"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Sorot Lampu dan Topeng yang Terbuka
Produksi film 'The Silent Muse' telah memasuki tahap-tahap akhir yang paling krusial. Aula besar Hanlim High School kini dipenuhi oleh peralatan teknis tingkat tinggi yang dipinjamkan oleh agensi Guanlin. Namun, di balik kemegahan lampu-lampu spotlight dan kesibukan para kru, sebuah duri mulai menusuk kenyamanan Aira.
Hana, seorang siswi jurusan akting yang menyandang predikat "Dewi Hanlim", merasa posisinya terancam. Sejak awal, ia sangat memuja Guanlin. Bagi Hana, Guanlin adalah segalanya pangeran, sutradara idola, dan tiketnya menuju ketenaran global. Namun, selama seminggu ini, ia harus menyaksikan Guanlin memberikan seluruh perhatian, kelembutan, dan tatapan matanya hanya kepada satu orang yaitu Kim Aira.
Hana tidak tahu siapa Aira sebenarnya. Di matanya, Aira hanyalah gadis asisten riset yang kebetulan memiliki bakat menulis, seorang gadis "cupu" yang entah bagaimana bisa membuat Guanlin bertekuk lutut.
Siang itu, saat jeda makan siang, Aira sedang duduk sendirian di pojok ruang rias, fokus memeriksa revisi naskah untuk adegan malam nanti. Tiba-tiba, Hana masuk dengan langkah yang angkuh, diikuti oleh dua orang temannya.
BRAKK!
Hana menggebrak meja di depan Aira, membuat botol minum stroberi Aira terguling. "Heh, Penulis Kecil. Masih berani ya kau duduk di kursi utama ini?"
Aira tersentak, ia mendongak dengan mata bulatnya yang polos. "Kak Hana? Ada apa? Apa ada dialog yang perlu diubah?"
Hana tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan. Ia mengambil cangkir kopi dinginnya dan tanpa ragu menyiramkannya tepat di atas tumpukan kertas naskah asli milik Aira. "Ops... tanganku licin. Maaf ya, asisten riset yang malang."
Aira mematung melihat kerja kerasnya selama berhari-hari kini basah dan ternoda tinta yang luntur. "K-kenapa Kakak lakuin ini? Aira salah apa?" suara Aira mulai gemetar, ia menahan tangisnya sekuat tenaga.
"Kesalahanmu adalah kau tidak tahu tempatmu!" bentak Hana, suaranya rendah namun penuh kebencian. "Kau pikir dengan bermanja-manja dan bergelayut di lengan Guanlin, kau bisa jadi ratu di sini? Kau itu cuma beban buat dia, Aira. Kau nggak punya visual, kau nggak punya kelas. Kau cuma debu yang kebetulan menempel di sepatu Guanlin. Berhenti cari perhatian, atau aku akan pastikan hidupmu di Hanlim berakhir sebagai pecundang."
Aira hanya bisa menunduk, ia merasa badannya mendadak dingin. Tekanan intimidasi Hana terasa sangat berat, membuat sisi trauma masa lalunya sedikit terusik. Ia merasa sangat kecil, persis seperti yang Hana katakan.
Setelah kejadian di ruang rias, Aira berubah menjadi bayangan yang sunyi. Ia tidak lagi duduk di kursi kehormatan di samping Guanlin. Saat syuting dimulai kembali di sore hari, Aira memilih bersembunyi di balik tirai panggung yang gelap atau di pojok tumpukan properti kayu.
Guanlin, yang memiliki insting tajam terhadap setiap gerakan Aira, langsung menyadari perubahan atmosfer itu. Ia berkali-kali menoleh ke kursi di sampingnya, namun kursi itu kosong.
"Aira? Kim Aira? Dimana penulisku?" panggil Guanlin melalui megaphone kecilnya. Suaranya terdengar tidak sabar.
