NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Definisi Vitamin D: Vitamin Dari Dokter Adrian

Bukan sekadar sandiwara murahan saat Lala tiba-tiba membuka mata dan membisikkan bahwa obat terbaiknya hanyalah kehadiran sang dokter di sisinya. Adrian tertegun sejenak dengan tangan yang masih memegang botol suplemen sebelum akhirnya ia menarik napas panjang untuk meredam debaran aneh di dadanya. Ia meletakkan botol tersebut di atas meja dengan suara dentuman pelan yang memecah keheningan di antara mereka berdua.

"Kamu kekurangan asupan gizi dan sepertinya terlalu banyak mengonsumsi drama picisan dari televisi," ucap Adrian sambil menatap tajam ke arah Lala.

"Aku tidak butuh gizi dari makanan, aku hanya butuh vitamin d yang sangat langka di dunia ini," balas Lala sambil tersenyum penuh arti.

Adrian mengerutkan dahi dengan sangat dalam sambil mencoba mengingat ingat kembali pelajaran biologi dasar mengenai jenis jenis suplemen. Ia mengira Lala sedang membicarakan kalsium atau kesehatan tulang yang memang menjadi keahliannya sebagai seorang dokter spesialis. Namun, binar jenaka di mata gadis berseragam sekolah itu membuatnya tersadar bahwa ada sebuah jebakan logika yang sedang disiapkan.

"Vitamin d apa yang kamu maksud sampai harus berakting pingsan di depan lift umum?" tanya Adrian dengan nada suara yang sangat penasaran.

"Vitamin d itu adalah vitamin dari Dokter Adrian, asupan harian yang paling manjur untuk menyembuhkan rindu!" seru Lala dengan tawa yang sangat renyah.

Wajah Adrian seketika berubah menjadi kaku layaknya bongkahan es yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin paling dalam. Ia tidak menyangka bahwa istilah medis seserius itu akan dipelesetkan menjadi rayuan gombal yang sangat tidak tahu malu oleh pasien kecilnya ini. Dengan gerakan yang sangat cepat, Adrian mengambil sebuah suntikan tanpa jarum yang berisi cairan vitamin cair asli dari laci mejanya.

"Kalau begitu, mari kita mulai terapi asupan vitamin d yang sesungguhnya agar kamu segera pulih," kata Adrian sambil mendekat ke arah sofa tempat Lala duduk.

"Tunggu, Dokter mau menyuntikku ya? Aku kan cuma bercanda tadi!" teriak Lala sambil berusaha melompat dari sofa dengan wajah yang mulai pucat.

Adrian menahan bahu Lala dengan satu tangan yang sangat kokoh sehingga gadis itu tidak bisa melarikan diri ke mana mana lagi. Ia mengarahkan alat medis tersebut ke depan wajah Lala dengan ekspresi yang sangat serius seolah sedang menghadapi operasi bedah yang paling krusial. Lala menelan ludah dengan sangat susah payah sambil menutup kedua matanya rapat rapat karena rasa takut yang mulai merayap naik.

"Buka mulutmu sekarang, cairan ini rasanya sangat pahit melebihi kenyataan bahwa saya tidak menyukaimu," perintah Adrian dengan suara yang sangat rendah dan menekan.

"Tidak mau! Dokter jahat sekali memberikan obat pahit kepada gadis secantik aku!" protes Lala sambil terus menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Pergumulan kecil kembali terjadi di dalam ruangan steril itu hingga tubuh mereka tidak sengaja terjatuh ke arah kursi periksa yang empuk. Posisi Adrian kini sangat dekat dengan Lala hingga ia bisa mencium aroma minyak telon yang khas dari balik kerah seragam gadis sekolah tersebut. Adrian terdiam mematung saat melihat bulu mata Lala yang panjang bergetar karena rasa takut yang ternyata sungguhan kali ini.

"Kenapa diam saja? Ayo suntik saja aku sampai mati kalau itu bisa membuat Dokter merasa puas!" tantang Lala dengan suara yang sedikit parau dan mata yang berkaca kaca.

"Saya tidak akan menyuntikmu, ini hanya cairan jeruk dosis tinggi yang harus kamu minum agar daya tahan tubuhmu tidak lemah," bisik Adrian sambil melepaskan genggamannya.

Adrian menjauhkan dirinya dengan perasaan yang sangat tidak karuan karena menyadari tindakannya baru saja sudah sangat tidak profesional bagi seorang dokter. Ia membelakangi Lala dan pura pura sibuk menata berkas pasien di atas meja agar gadis itu tidak melihat rona merah yang muncul di telinganya. Lala perlahan membuka mata lalu mengambil botol cairan jeruk yang diletakkan Adrian tadi dengan perasaan yang masih sangat berdebar debar.

"Jadi Dokter mengkhawatirkan daya tahan tubuhku ya?" tanya Lala sambil meminum cairan jeruk itu dengan wajah yang sedikit meringis karena rasa asam.

"Saya hanya tidak mau ada mayat siswi sekolah menengah yang terbujur kaku di dalam ruang kerja saya hanya karena kurang gizi," sahut Adrian dengan sisa sisa kedinginannya.

Lala mengusap bibirnya dengan ujung lengan seragam lalu menatap punggung tegap Adrian dengan sebuah senyuman yang sangat tulus dan hangat. Ia merasa bahwa di balik sikap kaku dan dingin itu, Dokter Adrian memiliki sebuah hati yang sangat lembut dan sangat peduli. Gadis itu kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah kaki yang jauh lebih ringan daripada saat ia datang tadi.

"Terima kasih atas vitamin d miliknya ya, Dokter, aku merasa sudah jauh lebih kuat untuk mengejarmu esok hari!" seru Lala sebelum menutup pintu dengan suara klik yang pelan.

Adrian hanya bisa menghela napas panjang sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerja yang terasa sangat dingin di kulit lehernya. Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas meja lalu melihat sebuah pemberitahuan pesan yang baru saja masuk dari nomor yang belum ia simpan. Saat ia membuka pesan tersebut, matanya langsung terbelalak lebar karena melihat sebuah foto yang seharusnya tidak pernah ada di tangan orang lain.

Tersebar di seluruh grup komunikasi rumah sakit adalah foto saat Adrian sedang menahan bahu Lala di sofa dengan posisi yang terlihat sangat sangat mencurigakan bagi siapa pun yang melihatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!