Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Romeo mengepalkan tangannya hingga telapak terasa panas, dadanya bergemuruh ingin meluapkan kemarahan pada Alya. Namun, di hadapan Akram yang jelas menunjukkan minat pada istrinya, amarah itu harus dia tahan. Satu hal yang tak bisa ia pungkiri. Alya jelas cemburu padanya.
“Jangan buang-buang kata, Tuan Akram.” geram Romeo, rahangnya menegang, nadanya penuh amarah.
Akram hanya melempar senyum yang membuat bulu roma Romeo berdiri, sadar benar bahwa pria di hadapannya ini sedang diliputi rasa cemburu.
“Beritahu aku, Tuan Akram apa yang harus kulakukan agar suamiku tak lagi ikut campur?” Alya menatapnya dengan tatapan tegas.
“Tanya saja pada suamimu, Nona. Itu bukan hakku. Biarkan dia yang membalas bukankah seharusnya korban yang menuntut balas?” cibir Akram, senyumnya menyiratkan kepuasan.
Alya menghembuskan napas panjang, menyadari betapa beraninya dirinya tadi. Seketika, ingatannya tertuju pada perjanjian yang baru saja dibuat dengan Romeo dan rasa bersalah mulai merayap di hatinya.
“Ya ampun, habislah aku!” rutuknya.
“Silakan lakukan apa pun jika Anda ingin menuntut balas padanya, Tuan Akram. Percayalah, aku pun ingin melakukan hal yang sama demi anakku. Namun aku tak bisa gegabah keselamatan keluargaku jauh lebih penting, setelah ini, jangan libatkan aku dalam urusan apa pun. Aku sudah memutus semua kaitan dengannya.” ucap Romeo dingin.
“Baik. Kesepakatan ini kita anggap sah,namun jika suatu hari Anda berubah pikiran dan memilih untuk membalasnya, cukup katakan padaku. Aku akan berada di pihakmu untuk itu.” ujar Akram tenang.
“Hmm… terima kasih atas semuanya,sampaikan padanya, semoga dia merasakan akibat dari apa yang telah dilakukannya pada anakku. Sepertinya, pertemuan ini sudah cukup kita akhiri di sini.” ucapnya pelan, namun tegas.
Akram menangkap maksudnya dan mengangguk pelan. Setelah itu, ia menjabat tangan Romeo dengan tegas, sambil melemparkan satu kedipan pada Alya yang membuat udara di sekitar mereka semakin tegang.
“Semoga penglihatanmu tidak cepat hilang, Tuan Akram.”nada suaranya dingin dan menusuk.
“Maaf, Romeo tapi istrimu sungguh memikat.” ucapnya, nada suaranya penuh godaan.
“Dia hanya milikku.” Sorot mata tajam Romeo nyaris membakar.
“Semoga pernikahan kalian berjalan lancar, aku sungguh berharap begitu.” ucapnya, nada suaranya hangat namun menyimpan jarak.
Romeo segera berbalik dan melangkah pergi, menuntun Alya menjauh dari tempat itu.
“Sepertinya kau lupa janji kita, ya?” sindir Romeo, sambil melangkah mendekat Alya dengan tatapan menantang.
“Maafkan aku, Tuan aku benar-benar salah.” ujar Alya, suaranya penuh rasa bersalah.
Romeo tetap diam, matanya menatap lurus ke depan dengan tajam seolah menembus ruang dan waktu. Alya merasakan gelombang rasa bersalah membanjiri hatinya dia tak pernah menyangka kata-katanya tadi bisa keluar begitu saja.
“Ya Tuhan jangan biarkan dia marah lagi!” gumam Alya di dalam hati, napasnya tercekat penuh kecemasan.
Saat tiba di hotel tempat mereka menginap, Alya terdiam bingung. Romeo melangkah masuk begitu saja, tanpa sekalipun memberikannya kunci kamar.
“Tuan kunci kamarku di mana?” bisik Alya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan.
Alya nyaris gemetar menghadapi tatapan Romeo, bahkan kata-katanya pun terhambat. Ia menundukkan kepala, menatap lantai dengan hati yang bergelora.
“Sudah ada padaku.” jawabnya, nada suaranya dingin namun pasti.
Alya menengadah, matanya tertuju pada Romeo yang mengangkat tangan kanannya, menggenggam keycard kamar hotel dengan penuh kepastian.
“Bukankah seharusnya itu milik Tuan?” tanya Alya, matanya menyiratkan kebingungan.
“Ini milik kita.” ucapnya, nada suaranya dalam dan meyakinkan.
“Hah jadi ini milik kita.” gumam Romeo, membuat tenggorokan Alya serasa tercekat dan napasnya tertahan.
“Semua kamar di hotel ini sudah terisi, Alya hanya tersisa satu, dan malam ini kita akan tidur bersama.” ujar Romeo dengan nada tegas, membuat Alya ternganga tak percaya.
Tanpa menunggu jawaban dari Alya, Romeo melangkah keluar dari lift begitu sampai di lantai tujuan. Untungnya, Alya menyadari suaminya sudah pergi, sehingga ia segera berlari mengejarnya.
