"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Foto yang Tidak Seharusnya Dilihat
Foto yang tidak seharusnya dilihat itu kini berada di bawah injakan sepatu kulit Xavier yang sangat mengilap dan nampak sangat kejam. Gumpalan kertas yang tadinya menunjukkan kedekatan Xavier dengan ayah Gwenola kini benar-benar hancur menjadi serpihan kecil yang tidak lagi berarti. Xavier menatap asisten pribadinya dengan sorot mata yang mengandung kemarahan murni sekaligus ketakutan yang sangat besar akan keselamatan istrinya.
"Siapa yang mengirimkan foto ancaman ini ke dalam kediaman mewahku tanpa terdeteksi oleh radar keamanan?" tanya Xavier dengan suara yang sangat rendah namun menggelegar.
Asisten pribadi itu menundukkan kepala sangat dalam hingga tubuhnya nampak gemetar menghadapi aura kegelapan yang dipancarkan oleh pimpinan perusahaan tersebut. Ia menjelaskan bahwa kiriman tersebut datang melalui jasa pengantar tanpa identitas yang menyelipkan amplop hitam di antara tumpukan surat kabar pagi. Keamanan di gerbang utama kini sedang diperiksa secara menyeluruh untuk mencari celah yang berhasil ditembus oleh musuh misterius mereka.
"Segera perketat penjagaan di kamar Gwenola dan jangan biarkan dia keluar bahkan hanya untuk menghirup udara di balkon," perintah Xavier dengan tegas.
Gwenola yang sedang berada di dalam kamarnya merasa sangat gelisah karena ia baru saja melihat kilasan masa lalu yang sangat membingungkan di ruang kerja. Ia terus memikirkan mengapa ayahnya nampak begitu akrab dengan Xavier muda di dalam foto yang pecah berkeping-keping tadi. Rasa ingin tahu yang sangat besar mulai mengalahkan rasa takutnya terhadap hukuman yang mungkin akan kembali ia terima dari sang suami.
"Aku harus keluar dari kamar ini dan mencari tahu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dariku," bisik Gwenola sambil mencoba memutar gagang pintu kayu yang berat.
Namun pintu tersebut tetap bergeming karena sistem pengunci otomatis telah diaktifkan secara paksa dari pusat kendali keamanan rumah. Gwenola menggedor pintu itu berkali-kali menggunakan kepalan tangannya yang masih terasa sedikit perih akibat insiden penggaris kayu sebelumnya. Ia merasa seperti burung di dalam sangkar emas yang sedang menunggu waktu untuk dikorbankan demi sebuah rahasia besar yang sangat kelam.
"Buka pintunya! Xavier, aku tahu kau ada di luar sana dan aku menuntut penjelasan sekarang juga!" teriak Gwenola dengan nada yang penuh dengan keputusasaan.
Xavier berdiri mematung di lorong depan kamar Gwenola sambil mendengarkan teriakan istrinya yang terdengar sangat menyayat hati dan sangat memilukan. Ia memegang amplop hitam berisi foto Gwenola dengan tanda silang merah, menyadari bahwa musuh sedang mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu. Memberitahu Gwenola tentang ancaman pembunuhan ini hanya akan membuat gadis sekolah menengah atas itu semakin jatuh ke dalam jurang ketakutan.
"Maafkan aku, gadis kecil, tapi ini adalah satu-satunya cara agar kau tetap bernapas di dunia yang sangat kejam ini," gumam Xavier tanpa suara.
Pimpinan perusahaan itu kemudian melangkah pergi menuju ruang pemantauan pusat untuk melihat rekaman kamera tersembunyi yang terpasang di seluruh sudut rumah. Ia melihat sosok pria asing yang menggunakan penutup kepala berwarna gelap sedang berdiri di seberang gerbang kediaman mewah mereka beberapa jam yang lalu. Pria itu memegang sebuah alat komunikasi dan nampak sedang berbicara dengan seseorang yang memiliki kedudukan sangat tinggi di dunia bawah tanah.
"Cari pria di dalam rekaman ini dan bawa dia ke hadapanku dalam keadaan hidup atau mati!" perintah Xavier kepada kepala tim keamanan pribadinya.
Di dalam kamar, Gwenola akhirnya menyerah dan duduk bersimpuh di atas lantai marmer yang terasa sangat dingin dan sangat sunyi. Ia meraih tas sekolahnya lalu mengambil secarik kertas kecil yang sempat ia ambil secara sembunyi-sembunyi dari bawah laci meja kerja Xavier. Kertas itu berisi sebuah alamat gudang tua di pinggiran kota serta sebuah nama yang tertulis dengan tinta merah yang sangat mencolok.
"Gudang Anggrek Hitam, kenapa nama ini terasa begitu akrab di telingaku?" tanya Gwenola sambil mengerutkan keningnya dengan sangat dalam.
Ingatan Gwenola kembali melayang ke masa kecilnya saat ia sering mendengar ayahnya membicarakan tempat itu dengan nada bicara yang sangat penuh dengan ketakutan. Ia menyadari bahwa rahasia hutang sepuluh miliar ini hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih besar dan sangat berbahaya. Tanpa pikir panjang, Gwenola mulai mencari cara untuk melarikan diri dari kediaman mewah ini melalui jendela kamar mandi yang tidak terjaga ketat.
Ia mengikat beberapa helai kain sutra panjang untuk membentuk sebuah tali darurat yang akan ia gunakan untuk menurunkan tubuhnya ke lantai bawah. Detak jantungnya berdegup sangat kencang saat ia mulai memanjat keluar dari jendela dengan tangan yang masih gemetar hebat akibat rasa takut. Angin malam yang sangat kencang menerpa wajahnya, memberikan sensasi kebebasan yang sangat semu namun sangat ia butuhkan saat ini.
"Aku harus menemukan jawaban di gudang itu sebelum Xavier menyadari bahwa aku sudah menghilang dari penjara ini," tekad Gwenola dalam hati.
Baru saja kakinya menyentuh rumput taman, suara sirine peringatan kembali berbunyi dengan sangat nyaring di seluruh penjuru kediaman mewah tersebut. Lampu sorot raksasa mulai bergerak liar menyapu permukaan tanah, mencari sosok yang telah berani melanggar aturan penguncian wilayah secara total. Gwenola berlari sekuat tenaga menuju arah hutan pinus, menyadari bahwa satu langkah salah akan membawanya kembali ke dalam pelukan sang iblis.
Tugas sekolah di meja kantor pimpinan perusahaan.