Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESIDU KETAKUTAN
Malam tadi adalah sebuah pencurian, namun pagi ini terasa seperti sebuah pemakaman.
Baskara berdiri di depan cermin wastafel, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Bayangan di cermin menunjukkan pria dengan mata yang memerah karena kurang tidur, namun sorot matanya setajam belati. Di kantong celananya, flash drive merah itu terasa seberat bongkahan timah. Ia baru saja membaca sebagian isinya sebelum fajar menyingsing; sebuah skenario mengerikan tentang bagaimana keluarga Arkananta "dihapus" dari sejarah bisnis demi melapangkan jalan bagi Mahardika Group.
Dan Alea—gadis yang tertidur di kamar sebelah—adalah sisa-sisa dari reruntuhan yang coba disembunyikan oleh ayahnya dan Sarah.
Baskara keluar dari kamar dan menuruni tangga jati yang megah. Bau aroma kopi mahal dan roti panggang menyeruak di aula utama, namun bagi Baskara, rumah ini tetap berbau seperti debu dan rahasia busuk. Di ujung meja makan panjang itu, Sarah sudah duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Ia mengenakan terusan sutra berwarna krem, rambutnya tersanggul rapi tanpa sehelai pun yang keluar dari tempatnya.
"Kau bangun lebih awal, Baskara," suara Sarah memecah kesunyian. Ia tidak mendongak, matanya tetap terpaku pada tablet yang menampilkan grafik saham pagi.
"Aku punya banyak hal yang harus diperiksa di kantor," jawab Baskara singkat, menarik kursi di sisi kiri meja, sejauh mungkin dari Sarah.
"Audit internal memang melelahkan, tapi jangan sampai kau melupakan sopan santun di rumah ini." Sarah meletakkan tabletnya, lalu menatap Baskara dengan senyum yang tidak mencapai matanya. "Bagaimana tidurmu? Aku mendengar suara langkah kaki di koridor sayap barat jam satu dini hari tadi."
Jantung Baskara berdegap kencang, namun wajahnya tetap sedingin es. "Aku haus. Aku ke dapur untuk mengambil air. Apa itu dilarang sekarang?"
Sarah hanya mengangkat bahu kecil, lalu pandangannya beralih ke arah tangga. Alea muncul dengan wajah pucat. Matanya sembab, dan ia tampak seolah-olah baru saja melihat hantu. Gadis itu berjalan dengan langkah ragu, duduk di hadapan Baskara tanpa berani menatap siapa pun.
"Alea, kau terlihat mengerikan," tegur Sarah dingin. "Jika kau tidak sanggup menangani tekanan di departemen Baskara, katakan padaku. Aku tidak ingin sekretarisku terlihat seperti orang yang sedang sekarat di depan klien."
Alea tersedak kecil saat memegang gelas susunya. "Maaf, Bu. Aku... aku hanya kurang enak badan."
"Dia membantuku semalam," Baskara memotong, suaranya lebih keras dari biasanya. Ia menatap Alea, mencoba memberikan kode agar gadis itu tetap tenang. "Ada beberapa laporan keuangan tahunan yang harus disinkronkan. Alea sangat cekatan, meski itu membuatnya kelelahan."
Sarah menyipitkan mata. Ia memandangi kedua anak manusia di hadapannya bergantian. Ada sebuah keheningan yang menyesakkan, jenis keheningan di mana setiap denting sendok yang beradu dengan piring terdengar seperti ledakan.
"Begitu rupanya," gumam Sarah. "Baguslah jika kalian mulai akrab. Sebagai kakak dan adik, kalian memang harus saling membantu... terutama dalam menjaga keamanan rahasia keluarga ini."
Kalimat itu terdengar seperti ancaman terselubung. Baskara tahu Sarah sedang bermain kucing-kucingan. Dia mungkin belum punya bukti, tapi instingnya sebagai predator sedang bergetar.
Setelah sarapan yang mencekam itu usai, Baskara mencegat Alea di area parkir mobil sebelum gadis itu berangkat ke kantor. Alea tampak ingin menangis, tangannya gemetar hebat saat mencoba memasukkan kunci ke lubang pintu mobilnya.