Bruk!
Alya tersungkur saat berlari mengejar Romeo, padahal jaraknya sebenarnya tak terlalu jauh. Romeo, yang sebelumnya bersikap acuh dan masih kesal, tiba-tiba menoleh ke belakang dan terbelalak melihat istrinya jatuh begitu saja di lantai.
“Ahhh…” geram Alya pelan saat berusaha bangkit dari lantai.
Menyadari Alya tidak baik-baik saja, Romeo melangkah cepat mendekatinya. Matanya berkeliling, memastikan tak ada seorang pun yang menyaksikan posisi Alya yang rentan, terutama karena dressnya yang menyingkap tubuhnya.
“Tuan…” bisik Alya serak, suaranya nyaris menahan tangis.
Tanpa menunggu jawaban, Romeo mengangkat Alya dengan gaya bridal style. Wajahnya tetap datar dan dingin, tanpa sepatah kata pun keluar. Alya merasa makin bersalah, ia ingin menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, tapi rasa canggung membuatnya menahan diri.
Dengan langkah tegas, Romeo membuka pintu kamar hotelnya yang bertuliskan President Suite. Satu tangan menekan gagang, sementara kaki kanannya mendorong pintu, menampilkan sikapnya yang penuh percaya diri.
“Tuan maafkan aku.” bisik Alya lagi, suaranya bergetar saat Romeo menempatkan tubuhnya di atas ranjang king size itu.
“Jangan coba-coba bangun dulu. Duduklah di situ sebentar dan istirahat.” perintah Romeo dengan suara rendah dan penuh wibawa.
Tanpa menolak, Alya menurut kali ini. Kakinya benar-benar nyeri jangankan turun, menggerakkannya saja membuatnya menahan sakit yang luar biasa.
“Tuan aku sungguh minta maaf.” bisik Alya lagi, suaranya bergetar penuh penyesalan.
“Diam saja, aku akan mengganti pakaianku. Nanti ada petugas kamar yang masuk membawa ahli reflexi untuk meredakan sakit kakimu.” jelas Romeo, lalu meninggalkan Alya begitu saja tanpa menoleh.
“Duh, serem banget ya wajahnya dingin kayak kulkas gitu.” gerutu Alya pelan, sambil menahan gemetar.
Lima menit berselang, petugas yang diminta Romeo datang. Mereka segera menangani kaki Alya yang terkilir, memberikan pijatan relaksasi hingga Alya mulai merasa lebih nyaman. Kini, ia sudah bisa menggerakkan kakinya sedikit demi sedikit.
Romeo duduk di sofa, menatap dari kejauhan sambil mengamati setiap gerakan terapis itu pada Alya, seolah ingin memastikan istrinya benar-benar merasakan pijatan itu.
Dua jam berlalu, dan kini hanya tersisa Romeo dan Alya berdua. Istrinya tertidur lelap, mungkin karena efek pijatan dan relaksasi yang ia terima sebelumnya, terlelap saat sore mulai merayap masuk.
Untuk pertama kalinya, Romeo menatap tubuh istrinya yang halus dan memikat. Meski tidak sepenuhnya terbuka, kaki jenjangnya, pundak, punggung, dan lengannya yang putih tampak jelas. Sebagai pria normal, pandangan itu membangkitkan hasrat yang selama ini tersembunyi dalam dirinya.
“Sial cuma lihat dia tidur, aku sudah begini.” gerutu Romeo dalam hati, napasnya tiba-tiba terasa lebih berat.
Romeo duduk merengut sendiri, menatap istrinya yang tertidur lelap. Sudah lama ia tak merasakan gairah seperti ini. Bahkan saat bersama Tania, meski mantan kekasihnya mengenakan pakaian menggoda dan berusaha menarik perhatiannya, Romeo tak bereaksi sama sekali.
Baru saja selesai mandi, Romeo ingin menyegarkan diri dengan air dingin. Namun ia benar-benar membenci situasi ini. Tanpa disadari, langkahnya mengarah ke ranjang, matanya menatap Alya seolah ia adalah buruannya.
“Mana terlihat cantik lagi!” geram Romeo, nada suaranya tajam namun penuh gairah.
Romeo menyingkirkan rambut Alya yang menutupi matanya. Aroma eukaliptus dan vanilla yang memancar dari tubuh istrinya membuatnya terpana, seolah kehilangan kendali sejenak.
“Sial, salah banget gue bawa dia ke sini sekarang gue yang susah sendiri!” gerutu Romeo dalam hati.
Matanya terus menempel pada Alya, dalam dan menahan sesuatu yang sulit diungkapkan. Sorot mata Romeo mulai menggelap, menyiratkan gairah yang menggelegak di dalam dirinya
Cup!
“Manisnya.” bisik Romeo sambil menempelkan satu kecupan lembut di bibir Alya.
Kemudian, Romeo menarik Alya lebih dekat, napas mereka beradu, dan ketegangan di antara mereka terasa semakin membara.
“Maaf ya, Alya sepertinya malam ini kita akan menambah anggota keluarga untuk si kembar.” bisik Romeo, nadanya rendah dan menggoda.