"Aira di sini, Kak... di bagian properti. Lanjutkan saja, Aira bisa dengar dari sini," sahut Aira lirih. Ia tidak mau memperlihatkan matanya yang sembab karena habis menangis diam-diam.
Guanlin mengerutkan kening. Ia merasakan ada sesuatu yang salah. Setiap kali ia mencoba mendekati Aira, gadis itu selalu mencari alasan untuk menghindar. "Kak Guanlin fokus saja sama Kak Hana, dia kan pemeran utamanya... Aira mau cek kabel dulu," ucap Aira menghindar saat Guanlin mencoba mengajaknya bicara.
Hana, yang melihat rencananya berhasil, semakin gencar menempel pada Guanlin. "Guanlin-oppa, lupakan asisten itu. Dia mungkin hanya sedang moody. Ayo kita latihan adegan terakhir, aku sudah siap," ucap Hana sambil mencoba menyentuh lengan Guanlin dengan gaya menggoda.
Guanlin menepis tangan Hana dengan kasar, membuat para kru lain terkesiap. Tatapan Guanlin saat itu sangat dingin, seperti pedang yang siap menebas. "Fokus pada aktingmu, Hana. Jangan urusi asistenku. Jika kau sekali lagi menyentuhku tanpa instruksi akting, aku akan menggantimu."
Meskipun Guanlin membelanya, Aira tetap merasa tidak tenang. Kata-kata Hana tentang "tidak selevel" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia mulai meragukan dirinya sendiri, Apakah ia benar-benar pantas berada di sisi Guanlin? Apakah keberadaannya hanya akan merusak reputasi Guanlin sebagai calon sutradara besar?
Aira meringkuk di balik set dekorasi, memeluk naskahnya yang sudah rusak. Ia merindukan pelukan Jungkook, ia merindukan omelan Jin yang hangat. Di tempat ini, ia merasa sangat kesepian karena intimidasi yang tak terlihat oleh orang lain.
Malam mulai larut, dan aula menjadi semakin dingin. Guanlin sedang sibuk mengatur posisi kamera di panggung utama, memberikan kesempatan bagi Hana untuk kembali melancarkan aksinya. Hana melihat Aira masuk ke ruang kostum sendirian untuk mengambil syal tambahan.
Hana mengikuti dan langsung mengunci pintu dari dalam.
"Tadi aku bilang apa? Masih belum paham juga?" Hana menarik bahu Aira dan mendorongnya hingga Aira menabrak rak kostum yang berat. Beberapa baju terjatuh menimpa tubuh kecil Aira.
"Kak Hana, tolong... Aira nggak mau berantem," rengek Aira, air matanya kini tidak bisa dibendung lagi. Ia menangis tersedu-sedu, menunjukkan sisi manjanya yang sedang hancur karena takut.
"Berantem? Ini bukan berantem, ini pembersihan," desis Hana. Ia mengambil sepasang sepatu hak tinggi yang harusnya dipakai Aira (untuk keperluan riset kostum) dan melemparkannya ke tempat sampah yang penuh dengan sisa makanan. "Kau itu nggak pantas pakai barang bagus. Kau cuma asisten rendahan! Lihat saja, setelah film ini selesai, Guanlin akan membuangmu seperti sampah ini!"
Hana tertawa melihat Aira yang terduduk lemas di lantai, menangis sambil memegangi dadanya yang sesak. "Dasar cengeng. Menangis saja terus, biar Guanlin tahu betapa lemah dan memuakkannya dirimu!"
Tepat saat Hana hendak mengangkat tangannya untuk memberikan gertakan fisik lebih jauh, suara dentuman keras terdengar dari pintu ruang kostum.
BRAKKKK!
Pintu kayu itu terbuka hingga engselnya nyaris lepas. Guanlin berdiri di sana. Nafasnya memburu, matanya memancarkan kemarahan yang bisa membakar siapapun di depannya. Ia telah mencari Aira ke seluruh penjuru set dan akhirnya menemukan pintu ruang kostum yang terkunci.
