Di tengah kemiskinan setelah menjual segalanya demi membantu ibu mendiang sahabatnya, takdir membawanya pada sebuah keajaiban.
Sebuah gulungan lukisan leluhur yang tak sengaja terkena tetesan darahnya membuka gerbang menuju dimensi lain—sebuah "Ruang Peta Spiritual".
Di sana, waktu berjalan sepuluh kali lebih cepat. Mata airnya mampu menyembuhkan penyakit mematikan, dan tanahnya dapat mengubah tanaman layu menjadi harta karun bernilai miliaran!
Dari seorang gelandangan di kawasan kumuh menjadi taipan pertanian yang disegani. Xia Ruofei memulai hidup barunya: menanam sayuran kualitas dewa, memulihkan tubuhnya, dan menghajar mereka yang berani meremehkannya.
Inilah kisah sang Raja Tentara yang beralih profesi menjadi Petani Legendaris!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukma Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Transformasi Total
Ternyata setelah benar-benar tenang, Xia Ruofei baru menyadari sesuatu. Karena kelopak bunga tiga warna yang ajaib itu bisa menyembuhkan penyakit ALS-nya, maka sangat mungkin benda itu juga efektif untuk mengobati penyakit uremia yang diderita ibu Hu Zi, kawan seperjuangannya.
Bahkan saat sedang sekarat sebelumnya, Xia Ruofei masih memikirkan cara mencari uang menggunakan Ruang Peta Spiritual. Niat awalnya adalah untuk meninggalkan uang sebanyak mungkin bagi ibu Hu Zi—setidaknya cukup untuk biaya cangkok ginjal.
Padahal, jika kelopak bunga tiga warna itu bisa menyembuhkan uremia secara langsung, kenapa ia harus repot-repot mencari uang?
Sayangnya, saat Xia Ruofei menyadari hal ini, ketiga kelopak bunga itu sudah ia telan habis. Sekarang, meski ia sangat menginginkannya, benda itu sudah tidak ada lagi.
Terlebih lagi, Xia Ruofei samar-samar merasa bahwa satu kelopak saja sebenarnya sudah cukup untuk menyembuhkan penyakit ALS-nya. Karena setelah menyerap ketiga kelopak tersebut, bukan hanya penyakitnya yang hilang, tapi tubuhnya juga telah bertransformasi total. Meski ia belum mencoba seberapa hebat kekuatannya sekarang, Xia Ruofei yakin kemampuannya sudah meningkat berkali-kali lipat dibanding sebelumnya.
Dengan kata lain, ia sebenarnya bisa menyisihkan dua kelopak untuk ibu Hu Zi.
Mengingat hal ini, Xia Ruofei merasa sangat nyesek dan menyesal.
Namun dalam kondisi tadi, ia memang tidak sempat berpikir panjang. Ia hampir sepenuhnya terhanyut oleh rasa nyaman yang merasuki jiwanya. Dua kali terakhir saat ia menyerap kelopak secara proaktif, itu semua murni gerakan bawah sadar.
Sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal pun tidak ada gunanya.
Xia Ruofei berpikir sejenak. Kelopak bunga tiga warna itu tumbuh pada tanaman tanpa nama. Karena itu adalah bunga, mungkinkah mereka akan mekar kembali setelah rontok?
Memikirkan kemungkinan ini, ia tidak bisa duduk diam lagi. Ia segera mengambil Peta Spiritual dan masuk ke dalam dimensi lukisan.
Xia Ruofei bergegas menuju tanaman tanpa nama di tepi kolam, tapi ia harus menelan kekecewaan. Di sana masih hanya terlihat tangkai bunga yang gundul, tidak ada kelopak baru yang tumbuh.
Ia menghela napas panjang. Menyesal sekarang percuma. Ia hanya bisa berharap kelopak-kelopak itu akan tumbuh kembali setelah beberapa waktu.
Meski begitu, Xia Ruofei sama sekali tidak yakin. Bagaimanapun, tanaman tanpa nama ini adalah penghuni asli Ruang Peta Spiritual, dan ia tidak tahu apa-apa tentang sifat tanaman ini.
Setelah berkeliling melihat sukulen dan kebun sayurnya sebentar, ia melirik tanaman tanpa nama itu dengan perasaan dongkol sebelum akhirnya keluar dari dimensi.
***
Siang harinya, Xia Ruofei pergi ke Rumah Sakit Umum Kota sendirian untuk melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Meski ia hampir yakin ALS-nya sudah sembuh, ia tetap melakukan pemeriksaan demi keamanan. Ia akan merasa lebih tenang dengan hasil medis resmi.
Ada banyak tes yang dilakukan dan biasanya butuh beberapa hari kerja agar laporannya siap. Untuk itu, Xia Ruofei tidak ragu mengeluarkan uang beberapa ratus yuan untuk biaya percepatan. Meskipun begitu, ia tetap butuh waktu setengah hari untuk mendapatkan laporan lengkapnya.
Hasil tesnya persis seperti dugaannya. Ia berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna.
