seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAGAL KABUR
Langkah mereka terhenti di lorong sempit yang lembap. Baru saja Aris hendak membuka panel akses menuju sayap barat, lampu merah di langit-langit berputar dengan cepat, membelah kegelapan dengan cahaya yang menyakitkan mata. Suara sirine yang memekakkan telinga meledak, memantul di dinding-dinding beton, membuat Kayla refleks menutup telinganya sambil berjongkok ketakutan.
"Sial! Dia melakukan lockdown lebih cepat dari perkiraanku!" Aris berteriak di tengah kebisingan, mencoba menarik tangan Kayla untuk berlari ke arah berlawanan.
Namun, belum sempat mereka melangkah, pintu baja di depan dan belakang mereka berdentum menutup dengan keras. Mereka terjebak di tengah lorong tanpa jalan keluar. Tiba-tiba, gas berwarna abu-abu mulai menyembur dari celah ventilasi di atas mereka.
"Aris... gas apa ini?" Kayla mulai terbatuk, dadanya terasa sesak seolah oksigen di sekitarnya menghilang.
"Jangan hirup, Kayla! Tutup mulut—" Aris belum sempat menyelesaikan kalimatnya sebelum tubuhnya limbung dan jatuh berdebam ke lantai. Mereka pingsan .
Kayla menyadari bahwa ia telah dikembalikan ke ruangan pertama—ruangan beton tanpa jendela yang hanya disinari lampu temaram. Tidak ada layar monitor di sini, hanya ada foto dirinya dalam ukuran raksasa yang masih terpampang di dinding, seolah-olah sedang menertawakan kegagalannya.
Namun, ada yang berbeda. Kali ini, ia tidak dibiarkan bebas. Pergelangan kaki kanannya terikat rantai besi pendek yang dipaku mati ke lantai beton, tepat di samping ranjang. Kayla mencoba menarik kakinya, namun denting logam yang berat itu menegaskan bahwa ia benar-benar terkunci.
"Tolong! Aris! Di mana kamu?!" teriak Kayla. Suaranya serak, tenggorokannya masih terasa perih akibat pasir dan gas bius.
Keheningan ruangan itu pecah oleh suara klik mekanis yang familiar. Laci otomatis di bawah fotonya terbuka. Kayla merangkak sejauh yang diizinkan oleh rantai kakinya untuk melihat isinya.
Bukan gaun malam atau makanan. Di dalam laci itu terdapat sebuah alat perekam suara (tape recorder) tua dan sebuah kotak kaca kecil yang berisi sebuah benda yang membuat jantung Kayla seolah berhenti: Potongan kain kemeja putih yang bersimbah darah. Kayla mengenali kain itu—itu adalah bagian dari kemeja yang dikenakan Aris saat menolongnya.
Dengan tangan gemetar, Kayla menekan tombol play pada perekam suara tersebut.
Awalnya hanya suara statis, lalu terdengar suara pukulan benda tumpul yang menghantam daging, diikuti rintihan kesakitan yang sangat berat. Kayla menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir deras. Itu suara Aris.
Lalu, suara statis itu berganti dengan suara berat dan serak dari pria bertopeng yang berbicara melalui mikrofon:
"Setiap upaya pelarian memiliki harga, Kayla. Teman barumu telah membayar uang mukanya. Sekarang, giliranmu memilih sisa pembayarannya."
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu mulai berkedip-kedip merah. Dari balik dinding beton, terdengar suara gerinda logam yang sedang memotong sesuatu—suara yang sangat mirip dengan suara pria itu saat memotong ventilasi kemarin. Bedanya, kali ini suara itu berasal dari bawah lantai tempat Kayla duduk.
Kayla panik. Ia mencoba mencari cara untuk melepaskan belenggu di kakinya, namun sia-sia. Laci otomatis itu kembali bergerak, kali ini memperlihatkan sebuah kunci perak di dalamnya. Namun, kunci itu diletakkan di dalam sebuah wadah kecil berisi cairan asam yang mulai mengeluarkan uap panas.
"Tidak... jangan!" ratap Kayla.
Jika ia ingin mengambil kunci itu untuk membebaskan dirinya, ia harus mencelupkan tangannya ke dalam cairan asam tersebut. Jika ia diam saja, kunci itu akan larut dan ia akan selamanya terikat di sana sementara suara gerinda di bawah lantai semakin mendekat, menandakan pria itu sedang menuju ke arahnya dari bawah.