Guanlin melihat Aira yang tersungkur di lantai dengan wajah penuh air mata dan Hana yang berdiri di depannya dengan wajah angkuh yang mendadak berubah pucat pasi.
"G-Guanlin... ini... ini nggak seperti yang kamu lihat... dia tadi jatuh sendiri..." Hana mulai tergagap, mencoba mencari alasan.
Guanlin melangkah masuk, aura di ruangan itu mendadak menjadi sangat menyesakkan. Ia tidak bicara pada Hana. Ia langsung berlutut di depan Aira, mengangkat tubuh mungil itu ke dalam dekapannya dengan sangat protektif.
"Aira... maafkan aku," bisik Guanlin dengan suara yang bergetar karena emosi. Ia menoleh ke arah Hana dengan tatapan yang sangat menyeramkan, membuat Hana gemetar hebat. "Kau. Keluar dari set-ku sekarang juga. Kau dipecat. Dan jangan pernah berharap bisa berakting lagi di industri ini selama aku masih bernapas."
Hana terpaku, dunianya terasa runtuh dalam sekejap. Sementara itu, Aira hanya bisa menangis kencang di pelukan Guanlin, melepaskan seluruh rasa takut dan sesak yang ia simpan sejak tadi siang.
Setelah pengusiran Hana yang sangat dramatis, aula Hanlim mendadak sunyi. Para kru diperintahkan untuk istirahat di luar, menyisakan hanya Guanlin dan Aira di dalam ruang kostum yang berantakan. Aira masih gemetar di pelukan Guanlin, air matanya membasahi kemeja putih mahal yang dikenakan pria itu.
"Hiks... Kak Guanlin... Aira mau pulang... Aira beneran beban ya buat Kakak?" rengek Aira dengan suara serak. Ia membenamkan wajahnya di dada Guanlin, mencari perlindungan dari rasa malu dan takut yang masih tersisa.
Guanlin tidak menjawab dengan kata-kata terlebih dahulu. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya, menciumi puncak kepala Aira berkali-kali seolah ingin menghapus setiap memori buruk yang baru saja terjadi. Ia mengangkat tubuh Aira dan mendudukkannya di atas meja konter rias, sementara ia berdiri di antara kedua kaki Aira, menatap langsung ke dalam mata bulat yang sembab itu.
"Dengar aku, Kim Aira," suara Guanlin terdengar sangat dalam dan berwibawa, namun penuh dengan kasih sayang. "Kau bukan beban. Kau adalah jantung dari proyek ini. Tanpa naskahmu, tanpa tawamu di lokasi ini, aku hanyalah sutradara robot yang tidak punya jiwa. Hana itu bukan siapa-siapa. Dia hanya sampah yang mencoba mengotori berlian sepertimu."
Guanlin mengambil sapu tangan sutranya, membasahinya dengan sedikit air hangat, lalu mulai mengusap sisa air mata dan noda kopi yang sempat mengenai pipi Aira dengan sangat telaten. Gerakannya begitu lembut, seolah ia sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia.
"Mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu. Aku sudah menghubungi pihak sekolah, Hana resmi dikeluarkan dari jurusan film dan dilarang mendekatimu dalam radius 100 meter. Dan soal naskahmu yang rusak..." Guanlin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mematikan. "Aku sudah memfotokopinya sepuluh kali sebelum syuting dimulai. Aku tahu penulisku ini ceroboh, jadi aku sudah bersiap."
Aira sedikit tertawa di tengah tangisnya, ia mencubit lengan Guanlin manja. "Ih, Kakak! Jadi Kakak selama ini ngatain Aira ceroboh?!"
"Ceroboh yang menggemaskan," balas Guanlin. Ia mengecup kening Aira lama sekali. "Sekarang, aku ingin kau tenang. Karena adegan terakhir yang akan kita ambil adalah alasan kenapa aku memulai semua ini."
