NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: JEBAKAN MANIS DI PAGI HARI

Sinar matahari Jakarta yang galak menyerbu lewat jendela floor-to-ceiling apartemen Rangga di SCBD, memantul di seprai sutra yang terasa lebih dingin daripada AC full blast. Livia membuka mata perlahan, merasakan sisa amarah semalam masih menggelegak di dada. Tapi hari ini bukan hari untuk menangis. Hari ini adalah hari untuk main catur ala Jakarta: sabar, licik, dan siap skakmat kapan saja.

"Selamat pagi, Champion."

Suara bariton Rangga terdengar dari ambang pintu kamar. Livia melirik—dan langsung menahan napas pura-pura. Rangga berdiri di sana tanpa kaus, hanya memakai celana training hitam yang menggantung rendah di pinggul. Rambutnya basah sisa mandi, berantakan ala cowok yang baru bangun tapi tetap tampan luar biasa. Aroma sabun mandi campur kopi tubruk yang ia pegang di tangan langsung menyerbu hidung Livia.

Livia tidak langsung bangun. Ia menarik selimut lebih tinggi, memasang muka "Amoi rapuh" yang biasa dipakai untuk minta maaf ke Mami kalau telat pulang arisan. Bahunya sengaja terekspos sedikit—pancingan klasik ala tips Vania.

"Ngga... aku mimpi buruk semalam," bisik Livia, suaranya sengaja dibuat serak seperti habis nangis semalaman. "Kayaknya Mateo masih menguntit aku. Apa aku benar-benar aman di sini?"

Rangga langsung mendekat, duduk di tepi kasur. Kasur ambles pelan di bawah berat badannya. Ia mengulurkan tangan, menyisir rambut Livia yang sengaja dibuat acak-acakan. Jari-jarinya hangat, gerakannya lembut—tapi Livia tahu, ini cuma topeng.

"Kamu aman banget di sini, Liv," gumam Rangga, suaranya rendah seperti bisik-bisik di warung kopi tongkrongan. Tangannya berpindah ke bahu Livia, memijat pelan-pelan. Gerakan itu bikin bulu kuduk Livia meremang—bukan karena takut, tapi karena tahu ini bagian dari permainan dia juga. Napas Rangga agak berat saat jempolnya menyentuh kulit leher Livia, membuat perut gadis itu bergetar nakal. "Tidak ada yang bisa menyentuh kamu tanpa seizinku. Bahkan mimpi buruk pun aku usir."

Pijatan itu terasa enak banget, tapi Livia tidak boleh goyah. Ia membalikkan badan, menatap Rangga dengan mata berkaca-kaca (akting level Oscar ala sinetron Indo). "Kalau aku minta lebih dari sekadar sarapan dan perlindungan, apa kamu bisa kasih, Ngga? Misalnya... kesetiaan ala 'janji suci' yang tidak bisa diganggu gugat?"

Rangga berhenti memijat sejenak. Matanya menyipit, tapi ada senyum tipis di bibirnya—senyum yang bikin Livia hampir lupa kalau pria ini lagi memainkan dia. "Kesetiaan itu mahal harganya, Liang. Lebih mahal daripada saham pelabuhan mana pun. Tapi buat kamu... kita bisa nego syarat-syaratnya. Kopi dulu yuk?"

Livia tersenyum manis dalam hati. Nego? Oke, kita nego pakai cara Jakarta: siapa yang lebih sabar, dia yang menang.

Begitu Rangga ke dapur buat pancake (ya Tuhan, pria ini bahkan bisa masak), Livia langsung menyambar ponsel dari balik bantal. Grup chat "Liang Empire" sudah meledak seperti pasar Tanah Abang pas diskon.

GROUP CHAT: LIANG EMPIRE (3)

Vania: LIVVV! Kamu masih hidup kan, Dek? Gimana malam tadi? Sudah kamu "cobain" si Pangeran belum? Gue bilang juga, cowok kayak Rangga itu mirip angkot Jakarta—kelihatannya kalem dan rapi, tapi kalau sudah di jalan tol, ngebutnya minta ampun! 😏

Sherly: Cici, stop deh. Livia lagi perang, bukan lagi cari driver ojek. Liv, gue dengar dari Tante Mei, keluarga Adiwinata lagi gerak cepat buat merger saham pelabuhan kita. Kamu harus tetap nempel seperti perangko. Jangan lepas!

