Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Aroma bawang putih yang ditumis bercampur kaldu ayam memenuhi dapur kecil rumah Kirana. Uap tipis mengepul dari panci, sementara sendok kayu di tangannya bergerak perlahan, seirama dengan pikirannya yang tenang. Dapur selalu menjadi tempat favorit Kirana. Tempat dia merasa paling berguna, paling dibutuhkan.
Tiba-tiba, sepasang lengan melingkar dari belakang.
“Ah!” Kirana tersentak kecil, tetapi senyumnya langsung merekah saat menyadari siapa pelakunya.
Rafka menyandarkan dagu di bahu Kirana, menghirup aroma masakan dan rambut istrinya bersamaan.
“Mas sudah segar, nih,” ucap Kirana sambil melirik rambut suaminya yang masih basah. Wangi sampo dan sabun menempel, menghadirkan rasa nyaman yang sudah sangat dia kenal.
“Biar istriku betah aku peluk lama-lama,” balas Rafka ringan, tangannya mengencang sejenak, seolah enggan melepaskan.
Belum sempat Kirana membalas, suara kecil bernada protes terdengar dari ambang dapur.
“Papa! Jangan ganggu Mama yang lagi masak!”
Rafka menoleh. Gita berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, wajahnya cemberut seperti orang dewasa yang sedang menegur.
“Eh, putri papa yang cantik,” seru Rafka ceria. Dia langsung mengangkat tubuh Gita, menggendongnya tinggi-tinggi, lalu berputar pelan. Tawa Gita pecah, mengisi rumah dengan bunyi kebahagiaan yang tulus.
Kirana memandangi keduanya dengan senyum penuh syukur. Dalam hati, dia berdoa agar momen-momen sederhana seperti ini tidak pernah berakhir. Baginya, kebahagiaan bukanlah dengan kemewahan, cukup makan bersama, tertawa bersama, dan pulang ke rumah yang hangat.
“Mas,” ucap Kirana ketika mereka sudah duduk di meja makan. Dia meletakkan semangkuk sop ayam dan merapikan sendok. “Hari Minggu nanti ibu minta kita datang ke rumah. Katanya mau syukuran ulang tahun Mbak Kinanti.”
Sendok Rafka terhenti di udara. Hanya sesaat. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat jantungnya terasa berhenti sesaat. Karena hari Minggu nanti sudah tercatat sebuah rencana yang tersusun rapi di kepalanya. Bukan untuk acara keluarga, melainkan janji lain yang tak pantas disebutkan.
“Hari Minggu?” tanya Rafka, nadanya dibuat senormal mungkin.
“Iya,” jawab Kirana sambil mengambilkan nasi untuk suaminya. “Katanya sederhana saja. Makan-makan keluarga.”
“Kok Kinanti nggak bilang apa-apa?” batin Rafka. Jantungnya berdegup lebih cepat, namun wajahnya tetap tenang. Dia menunduk, berpura-pura fokus pada makanannya.
Makan malam berlangsung hangat. Gita bercerita panjang lebar tentang temannya di sekolah, tentang gambar yang dia buat, juga tentang keinginannya pergi melihat gajah. Rafka dan Kirana menyimak dengan sabar, tertawa di waktu yang tepat.
Malam semakin larut. Setelah menidurkan Gita di kamar sebelah, Kirana kembali ke kamar mereka. Rafka sudah lebih dulu duduk di tepi ranjang.
Dia terkejut saat melihat Kirana keluar dari kamar mandi mengenakan baju tidur dinas malam yang jarang dipakai, tetapi selalu membawa makna tersendiri.
Rafka menelan ludah. “Kenapa aku lupa kalau malam ini ....” batinnya kacau. Tadi sore dia sudah menghabiskan tenaga dan perasaan di tempat yang seharusnya tidak dia datangi.
Namun, Rafka tetap bangkit. Dia tahu komitmen yang pernah mereka ucapkan. Yaitu, harus menjaga kehangatan ranjang agar rumah tangga tidak retak. Dia tidak ingin Kirana curiga. Tidak ingin rumah yang rapi ini runtuh karena kelalaiannya sendiri.
***
Ponsel Kinanti bergetar di atas meja riasnya.
[Kamu kok nggak bilang kalau hari Minggu nanti ada acara di rumah orang tua kamu?]
Kinanti mengernyit. Dia sendiri baru tahu kabar itu. Sejak kecil, orang tuanya memang selalu merayakan ulang tahunnya. Berbeda dengan Kirana, ulang tahun adiknya sering lewat begitu saja, nyaris tak diingat.
