Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. JURUSAN DI BALIK KEGELAPAN
Jam dua belas malam, gedung PT. Dewi Santoso sunyi dan sepi kecuali suara kipas pendingin ruangan yang berdenyut secara teratur. Ridwan berdiri di depan pintu ruang arsip utama, mengenakan seragam keamanan yang telah dia sesuaikan agar lebih nyaman untuk bekerja dalam waktu lama. Dengan menggunakan kata sandi yang diberikan oleh Pak Sudarto—yang tahu sebagian tujuan sebenarnya Ridwan—dia membuka pintu dengan hati-hati dan memasuki ruangan yang penuh dengan rak-rak tinggi berisi tumpukan dokumen dan kotak arsip.
Cahaya lampu neon yang sedikit berkedip-kedip menerangi ruangan dengan cahaya putih kebiruan, membuat suasana terasa lebih misterius dan penuh dengan ketegangan. Ridwan membawa senter kecil yang disembunyikan di dalam kantong seragamnya, serta kotak alat penyadap dan kamera tersembunyi yang diberikan oleh Pak Joko. Dia tahu bahwa malam ini adalah kesempatan emas untuk mencari dokumen-dokumen penting tentang ibunya yang mungkin tersembunyi di antara ribuan berkas yang ada di ruangan ini.
Dia mulai mencari dari rak paling belakang yang paling tidak terawat—tempat yang biasanya digunakan untuk menyimpan dokumen lama yang dianggap tidak penting. Setelah beberapa saat mencari di antara tumpukan berkas yang penuh dengan debu, dia menemukan sebuah kotak kayu tua dengan tulisan tangan “DEWI WIJAYA – ARSIP PRIBADI” di bagian atasnya. Kotak tersebut terkunci dengan kunci kecil yang sudah mulai berkarat, tapi dengan sedikit usaha, Ridwan berhasil membukanya tanpa merusaknya.
Di dalam kotak tersebut terdapat berbagai macam dokumen berharga—buku harian ibunya yang mencatat proses pengembangan resep obat tradisional, surat-surat antara ibunya dengan neneknya tentang ilmu pengobatan, serta foto-foto kenangan ibunya ketika masih muda dan ketika sedang mengembangkan perusahaan. Ada juga sebuah folder tebal yang berisi dokumen resmi pendirian perusahaan, surat izin usaha, dan kontrak-kontrak penting yang ditandatangani oleh ibunya sendiri.
Ridwan melihat setiap dokumen dengan hati-hati, merasa getaran emosi yang kuat mengalir di dalam dirinya. Di salah satu halaman buku harian ibunya, terdapat tulisan tangan yang jelas:
“Hari ini saya berhasil menyempurnakan resep ‘Ramuan Dewi’ yang diambil dari resep nenek saya. Saya berharap produk ini bisa membantu banyak orang yang menderita penyakit kronis dan tidak mampu membeli obat mahal. Semoga suatu hari nanti, Ridwan—anak saya yang tersayang—akan bisa melanjutkan warisan ini dan membawa perusahaan ke arah yang lebih baik.”
Air mata mulai menggenang di matanya saat membaca tulisan tersebut. Dia merasakan betapa besar cinta ibunya terhadapnya dan terhadap pekerjaannya yang telah menjadi bagian dari dirinya sendiri.
Setelah itu, dia menemukan sebuah dokumen yang lebih penting dari yang lain—salinan surat wasiat asli ibunya yang ditulis sebelum dia wafat. Di dalamnya, ibunya dengan jelas menyatakan bahwa seluruh aset perusahaan dan hartanya akan diberikan kepada Ridwan sebagai ahli waris sahnya. Ada juga klausa yang menyatakan bahwa jika Ridwan tidak dapat ditemukan dalam waktu lima tahun, hak tersebut akan diteruskan kepada keluarga Wijaya. Tidak ada satu pun penyebutan nama Budi, Ratna, atau Rio dalam surat wasiat tersebut.
“Ini adalah bukti yang saya butuhkan,” bisik Ridwan dengan suara yang penuh dengan tekad. Dia segera menggunakan kamera tersembunyi untuk memotret setiap halaman dokumen penting tersebut, kemudian menyalinnya ke dalam flashdisk kecil yang dia bawa.
Saat dia sedang sibuk bekerja, dia mendengar suara pintu ruangan yang sedikit terbuka dari arah pintu utama. Dia segera menyembunyikan kotak kayu dan dokumen-dokumen penting di balik tumpukan berkas lain, kemudian berdiri dengan tenang sambil memegang senternya seperti sedang melakukan pemeriksaan rutin.
“Siapa di sana?” suara Rio terdengar dengan jelas di tengah kegelapan. Dia masuk ke ruangan dengan membawa senter besar, menerikannya ke arah setiap sudut ruangan. “Saya tahu ada orang di sini. Keluar sekarang juga jika tidak ingin saya laporkan ke pihak keamanan!”
