Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IMPIAN DAN HARAPAN
Matahari pagi menyinari halaman rumah Kakek Darmo dengan cahaya yang hangat dan penuh harapan. Evan duduk bersila di bawah pohon beringin yang sudah menjadi tempat kedua baginya, menyelesaikan latihan meditasi pagi sebelum memulai aktivitas hariannya. Udara segar kampung terasa nikmat di paru-parunya, sementara suara burung berkicau dan aliran air sungai di kejauhan menciptakan irama alam yang menenangkan.
Setelah menyelesaikan meditasi, Kakek Darmo datang dengan membawa secangkir teh jahe hangat yang sudah ia seduh sendiri. Mereka duduk bersama di bawah pohon, menikmati teh sambil melihat pemandangan sawah yang hijau dan subur di sekitar kampung.
"Kamu tampak sedang banyak berpikir hari ini, cucu," ujar Kakek Darmo dengan tatapan yang penuh perhatian. "Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan kan?"
Evan mengangguk perlahan, menatap jauh ke arah ufuk timur di mana matahari mulai naik lebih tinggi. "Ya, Kakek. Saya sudah memikirkan banyak hal tentang masa depan saya belakangan ini."
Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Seperti yang kamu tahu, orang tua saya ingin saya melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi yang baik agar bisa memiliki masa depan yang lebih baik. Dan saya sendiri juga merasa ingin terus belajar dan mengembangkan diri. Baru-baru ini, saya punya sebuah rencana – saya ingin melanjutkan kuliah kedokteran."
Kakek Darmo mengangguk dengan senyum yang penuh pemahaman, tanpa mengganggu Evan agar bisa menyampaikan semua pikirannya.
"Saya tahu bahwa ilmu kedokteran modern memiliki banyak kelebihan – teknologi yang canggih, pengetahuan ilmiah yang mendalam, dan cara pengobatan yang sudah terbukti efektif," lanjut Evan dengan suara yang jelas dan penuh tekad. "Namun saya juga menyadari bahwa ilmu pengobatan tradisional yang Anda ajarkan padaku memiliki nilai yang tak ternilai harganya – terutama dalam pengobatan penyakit kronis, pencegahan penyakit, dan juga dalam memberikan perawatan yang terjangkau bagi masyarakat yang tidak mampu mengakses layanan kesehatan modern."
Ia melihat langsung ke mata Kakek Darmo dengan tatapan yang penuh keyakinan. "Jadi saya punya impian, Kakek – saya ingin menggabungkan kedua ilmu ini menjadi satu. Saya ingin menjadi dokter yang tidak hanya menguasai ilmu kedokteran modern namun juga menghargai dan mengerti ilmu pengobatan tradisional. Saya ingin menciptakan cara pengobatan yang lebih komprehensif dan manusiawi, yang memperhatikan bukan hanya gejala penyakit namun juga kondisi keseluruhan pasien dan hubungan mereka dengan alam sekitar."
Kakek Darmo tersenyum dengan bangga, menepuk bahu Evan dengan lembut. "Itu adalah impian yang sangat mulia, cucu. Sejak kamu mulai belajar dari saya, saya sudah melihat potensi besar dalam dirimu – bukan hanya dalam kemampuanmu untuk menguasai ilmu yang saya ajarkan, namun juga dalam visi kamu tentang bagaimana ilmu itu bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang."
Ia mengambil sehelai daun temu putih dari saku sarungnya, memegangnya dengan hati-hati. "Leluhur kita dulu juga selalu berharap bahwa ilmu pengobatan tradisional yang mereka pelajari bisa berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas. Mereka tahu bahwa dunia terus berubah dan kita harus bisa beradaptasi dengan perubahan tersebut tanpa harus meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi pondasi ilmu kita."
Kakek Darmo berdiri dan mengajak Evan untuk berjalan ke kebun obat yang sudah ia kelola selama puluhan tahun. Di sana, berbagai jenis tanaman obat tumbuh dengan subur – dari jahe, kunyit, temu lawak, hingga tanaman yang lebih langka seperti pegagan, kumis kucing, dan sambiloto.
"Saya akan membantu kamu dalam segala cara yang saya bisa untuk mewujudkan impianmu itu," ujar Kakek Darmo sambil menunjukkan tanaman-tanaman di kebunnya. "Saya akan mengajarkan kamu semua yang saya ketahui tentang ilmu pengobatan tradisional – mulai dari cara mengidentifikasi tanaman yang benar, cara mengolahnya dengan tepat, hingga cara menggabungkannya dengan perawatan medis modern secara aman dan efektif."
