Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah dan Debu di Bawah Matahari
Borong mengusap noda darah di dadanya, jarinya menekan titik yang baru saja ditusuk Xu Hao. Ekspresi di wajahnya yang keras berubah dari keterkejutan menjadi perhitungan dingin, lalu akhirnya menjadi semacam pengakuan yang dalam. Darah bukanlah sesuatu yang sering dia lihat berasal dari tubuhnya sendiri di arena ini.
"Bagus," katanya lagi, namun nadanya berbeda. Lebih berat, lebih berisi ancaman yang tak terucap. "Sudah bertahun tahun sejak seseorang bisa membuatku berdarah di Sarang Naga Patah."
Xu Hao berdiri tegak, napasnya sedikit tersengal, lengan kirinya masih terasa kebas dari pukulan sebelumnya. Darah di sudut mulutnya dia lap dengan lengan bajunya.
"Masih ada lebih banyak," jawabnya, suaranya parau namun jelas.
Sorak sorai penonton naik turun seperti ombak. Mereka bisa merasakan perubahan atmosfer di arena. Ini bukan lagi sekadar pertarungan spektakuler. Ini menjadi pertarungan hidup dan mati.
Di tribun khusus, Xu Jian bersandar mendekat ke Xu Li. "Penatua, itu... serangan tadi. Konsentrasi Qi yang sangat tajam. Hampir seperti teknik penusukan seni pedang, tapi dilakukan dengan jari."
Xu Li mengangguk pelan, matanya tidak berkedip dari sosok Xu Hao. "Ya. Itu bukan teknik tubuh murni. Itu adalah aplikasi Qi tingkat tinggi yang disamarkan. Dia mengompres kekuatannya ke satu titik sangat kecil untuk menembus pertahanan fisik Borong." Jarinya mengetuk meja pelan.
"Cermin?"
"Masih tidak bergerak. Tidak ada tanda tanda hukum atau darah klan."
"Lanjutkan pengamatan."
Di tribun depan, Minlie menggenggam pagar pembatas hingga buku bukunya putih. "Dia melukainya... tapi sekarang Borong akan marah. Sangat marah."
Di arena, Borong merentangkan bahunya, dan suara sendi yang berderak seperti rantai yang ditarik terdengar. "Kau tahu, aku menghargai lawan yang bisa membuatku merasakan sakit. Itu langka." Dia mulai berjalan mendekat lagi, tapi kali ini langkahnya lebih hati hati, lebih terukur. "Tapi itu juga berarti aku tidak perlu lagi menahan diri."
Sebelum kata katanya benar benar habis, Borong sudah bergerak. Bukan ledakan kecepatan seperti sebelumnya, tapi sebuah pendekatan yang mantap dan tak terbendung, seperti gletser yang bergerak. Tekanan aura-nya memadat, menekan udara di sekeliling Xu Hao, membuatnya sulit bernapas.
Xu Hao mengerahkan Qi-nya untuk menangkis tekanan itu. Dia tahu serangan berikutnya akan berbeda. Borong tidak akan lagi meremehkannya.
Pada jarak sepuluh langkah, Borong berhenti. Tangannya yang kanan mengepal, lalu dia menarik napas sangat dalam. Dada besarnya mengembang, dan udara di sekelilingnya seakan tersedot ke dalam.
"Ini sangat berbahaya..." gumam Xu Hao, bersiap.
Borong menghembuskan napas, dan bersama dengan itu, tangannya yang terkepal maju dalam sebuah pukulan lurus yang sederhana. Tidak ada embusan angin, tidak ada suara ledakan. Hanya sebuah pukulan yang terlihat biasa.
Tapi naluri Xu Hao berteriak keras. Dia tidak mencoba menangkis atau menghindar ke samping. Tanpa pikir panjang, dia melompat ke belakang dengan seluruh kekuatannya, sekaligus membentuk perisai Qi setebal mungkin di depan tubuhnya.
Sesaat setelah dia melompat, ruang udara di tempat dia berdiri sebelumnya... runtuh.
Bukan meledak. Tapi runtuh ke dalam, seperti sebuah gelembung sabun yang pecah ke arah terbalik. Kemudian barulah sebuah ledakan suara yang memekakkan telinga terdengar, dan gelombang kejut yang jauh lebih kuat dari sebelumnya menyebar, menghancurkan batu arena di bawahnya menjadi debu halus dan menerpa perisai Qi Xu Hao.
