NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GERAKAN GLOBAL YANG HIDUP DAN CAHAYA YANG TAK TERBATAS

Mentari pagi menyinari kompleks Universitas Hadian Global yang kini telah memiliki cabang di lima benua—Asia, Afrika, Amerika, Eropa, dan Australia. Qinara, yang sekarang berusia dua puluh enam tahun, berdiri di depan gedung utama cabang Jakarta, memandang ribuan mahasiswa dari berbagai negara yang sedang berkumpul untuk mengikuti acara tahunan "Festival Pendidikan Kasih Sayang". Dia mengenakan gaun yang dibuat dari kain tradisional dari berbagai negara, dihiasi dengan bordir yang menggambarkan sekolah-sekolah yang telah dibangun di seluruh dunia. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu Pak Santoso yang telah menjadi simbol kekuatan dan ketekunan, serta kotak pemberian ayahnya yang kini telah menjadi bagian dari museum pendidikan yang terletak di dalam kampus.

Pak Rio mendekatinya dengan senyum yang penuh kebanggaan, membawa berita yang akan mengubah wajah pendidikan global. "Qinara, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyetujui rencana kerja sama skala besar dengan kita. Mereka akan mengalokasikan dana khusus untuk membangun 1.000 sekolah lagi di negara-negara yang paling membutuhkan dalam lima tahun ke depan. Selain itu, mereka ingin kamu menjadi ketua komisi pendidikan global PBB—mengawasi kebijakan pendidikan untuk lebih dari 190 negara di dunia."

Qinara merasakan getaran kegembiraan dan tanggung jawab yang mendalam. Dia melihat ke arah mahasiswa yang sedang berkumpul—wajah-wajah muda dari berbagai ras dan budaya, semua bersatu oleh tujuan yang sama: memberikan pendidikan yang bermakna bagi semua orang. "Ini adalah kesempatan besar, Pak. Ayahmu selalu berkata bahwa pendidikan adalah kunci untuk kedamaian dan kemakmuran dunia. Sekarang, kita punya kesempatan untuk menjadikan itu sebagai realitas global."

Kabelo dari Afrika Selatan, yang kini telah menjadi direktur eksekutif Universitas Hadian Global, datang dengan kelompok pemimpin muda dari berbagai benua. Mereka adalah alumni yang telah menjadi menteri pendidikan, pengusaha sosial, dan pemimpin komunitas di negaranya masing-masing. "Kak Qinara, mereka semua ingin berbagi bagaimana warisan ayahmu telah mengubah kehidupan mereka dan negara mereka. Beberapa dari mereka bahkan telah mengubah kebijakan pendidikan nasional di negaranya berdasarkan model Sekolah Hadian."

Seorang menteri pendidikan muda dari Nigeria bernama Amara mendekatinya. "Kak Qinara, berkat model yang kamu ajarkan, kami telah meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil Nigeria hingga 60%. Sekarang, jutaan anak bisa sekolah dan memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik. Kamu adalah inspirasi bagi kita semua."

Qinara memeluk Amara dan kelompok lainnya dengan hangat. "Kalian semua adalah bukti bahwa perubahan dimulai dari satu orang yang berani memimpikan hal yang lebih baik. Sekarang, giliran kalian untuk menjadi pelopor perubahan di negaramu dan dunia."

Sore hari, mereka berjalan ke taman pendidikan yang terletak di tengah kampus—tempat di mana setiap pohon mewakili sebuah negara yang telah mendapatkan bantuan dari Yayasan Hadian. Di tengah taman berdiri monumen baru yang menggambarkan anak-anak dari berbagai negara yang sedang membangun dunia yang lebih baik bersama-sama. Monumen ini dibuat oleh Aisha dan kelompok seniman muda dari seluruh dunia, dengan dukungan dari mahasiswa jurusan seni Universitas Hadian.

Aisha—yang sekarang berusia empat belas tahun dan telah menjadi seniman muda yang diakui secara internasional—datang bersama dengan anak-anak pembuat monumen. Mereka membawa buku koleksi cerita tentang anak-anak yang telah berhasil merubah hidup mereka melalui pendidikan. "Kak Qinara, buku ini berisi cerita dari lebih dari 100 anak dari berbagai negara. Kami ingin menerbitkannya dalam berbagai bahasa agar bisa menginspirasi lebih banyak orang di seluruh dunia."

Qinara membuka buku dan melihat cerita-cerita yang menyentuh hati—anak-anak yang dulunya tidak bisa sekolah, kini menjadi dokter, guru, insinyur, dan pemimpin yang membantu komunitas mereka. "Ini adalah warisan yang paling berharga, Aisha. Cerita-cerita ini akan menjadi bukti bahwa tidak ada batasan bagi apa yang bisa dicapai oleh anak-anak yang diberi kesempatan."