[Aku juga baru tahu, Mas. Gimana kalau beli tasnya hari Sabtu saja?]
Balasan datang cepat.
[Tidak bisa. Hari Sabtu aku sudah janji sama Kirana dan Gita mau ke kebun binatang.]
Wajah Kinanti mengeras. Rencana yang sudah dia susun rapi di kepalanya terancam buyar. Bukan sekadar tas, tetapi dia ingin seharian itu penuh dengan diperhatikan dan diprioritaskan oleh Rafka.
[Tunda saja dulu. Ke kebun binatangnya minggu depan.]
Tak lama, Kinanti mengirim pesan lainnya lagi.
[Aku kasih Mas servis yang terbaik.]
Tak ada balasan. Kinanti menggigit bibir, kesal. Jari-jarinya kembali menari di layar.
[Mas, please. Sabtu dan Minggu aku kasih pelayanan khusus.]
Masih hening. Kinanti menghembuskan napas panjang. Dia tidak tahu bagaimana caranya membujuk Rafka.
[Aku akan bujuk Gita.]
Senyum tipis terukir di bibir Kinanti, saat membaca balasan dari Rafka. Rencana yang sudah dirancangnya pun bisa terrealisasi.
Keesokan harinya, Kirana menjemput Gita dan Ara dari TK. Dua bocah itu berlarian ke arahnya dengan wajah cerah. Setelahnya, Kirana mengantar Ara ke rumah orang tuanya yang berbeda desa. Nanti Kinanti baru akan menjemput sore hari.
“Kamu jangan dulu pulang,” ucap Bu Maya saat Kirana hendak pamit. “Temani mama belanja ke pasar. Banyak yang harus dibeli buat Minggu.”
Kirana ingin menolak. Pekerjaan rumah menunggu. Setrikaan menumpuk. Tubuhnya juga lelah. Namun, dia tahu betul watak ibunya. Menolak berarti siap menerima cap anak durhaka.
“Iya, Ma,” jawab Kirana pelan.
Belum sempat beranjak, suara teriakan terdengar dari ruang belakang. Gita dan Ara sedang berebut boneka.
“Ini punyaku!” teriak Gita sambil memeluk bonekanya.
“Sekarang sudah jadi punyaku!” balas Ara, tak kalah kencang.
Bu Maya datang lebih dulu. “Gita, kasihkan ke Ara. Kamu kan sudah lama main sama boneka itu.”
Kirana tercekat. Pemandangan itu terlalu familiar—seolah mengulang masa kecilnya sendiri.
“Sayang,” Kirana berlutut di depan Gita, mengelus rambut anaknya. “Kasih ke Ara, ya. Nanti Mama minta Papa beliin yang baru.”
Ara langsung menyerahkan boneka itu. “Nih! Biar nanti aku dibelikan boneka baru sama Om Rafka,” katanya polos sebelum berlari pergi.
Gita menunduk. Matanya berkaca-kaca.
“Lain kali kamu harus mengalah,” ucap Bu Maya datar. “Kasihan Ara. Dia sudah nggak punya ayah.”
Kalimat itu menghantam Gita tanpa ampun. Bocah kecil itu terdiam, merasa bersalah atas sesuatu yang tidak dia pahami sepenuhnya.
Kirana menahan sesak di dadanya. Dia seolah kembali melihat dirinya sendiri di wajah putrinya. Selalu diminta mengalah, selalu menjadi yang kedua.
Mereka pergi ke pasar. Satu becak penuh belanjaan. Tangan Kirana pegal, pikirannya pun lelah. Di tengah hiruk pikuk pasar, ponselnya berbunyi.
[Ki, ini motor suami kamu bukan?]
Kirana berhenti melangkah. Dia membuka pesan itu perlahan.
[Iya. Memangnya kenapa?]
Balasan datang cepat.
[Kemarin aku lihat di parkiran hotel Melati.]
DEG!
Dunia seakan berhenti berputar. Suara pasar mendadak jauh. Kirana menatap layar ponsel itu lama, terlalu lama. Motor merah polet hitam. Plat nomor yang dia hafal di luar kepala. Tangannya bergetar.
“Tidak mungkin,” bisiknya pada diri sendiri. “Kemarin kan Mas Rafka kerja.”
bab sebelumnya kirana mendapatkan struk belanja dr saku celana..
bab lanjutan dia melihat struk teselip di bawah meja rias..
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