NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sonya berlari sekencang mungkin menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang penuh dengan bau khas obat-obatan. Napasnya terengah-engah, pikirannya kacau. Beberapa saat lalu, ponselnya berdering, suara Intan terdengar panik di ujung telepon.

"Sasa masuk rumah sakit lagi," kata Intan.

Pikiran Sonya langsung penuh dengan berbagai kemungkinan buruk. Sesampainya di ruang UGD, ia melihat Intan duduk di sudut ruangan dengan wajah yang begitu murung.

"Kak, bagaimana keadaan Sasa?" tanya Sonya, suaranya bergetar, menahan rasa cemas yang menyesakkan dada.

"Masih diperiksa dokter," jawab Intan singkat. Matanya sembab, menandakan ia sudah terlalu lama menangis.

Sonya menatap wajah kakaknya dengan penuh kekhawatiran. Ada sesuatu yang disembunyikan, sesuatu yang membuat hatinya semakin tidak tenang.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Kak?" tanyanya lagi, kini dengan nada yang lebih mendesak.

Namun Intan tetap diam, menundukkan kepala, seolah berat untuk berbicara.

"Kakak, jawab aku!" Sonya hampir berteriak, suaranya pecah oleh emosi yang ia tahan sejak tadi.

Akhirnya, dengan napas yang berat, Intan membuka mulut. "Sasa bertengkar dengan teman kelasnya."

"Apa?" Sonya tertegun. Yasya bukan tipe anak yang suka mencari masalah, apalagi berkelahi.

"Saat aku sampai di sana, anak-anak itu mengatai Sasa... kalau dia anak tanpa ayah. Sasa marah, lalu mendorong salah satu dari mereka, dan akhirnya dia jatuh pingsan."

Penjelasan itu menusuk hati Sonya seperti pisau tajam. Kata-kata Intan menggema dalam pikirannya, menghantam kesadarannya dengan kenyataan pahit. Anak tanpa ayah. Kalimat itu mengguncang seluruh keberadaannya.

Sebagai seorang ibu, Sonya merasa tersayat. Tidak pernah sedikit pun dalam hidupnya ia ingin membawa Sasa ke dunia tanpa seorang ayah di sisinya. Namun, dosa masa lalunya telah menjadi beban yang kini ditanggung oleh anaknya. Air mata yang selama bertahun-tahun jarang ia biarkan jatuh, kini mengalir deras, membasahi pipinya tanpa henti.

Intan yang melihat kesedihan itu segera menarik tubuh Sonya ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat, berusaha memberikan ketenangan, meskipun hatinya sendiri hancur.

"Dek, tenang... Sasa pasti kuat. Kita pasti bisa melewati ini," bisik Intan lembut.

Pelukan itu seolah menjadi jangkar bagi Sonya, memberinya ruang untuk menangis dan melepaskan rasa sakit yang ia simpan terlalu lama.

Tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka, dan seorang dokter keluar.

"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" desak Sonya dengan mata penuh harap, suaranya gemetar.

Dokter itu tersenyum tipis, berusaha menenangkan. "Keadaan anak Ibu cukup stabil. Hanya saja, saya harap tidak ada lagi rangsangan emosional yang berlebihan. Hal itu bisa memengaruhi imunnya."

Sonya dan Intan menarik napas lega mendengar kabar itu. Namun, sebelum mereka sempat merasa benar-benar tenang, dokter itu melanjutkan.

"Namun—"

Ucapan itu membuat kedua wanita itu kembali menahan napas. Hati mereka terasa mencelos, seolah kabar buruk tak bisa dihindari.

"Kenapa, Dok?" tanya Sonya dengan suara hampir berbisik, takut mendengar jawabannya.

Dokter itu terlihat ragu sejenak, tetapi akhirnya berbicara dengan hati-hati. "Anak Ibu harus segera dioperasi dan membutuhkan pendonor. Apakah Ibu sudah berbicara dengan ayahnya?"

Pernyataan itu membuat Sonya membeku. Beberapa bulan yang lalu, dokter sudah menjelaskan bahwa peluang terbesar bagi pendonor adalah dari pihak ayah. Saat itu, Sonya berjanji akan segera memberikan jawaban. Namun hingga kini, ia belum mampu menghadapi kenyataan itu.