Malam semakin larut, lampu-lampu utama di aula dimatikan, hanya menyisakan satu sorot lampu spotlight putih yang jatuh tepat di tengah panggung. Aira diminta untuk berganti pakaian. Bukannya baju asisten, ia justru diberikan sebuah gaun ballgown berwarna putih tulang yang sangat indah dengan taburan kristal swarovski.
"Kak... kenapa Aira harus pakai ini? Bukannya Hana sudah pergi? Siapa yang mau akting?" tanya Aira bingung sambil meraba gaun mewahnya.
Guanlin muncul dari balik tirai. Ia sudah berganti pakaian menjadi tuxedo hitam yang sangat elegan. Penampilannya malam itu benar-benar level dewa, membuat Aira sempat menahan napas. Guanlin berjalan mendekati Aira dan mengulurkan tangannya.
"Aira, sejak awal aku tidak pernah berniat menjadikan Hana sebagai pemeran utama. Naskah 'The Silent Muse' ini ditulis oleh Miss KA untuk seseorang yang istimewa, bukan? Dan siapa lagi yang bisa memerankan sosok yang dicintai penulisnya selain penulis itu sendiri?"
Aira ternganga. "Maksud Kakak... Aira jadi pemeran utamanya?"
"Dan aku adalah lawan mainmu," sambung Guanlin. "Semua kamera yang tersembunyi selama dua minggu ini, adegan-adegan saat kita berdiskusi, saat kita di pantai, saat kita tertawa di perpustakaan... itu semua adalah bagian dari film dokumenter-drama ini. Aku ingin merekam cinta yang nyata, Aira. Bukan akting yang dibuat-buat."
Aira merasa dunianya berputar. Jadi selama ini, setiap momen manis yang ia kira adalah kencan atau riset, ternyata direkam oleh Guanlin untuk menjadi bagian dari mahakarya mereka? Namun, Aira tidak merasa marah. Ia justru merasa sangat tersentuh. Guanlin ingin mengabadikan kebersamaan mereka dalam sebuah film yang akan dilihat dunia.
"Sekarang, ayo kita selesaikan adegan terakhirnya. Tidak ada skrip, tidak ada dialog yang harus dihapal. Cukup katakan apa yang ingin kau katakan padaku di bawah lampu ini," bisik Guanlin.
Mereka mulai berdansa di tengah panggung yang sunyi. Aira bermanja di dada Guanlin, ia berbisik bahwa ia sangat bahagia memiliki Guanlin di hidupnya. Di bawah sorot lampu itu, Guanlin berlutut dan memberikan sebuah cincin perak sederhana ke jari manis Aira.
"Aira, di depan kamera ini, dan di depan Tuhan, aku berjanji akan menjagamu lebih dari siapapun. Kau adalah naskah terindah yang pernah kubaca," ucap Guanlin.
CUT! Teriak asisten sutradara yang tiba-tiba muncul dari balik kegelapan. Seluruh kru bertepuk tangan, beberapa bahkan menangis haru melihat adegan asli yang begitu organik dan penuh cinta itu.
Dua minggu setelah malam itu, film 'The Silent Muse' akhirnya dirilis secara resmi di festival film pendek Hanlim dan diunggah ke kanal YouTube resmi sekolah. Hasilnya? Gila.
Dalam waktu kurang dari enam jam, video itu mendapatkan 10 juta penayangan. Visual Guanlin yang seperti pangeran dari negeri dongeng dan karakter Aira yang sangat manja, tulus, dan menggemaskan membuat netizen di seluruh dunia jatuh cinta.
Tagar #GuanlinAira dan #TheSilentMuse memuncaki trending topic dunia.
Dunia hiburan gempar. Kritikus film memuji teknik penyutradaraan Guanlin yang mampu menangkap emosi mentah tanpa terkesan dipaksakan. Namun yang paling membuat gempar adalah identitas sang penulis, Miss KA, yang kini mulai dikait-kaitkan dengan sosok Aira.