"Alea, lihat aku," bisik Baskara tegas, memegang bahu gadis itu.
"Dia tahu, Baskara... Dia pasti tahu," isak Alea pelan. "Ibu tidak pernah bertanya soal langkah kaki kecuali dia sudah tahu tujuannya. Kita dalam bahaya."
"Tenanglah. Dia hanya menggertak. Jika dia tahu yang sebenarnya, kita tidak akan berdiri di sini sekarang. Dia akan memanggil polisi atau lebih buruk lagi," Baskara menatap mata Alea yang ketakutan. Untuk pertama kalinya, ada rasa iba yang tulus menyelinap di sela-sela dendamnya. Gadis ini tidak tahu apa-apa, namun dia harus menanggung beban dosa yang dilakukan orang tua mereka.
"Apa yang ada di dalam flash drive itu?" tanya Alea dengan suara bergetar. "Kau bilang itu tentang kebenaranku. Katakan padaku, siapa aku sebenarnya?"
Baskara terdiam sejenak. Ia teringat nama 'Arkananta' dan foto bayi di depan truk lumba-lumba. Ia teringat instruksi dingin ayahnya untuk memelihara Alea sebagai "jaminan asuransi".
"Belum saatnya, Alea. Informasi ini adalah senjata. Jika kau mengetahuinya sekarang tanpa persiapan, kau akan hancur sebelum kita sempat melawan," ujar Baskara. "Sekarang, pergilah ke kantor. Berlakulah seolah-olah tidak ada yang terjadi. Tersenyumlah pada Sarah. Jadilah anak kesayangannya yang patuh. Biarkan aku yang memikirkan langkah selanjutnya."
"Janji kau tidak akan meninggalkanku sendirian dalam hal ini?" Alea menatapnya dengan keputusasaan yang murni.
Baskara mengangguk perlahan. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."
Saat mobil Alea pergi meninggalkan gerbang mansion, Baskara segera merogoh ponselnya. Ia mendial sebuah nomor yang tidak tersimpan di kontaknya.
"Reno, ini aku," ucap Baskara saat sambungan terangkat.
"Bas? Kau masih hidup? Aku sudah menyiapkan rencana pemakaman kalau kau tidak menelepon pagi ini," suara Reno di seberang sana terdengar santai namun waspada.
"Berhenti bercanda. Aku punya data dari brankas Sarah. Proyek Erase. Isinya lebih gelap dari yang kita duga. Ini bukan cuma penggelapan dana, Ren. Ini tentang darah."
"Darah? Apa maksudmu?"
"Temui aku di tempat biasa dalam satu jam. Jangan bawa kendaraan yang biasa kau pakai. Dan Ren... cari tahu segala hal tentang kecelakaan lalu lintas tahun 1995 yang melibatkan truk dengan logo lumba-lumba. Aku butuh nama supirnya, saksi matanya, dan siapa yang menutup kasus itu di kepolisian."
"Truk lumba-lumba? Kedengarannya seperti kasus lama yang sudah terkubur dalam," sahut Reno serius.
"Gali lebih dalam. Jika perlu, gunakan semua sisa uang di rekening luar negeriku. Aku harus tahu seberapa banyak nyawa yang dikorbankan Sarah dan ayahku untuk membangun kursi kekuasaan mereka."
Baskara menutup telepon. Ia menatap kembali ke arah jendela kamar Sarah di lantai atas. Di sana, di balik tirai tipis, ia yakin wanita itu sedang mengawasinya.
Permainan ini bukan lagi soal merebut kembali Mahardika Group. Ini adalah tentang membongkar kuburan massal yang dibangun di atas pondasi perusahaan itu. Dan saat kebenaran itu terungkap, Baskara tahu bahwa tidak ada yang akan selamat dari ledakannya—termasuk dirinya sendiri.
Ia masuk ke dalam mobilnya, mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. "Suryakencana," gumamnya pada diri sendiri. "Nama itu akan menjadi akhir dari kalian semua."