NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Elena mengerang pelan saat kelopak matanya terasa berat. Ia membuka mata perlahan, cahaya redup lampu kristal yang menggantung di langit-langit membuat pandangannya sempat buram.

Ia segera terduduk, jantungnya berdegup kencang. Tatapannya liar, menyapu sekeliling ruangan yang asing baginya, sebuah kamar luas dengan dinding marmer putih, perabotan mahal, dan jendela besar yang tertutup tirai tebal. Aroma harum lembut memenuhi ruangan, sangat berbeda dengan apartemen sederhananya.

“Ini… bukan apartemenku…” bisiknya. Ia menoleh ke sisi ranjang, dan tubuhnya langsung kaku.

Leon sedang tidur nyenyak di sampingnya, boneka beruang kecil masih erat dalam pelukannya.

Elena meraih bahu anaknya, mengguncangnya panik. “Leon… Leon! Bangun, Sayang! Kita… kita harus pergi dari sini!”

Leon terbangun pelan, mengucek matanya. “Ma?” suaranya masih serak kantuk. “Kita… sudah sampai, ya?”

Elena menatapnya heran. “Apa maksudmu? Kita harus pulang! Ini bukan rumah kita!”

Sebelum Leon sempat menjawab, suara berat dan dalam terdengar dari arah pintu.

“Kau benar, Elena. Ini bukan rumahmu. Ini rumahku.”

Elena menoleh cepat. Alexander berdiri di ambang pintu dengan jas hitam masih melekat di tubuhnya. Wajahnya dingin, namun tatapannya tajam menusuk.

“Alexander…!” Elena langsung bangkit, berdiri di depan Leon seolah hendak melindungi anaknya. “Apa yang kau lakukan?! Bagaimana kau bisa—”

Alexander melangkah masuk dengan tenang, pintu menutup di belakangnya. “Aku sudah memperingatkanmu, Elena. Kau tidak bisa terus lari dariku.”

“Kau gila!” Elena menggertakkan gigi, tubuhnya bergetar karena marah sekaligus takut. “Beraninya kau membawa anakku ke sini!”

Alexander berhenti hanya beberapa langkah darinya, tatapannya beralih pada Leon yang masih duduk di ranjang dengan mata mengantuk. Nada suaranya melembut sedikit.

“Anak kita, Elena. Jangan lagi kau sebut dia hanya milikmu.”

Elena terdiam, tubuhnya menegang seketika. “Kau… apa yang kau katakan?”

Alexander mengangkat secarik kertas dari sakunya dan meletakkannya di meja kecil samping ranjang. “Hasil tes DNA. Leon adalah darah dagingku. Putraku. Bukti sudah jelas, Elena. Kau tidak bisa menyangkal lagi.”

Wajah Elena memucat, lututnya hampir lemas. Tangannya mencengkeram erat selimut di ranjang, seakan benda itu mampu menopangnya. “Tidak… ini tidak mungkin…”

Alexander mendekat, sorot matanya tak terbantahkan. “Kenapa kau terkejut? Apa karena kebohonganmu akhirnya terbongkar? Atau karena kau takut aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal?”

Elena mundur selangkah, suaranya bergetar hebat. “Kau tidak berhak!”

Alexander menyipitkan mata, rahangnya mengeras. “Tentu saja aku berhak. Aku ayahnya. Aku justru ingin memberinya masa depan yang seharusnya ia dapatkan. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau berikan sendirian.”

“Jangan meremehkan aku!” Elena berteriak, air matanya pecah. “Aku sudah membesarkannya tanpa bantuan siapa pun! Dengan segala keterbatasanku, Leon tetap bahagia! Kau tidak tahu apa pun tentang pengorbananku!”

Keheningan mencekam sejenak. Leon yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya membuka suara dengan nada polos namun tegas.

“Papa… Mama benar. Mama yang selalu ada buat aku. Aku tidak akan ikut Papa kalau Mama tidak ada.”

Elena menoleh cepat, menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. “Leon…”

Alexander terdiam, menatap anak kecil itu lama. Wajahnya menegang, namun dalam sorot matanya ada sesuatu yang berbeda, seolah hatinya goyah mendengar kata-kata itu.

“Elena…” ucapnya pelan, menatap wanita itu kembali. “Aku akan menepati janjiku pada Leon. Kau akan tetap bersamanya. Tapi jangan pernah berpikir kau bisa kabur lagi. Mulai sekarang, kalian berdua… tinggal di sini. Di bawah pengawasanku.”

Elena menatapnya tak percaya, tubuhnya bergetar hebat. “Kau… kau akan mengurung kami.”