Vania: Eh iya, gue sudah kirim kurir ke lobi. Paket "darurat cewek Jakarta". Buka ya!

Livia: Paket apa lagi sih, Ci? Gue lagi akting "Amoi rapuh" nih, jangan bikin gue ketawa.

Sherly: Bukan kondom, tenang. Ini jimat "minyak pengasih" dari dukun Thailand yang gue kenal lewat arisan. Harganya lebih mahal daripada raket Victor kamu. Olesin di nadi kalau dia mulai bahas bisnis. Dijamin matanya cuma bisa lihat muka kamu, bukan lihat duit. Plus gue tambahin batu giok anti-selingkuh. Ala Fengshui Jakarta Selatan!

Vania: Kalau minyak tidak mempan, pakai lingerie hitam yang gue beliin kemarin. Warna hitam itu kan klasik Jakarta—misterius, tapi langsung bikin orang kepincut. GOOD LUCK, AMOI! Harga diri keluarga Liang ada di tangan kamu (dan di atas kasur Rangga kalau perlu)!!

Livia geleng-geleng sambil nyengir. Saudara-saudaranya memang gila banget—campuran party girl SCBD sama dukun Fengshui arisan. Tapi di tengah kekacauan ini, mereka satu-satunya yang bikin Livia tidak hilang akal.

Sarapan berlangsung seperti drama FTV: Rangga memotongkan buah, mengusap noda madu di bibir Livia dengan, dan tatapan yang seperti lagi bilang "kamu milikku".

"Aku harus keluar bentar," kata Rangga sambil lihat jam Rolex-nya. "Pertemuan bisnis mendadak. Kamu di sini saja ya, pintu aku kunci dari luar biar aman."

"Pertemuan bisnis?" Livia pura-pura polos. "Penting banget sampai aku dikurung seperti putri Rapunzel?"

"Hanya urusan keluarga, Liv. Tidak lama." Rangga mencium kening Livia—kecupan yang terasa seperti stempel "milik Adiwinata"—sebelum pergi dengan kemeja formal yang bikin dia tambah tampan kebangetan.

Klik. Pintu terkunci.

Wajah rapuh Livia langsung hilang. Ia melompat dari kasur, langsung ke ruang kerja Rangga. Sandi laptop? Gampang. Ia perhatikan semalam: koordinat lapangan bulu tangkis pertama kali mereka ketemu 10 tahun lalu. Romantis? Atau manipulasi? Whatever.

Folder: LIANG_HARBOR_DRAFT.

Livia buka. Napasnya sesak. Draf pengambilalihan saham PT Pelabuhan Liang lengkap, plus PDF "MARRIAGE CONTRACT - ADIWINATA & WULANDARI".

Livia buka dengan tangan gemetar. Pihak Kedua: Nadia Wulandari—anak konglomerat properti, keluarga "bersih" yang sering disebut-sebut di arisan Mami Rangga.

Tanggal nikah: Tiga bulan lagi. Pas setelah saham Liang pindah tangan.

Livia ketawa getir. "Jadi aku cuma tameng media sementara kamu nyiapin pelaminan sama Nadia Wulandari? Anak 'idaman' yang tidak pernah bikin malu di arisan?"

Ada rekaman suara tersembunyi. Livia play.

"...Papa tenang saja. Livia emosional, dia atlet, tidak mengerti bisnis. Begitu dia merasa aku satu-satunya pelindung, dia bakal tanda tangan apa saja. Setelah itu, Nadia bisa masuk."

Livia tutup laptop pelan. Ia berdiri di depan jendela, lihat pantulan dirinya. Bukan lagi Amoi rapuh. Ini Amoi yang siap perang.

Ia foto semua dokumen. Lalu ambil paket kurir dari lobi yang baru diantar (resepsionis naikkan). Botol kecil minyak pengasih dari Sherly, plus catatan: "Olesin kalau dia pulang. Dijamin lupa saham, cuma ingat kamu!"

Interkom apartemen bunyi. "Selamat siang, Kak Livia. Ada kiriman dari Ibu Vania. Dan... ada tamu perempuan yang maksa naik. Namanya Nadia Wulandari. Katanya dia pemilik asli apartemen ini dan mau ambil barang-barang pribadinya."

Livia pegang botol minyak pengasih, tersenyum dingin. "Bagus. Mari kita sambut calon Nyonya Adiwinata yang asli."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!