadar. Kami tidak akan membiarkan kau membawanya.”
Hae In menarik kerah baju Noah. Julian dan teman-temannya tiba-tiba datang mengepung meja itu.
“Orang Korea, jangan cari ribut di sini!” bentak Julian.
Pria-pria korea itu mundur, “Oke, oke, kami tak mau ribut.” sambil menarik Hae in dari tempat itu.
Begitu pun dengan Vincent dan teman-temannya.
Ninda menghela napas lega. Noah berterima kasih pada Julian.
“Terima kasih, bro,” ucap Noah.
Julian tersenyum sinis, “Untung aku datang tepat waktu.”
Sunak menghampiri Jessica yang sudah teler.
“Julian, bisa minta tolong lagi?” pinta Noah pada Julian.
“Apa lagi?” tanya Julian.
“Bisakah kamu antar mereka pulang?” kata Noah lagi.
Julian mengangguk berat, “Aku akan antar Ninda pulang. Jangan khawatir, teman-teman mu di antar Julian,”
“Terima kasih, Om... eh, Julian,” ucap Ninda, membuat Julian makin kesal.
Noah tertawa, “Dia memang terlihat tua, tapi sebenarnya lebih muda dariku.”
Julian melotot pada Noah.
Meski wajah Julian lebih tampan, di mata Ninda, dia tetap om-om.
Akhirnya, Ninda dan Jessica pulang dengan terpisah, meninggalkan malam yang penuh ketegangan.