Ridwan tetap tenang dan tidak bergerak. Dia tahu bahwa jika dia keluar sekarang, semua dokumen penting yang dia temukan bisa jadi akan hilang dan rencananya akan terbongkar. Pada saat yang sama, dia mendengar suara langkah kaki lain yang datang dari arah koridor—suara yang lebih ringan namun tetap mantap.
“Rio, apa yang kamu lakukan di sini pada jam seperti ini?” suara Mira terdengar dengan jelas. Dia masuk ke ruangan dan berdiri di antara Rio dan tempat Ridwan bersembunyi. “Saya sedang melakukan audit mendadak terhadap dokumen hukum yang ada di ruang arsip. Apakah kamu memiliki masalah dengan itu?”
Rio melihat Mira dengan ekspresi yang penuh dengan kekesalan. “Aku sedang melakukan pemeriksaan keamanan,” jawabnya dengan suara yang kasar. “Aku merasa ada sesuatu yang tidak benar di ruang arsip ini. Sepertinya ada orang yang mencoba mengakses dokumen-dokumen penting tanpa izin.”
“Tidak ada orang di sini selain saya,” kata Mira dengan suara yang tegas. “Dan saya memiliki izin resmi dari direksi untuk mengakses ruang arsip kapan saja jika diperlukan untuk pekerjaan hukum perusahaan. Mungkin kamu hanya mendengar suara kipas pendingin atau suara lain yang biasa terdengar di gedung pada malam hari.”
Rio melihat sekeliling ruangan dengan ekspresi yang masih ragu-ragu. Dia tidak bisa menemukan siapa pun di dalam ruangan dan mulai merasa bahwa mungkin dia memang hanya mendengar suara khayalan. “Baiklah, tapi hati-hatilah,” katanya dengan suara yang penuh dengan ancaman tersembunyi. “Jika aku menemukan bahwa ada orang yang mencoba mengganggu dokumen perusahaan, mereka akan mendapatkan hukuman yang tidak menyenangkan.”
Setelah Rio pergi dengan marah, Mira segera mendekati tempat Ridwan bersembunyi. “Itu aman sekarang, mas,” katanya dengan suara yang rendah namun jelas. “Kamu bisa keluar sekarang.”
Ridwan keluar dari tempat persembunyiannya dengan lega. “Terima kasih banyak, Ibu Mira,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. “Jika bukan karena kamu, saya mungkin sudah terbongkar dan dokumen-dokumen penting ini akan hilang selamanya.”
Mira tersenyum lembut dan melihat ke arah kotak kayu tua yang telah Ridwan sembunyikan. “Apa yang kamu temukan, mas?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan rasa ingin tahu.
Ridwan membuka kembali kotak tersebut dan menunjukkan surat wasiat asli ibunya beserta dokumen-dokumen penting lainnya. “Ini adalah bukti bahwa saya adalah ahli waris sah perusahaan ini,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Dengan dokumen-dokumen ini, kita bisa membuktikan bahwa surat wasiat yang digunakan oleh Ratna dan Budi adalah palsu dan bahwa mereka telah mencuri hak saya dan keluarga Wijaya selama bertahun-tahun.”
Mira melihat dokumen tersebut dengan mata yang penuh dengan kagum dan kesedihan. “Ini adalah bukti yang sangat kuat, mas,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Dengan ini, kita bisa membawa mereka ke pengadilan dan mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milik kamu dan keluarga Wijaya.”
Ridwan segera menyimpan semua dokumen penting kembali ke dalam kotak kayu dan menutupinya dengan hati-hati. “Saya akan membawa dokumen-dokumen ini kepada keluarga Wijaya besok pagi,” katanya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Bersama dengan bukti yang telah dikumpulkan oleh Siti—staf keuangan baru yang sebenarnya adalah anggota keluarga Wijaya—kita akan memiliki kasus yang tidak bisa ditolak oleh pengadilan.”
Mira mengangguk dengan tegas, kemudian melihat ke arah pintu ruangan dengan cermat. “Kita harus pergi sekarang, mas,” katanya dengan suara yang cepat namun jelas. “Rio mungkin akan kembali lagi untuk memeriksa ruangan ini. Saya akan membantu kamu keluar dari gedung melalui pintu belakang agar tidak terlihat oleh siapa pun.”
Dengan hati-hati dan penuh dengan kecepatan, Ridwan dan Mira keluar dari ruang arsip dan berjalan melalui koridor yang sunyi menuju pintu belakang gedung. Di luar, bulan purnama menerangi jalan dengan cahaya yang lembut, memberikan penerangan yang cukup bagi mereka untuk berjalan dengan aman.
Setelah sampai di luar gedung, Ridwan berhenti dan melihat ke arah gedung pencakar langit yang telah menjadi rumah bagi perusahaan ibunya. Di hatinya, dia berjanji kepada ibunya bahwa dokumen-dokumen penting yang dia temukan malam ini akan digunakan dengan bijak untuk mendapatkan keadilan yang pantas dan untuk memastikan bahwa perusahaan akan kembali ke tangan yang benar—yang akan melanjutkan warisan ibunya dengan penuh cinta dan penghargaan terhadap pekerjaan yang telah dia lakukan selama hidupnya.