"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Cincin di Dalam Tas
Cincin di dalam tas itu berkilau tertimpa cahaya lampu ruang tamu saat Arga Dirgantara mengangkatnya dengan dua jari yang gemetar karena amarah. Logam mulia tersebut memiliki ukiran inisial nama yang sangat asing serta tidak ada kaitannya sama sekali dengan identitas baru yang telah dia susun. Napas sang perwira menjadi sangat berat laksana deru mesin tempur yang sedang mengalami gangguan teknis di tengah medan peperangan.
"Maya, segera kembali ke sini dan jelaskan apa maksud dari benda ini berada di dalam tas sekolahmu!" teriak Arga Dirgantara dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru rumah.
Maya Anindya yang baru saja hendak menutup pintu kamar langsung terlonjak kaget hingga seluruh persendiannya terasa lemas laksana jeli. Dia membalikkan badan dengan wajah yang sangat pucat pasi saat melihat suaminya sedang memegang benda yang seharusnya dia sembunyikan dengan sangat rapat. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga dia merasa pening yang luar biasa hebat mulai menyerang tempurung kepalanya secara bertubi-tubi.
"Itu bukan milik saya dan saya sama sekali tidak tahu bagaimana benda itu bisa masuk ke sana," jawab Maya Anindya dengan suara yang terbata-bata karena ketakutan.
Arga Dirgantara melangkah mendekat dengan tatapan mata yang sangat mengintimidasi hingga membuat Maya terpojok pada dinding kayu yang dingin. Dia melemparkan cincin tersebut ke atas meja dengan gerakan yang sangat kasar sebagai bentuk protes atas ketidakjujuran yang dia tangkap dari raut wajah istrinya. Keheningan yang sangat menyiksa kembali melanda mereka berdua di tengah malam yang sangat sunyi serta mencekam di markas komando tersebut.
"Jangan pernah mencoba untuk membohongi seorang prajurit intelijen yang sudah terbiasa membedakan kebenaran dari tumpukan sampah kebohongan," ancam Arga Dirgantara sambil menatap lurus ke dalam bola mata Maya.
Gadis remaja itu akhirnya luruh ke lantai sambil menangkupkan wajahnya pada kedua telapak tangannya yang terasa sangat dingin laksana es. Dia teringat pada seorang teman lelaki di sekolah yang secara diam-diam memasukkan sesuatu ke dalam tasnya saat jam istirahat berlangsung tadi siang. Rasa takut akan kemarahan Arga membuatnya tidak berani berkata jujur sejak awal perjalanan pulang dari sekolah menengah atas tersebut.
"Seorang teman laki-laki memberikannya kepada saya sebagai tanda perpisahan karena dia mengira saya akan pindah sekolah selamanya," isak Maya Anindya dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya.
Rahang Arga Dirgantara semakin mengeras hingga otot-otot di lehernya terlihat menonjol dengan sangat jelas akibat menahan emosi yang meluap-luap. Dia merasa otoritasnya sebagai seorang suami sekaligus pelindung telah dilecehkan oleh kehadiran barang pemberian dari lelaki lain yang tidak jelas asal-usulnya. Kecemburuan yang sangat purba mulai merasuki pikiran sang perwira meskipun dia selalu menyangkal adanya perasaan cinta di balik kontrak pernikahan mereka.
"Besok saya sendiri yang akan membuang sampah ini ke dalam tungku pembakaran markas agar tidak ada lagi kenangan konyol yang tersisa!" tegas Arga Dirgantara sambil membalikkan badannya dengan sangat kaku.
Maya hanya bisa menatap punggung suaminya yang menjauh dengan perasaan yang sangat hancur serta penuh dengan rasa bersalah yang mendalam. Dia menyadari bahwa mulai saat ini kebebasannya akan semakin dipersempit oleh aturan-aturan militer yang sangat ketat serta tidak mengenal kompromi sedikit-pun. Pagi yang akan datang terasa sangat menakutkan karena dia tahu bahwa dia akan terbangun dengan aroma bekal buatan sang letnan.