BRAAAAK!
Xu Hao terlempar seperti daun di angin topan, membalik berkali kali di udara sebelum jatuh dengan kasar di tanah, terguling beberapa kali sebelum berhenti. Perisai Qi-nya pecah, dan dia merasa beberapa tulang rusuknya retak. Rasa sakit yang tajam menusuk dadanya, dan darah memenuhi mulutnya lagi.
"HUAAAA!" teriak penonton, campuran antara teror dan kekaguman.
"Teknik kompresi udara... dia memadatkan udara di depan tinjunya hingga titik ekstrem lalu melepaskannya dengan pukulan," analisa Xu Li dengan suara datar. "Kekuatan fisik dan kendali Qi yang luar biasa untuk tingkat Soul Transformation."
Xu Hao berdiri dengan gemetar. Dia meludahkan gumpalan darah. Dadanya berdenyut sakit. Regenerasi alaminya dan efek Hukum Asal bergegas bekerja, memperbaiki kerusakan, tapi dia harus menahannya agar tidak terlalu mencolok. Dia biarkan darah tetap mengalir dari bibirnya.
Borong berjalan mendekat lagi, tidak terburu buru. "Kau menghindar. Bagus. Kebanyakan orang tidak akan punya refleks untuk itu." Dia berhenti beberapa langkah dari Xu Hao. "Tapi berapa kali kau bisa menghindar?"
Xu Hao menarik napas dalam, menahan sakit. Matanya memperhatikan setiap detail Borong. Dia melihat sesuatu. Setelah menggunakan teknik itu, nadi di leher Borong berdenyut lebih cepat. Napasnya, walau masih terkendali, sedikit lebih dalam. Teknik tadi menguras tenaga. Bahkan bagi Borong.
"Itu teknik yang menguras banyak tenaga," kata Xu Hao tiba tiba, suaranya serak. "Kau tidak bisa menggunakannya berkali kali."
Borong terhenti sejenak, lalu senyum tipis muncul di wajahnya. "Cerdik. Benar. Tapi apakah kau dalam kondisi lebih baik?"
"Kita lihat."
Kali ini Xu Hao yang mengambil inisiatif. Dia tahu tidak bisa bertahan pasif. Dia harus menciptakan kesempatan. Dia melesat ke depan, tapi bukan menuju Borong. Dia berlari membentuk lingkaran di sekeliling raksasa itu, dengan kecepatan penuh, meninggalkan bayangan bayangan samar.
Borong berputar di tempat, mengikutinya dengan tatapan. "Lari lari kecil tidak akan membantumu!"
Xu Hao tiba tiba berubah arah, menukik ke depan, tangan kanannya terbuka seperti cakar menuju mata Borong. Itu tipuan. Borong mengangkat tangannya untuk menangkis, membuka sisi kanan tubuhnya.
Tapi Xu Hao membatalkan serangan, berputar, dan kakinya yang kiri menyapu rendah ke pergelangan kaki Borong. Bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengganggu keseimbangannya. Borong menginjak kuat, menahan sapuan itu, tapi tubuhnya miring sedikit.
Pada momen itu, Xu Hao melompat, tubuhnya berputar di udara, dan kakinya yang kanan menendang seperti pentung berputar ke arah pelipis Borong.
Borong mendongakkan kepala, tendangan itu melewati dagunya. Tapi itu adalah tipuan kedua. Saat di udara, tangan Xu Hao yang kiri menaburkan segenggam debu dan kerikil kecil yang dia kumpulkan saat jatuh tadi ke arah mata Borong.
"Licik!" geram Borong, secara refleks menutup matanya dan memalingkan wajah.
Itu kesempatan yang diciptakan Xu Hao. Dia mendarat, dan dengan seluruh sisa kekuatannya, dia meninju sekali lagi ke titik lemah di dada kiri Borong, kali ini dengan tinju terkepal, bukan jari.
BAM!