Intan yang melihat kondisi Sonya segera mengambil alih. "Kami akan informasikan secepatnya, Dok. Apa kami sudah bisa menemui Sasa?" tanyanya dengan nada tenang meskipun hatinya sendiri dipenuhi kekhawatiran.

Dokter mengangguk. "Silakan. Tapi tolong, jangan sampai anak Ibu terlalu lelah secara emosional."

Sonya dan Intan mengangguk lalu bergegas masuk ruang rawat. Di sana, Sasa terbaring lemah di atas brankar, tubuh mungilnya terselubung selimut putih. Jarum infus kembali menancap di tangan kecilnya, membuat dada Sonya terasa sesak. Hati seorang ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya harus melalui semua ini?

Sonya duduk di samping ranjang, membelai lembut anak rambut Sasa yang jatuh di wajahnya. Sentuhan itu penuh kasih, namun juga mengandung kepedihan yang tak terucap.

"Dek," suara Intan memecah keheningan. Ia mencoba terlihat tenang, meski matanya tak lepas dari wajah pucat Sasa. "Aku baru saja ingat tentang perusahaan Yandex Corp. CEO-nya Yudha, kan?"

Sonya hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari Sasa.

Reaksi datar itu membuat Intan bingung. "Ini kesempatan, Dek," katanya dengan nada penuh harap. "Kalau kamu bicara padanya, mungkin Sasa bisa mendapatkan pendonor. Kamu harus coba."

Sonya menutup matanya sesaat, mencoba menahan air mata yang nyaris tumpah. Suaranya terdengar lirih saat ia menjawab, "Aku bahkan tidak bisa memberitahu dia bahwa ada seorang anak perempuan yang membutuhkan kasih sayang darinya. Apalagi untuk mengatakan kalau anak itu membutuhkan salah satu organnya..."

Intan mengernyit, tidak mengerti maksud adiknya. Baginya, Yudha adalah bagian dari masalah ini. Bukankah sudah saatnya lelaki itu menebus dosa-dosanya?

"Kakak tidak mengerti?" tanya Sonya, kali ini matanya menatap Intan penuh keputusasaan. "Dia sudah berkeluarga, Kak. Punya anak. Hidup kita sekarang seperti langit dan bumi. Meskipun aku mengemis padanya, apa dia akan menerimaku... dan anak ini?"

Senyum miris terukir di wajah Sonya. "Api yang kunyalakan lima tahun lalu masih membakar sampai sekarang."

Intan terdiam sesaat, hatinya remuk mendengar perasaan Sonya yang begitu hancur. Namun, ia tak ingin menyerah. "Dek, kamu sudah memberikan segalanya untuk dia dulu. Kalau dia punya hati, dia pasti akan membantumu. Ini bukan cuma tentang kamu, tapi juga tentang Sasa. Anak itu tidak pantas menanggung semua ini."

Sonya menggeleng pelan. "Maaf, Kak. Aku... aku belum punya cukup keberanian."

Jawaban itu membuat Intan frustrasi. Ia ingin sekali membantu adiknya, namun kenyataan di depan mereka terlalu sulit. Seolah tembok besar menghalangi setiap langkah mereka.

Di tengah keheningan, ponsel Sonya berbunyi, memecah suasana yang mencekam. Dengan cepat, ia meraihnya dan membaca pesan yang masuk. Matanya membelalak, napasnya tertahan.

"Kak... katering kita lolos evaluasi proposal dari perusahaan Yandex," ucap Sonya, setengah tidak percaya.

Intan menatap Sonya dengan penuh harap. "Serius?"

Sonya menyerahkan ponselnya agar Intan bisa membaca sendiri. Kegembiraan terpancar sesaat, namun wajah Sonya kembali murung.

"Kenapa lagi, Dek?" tanya Intan cemas.

"Kalau kita menang, interaksi dengan Yudha akan semakin sering. Aku..." Suaranya tercekat. "Bagaimana kalau semua ini malah membuat keadaan jadi semakin sulit?"

Intan menarik napas panjang, berusaha tetap tenang. "Itu artinya kamu punya kesempatan, Dek. Barangkali Tuhan sedang membukakan jalan untukmu. Fokus dulu pada masalah utama kita. Siapa tahu ini justru bisa mendayung dua, tiga, atau bahkan empat pulau sekaligus."

