NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Tertarik

Matanya tak lepas dari sosok perempuan muda yang tengah berinteraksi hangat dengan kedua saudaranya.

Perempuan muda berusia sembilan belas tahun itu sukses menarik perhatiannya—yang kini sudah menginjak kepala empat.

Lebih tepatnya berusia empat puluh tiga tahun.

Usia yang sama dengan seorang pria yang tengah berbicara dengannya saat ini.

Papa dari perempuan tersebut, yang tidak lain adalah temannya sendiri.

Padahal perempuan itu tidak melakukan apapun, selain menyapanya dengan singkat, tapi terkesan sopan, tanpa ada embel-embel menggoda atau mencari perhatian.

Namun ia justru bisa dengan mudahnya terpikat pada perempuan tersebut dalam sekejap.

Sangat keterlaluan jika ia mengklaim memiliki perasaan pada anak teman baiknya ini hanya karena pandangan pertama.

Selain perbedaan usia mereka yang sangat jauh, statusnya sekarang pun cukup rumit untuk hal-hal seperti ini.

Namun perasaan ini tidak bisa ia bohongi.

Ia benar-benar sudah jatuh cinta pada perempuan muda itu.

"Bas"

Suara itu langsung mengalihkan pandangannya.

"Liatin apa?" temannya kembali bertanya sambil memalingkan wajahnya ke samping, dimana pandangannya sebelumnya tertuju.

Awalnya ia berpikir jika Gunawan tidak akan suka dengan apa yang dirinya lakukan. Namun pikirannya itu ternyata salah saat kalimat lainnya meluncur diiringi dengan kekehan samar di akhir kalimatnya.

"Kamu masih ga nyangka kan Keisya sudah sebesar itu?" Gunawan kembali menoleh ke arah Bastian. Senyumnya yang khas tersungging lebar, seolah bangga dengan ucapannya, sekaligus lucu dengan reaksi yang di tunjukan Bastian saat melihat putrinya.

Ekspresinya itu tidak berubah sejak pertama kali Bastian tiba di rumah mereka dan bertemu pertama kali dengan putrinya.

Campuran antara kaget, kagum dan tak percaya.

Itulah yang ia tangkap dari cara Bastian melihat Keisya.

Sudut bibir Bastian sedikit terangkat. Tubuhnya bersandar ke belakang, lalu menjawab dengan matanya yang tak bisa ia kendalikan untuk kembali menatap pada objek menarik sebelumnya.

"Anak kamu sangat cantik" ujarnya hampir berupa bisikan.

Kalimatnya itu lagi-lagi hanya ditanggapi senyuman geli oleh Gunawan.

Tanpa tahu jika ada makna lain dari perkataan tersebut.

Sedangkan Keisya yang sedang menjadi objek pembicaraan, sama sekali tidak mengetahui hal itu. Tapi mungkin karena terus menerus di perhatikan dalam waktu yang terlalu lama, ia akhirnya berpaling juga dari kedua adiknya dan menatap ke arah keberadaan Papa dan teman Papanya tersebut.

Ternyata feelingnya tepat. Kedua pria dewasa itu sepertinya tengah membicarakannya.

Dan yang pertama kali ia dapati adalah, sebuah tatapan intens yang berasal dari Om Bastian, diikuti anggukan kecil serta senyuman tidak biasa di bibirnya.

Jujur, saat itu ia tidak menaruh kecurigaan apapun. Ia bahkan membalas 'sapaan' itu dengan anggukan dan senyuman sopan, sebelum akhirnya kembali fokus pada kedua adiknya yang sudah lama tidak ia jumpai.

\=\=\=\=\=\=

Dua anak Bastian merasa aneh dengan ayah mereka.

Beberapa hari terakhir, sikap dan tingkahnya sangat berbeda dari biasanya.

Jika sebelumnya pria matang itu sangat acuh dengan penampilannya, kali ini justru berbeda.

Pakaian yang dikenakan akhir-akhir ini jauh lebih trendi. Jika sebelumnya hanya pakaian formal yang terkesan monoton, sekarang menjadi lebih bervariasi dan bergaya.