Keesokan harinya, Qinara terbang ke Geneva untuk menghadiri sidang komisi pendidikan global PBB. Di sana, dia bertemu dengan pemimpin dunia, ahli pendidikan, dan aktivis dari seluruh dunia untuk membahas masa depan pendidikan global. Saat dia berdiri di panggung untuk memberikan pidato pembuka, seluruh ruangan menjadi sunyi dengan hormat.

"Selamat pagi kepada semua teman sekalian. Tujuh belas tahun yang lalu, aku berdiri di depan makam ayahku dengan hati yang penuh kesedihan dan ketidakpastian. Tapi ayahku telah meninggalkan sesuatu yang lebih berharga dari semua harta di dunia—keyakinan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang mereka, berhak mendapatkan pendidikan dan kesempatan untuk meraih impian mereka," ucap Qinara dengan suara yang jelas dan penuh makna.

Dia melanjutkan dengan berbagi perjalanan Yayasan Hadian, dari satu sekolah kecil di Jakarta hingga gerakan global yang telah membantu lebih dari 800.000 anak. Dia menunjukkan data bahwa negara-negara yang mengadopsi model Sekolah Hadian telah mengalami penurunan kemiskinan dan peningkatan kedamaian serta kemakmuran. "Pendidikan bukan hanya tentang mengajar anak-anak membaca dan menulis—ini tentang membangun karakter, menumbuhkan empati, dan menciptakan generasi pemimpin yang peduli pada kesejahteraan orang lain. Inilah yang telah kita lakukan dengan model Sekolah Hadian."

Setelah pidato, banyak pemimpin dunia mendekatinya untuk menawarkan kerja sama dan dukungan. Sekretaris Jenderal PBB bahkan mengundangnya untuk menjadi bagian dari tim khusus yang merancang visi pendidikan dunia tahun 2050. "Qinara, kamu telah menunjukkan bahwa pendidikan bisa menjadi kekuatan transformatif bagi dunia. Kita membutuhkan pandanganmu untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi semua anak di dunia," katanya.

Malam itu, Qinara berdiri di teras gedung kantor pusat PBB di Geneva, memandang kota yang penuh cahaya dan kejauhan yang dipenuhi oleh harapan. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dan buku cerita yang dibuat Aisha. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi, kata-katanya seperti bimbingan yang tak terpisahkan darinya:

"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."

Dia menyenyum, menyadari bahwa warisan ayahnya telah melampaui segala yang bisa dia bayangkan saat masih kecil. Tidak hanya ribuan sekolah yang dibangun dan jutaan anak yang mendapatkan pendidikan, tapi juga perubahan paradigma dalam dunia pendidikan—dari sistem yang fokus pada prestasi akademik semata menjadi sistem yang mengutamakan perkembangan holistik dan kepedulian sosial.

Beberapa minggu kemudian, Qinara kembali ke Indonesia untuk menghadiri wisuda kelima Universitas Hadian Global. Lebih dari 3.000 mahasiswa dari berbagai negara akan menerima ijazah, termasuk banyak yang akan mengambil peran kepemimpinan di lembaga pendidikan dan pemerintahan di negaranya masing-masing. Lebih dari 150.000 orang hadir di acara itu—keluarga mahasiswa, alumni dari seluruh dunia, delegasi dari lebih dari 120 negara, dan beberapa kepala negara yang datang khusus untuk merayakan momen bersejarah ini.

Lapangan utama kampus Universitas Hadian Jakarta dipenuhi dengan warna-warni dari bendera berbagai negara, dan udara terisi dengan nyanyian lagu-lagu dari berbagai budaya yang menyatu dalam harmoni. Pak Santoso, yang sekarang sudah berusia 97 tahun tapi masih memiliki semangat yang tinggi, diantar ke panggung oleh Siti dan Rudi. Siti kini telah menjadi sekretaris jenderal Universitas Hadian Global, sedangkan Rudi telah menjadi direktur pusat medis pendidikan yang menangani kasus kesehatan anak-anak di seluruh dunia.

Pak Santoso mengambil mikrofon dan berkata dengan suara yang penuh emosi: "Aku telah hidup cukup lama untuk menyaksikan banyak perubahan di dunia ini, tapi tidak ada yang bisa menyamai apa yang telah kita capai bersama. Dari seorang anak kecil yang berjuang sendirian untuk mewujudkan impian ayahnya, hingga gerakan global yang mengubah hidup jutaan orang—ini adalah bukti bahwa cinta dan tekad bisa melakukan keajaiban yang tak terbatas. Qinara, kamu telah membuat impian ayahmu menjadi kenyataan yang akan hidup selamanya."