Ia melanjutkan, "Selain itu, saya juga akan memberikan kamu semua buku-buku kuno yang saya miliki dan catatan pribadi saya tentang pengalaman saya selama ini. Ini akan menjadi dasar yang kuat untuk kamu dalam melakukan penelitian lebih lanjut dan mengembangkan ilmu pengobatan yang lebih baik di masa depan."
Evan merasa hati nya penuh dengan rasa syukur dan semangat. Ia tahu bahwa mewujudkan impian nya tidak akan mudah – ia harus belajar dengan sangat giat untuk bisa masuk ke fakultas kedokteran yang baik, menghadapi tantangan dari orang-orang yang mungkin tidak mengerti atau meragukan ide nya untuk menggabungkan ilmu tradisional dan modern, serta bekerja keras untuk membuktikan bahwa konsep tersebut bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.
Namun dengan dukungan dari Kakek Darmo, orang tuanya, dan teman-teman seperti Rina, ia merasa bahwa dirinya memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi semua tantangan tersebut. Rina sendiri sudah mendengar tentang rencana Evan dan sangat mendukungnya – bahkan dia juga berencana untuk melanjutkan kuliah ke jurusan kedokteran gigi atau farmasi agar bisa membantu Evan mewujudkan visi nya.
"Saya sangat mendukung kamu, Evan," ujar Rina ketika mereka bertemu di sekolah beberapa hari kemudian. "Gagasan untuk menggabungkan ilmu tradisional dan modern itu sangat cerdas. Banyak negara di dunia sudah mulai menyadari pentingnya pengobatan komplementer seperti itu, dan saya yakin kamu bisa menjadi orang yang membawa perubahan positif dalam dunia kesehatan di Indonesia."
Selama beberapa bulan berikutnya, Evan semakin giat belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya setelah sekolah untuk belajar di perpustakaan atau mengikuti les tambahan untuk mata pelajaran yang dianggap sulit. Namun dia tidak pernah meninggalkan waktu untuk melatih ilmu beladiri dan pengobatan dengan Kakek Darmo setiap malam – malah ia semakin tekun karena menyadari bahwa kedua ilmu tersebut akan menjadi bagian penting dari masa depannya.
Pada suatu malam ketika mereka sedang berlatih teknik pertahanan yang lebih kompleks, Kakek Darmo berhenti sejenak dan melihat Evan dengan tatapan yang penuh kasih sayang dan bangga. "Kamu telah tumbuh menjadi orang yang sangat berbeda dari anak muda yang pertama kali melihat saya berlatih di bawah pohon ini beberapa tahun yang lalu, cucu," ujarnya dengan suara yang penuh makna. "Kamu tidak hanya menguasai ilmu yang saya ajarkan padamu namun juga memiliki visi yang jelas tentang bagaimana menggunakan ilmu itu untuk kebaikan masyarakat."
Ia mengambil kalung batu giok yang selalu dikenakan Evan, menyentuhnya dengan lembut sebelum melanjutkan. "Warisan yang diberikan kepadamu bukan hanya tentang ilmu beladiri atau pengobatan semata – ia adalah tentang cara hidup yang penuh dengan penghormatan terhadap kehidupan, rasa tanggung jawab terhadap sesama, dan tekad untuk selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik. Saya yakin bahwa kamu akan membawa warisan ini ke tingkat yang lebih tinggi dan membuat leluhur kita bangga."
Evan merasa mata nya sedikit berkaca-kaca mendengar kata-kata Kakek Darmo. Ia tahu bahwa perjalanan yang akan ia tempuh masih panjang dan penuh dengan tantangan, namun ia juga yakin bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah langkah yang benar dan penuh makna.
Di bawah naungan pohon beringin yang telah menyaksikan banyak generasi sebelum dirinya, Evan merasa bahwa dirinya sudah siap untuk menghadapi masa depan dengan penuh harapan dan semangat. Ia melihat ke arah langit malam yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang, seolah masing-masing bintang itu mewakili impian dan harapan nya untuk masa depan – impian untuk menjadi dokter yang bisa menggabungkan ilmu tradisional dan modern, harapan untuk bisa membantu banyak orang yang membutuhkan, dan tekad untuk selalu menjaga nilai-nilai yang diajarkan oleh leluhurnya.
Dan seperti pohon beringin yang terus tumbuh besar dan kuat serta memberikan manfaat bagi banyak orang, Evan merasa bahwa dirinya telah siap untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri – untuk menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan inovasi, dan untuk membawa harapan baru bagi dunia kesehatan yang semakin kompleks namun juga penuh dengan peluang untuk perubahan yang positif.