Alexander tidak menanggapi tuduhan itu. Ia hanya berdiri tegak, matanya menyala penuh tekad. “Sebut saja begitu jika kau mau. Tapi aku tidak akan lagi membiarkan kalian jauh dariku.”

Elena merasakan dadanya sesak, seolah seluruh duniannya direbut dalam sekejap. Ia menunduk, memeluk Leon erat-erat sambil terisak.

Dalam hati, ia hanya bisa berbisik,

"Aku harus menemukan cara keluar dari sini…"

Alexander melangkah mendekat, sorot matanya kali ini bukan lagi hanya pada Elena, melainkan pada Leon yang masih duduk di ranjang. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

“Leon,” panggilnya pelan. “Papa ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

Leon menoleh, matanya beradu dengan tatapan pria itu. “Sesuatu?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.

Alexander mengangguk. “Ya. Kamarmu. Aku sudah menyiapkannya. Aku tidak ingin putraku tinggal tanpa kenyamanan. Ikutlah denganku.”

Elena segera berdiri, tubuhnya menegang. “Tidak. Leon tidak akan pergi ke mana pun tanpaku.”

Alexander menatapnya singkat, sorot matanya dingin, namun ia tidak membantah. “Baik. Kau boleh ikut. Tapi lihatlah, Elena… aku tidak akan membiarkan anakku hidup kekurangan lagi.”

Leon menggenggam tangan mamanya erat, namun kakinya melangkah kecil mendekati Alexander. “Aku punya kamar sendiri di sini?” tanyanya dengan suara pelan, seakan setengah tidak percaya.

Alexander mengangguk, lalu berjongkok di hadapan Leon sehingga tinggi mereka sejajar. “Ya. Sebuah kamar hanya untukmu. Dengan semua yang kau butuhkan. Mainan, buku, bahkan laboratorium kecil jika kau ingin belajar. Aku tidak ingin kau merasa berbeda dari anak-anak lain… bahkan lebih dari itu, aku ingin kau punya segalanya.”

Mata Leon sedikit berbinar, namun ia segera menoleh ke arah Elena yang masih cemas. “Mama boleh ikut juga?”

Elena meremas tangan kecil itu erat-erat. “Tentu saja. Kau bisa mengajaknya selalu bersamamu.”

Alexander bangkit kembali, lalu melambaikan tangan pada pelayan yang tiba-tiba muncul begitu pintu terbuka. “Bawa kami ke kamar putraku.”

Mereka berjalan menyusuri koridor panjang dengan dinding dihiasi lukisan mahal. Lampu kristal menggantung berderet, memantulkan cahaya hangat. Elena menggenggam Leon erat, seakan takut anak itu akan direnggut dari sisinya kapan saja.

Ketika sampai di sebuah pintu ganda besar, Alexander sendiri yang membukanya. “Masuklah.”

Leon melangkah pelan ke dalam, matanya langsung melebar. Kamar itu luas, jauh lebih besar dari ruang tamu apartemennya. Dindingnya dihiasi mural bintang dan planet, sebuah ranjang besar dengan sprei biru terletak di tengah ruangan. Lemari penuh mainan modern, rak buku berisi aneka bacaan anak, bahkan ada komputer canggih di meja belajar.

“Wow…” Leon berlari kecil ke tengah ruangan, matanya berbinar. “Ini… semua untukku?”

Alexander tersenyum, sorot matanya lembut menatap anaknya. “Ya. Untukmu. Karena kau putraku. Kau berhak mendapatkan semua ini.”

Leon memeluk boneka beruangnya sambil menatap sekeliling penuh kagum. Namun Elena berdiri kaku di ambang pintu, hatinya teriris. Ia tahu Alexander tidak hanya berusaha membuat Leon bahagia, ia sedang berusaha merebut tempatnya di hati anak itu.

Elena menatap Alexander tajam, suaranya rendah tapi penuh peringatan. “Uang dan kemewahan tidak akan pernah menggantikan kehangatan keluarga.”

Alexander menoleh padanya, senyum tipisnya menghilang, berganti sorot tajam penuh ketegasan. “Aku tidak berniat menggantikanmu, Elena. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu menahannya dariku. Leon adalah bagian dari diriku, dan mulai sekarang… aku akan memastikan ia tidak kekurangan apa pun. Tidak materi, tidak perlindungan.”

Elena mengepalkan tangannya erat, hatinya bergetar hebat. Bagaimana jika suatu saat dirinya di pisahkan dari putranya? Membayangkannya saja membuat Elena ketakutan.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!