Pukulan itu mendarat tepat. Borong mendengus keras, tubuhnya terhuyung mundur dua langkah besar. Tapi dia tidak jatuh. Tangannya yang besar meraih ke depan, mencoba menangkap lengan Xu Hao yang belum ditarik sepenuhnya.
Xu Hao menarik lengannya dengan cepat, tapi ujung jari Borong masih menyentuh lengan bajunya. Dengan kekuatan yang mencengangkan, Borong merobek lengan baju itu, meninggalkan luka goresan dalam di lengan Xu Hao.
Mereka berpisah lagi, keduanya bernapas berat. Borong memegang dadanya lagi, ekspresi kesakitan yang nyata terlihat di wajahnya. Xu Hao menekan luka di lengannya yang berdarah deras.
Penonton terpana. Pertukaran itu terjadi sangat cepat, penuh tipuan dan kecerdikan.
"Penggunaan lingkungan... debu... itu bukan teknik mulia," komentar Xu Jian dengan sedikit jijik.
"Pertarungan hidup dan mati tidak mengenal mulia atau tidak mulia," sahut Xu Li tanpa emosi. "Dia menggunakan apa yang ada. Itu tanda petarung sejati. Tapi..." matanya menyipit, "caranya bergerak... ada sedikit pola langkah yang mengingatkanku pada sesuatu."
"Pada apa, Penatua?"
"Aku belum yakin. Terus pantau."
Di arena, Borong melihat darah di tangannya lagi, lalu menatap Xu Hao. "Kau... kau benar benar menarik. Tipuan, serangan ke titik lemah, penggunaan lingkungan." Dia menggeleng. "Tapi kau lupa satu hal."
"Apa itu?" tanya Xu Hao, masih menahan napasnya.
"Bahwa aku juga bisa belajar."
Dengan tiba tiba, Borong mengubah pola bertarungnya. Dia tidak lagi menyerang dengan pukulan pukulan besar yang bisa diantisipasi. Dia mulai menggunakan serangan serangan pendek, cepat, dengan siku dan lututnya, menciptakan jarak dekat yang berbahaya. Dia juga mulai melindungi titik lemah di dadanya dengan lebih sadar, dengan lengan kirinya yang selalu setengah terangkat.
Xu Hao terdesak. Dia lebih unggul dalam kecepatan dan kelincahan, tapi di jarak dekat, kekuatan dan massa Borong terlalu dominan. Setiap benturan membuat tubuhnya bergetar. Luka di lengannya mengganggu keseimbangannya. Retakan di tulang rusuknya mengirimkan sengatan sakit setiap kali dia memutar tubuh.
Dia terus mundur, menghindar, menangkis. Tapi dia tidak bisa menemukan celah lagi. Borong seperti benteng yang bergerak, tanpa celah.
"HEI FENG BERTAHAN!" teriak seseorang di tribun.
"BORONG AKAN MENGHANCURKANNYA!"
Minlie menggigit bibirnya hingga berdarah. "Jangan menyerah... temukan cara..."
Xu Hao berpikir dengan cepat. Ingatannya melayang pada rekaman rekaman yang dia tonton. Pola Borong. Kebiasaannya. Ada satu hal... di rekaman ke delapan, saat melawan seorang pesumo dari Pulau Besar, Borong pernah menggunakan teknik menjepit dengan kedua tangannya saat lawan mencoba melompati bahunya. Itu adalah satu satunya rekaman di mana Borong menggunakan kedua tangannya secara bersamaan untuk menangkap, bukan menyerang.
Itu sangat berisiko. Tapi dia kehabisan pilihan.
Dia mundur sampai ke dekat pagar arena yang retak. Borong mendekat, yakin dia sudah terpojok.
"Sudah habis akal?" tanya Borong, tangannya mengepal.
"Tidak," jawab Xu Hao. "Aku baru saja mulai."
Dia lalu melakukan sesuatu yang membuat semua penonton terkesima. Dia berlari langsung menuju Borong, bukan menghindar. Lari secepat mungkin.
Borong siap, mengangkat tangannya untuk menangkap atau menyerang.
Tapi tepat sebelum mencapai jangkauan Borong, Xu Hao melompat tinggi, lebih tinggi dari kepala Borong. Itu adalah lompatan vertikal murni dengan semua kekuatan Qi di kakinya.