Mansion Kim pagi itu terasa sangat berisik. Ke-7 abang BTS sedang berkumpul di depan TV raksasa, menonton hasil akhir film adiknya.
"LIHAT ITU! DIA MENCIUM TANGAN AIRA!" teriak Jungkook sambil menunjuk layar dengan tongkat baseball mainannya. "Guanlin benar-benar memanfaatkan situasi!"
Jin menyeka air matanya dengan tisu. "Tapi... harus diakui, adik kita sangat cantik di film itu. Dia terlihat sangat bahagia."
Yoongi mengangguk setuju sambil memegang ponselnya yang penuh dengan tawaran kontrak iklan untuk Aira. "Film ini booming di pasaran. Saham perusahaan ayah Guanlin naik, dan nama Aira sekarang jadi buruan sutradara Hollywood. Tapi tentu saja, aku akan menolak semuanya. Aira harus tetap di rumah dan manja-manja sama kita."
Aira sendiri sedang duduk di sofa, memeluk gulingnya dengan malu-malu. Ia melihat dirinya di layar TV, berdansa dengan Guanlin, dan ia merasa seperti mimpi. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah video call dari Guanlin.
Aira mengangkatnya, menampakkan wajah Guanlin yang sedang berada di bandara, dikerumuni wartawan namun tetap terlihat tenang. "Halo, Bintang Utamaku. Kau sudah lihat beritanya? Kita menang, Aira. Film kita adalah nomor satu di dunia hari ini."
"Kak Guanlin... Aira takut... semua orang jadi ngomongin Aira," rengek Aira manja ke arah layar ponsel.
Guanlin tersenyum, senyuman yang sangat bangga. "Jangan takut. Kau punya tujuh harimau di rumah, dan kau punya aku sebagai pelindung pribadimu. Malam ini, siapkan gaun terbaikmu. Kita akan merayakan kemenangan ini di restoran paling tinggi di Seoul. Hanya kita berdua. Tanpa kamera... dan tanpa gangguan."
Aira menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar bahagia. Proyek film yang diawali dengan air mata intimidasi, berakhir dengan kesuksesan yang melampaui imajinasi siapapun. Guanlin bukan hanya menyutradarai sebuah film, tapi ia telah menyutradarai masa depan yang indah untuk Aira.
Namun, di balik kegembiraan itu, tiga pasang mata di tempat berbeda Sunoo, Heeseung, dan Eunwoo menatap layar ponsel mereka dengan tatapan yang sangat tajam. Perang belum berakhir. Mereka baru saja melihat Guanlin mencuri start terlalu jauh, dan mereka tidak akan tinggal diam di bab berikutnya.
📢 GILAAAAA! 😍 Plot twist paling pecah sepanjang sejarah! Ternyata filmnya adalah rekaman cinta asli mereka berdua! Sekarang satu dunia tahu kalau Guanlin adalah pelindung Aira. Tapi gimana nasib 3 pangeran lain yang terbakar cemburu?
👇 VOTE [A] GUANLIN PEMENANG TETAP! | [B] TIM BALAS DENDAM (Sunoo\, Heeseung\, Eunwoo) | [C] Kak Jungkook harus ikut kencan perayaan mereka buat jadi obat nyamuk! 😂
💬 KOMEN : Coba dong kasih selamat buat Aira dan Guanlin atas kesuksesan film 'The Silent Muse'! Apa adegan favorit kalian?
🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab 17 bakal ada pesta perayaan besar-besaran di mana semua pangeran berkumpul dan menuntut keadilan!
⭐ KASIH RATING 5 STARS buat kesuksesan film Aira!
BehindTheSpotlight #MangaToonRomance #TheSilentMuseSuccess #GuanlinAiraForever #PlotTwistLove #SuccessAndFame