Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Hujan dan Harapan Yang Karam
Lantai dua kafe di Jalan Tunjungan, Surabaya, itu terasa hangat, kontras dengan hujan deras yang menghantam jendela kaca tanpa ampun. Alunan musik jazz lembut mengisi ruangan, menciptakan suasana romantis yang sempurna. Bagi Alina Oktavia, malam ini terasa berbeda.
Gadis berusia 25 tahun itu meremas jemarinya di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan rintik hujan. Ia sudah berdandan maksimal malam ini—gaun maroon selutut favorit Rendy, dan rambut yang ia blow rapi. Ada firasat manis yang menggelitik perutnya. Hari ini tepat tiga tahun mereka bersama. Dan Rendy, sang guru Bahasa Indonesia yang biasanya sederhana itu, memintanya bertemu di tempat yang agak mewah dari biasanya.
Apakah ini saatnya? batin Alina penuh harap. Apakah Rendy akhirnya akan melamar?
Di hadapannya, Rendy Angkasa duduk dengan gelisah. Pria berusia 28 tahun itu masih mengenakan seragam batiknya—batik guru dengan corak biru yang sudah sedikit pudar di bagian kerah. Wajahnya kusut, kacamata kotaknya berembun. Ia tidak menyentuh latte-nya sama sekali.
"Alina," panggil Rendy. Suaranya serak, seperti orang yang menelan pasir.
"Ya, Mas?" Alina tersenyum manis, matanya berbinar menatap pria itu. Ia melihat tangan Rendy merogoh saku celana bahan hitamnya.
Napas Alina tercekat. Cincin. Pasti cincin.
Namun, yang dikeluarkan Rendy bukanlah kotak beludru merah. Melainkan sebuah kunci duplikat kosan Alina yang selama ini dipegang pria itu untuk keadaan darurat. Kunci itu diletakkan di atas meja kayu dengan bunyi klotak yang pelan, namun terdengar memekakkan telinga bagi Alina.
Senyum di bibir Alina lenyap perlahan. "Mas... ini apa?"
Rendy menunduk, menatap kunci itu seolah itu adalah benda paling berdosa di dunia. "Kita harus selesai, Al. Hari ini. Detik ini."
Dunia Alina serasa berhenti berputar. Darah di wajahnya surut seketika, menyisakan pucat pasi. "Selesai? Kamu... kamu bercanda, kan? Ini anniversary kita, Mas. Aku kira kamu mau..." Suara Alina tercekat, malu mengakui harapannya sendiri yang kini hancur berkeping-keping.
"Maaf." Hanya itu kata yang keluar dari mulut seorang guru sastra yang biasanya pandai merangkai ribuan kata indah.
"Kenapa?" Alina menuntut, suaranya mulai bergetar menahan tangis. "Apa karena gajiku lebih besar? Apa karena aku sering lembur? Kita sudah bahas ini, Mas. Aku nggak masalah hidup sederhana sama kamu. Aku cinta sama kamu, Rendy!"
"Bukan soal itu!" Rendy menyela, nadanya meninggi membuat beberapa pengunjung menoleh. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Ini soal takdir yang nggak bisa aku lawan dengan puisi manapun, Al."
"Jangan bicara pakai majas!" bentak Alina, air matanya mulai jatuh. "Bicara pakai logika! Kenapa?!"
Rendy menatap mata Alina dalam-dalam. Tatapan itu penuh luka, namun juga penuh ketegasan yang mematikan. "Orang tuaku. Bisnis ekspedisi Papa diambang kebangkrutan total. Utang miliaran, Al. Rumah, aset, harga diri keluarga Angkasa... semuanya di ujung tanduk."
"Lalu apa hubungannya sama kita? Kita bisa bantu, Mas. Kita bisa cicil..."
"Nggak akan cukup, Alina!" potong Rendy frustrasi. "Gajiku sebagai guru honorer dan gajimu sebagai staf admin nggak akan cukup menutup bunga utangnya saja! Realitas tidak seindah novel-novel di perpustakaan sekolahku."
Rendy memejamkan mata sesaat sebelum menjatuhkan bom atom itu. "Ada satu keluarga yang mau melunasi semuanya. Tanpa syarat bunga. Tapi dengan satu syarat mutlak."
"Apa?" tanya Alina lirih, meski hatinya sudah bisa menebak jawabannya.
"Pernikahan." Rendy menyebut kata itu dengan getir. "Aku harus menikahi putri mereka minggu depan."
Alina merasa dadanya sesak, seolah oksigen di ruangan itu habis disedot keluar. "Siapa?"
"Sisca Angela."
Nama itu menghantam Alina lebih keras dari tamparan fisik. Ia tahu nama itu. Sisca Angela, putri pemilik yayasan tempat Rendy mengajar. Wanita anggun, berpendidikan luar negeri, dan tentu saja—kaya raya. Jauh di atas Alina Oktavia yang hanya gadis perantau biasa.
"Jadi..." Alina tertawa, tawa yang terdengar sumbang dan menyakitkan. Air matanya menderas, melunturkan blush on yang ia poles dengan hati-hati satu jam lalu. "Jadi cintaku selama tiga tahun kalah sama uang? Kamu, Rendy Angkasa, guru yang selalu mengajarkan muridnya untuk jujur pada hati nurani... sekarang melacurkan diri demi uang?"
"Jaga mulutmu, Al!" wajah Rendy memerah.
"Apa?! Aku salah?!" Alina setengah berteriak, masa bodoh dengan tatapan orang-orang. Rasa sakit di dadanya terlalu besar untuk ditahan. "Kamu pengecut, Mas. Kamu korbankan aku. Kamu buang aku kayak sampah cuma karena aku nggak punya label harga yang cukup mahal buat nyelamatin keluargamu!"
Rendy bangkit dari kursinya. Ia tidak sanggup lagi menatap mata gadis yang dicintainya itu—gadis yang kini hancur karena ulahnya.
"Aku harap kamu mengerti suatu hari nanti, Al. Hidup butuh makan, bukan cuma cinta." Rendy mengambil tas kerjanya dengan tangan gemetar. "Kunci itu... simpanlah. Anggap saja aku nggak pernah ada."
"Pergi..." desis Alina, suaranya penuh kebencian dan luka. "Pergi dan jangan pernah tunjukin muka munafikmu lagi di depanku."
Rendy berbalik dan melangkah cepat meninggalkan kafe, menembus hujan yang semakin gila di luar sana.
Tinggallah Alina Oktavia sendiri. Di tengah keramaian kafe yang hangat, ia merasa kedinginan sampai ke tulang sumsum. Ia menatap kunci di atas meja—benda kecil yang menjadi saksi bisu berakhirnya tiga tahun masa mudanya yang sia-sia.
Gadis itu menelungkupkan wajahnya ke meja, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menangis meraung, membiarkan harga dirinya luruh bersama hujan Kota Surabaya. Malam ini, ia bukan hanya kehilangan kekasih, tapi ia kehilangan kepercayaannya pada cinta.
Bersambung...
Mohon dukungannya..