Setelah pidato, Qinara memberikan pidato kepada wisudawan dengan hati terbuka: "Kalian semua adalah bagian dari perubahan besar yang sedang terjadi di dunia. Setiap langkah yang kalian ambil untuk membantu orang lain akan menjadi batu bata dalam membangun dunia yang lebih baik. Ingatlah selalu bahwa kalian memiliki kekuatan untuk mengubah dunia—cukup percayalah pada nilai-nilai yang telah kita junjung tinggi: kasih sayang, kebersamaan, dan komitmen untuk memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang."

Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh tempat, berlangsung selama lebih dari dua jam. Banyak orang menangis karena emosi yang mendalam—rasa syukur, kebahagiaan, dan harapan yang tak terbatas. Anak-anak dari seluruh dunia menyanyikan lagu "Cahaya Hadian yang Tak Terbatas" yang telah menjadi lagu resmi gerakan global, dan semua orang bergandeng tangan, merasakan hubungan yang kuat antar mereka sebagai bagian dari satu keluarga dunia.

Malam itu, Qinara pergi ke makam ayahnya bersama keluarga besar yang telah tumbuh selama bertahun-tahun—Laras, Pak Rio, Pak Santoso, Siti, Rudi, Kabelo, Aisha, dan ribuan teman dari seluruh dunia yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Dia membawa penghargaan dari PBB dan buku cerita yang dibuat Aisha. Dia duduk di dekat makam, berbicara dengan penuh rasa syukur dan cinta:

"Ayah, hari ini kita merayakan wisuda kelima Universitas Hadian Global. Lebih dari 10.000 mahasiswa telah lulus dan bekerja untuk membantu orang lain di seluruh dunia. Kita telah membangun lebih dari 2.000 sekolah di 75 negara, membantu lebih dari 800.000 anak mendapatkan pendidikan. PBB telah menjadikan tanggal lahirmu sebagai hari penting bagi dunia pendidikan, dan model yang kamu mulai telah mengubah wajah pendidikan global."

Dia melihat ke arah langit malam yang penuh bintang, dan bintang terang yang selalu dia anggap sebagai ayahnya tampak seperti sedang bersinar lebih terang dari biasanya. "Sudah dua puluh enam tahun sejak kamu pergi, tapi kamu tidak pernah benar-benar pergi dariku. Kamu ada di setiap anak yang belajar dengan senang hati, di setiap guru yang mengajar dengan kasih sayang, di setiap generasi yang tumbuh dengan harapan untuk dunia yang lebih baik. Kamu ada di dalam setiap bagian dari gerakan yang kita bangun bersama—gerakan yang akan terus hidup dan berkembang selama ada anak yang membutuhkan bantuan."

Laras memeluknya dengan erat, air mata kebahagiaan mengalir di wajahnya. "Qinara, ayahmu pasti sangat bangga padamu. Kamu telah membangun sesuatu yang tidak akan pernah hilang—sesuatu yang akan terus memberikan cahaya bagi dunia selama-lamanya. Aku bangga menjadi ibumu, dan aku berterima kasih setiap hari karena Tuhan telah memberi kita kesempatan untuk melakukan hal yang luar biasa ini."

Qinara membalik memeluk Laras, merasa bahwa semua perjuangan, tantangan, dan waktu yang dihabiskan telah bernilai lebih dari apa pun yang bisa dia bayangkan. "Terima kasih, Ibu. Tanpa kamu dan semua orang yang telah mempercayai kita, tidak ada yang mungkin terjadi. Kita adalah keluarga yang menyatukan dunia, dibangun dari hati dan kasih sayang yang tak terbatas dan tak akan pernah padam."

Mentari esok akan muncul, membawa harapan baru dan impian yang lebih besar. Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, dengan banyak hal yang harus dilakukan—membangun lebih banyak sekolah, mengembangkan metode pendidikan yang lebih baik, dan menginspirasi lebih banyak orang untuk bergabung dalam perjuangan ini. Tapi dia juga tahu bahwa dia tidak akan pernah sendirian—warisan ayahnya telah tumbuh menjadi gerakan global yang akan terus berkembang, membawa cahaya dan harapan ke setiap sudut dunia yang membutuhkan.

Dia berdiri tegak, memegang kotak pemberian ayahnya dan tongkat kayu Pak Santoso, melihat ke arah masa depan yang cerah dan penuh harapan. Cahaya ayahnya akan selalu menyinari jalanannya, dan warisan ayahnya akan tetap hidup selamanya—sebagai bukti bahwa satu orang bisa mengubah takdir jutaan orang, dan bahwa cinta adalah kekuatan terbesar yang bisa membawa perubahan dunia yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!