"Ayah mau kemana pake baju begitu?" Haikal—anak pertama Bastian tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Pria berusia 21 tahun itu sampai memindai naik turun memperhatikan sang ayah.

Pagi ini, saat mereka akan melakukan sarapan bersama, ayah mereka menjadi orang terakhir yang bergabung di meja makan. Dan kedatangannya langsung menimbulkan keheranan dalam benak mereka berdua.

Tidak ada kemeja, apalagi jas yang melekat pada tubuh atletis itu.

Hanya ada kaos putih polos yang di padukan dengan jaket kulit berwarna coklat. Rambutnya tidak tersisir rapi, aroma parfum mahal menyeruak kuat memenuhi seisi ruangan.

Sekali lagi, itu sama sekali bukan kebiasaan ayah mereka.

"Mau ketemu ibu, yah?" David—adik Haikal menebak. Namun pertanyaan remaja berusia 16 tahun itu langsung mendapatkan delikan tajam dari Bastian.

Tepat setalah pria matang itu duduk, suaranya yang berat dan penuh peringatan menggema tertuju pada anak keduanya.

"Jangan bahas wanita itu lagi di rumah ini!"

"Tapi yah,," David tidak bisa melanjutkan kalimatnya, terkejut dengan suara gebrakan meja, disusul dengan bangkitnya sang ayah dari tempat duduk, dan langsung memotong ucapannya dengan suara yang tak kalah keras dari sebelumnya.

"Kamu bisa pergi dari rumah ini!"

Haikal menghela napasnya samar. Ekor matanya melirik adiknya yang mulai menunduk takut. Ia sudah memperingatkan hal ini berkali-kali, tapi David tetap saja melakukannya, dan berujung memancing kemarahan ayah mereka.

"Di rumah ini, ayah yang punya aturan. Kalau kalian tidak suka, silahkan angkat kaki dari rumah ini. " ucapan tambahannya itu ditujukan pada keduanya. Matanya yang tajam melirik mereka satu persatu yang hanya diam, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut.

Hilang sudah nafsu makannya.

Setelah kepergian Bastian, ruang makan itu sempat hening beberapa saat. Haikal maupun David tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Namun untuk mencairkan situasi, Haikal berinisiatif untuk memulai pembicaraan, sekaligus menenangkan adiknya.

Tangannya menepuk pelan pundak David, "Jangan di ambil hati ucapan ayah. Kamu tahu sendiri ayah orangnya bagaimana" helaan napas panjang kembali ia hembuskan, lalu kembali menambahkan, "Lain kali jangan bahas ibu lagi di depan ayah. Kamu juga jangan menutup mata kalau semua ini bermula dari siapa"

David tidak menjawab, hanya merespon dengan sebuah tarikan napas panjang lalu menghembuskannya. Kepalanya masih menunduk, dengan pandangan yang tertuju pada piring berisikan sarapannya yang berserakan, dan sama sekali belum ia makan sedikitpun.

Faktanya, bukan hanya ayahnya yang langsung hilang nafsu makan setelah membahas ibunya, tapi ia pun mengalami hal yang sama.

Mereka sama-sama kecewa dengan semua yang terjadi. Tapi David tidak bisa membohongi dirinya sendiri, jika ia sangat merindukan wanita yang sudah melahirkannya tersebut.

\=\=\=\=\=\=

"Kei!"

Suara lantang dari belakangnya, membuat Keisya berhenti melangkah. Ia berbalik dan menemukan keberadaan Sisi—temannya, dengan seorang pria yang tidak ia ketahui namanya, sedang berjalan ke arahnya.

"Buru-buru amat, mau kemana sih?" Sisi kembali berbicara setelah berdiri tepat di hadapan Keisya, "Jangan bilang mau balik?" tebaknya.

Keisya mengangguk santai, "Ga ada kelas lagi. Salah kalau langsung balik?"