Sonya terdiam, memikirkan kata-kata kakaknya. Meski hatinya penuh kebimbangan, ia hanya bisa mengangguk pelan. Perlahan, ia kembali memeluk tubuh kecil Sasa yang terbaring lemah di hadapannya.

Dalam pelukan itu, ia berbisik di hatinya. “Sasa, maafin Bunda. Bunda akan melakukan apa pun demi kamu.”

Tiba-tiba, kelopak mata Sasa perlahan terbuka. Matanya yang besar dan jernih menatap Sonya dengan lemah. "Bunda," panggilnya lembut, lalu ia melirik ke arah Intan, "Mama."

Suara kecil itu bagai angin segar yang menyapu luka di hati mereka. Sonya dan Intan tersenyum penuh haru, mata mereka berkaca-kaca. Tanpa berpikir panjang, keduanya membungkuk, memeluk tubuh kecil itu dengan hati yang dipenuhi rasa syukur.

"Sasa gak sakit, Bunda. Mama juga jangan khawatir," kata Sasa dengan suara lirih, tapi tegas untuk anak seusianya. Ia menatap mereka bergantian, bibir mungilnya tersenyum tulus. "Sasa anak baik, kan? Pasti malaikat sayang sama Sasa dan gak akan misahin kita, ya Bun, Ma?"

Kata-kata polos itu seperti belati yang menoreh hati Sonya dan Intan. Mereka ingin menyangkal, ingin meyakinkan gadis kecil itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi kebenaran terlalu kejam untuk diungkapkan. Sebagai gantinya, mereka memaksakan senyum terbaik mereka, senyum yang mencoba menyembunyikan semua rasa sakit.

"Bunda beli minum dulu, ya. Sasa mau makan apa, Nak?" tanya Sonya, berusaha mengalihkan perhatian.

Sasa merenung sebentar, lalu menjawab pelan, "Sasa mau bubur."

Namun, mata kecilnya melirik ke arah lain. Di sudut ruangan, ada sepasang orang tua yang sedang merawat anak mereka. Sebuah keluarga utuh. Tatapan Sasa yang penuh harapan itu menghujam hati Sonya. Ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan gadis kecilnya.

Sasa, dengan kecerdasan di atas rata-rata, tak mungkin terpedaya oleh kebohongan kecil yang selama ini mereka rangkai. Dia tahu ada yang hilang dalam hidupnya.

Sonya menelan ludah, berusaha menahan gejolak di dadanya. Tak sanggup menghadapi tatapan Sasa lebih lama, ia segera bangkit dan berkata, "Bunda beli bubur sama minuman dulu, ya."

Tanpa menunggu jawaban, Sonya melangkah keluar dengan langkah tergesa. Di lorong rumah sakit, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang terus menghantui.

"Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memberitahu Sasa tentang ayahnya? Tapi... bagaimana jika itu justru menyakitinya lebih dalam?"

Rasa takut dan ragu berputar di benaknya, membuat dadanya terasa semakin berat. Langkahnya melambat, pandangannya kosong, hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang.

Tubuh kecil Sonya bertubrukan dengan dada bidang seorang pria. Sentuhan itu mengejutkannya, membuatnya mundur selangkah. Ia mengangkat wajah, siap meminta maaf, namun saat matanya bertemu dengan mata pria itu, napasnya tertahan.

"Yudha," bisiknya tanpa sadar, seolah nama itu lepas dari bibirnya tanpa izin.

Sonya terpaku, hatinya berdegup kencang dalam kekacauan yang tak bisa ia kendalikan. Namun, detik itu terganggu oleh keributan di koridor. Sebuah brankar rumah sakit, didorong cepat oleh beberapa petugas medis, melaju dengan pasien di atasnya yang tampak dalam kondisi kritis. Brankar itu hampir saja menabrak tubuh Sonya yang masih termangu.

Yudha, yang menyadari bahaya itu lebih dulu, dengan sigap menarik tubuh Sonya ke arahnya. Dalam sekejap, ia memeluk Sonya erat, melindunginya dari tabrakan.

Sonya membeku dalam dekapan Yudha. Jantungnya berdegup semakin kencang saat merasakan dada pria itu naik turun di dekatnya. Kehangatan tubuhnya, yang dulu pernah begitu akrab, kini terasa asing namun tetap menenangkan.

"Kenapa justru bereaksi?" gumam Yudha, suaranya rendah namun sarat makna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!