Bukan hanya tidak ada penyakit, tapi banyak indikator kesehatannya yang jauh lebih baik daripada orang normal. Dokter yang membaca laporan itu berkata bahwa sekali lihat saja, ia tahu Xia Ruofei pasti rutin berolahraga dan menjaga pola hidup sehat dalam waktu lama. Jika tidak, indikator fisiknya tidak mungkin sebagus itu.
Dugaannya terbukti benar, tapi Xia Ruofei malah merasa makin menyesal. Jika saja tadi pagi ia tidak impulsif menyerap ketiga kelopak bunga itu, ia pasti bisa menggunakannya untuk mengobati ibu Hu Zi...
Namun, Xia Ruofei bukan tipe orang yang suka meratapi masa lalu. Ia segera menata suasana hatinya dan naik taksi kembali ke kamar kostnya di kawasan kumuh.
Sesampainya di rumah, Xia Ruofei mengunci pintu dengan hati-hati dan masuk ke dalam Ruang Peta Spiritual.
Ia pertama-tama pergi ke kolam untuk mengecek tanaman tanpa nama itu. Namun, hasilnya masih mengecewakan. Belum ada tanda-tanda kelopak baru yang tumbuh.
Lalu ia mengecek tanaman sukulennya. Kabar baiknya, semua sukulen itu tampak penuh vitalitas. Jika tidak ada aral melintang, semuanya pasti akan hidup. Sekarang, ia tinggal menunggu beberapa hari lagi sebelum bisa memotret dan mengunggahnya untuk dijual di toko daring.
Setelah berpatroli sejenak, Xia Ruofei pergi ke area yang kosong.
Ia memasang posisi kuda-kuda secara santai, dan seketika aura di seluruh tubuhnya berubah drastis.
Jika ada ahli bela diri di sini, mereka pasti akan langsung tahu bahwa ini adalah kuda-kuda Taiji aliran Yang.
Jurus ini diajarkan oleh ketua regunya saat ia baru pertama kali masuk tentara. Ketua Regu Yang ini berasal dari Yongnian, Hebei, dan kabarnya merupakan keturunan langsung dari aliran Taiji Yang.
Saat itu, Xia Ruofei adalah orang tercepat yang berhasil menguasainya dan sangat disukai oleh Ketua Regu Yang.
Meski setelahnya ia terpilih masuk ke dalam Brigade Komando Lone Wolf yang elit dan meninggalkan regu lamanya, kemampuan bela dirinya tidak pernah luntur. Saat senggang, Xia Ruofei sering berlatih Taiji.
Kali ini, setelah menyerap kelopak bunga tiga warna, ia merasa tubuhnya telah diperkuat secara luar biasa. Karena itu, ia ingin menguji sejauh mana peningkatan kekuatannya.
Gerakannya mengalir seperti air tanpa hambatan sedikit pun.
Xia Ruofei merasa makin gembira.
Dulu saat berlatih, meski ia sangat hafal setiap gerakan, ia tidak pernah merasakan sensasi "menyatu" seperti ini. Ketua Regu Yang dulu pernah berkomentar bahwa Taiji Xia Ruofei "mahir dalam bentuk, tapi kurang dalam jiwa."
Sekarang, semua keraguan itu hilang. Setelah menyelesaikan satu set lengkap Taiji, ia merasa sangat segar. Bahkan ada hawa panas yang samar mengalir di perut bawahnya.
Xia Ruofei mempraktikkan Taiji berulang-ulang, dan gerakannya menjadi semakin halus. Ia bahkan tidak lagi terpaku pada gerakan standar Taiji Yang, namun ada kesan alami dan lancar yang sangat kuat.
Ada perasaan "menang tanpa jurus" yang mulai ia rasakan.
Setelah berlatih lima kali berturut-turut, Xia Ruofei akhirnya berhenti. Jelas sekali, manfaat dari tiga kelopak bunga itu jauh lebih besar daripada sekadar kecepatan reaksi dan kekuatan fisik. Peningkatan ini benar-benar mencakup segala aspek.
Xia Ruofei tidak tahan untuk menatap tanaman tanpa nama itu lagi, matanya berkilat penuh harap.
"Kuharap Bunga Tiga Warna itu bisa tumbuh kembali..." gumamnya lirih.
***
Satu dua hari berikutnya, Xia Ruofei masuk ke dalam dimensi beberapa kali sehari. Selain merawat tanaman sukulen, tujuan utamanya tentu saja untuk mengecek si tanaman misterius.
Tapi ia selalu berakhir kecewa.
Tangkai bunganya masih gundul, tidak ada tanda-tanda akan mekar kembali.
Di sisi lain, sukulen-sukulennya sudah tumbuh subur dan terus membesar. Sepertinya sebentar lagi sudah bisa difoto dan dipajang di toko daring.
Pada hari ketiga, Xia Ruofei masuk kembali ke dalam dimensi—setiap hari ia memang harus masuk untuk merawat kebun sayur dan menyirami sukulen.
Begitu masuk, secara refleks ia langsung melirik tanaman tanpa nama itu. Meski sudah kecewa berkali-kali selama tiga hari terakhir, ia tetap menyimpan harapan besar.
Kali ini, matanya tertuju tajam pada tanaman itu. Dan seketika, wajahnya langsung cerah karena kegembiraan yang luar biasa!