Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HILANGNYA SANG PELITA HATI.
Pagi di Surabaya seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Adam, udara terasa berat sejak pesan dari Ansel masuk semalam. Ia berdiri di balkon, sambil mengamati disekitar rumahnya, perasaannya bercampur aduk.
"Kau tidak tidur semalam?" Aurel muncul, menyampirkan jaket ke bahu Adam yang hanya mengenakan kaus hitam.
Adam berbalik, guratan lelah terlihat jelas di bawah matanya. "Aku punya firasat buruk, Adel. Irfan yang terdesak hutang adalah hewan liar yang terjepit. Dia bisa melakukan apa saja."
"Kau sudah menaruh orang untuk menjaga Kenjo di sekolah, kan?" tanya Aurel cemas.
"Sudah. Dua orang dari A-Games. Tapi tetap saja..." Belum sempat Adam menyelesaikan kalimatnya, ponselnya menjerit nyaring. Nama 'Rian' berkedip di layar.
"Bos! Gawat! Raffa... Raffa hilang!" suara Rian terdengar panik di seberang sana.
Jantung Adam seolah berhenti berdetak. "Apa maksudmu hilang? Di mana orang-orang kita?!"
"Tiba-tiba ada kericuhan di depan gerbang sekolah, sekelompok orang berpakaian preman menyerang pengawal kita. Saat suasana kacau, seseorang masuk lewat pintu belakang taman kanak-kanak dan membawa Raffa. Saksi mata bilang pelakunya adalah ayahnya sendiri, Irfan!"
Adam tidak sempat lagi menjelaskan pada Aurel. Ia menyambar kunci mobil, namun langkahnya terhenti di ruang tengah. Arumi berdiri di sana, wajahnya pucat pasi, tangannya memegang pegangan tangga dengan sangat kencang hingga buku jarinya memutih. Rupanya, ia mendengar teriakan Adam di telepon.
"Adam... Raffa... anakku di mana?" suara Arumi nyaris tak terdengar, gemetar hebat.
"Mbak... tenang dulu..." Adam mencoba mendekat.
"DI MANA ANAKKU, ADAM?!" jerit Arumi histeris. Ia jatuh terduduk di lantai, tangisnya pecah seketika. "Irfan akan membawanya! Dia akan menyakiti Raffa untuk membalas dendam padaku! Tolong, Adam... selamatkan Raffa!"
Aurel segera memeluk Arumi, ikut menangis merasakan perihnya hati seorang ibu. "Mbak, tenang. Adam akan menjemput Raffa. Adam pasti bisa."
Adam menatap kakaknya dengan mata yang berkilat tajam. "Aku bersumpah, Mbak. Jika seujung kuku Raffa terluka, aku sendiri yang akan mengubur Irfan. Tetaplah di sini bersama Adel." katanya lalu ia langsung pergi meninggalkan Aurel dan Arumi.
Adam melesat membelah jalanan Surabaya menuju lokasi terakhir yang terlacak dari ponsel lama Irfan yang sempat disadap oleh Rian. Di tengah jalan, ponselnya kembali bergetar. Kali ini panggilan dari nomor yang tak dikenal.
"Halo," suara Adam dingin, penuh ancaman.
"Jangan berteriak, Adik Ipar," suara Irfan terdengar serak dan gila di seberang sana. Di latar belakang, terdengar suara Raffa yang sedang menangis memanggil ibunya.
"Bajingan! Di mana kau bawa Raffa?!" bentak Adam, ia mencengkeram setir hingga terasa ingin patah.
"Aku butuh uang, Adam! Sepuluh miliar! Kelompok Subandi mengejarku, mereka tidak main-main dengan bunga hutang ini. Jika kau ingin keponakanmu selamat, bawa uang tunai itu ke gudang kontainer tua di Dermaga Utara dalam satu jam. Jangan lapor polisi, atau aku akan membawa Raffa pergi jauh dari negara ini!"
klik Sambungan terputus.
Adam segera menghubungi Ansel yang ternyata sudah berada di Surabaya sejak pagi tadi atas perintah rahasia Adam. "Ansel! Kau di mana?"
"Aku di belakang mobilmu, Bos! Aku sudah membawa tim keamanan tambahan. Rian juga sedang melacak titik koordinat pastinya!" teriak Ansel dari mobil di belakang. Meskipun Ansel konyol, dalam situasi hidup dan mati, ia adalah orang paling setia yang bisa diandalkan Adam.