Borong, mengikuti naluri dari rekaman itu, langsung mengangkat kedua tangannya ke atas, berusaha menjepit Xu Hao di udara seperti yang dia lakukan pada pesumo dulu.
Itu adalah kesalahan.
Karena Xu Hao tidak berencana melewatinya. Di puncak lompatannya, dia tiba tiba membalikkan tubuhnya, kepala di bawah, kaki di atas. Dan dengan menggunakan sedikit, sangat sedikit, sentuhan Dao Ruang yang dia sembunyikan rapat rapat (hanya untuk memodifikasi momentum, bukan untuk menyerang), dia mengubah arah jatuhnya bukan ke depan, tapi langsung ke bawah, tepat di depan Borong yang sedang mengangkat tangan.
Borong terkejut, tangannya masih terangkat. Dadanya, dengan titik lemahnya, terbuka lebar.
Xu Hao, menggunakan seluruh berat tubuhnya ditambah sisa Qi-nya yang terkonsentrasi di siku kanannya, dan menghunjamkan siku itu tepat, sekali lagi, ke titik lemah yang sama.
KRAAK!
Suara tulang retak yang jelas terdengar.
Borong mengeluarkan suara erangan yang dalam, bukan teriakan, tapi sebuah erangan kesakitan yang tertekan. Tubuhnya yang besar jungkir balik ke belakang, jatuh dengan berat ke tanah, menggetarkan seluruh arena.
Dia tidak bangun dengan segera.
Xu Hao mendarat dengan kasar di sampingnya, lalu berguling menjauh, berdiri dengan susah payah. Dadanya naik turun cepat. Lengan kanannya yang digunakan untuk menyerang terasa mati rasa. Tapi dia berdiri.
Sedangkan Borong, sang raksasa tak terkalahkan, terbaring di tanah, satu tangannya memegang dadanya yang sekarang jelas cekung sedikit. Napasnya tersengal sengal.
Sunyi.
Lalu, kerumunan itu meledak.
"HEI FENG! HEI FENG MENANG!"
"TIDAK MUNGKIN! BORONG KALAH!"
"LIHAT! BORONG TIDAK BANGUN!"
Gor, yang dari pinggir arena, wajahnya pucat lalu merah padam. Dia berlari masuk, tapi dihentikan oleh wasit arena. Dia harus memastikan Borong benar benar tidak bisa melanjutkan.
Wasit itu, seorang pria tua beraura Soul Transformation juga, mendekati Borong. "Borong! Bisakah kau melanjutkan? Hitungan sampai sepuluh!"
Satu... dua... tiga...
Borong mencoba mengangkat tubuhnya, tapi hanya bisa mendorong dirinya ke posisi duduk. Darah mengalir dari mulutnya. Dia memandang Xu Hao yang berdiri tegak, lalu pelan pelan menggelengkan kepalanya.
"Tidak..." gumannya, suaranya parau. "Aku... kalah."
"EMPAT... LIMA..." wasit terus menghitung.
"Sudah," kata Borong lebih keras. "Aku mengaku kalah."
Wasit berhenti. Dia lalu mengangkat tangan Xu Hao. "PEMENANGNYA... HEI FENG!"
Sorak sorai yang menggila memenuhi langit. Bunga bunga dan topi dilemparkan ke arena. Suara itu seperti gelombang yang tak terbendung.
Tapi Xu Hao tidak merayakan. Matanya langsung menuju tribun khusus. Di sana, dia melihat dua sosok berdiri, menatapnya. Salah satunya memegang sesuatu yang berkilau.
Xu Hao menarik napas dalam. Ini baru babak pertama.
Di tribun khusus, Xu Jian memandang Xu Li dengan bingung. "Penatua, dia menang. Dengan... trik."
Xu Li masih memegang cermin kecil itu. Wajahnya keruh. "Cermin... bereaksi. Sangat lemah, hampir tak terdeteksi, tapi bereaksi sesaat sebelum serangan terakhirnya. Ada gangguan ruang yang sangat kecil. Sangat halus."
"Apakah itu...?"
"Tidak pasti. Bisa jadi teknik tubuh tingkat tinggi yang menciptakan ilusi. Tapi..." Xu Li berdiri. "Kita harus menemuinya. Sekarang."
up up up