Sisi merotasi matanya malas, "Ga salah. Tapi ga harus langsung juga kan? Minimal nongkrong dulu lah. Cuaca sebagus ini, dan lo ga manfaatin?" tanyanya penuh dramatis. "Ngafe dulu lah minimal" Alisnya naik turun, sesekali ia melirik ke arah pria di sampingnya. Memberikan kode pada Kesya jika masih ada orang lain di sana.

Dan Keisya menyadari hal itu. Namun ia tidak melakukan apapun, mengingat namanya saja ia tidak tahu.

Berinisiatif bertanya?

Itu sama sekali bukan sifatnya.

Sisi berdecak keras. Kesal sekali dengan sifat sahabatnya yang satu ini. Jadi, daripada mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, akhirnya ia turun tangan sendiri.

"Ini kak Vincent, yang pertama kali bantuin kita waktu hari pertama masuk kuliah"ujarnya memperkenalkan, sekaligus mengingatkan.

Bantuan yang Sisi maksud adalah berupa bantuan kepada mereka berdua saat kesulitan mencari ruangan yang akan mereka tuju pada hari itu.

Dan Vincent, serta satu teman pria lainnya menawarkan diri untuk membantu.

Keisya sendiri hanya membuka sedikit mulutnya, mengangguk ringan sambil kembali melihat pada pria jangkung yang kini tengah tersenyum kepadanya.

Ia pun membalasnya, namun masih tidak mengatakan apa pun.

Bingung harus berbasa basi seperti apa.

Vincent mengulurkan tangannya, senyumnya yang tampan dan manis semakin tersungging lebar.

"Kita belum sempat kenalan sebelumnya, kan?" ujarnya.

Keisya melihatnya. Ia membalas uluran tangan itu.

"Vincent" lanjutnya sambil kembali menyebutkan namanya.

"Keisya, panggil aja Kei" balas Keisya dengan nada ramah. Pria ini kakak tingkatnya, tentu saja ia harus bersikap ramah, kan?

Kedua tangan bertaut itu bergerak kecil naik turun.

Tidak lama.

Beberapa detik setelahnya, jabatan tangan itu terlepas sepenuhnya.

Namun interaksi beberapa detik itu justru membuat pria matang yang berdiri tak jauh dari posisi mereka berada, sangat tidak menyukai hal tersebut.

Dari balik kacamata hitam yang dia kenakan, sorot matanya memancarkan kecemburuan yang sangat kentara, jika saja tidak ada penghalang yang menutupi sorot mata tersebut.

Bahkan pria yang sedang bersamanya saja tidak menyadari hal itu, dan masih tetap berbicara tentang lingkungan universitas tersebut.

Sisi masih dengan senyum tengilnya kembali berbicara, yang di tujukan kepada temannya.

"Kak Vincent katanya mau traktir. Gimana?"

Keisya sedikit melebarkan matanya, "Traktir?"

Sisi mengangguk cepat. Begitu pula dengan Vincent dengan senyum penuh artinya, seolah membenarkan ucapan Sisi sebelumnya tentang respon seperti apa yang akan di tunjukan Kesya jika mendengar hal-hal berbau 'gratis'.

Apalagi jika itu tentang makanan.

Senyum Keisya semakin mengembang. Kepalanya mengangguk berulang, matanya melirik Vincent, "Seriusan kak?"

"Hm, serius" jawabnya cepat "Kamu bebas pesan apa aja. Mau, kan?"

Seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung pada tujuan utamanya.

Dalam rangka mendekati Keisya.

Mahasiswi baru yang berhasil menarik perhatiannya.

Dan respon berupa anggukan persetujuan, seolah angin segar untuknya. Berpikir jika setelah ini kesempatnya pasti akan semakin terbuka lebar.

Namun...

"Keisya!"

Suara berat dari arah belakang mereka bertiga, berhasil menghentikan langkah kaki mereka, yang bahkan belum sepenuhnya melangkah dari posisi mereka berdiri sebelumnya.

Keisya, Vincent, dan Sisi langsung berbalik.

Keisya menyipitkan matanya, sangat mengenali pria yang sedang berjalan dengan aura mencekam di sekitarnya itu, kearahnya?

"Om Bastian?"

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!