Gudang kontainer itu tampak angker di bawah langit yang mulai mendung. Adam dan Ansel turun dari mobil, mengendap di antara tumpukan peti kemas raksasa. Dari kejauhan, tampak Irfan sedang berdiri di tepi dermaga, tangannya memegang tangan Raffa yang terus meronta. Di samping Irfan, berdiri dua orang pria berwajah sangar, seperti itu anak buah sisa-sisa kelompok Subandi.
"Mana uangnya?!" teriak Irfan saat melihat sosok Adam muncul dari balik kontainer.
"Lepaskan Raffa dulu, Mas! Uangnya ada di mobil!" sahut Adam.
"Jangan bohong padaku!" Irfan menarik Raffa lebih dekat ke tepian dermaga yang langsung menghadap ke laut dalam. "Aku tahu kau tidak membawa uang tunai sebanyak itu dalam waktu singkat! Kau pasti membawa polisi, kan?!"
"Ayah... sakit... Raffa mau pulang..." rintih anak kecil itu dengan suara yang serak karena terlalu banyak menangis.
Pemandangan itu menyayat hati Adam. "Mas Irfan, sadarlah! Dia anakmu! Dia darah dagingmu sendiri! Kau ingin menjadikannya tameng untuk hutang-hutang judimu?!"
"Ini semua karena kau, Adam! Kalau kau tidak mencampuri urusanku, aku tidak akan terdesak seperti ini!" mata Irfan tampak tidak waras. "Beri aku uangnya, atau kita semua tenggelam di sini!"
Tiba-tiba, salah satu pria di samping Irfan menodongkan pistol. "Cepat, Adam! Kami tidak punya banyak waktu. Uangnya atau anak ini mati!"
Adam memberi kode pada Ansel lewat gerakan mata. Ansel yang berada di sisi lain kontainer segera bergerak melingkar. Adam mencoba mengulur waktu.
"Baik! Baik! Aku akan ambil uangnya. Tapi biarkan Ragfa berdiri di sana, jangan pegang dia seperti itu. Dia ketakutan," ucap Adam sambil perlahan mendekat.
Saat Irfan lengah karena memperhatikan gerak-gerik Adam, Ansel melompat dari atas kontainer, menjatuhkan salah satu pria bersenjata. Suara letusan tembakan menggema di dermaga, membuat burung-burung beterbangan.
DOR!
Adam menerjang ke arah Irfan. "Lepaskan Raffa!"
Terjadi pergulatan sengit. Irfan yang kalap mencoba mendorong Adam menuju tepian. Raffa terlepas dan berlari menjauh, bersembunyi di balik tumpukan kayu. Adam melayangkan pukulan keras ke wajah Irfan.
"Ini untuk Mbak Arumi!" BUGH!
"Ini untuk semua kebohonganmu!" BUGH!
Irfan tersungkur, namun ia tertawa mengerikan. "Kau terlambat, Adam... Kelompok Subandi tidak akan berhenti begitu saja. Mereka juga akan mengincar istrimu... Aurel akan menjadi target selanjutnya!"
Adam terdiam sejenak, darahnya membeku mendengar ancaman itu. Di saat itulah, polisi yang dipanggil Rian menyerbu masuk ke area dermaga. Irfan dan kelompok preman itu terkepung.
Adam segera berlari ke arah Raffa, memeluk anak kecil yang gemetar itu dengan erat. "Sudah, Raffa... Om Adam di sini. Kita pulang ya, sayang..."
Raffa memeluk leher Adam erat, berikut isak tangis yang mulai mereda. Adam berdiri, menatap Irfan yang sedang diborgol oleh petugas. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan, melainkan rasa muak yang tak terhingga.
Namun, di tengah kelegaan itu, Adam teringat ucapan Irfan. Aurel akan menjadi target selanjutnya.
Ia segera merogoh ponselnya, menghubungi rumah. Tidak ada jawaban. Ia menghubungi ponsel Aurel. Nada sambung berbunyi berkali-kali, namun tidak diangkat.
"Ansel! Jaga Raffa! Aku harus pulang sekarang!" teriak Adam panik.
Perasaannya mendadak tidak enak. Ternyata, penculikan Ragfa hanyalah pengalihan untuk menjauhkan Adam dari rumah, agar seseorang bisa masuk dan mengambil sesuatu yang jauh lebih berharga bagi Adam.