Di saat yang sama, suara rintihan Aris dari perekam suara itu semakin kencang, diikuti suara pria bertopeng yang memberikan perintah tanpa kata lewat ketukan-ketukan logam yang ritmis.
Kayla menatap wadah asam itu, lalu menatap rantai di kakinya. Ia tahu pria bertopeng itu sedang menontonnya dari balik lubang kamera tersembunyi, menikmati setiap detik keraguan dan ketakutan yang menghancurkan mentalnya.
Suasananya semakin terdesak.
Kayla berteriak sekuat tenaga, suaranya pecah dan bergema di dinding beton yang dingin. "Aris! Aris, jawab aku! Kamu di mana?!"
Ia berharap ada ketukan di dinding atau suara bisikan dari lubang ventilasi seperti sebelumnya. Namun, tidak ada jawaban. Hanya suara rintihan Aris dari alat perekam yang terus berputar, seolah sengaja diputar berulang-ulang untuk menyiksa batin Kayla. Keheningan di luar rekaman itu jauh lebih menakutkan; itu adalah keheningan yang menandakan bahwa Aris mungkin sudah tidak berdaya, atau lebih buruk lagi, telah dibawa pergi ke tempat yang lebih gelap.
Rasa takut yang luar biasa itu tiba-tiba berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap. Kayla merasa seperti binatang yang terpojok. Ia muak dengan permainan ini, muak dengan pria bertopeng itu, dan muak dengan ketidakberdayaannya sendiri.
"BAJINGAN! KELUAR LO! LAWAN GUE!" teriak Kayla histeris.
Dengan napas yang memburu, Kayla mulai mengamuk. Ia menyambar alat perekam suara itu dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Suara rintihan Aris pun terhenti, menyisakan kesunyian yang mencekam. Tidak puas sampai di situ, ia meraih bantal dan sprei dari ranjang, merobeknya dengan tangan kosong seolah sedang mencabik-cabik harga diri pria bertopeng itu.
Ia menghamburkan isi laci otomatis ke seluruh ruangan. Kotak kaca berisi potongan kemeja berdarah Aris ia lempar hingga pecah berantakan di sudut ruangan. Kursi kayu yang ada di sana ia tendang berulang kali meskipun kakinya yang dirantai terasa sakit luar biasa. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya merah karena amarah dan air mata yang bercampur aduk.
Segala sesuatu yang bisa ia jangkau dalam radius rantai kakinya hancur berantakan. Ruangan yang tadinya rapi—meski dingin—kini tampak seperti kapal pecah. Foto besar dirinya yang terpampang di dinding menjadi sasaran terakhir. Kayla melempar sisa-sisa alat perekam ke arah foto itu, merobek permukaan kertasnya tepat di bagian wajahnya sendiri yang sedang tertawa.
"GUE BUKAN MAINAN LO!" pekik Kayla, jatuh terduduk di tengah kekacauan yang ia buat sendiri.
Di tengah amukannya yang baru saja mereda, Kayla tersungkur di lantai sambil terisak hebat. Tangannya terluka, terkena pecahan kaca dan gesekan benda tajam, namun ia tidak peduli. Di antara puing-puing barang yang berserakan, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang tidak sengaja terjatuh dari balik bingkai foto besar yang baru saja ia rusak.
Sebuah celah kecil di dinding, yang selama ini tertutup oleh foto raksasa itu. Di dalam celah itu, tampak sebuah benda logam yang berkilau—bukan kunci, melainkan sebuah pemotong baut kecil yang tampaknya sengaja disembunyikan oleh tahanan sebelum dirinya.
Namun, sebelum Kayla sempat meraihnya, lampu di ruangan itu tiba-tiba mati total. Suara gerinda di bawah lantai berhenti mendadak, digantikan oleh suara klik dari pintu baja utama yang perlahan terbuka.
Langkah kaki yang berat dan ritmis terdengar memasuki ruangan. Pria bertopeng itu telah kembali.
Suasananya sangat tegang! Kayla sedang memegang pemotong baut di dalam kegelapan sementara pria bertopeng itu berjalan mendekat.