NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Luka yang Terbuka di Bawah Lampu Taman

Limusin hitam itu berhenti perlahan di tepi sebuah taman kota yang sunyi, tak jauh dari lokasi hotel tempat pesta tadi berlangsung. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Taman itu lengang, hanya diterangi oleh lampu-lampu taman remang-remang dan suara jangkrik yang bersahutan.

"Turun," perintah Wisnu singkat.

Alina tidak bertanya. Ia mengangguk, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar. Udara malam Surabaya menerpa kulitnya yang terbuka, tapi Alina tidak merasa dingin. Darahnya masih mendidih sisa pertemuan dengan Rendy dan Sisca tadi.

Wisnu memberi isyarat pada sopirnya untuk menunggu di mobil, lalu ia berjalan mendahului Alina menyusuri jalan setapak berbatu. Mereka berjalan dalam diam selama beberapa menit, hanya terdengar bunyi ketukan sepatu hak tinggi Alina dan langkah tegap Wisnu.

Mereka berhenti di sebuah area yang menghadap kolam buatan. Wisnu memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap pantulan bulan yang buram di permukaan air.

"Hening itu emas, Alina. Tapi dalam bisnis, ketidaktahuan adalah racun," suara Wisnu memecah kesunyian. Ia tidak menoleh, tapi Alina tahu kalimat itu ditujukan padanya.

"Rendy Angkasa dan Sisca Angela," lanjut Wisnu, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Saya melihat caramu menatap mereka di pesta tadi. Saya melihat ketakutan di mata mereka saat melihatmu. Itu bukan sekadar tatapan antara kenalan lama."

Wisnu akhirnya berbalik badan. Wajahnya separuh tertimpa bayangan pohon, membuatnya terlihat lebih misterius dan mengintimidasi.

"Saya tidak mempekerjakan orang yang menyimpan bom waktu. Jelaskan hubunganmu dengan mereka. Sekarang. Dan jangan coba-coba berbohong, karena kita hanya berdua di sini."

Alina berdiri tegak di hadapan bosnya. Angin malam memainkan ujung rambutnya yang bergelombang. Ia menatap mata elang Wisnu, mencari keraguan di sana, tapi yang ia temukan hanya tuntutan akan kebenaran.

Alina menarik napas dalam, mengisi paru-parunya dengan udara malam. Ia sadar, ini adalah momen penentuan.

"Bapak ingin kebenaran?" tanya Alina datar.

"Hanya kebenaran," jawab Wisnu.

Alina mengalihkan pandangannya ke arah kolam. Ia membiarkan topeng profesionalnya retak sedikit, membiarkan rasa sakit itu keluar lewat suaranya.

"Rendy Angkasa adalah pria yang saya cintai selama tiga tahun. Pria yang berjanji menikahi saya, tapi kemudian membuang saya demi menikahi Sisca Angela dan harta keluarganya."

Wisnu terdiam sejenak, alisnya terangkat sedikit. "Hanya itu? Kalau hanya masalah patah hati karena ditinggal nikah, saya rasa reaksimu dan ambisimu selama enam bulan ini terlalu berlebihan."

Alina tertawa kecil. Tawa yang kering, hampa, dan menyedihkan.

"Kalau hanya patah hati, saya tidak akan berdiri di sini menjadi asisten Bapak. Saya akan pulang kampung dan menangis di bantal," ucap Alina tajam.

Ia kembali menatap Wisnu. Kali ini, tangannya bergerak perlahan menyentuh perutnya yang rata di balik gaun merah mahalnya.

"Enam bulan lalu... beberapa minggu setelah Bapak hampir menabrak saya di jalan... saya tahu bahwa saya hamil. Anak Rendy."

Ekspresi Wisnu berubah. Rahangnya mengeras. Suasana taman yang tenang mendadak terasa mencekam.

"Saya berniat memberitahu Rendy," lanjut Alina, suaranya mulai bergetar bukan karena tangis, tapi karena amarah yang ditahan. "Saya menemui mereka di sebuah apotek. Terjadi pertengkaran. Sisca marah. Dia mendorong saya dengan keras."

Alina memberi jeda, membiarkan Wisnu mencerna setiap kata.

"Saya jatuh. Perut saya menghantam rak besi. Saya mengalami pendarahan hebat di lantai apotek itu, Pak. Di depan mata mereka berdua."

Alina melangkah maju satu langkah mendekati Wisnu, matanya berkilat oleh dendam.

"Tapi tahu apa yang mereka lakukan? Rendy hanya diam. Dia mematung seperti pengecut karena takut pada Sisca. Mereka meninggalkan saya yang sekarat di lantai yang penuh darah. Mereka membiarkan anak saya mati, Pak."

"Malam itu, di rumah sakit, saya kehilangan janin saya. Rahim saya dikuret. Dan saat saya terbangun sendirian di kamar rawat inap... saya bersumpah saya tidak akan mati sebelum melihat mereka hancur."

Hening.

Angin malam seolah berhenti berhembus. Kisah itu menggantung di udara, berat dan menyesakkan.

Wisnu Abraham menatap wanita di hadapannya dengan pandangan baru. Ia melihat sosok Alina bukan lagi sekadar asisten yang efisien. Ia melihat seorang ibu yang kehilangan anaknya. Ia melihat wanita yang dibentuk dari rasa sakit dan pengkhianatan paling brutal.

Wisnu tahu rasanya kehilangan. Ia pernah kehilangan istrinya karena penyakit, dan rasa sakit itu mengubahnya menjadi pria dingin seperti sekarang. Tapi Alina... Alina kehilangan anaknya karena kekejaman manusia.

"Jadi..." suara Wisnu terdengar lebih lunak, meski tetap datar. "Kamu masuk ke perusahaan saya, bekerja seperti orang gila di gudang, menahan debu dan lelah... semua itu demi apa? Demi mengumpulkan uang untuk balas dendam?"

"Uang hanyalah alat, Pak," jawab Alina dingin. "Tujuan saya satu: Saya ingin hidup mereka hancur. Saya ingin Sisca merasakan kehilangan yang saya rasakan. Saya ingin Rendy kehilangan harga dirinya. Saya ingin pernikahan mereka menjadi neraka di dunia."

Alina menatap Wisnu dengan berani.

"Bapak boleh memecat saya sekarang jika Bapak merasa saya berbahaya atau gila. Tapi selama saya bekerja di Abraham Group, saya menjamin dedikasi saya tidak akan berkurang satu persen pun. Saya akan membuat perusahaan Bapak semakin jaya. Sebagai gantinya... biarkan saya menggunakan posisi saya untuk menghukum mereka."

Alina telah meletakkan semua kartunya di meja. Telanjang. Jujur. Brutal.

Wisnu menatap lekat-lekat manik mata Alina. Ia melihat kegelapan yang sama dengan yang ia miliki. Gadis ini rusak, hancur, tapi justru karena itulah dia menjadi senjata yang sempurna. Dia tidak punya rasa takut lagi.

Perlahan, sudut bibir Wisnu terangkat. Sebuah senyum tipis, penuh apresiasi dan pemahaman gelap.

"Memecatmu?" Wisnu terkekeh pelan. "Kenapa saya harus membuang prajurit terbaik saya hanya karena dia punya misi pribadi?"

Wisnu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Ia menatap Alina bukan sebagai atasan, tapi sebagai sekutu.

"Dendam adalah bahan bakar yang jauh lebih efisien daripada loyalitas, Alina. Saya menghargai kejujuranmu."

"Jadi... Bapak tidak keberatan?" tanya Alina, sedikit tak percaya.

"Selama pekerjaanmu beres, selama perusahaan saya untung, saya tidak peduli apa yang kamu lakukan di luar jam kerja," ucap Wisnu tegas. "Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Hancurkan mereka jika itu bisa membuatmu tidur nyenyak."

Wisnu berbalik badan, bersiap berjalan kembali ke mobil. Namun ia berhenti sejenak dan menoleh lewat bahunya.

"Dan Alina... jika kamu butuh akses atau sumber daya lebih untuk 'proyek' pembalasanmu itu... jangan ragu untuk mengatakannya. Anggap saja itu bonus lembur dariku."

Mata Alina membelalak. Ia tidak menyangka Wisnu akan memberinya lampu hijau, bahkan menawarkan dukungan tersirat.

"Terima kasih, Pak," bisik Alina.

Wisnu mengangguk singkat, lalu berjalan menjauh, meninggalkan Alina yang berdiri sendirian di bawah lampu taman.

Alina menatap punggung tegap Wisnu, lalu beralih menatap langit malam. Ia merasa lega. Beban rahasia itu telah terangkat, dan kini ia memiliki sekutu paling kuat di kota ini.

"Kalian dengar itu, Rendy? Sisca?" gumam Alina pada angin malam, senyum miring terukir di bibir merahnya. "Bahkan iblis pun kini ada di pihakku."

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!