Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kinanti menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. Pesan terakhirnya pada Rafka hanya dibaca, tanpa balasan. Teleponnya tak lagi diangkat. Bahkan alasan yang dulu selalu ampuh kini terasa hampa.
“Lagi-lagi alasan anak,” gerutunya kesal.
Rafka kini sering berdalih soal Gita. Tentang anak itu yang ingin ditemani. Tentang malam yang harus dihabiskan di rumah. Tentang tanggung jawab yang tiba-tiba diingatnya kembali.
“Munafik,” desis Kinanti.
Wanita itu berjalan mondar-mandir di kamar, pikirannya bergejolak. Kinanti bukan perempuan yang terbiasa ditinggalkan tanpa penjelasan. Selama ini, ia merasa memegang kendali. Merasa menjadi pusat perhatian. Merasa selalu dipilih.
Namun, sekarang posisinya tergeser. Tatapan Kinanti berubah dingin.
Jika Rafka tidak datang padanya, maka dia yang akan datang menghampiri sumber masalahnya.
Sore itu, Kirana sedang membereskan bekas dagangannya di depan rumah. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tetap fokus. Sejak beberapa hari terakhir, ia menambah jam jualan. Bangun lebih pagi, pulang lebih malam.
Setiap lembar uang yang ia kumpulkan bukan lagi untuk tabungan bersama, melainkan untuk bertahan hidup dan membebaskan diri. Biaya gugatan cerai tidak kecil. Biaya hidup ke depan juga tidak ringan. Namun, Kirana tidak mengeluh.
Ia hanya bekerja lebih keras.
Ketika sebuah motor berhenti di depan rumah, Kirana menoleh sekilas. Awalnya ia tidak terlalu peduli, sampai sosok itu turun dengan langkah percaya diri. Kinanti menuntun Ara dan membawa tas berukuran sedang yang sering di bawa jika akan menginap.
Jantung Kirana berdegup, tetapi wajahnya tetap datar.
“Gita, Ara datang, nih,” sapa Kinanti dengan senyum tipis yang terasa palsu.
Kirana menatap dingin. “Ada perlu apa?”
Kinanti menoleh ke dalam rumah.
“Gita dan Rafka mana?”
“Ada di dalam.”
Kinanti mengangguk pelan. “Aku ke sini sama Ara. Katanya Ara kangen Gita, mau menginap.”
Alasan itu terdengar rapi dan natural. Kirana menatap Kinanti lurus-lurus.
“Gita sedang belajar.”
Kinanti tersenyum lagi, kali ini lebih tajam.
“Kasihan sekali Gita. Anak seusia itu harus sering mendapatkan tekanan dari mamanya.”
Kalimat itu bukan basa-basi. Itu serangan.
Kirana mengepalkan tangan di balik celemeknya.
“Kalau tidak ada urusan penting, sebaiknya Mbak pulang.”
Kinanti mengangkat bahu seolah santai. “Aku cuma peduli sama kalian. Soalnya, Rafka akhir-akhir ini kelihatan stres.”
Lalu, Kinanti mendekat setengah langkah. “Laki-laki itu kalau tertekan di rumah, biasanya cari tempat lain buat bernapas.”
Darah Kirana berdesir. Namun, ia tidak terpancing. “Urusan rumah tangga kami bukan konsumsi siapa pun,” ucapnya tegas. “Termasuk kamu, Mbak.”
Senyum Kinanti memudar, berganti tatapan penuh perhitungan. “Oke,” katanya pelan. “Aku cuma mau bilang, hati-hatilah sebelum kehilangan dan dia benar-benar melepaskan.”
“Ara, ayo, pulang! Kita tidak jadi menginap. Tante Kinara sudah mengusir kita,” ucap Kinanti.
“Yaaah, aku tidak jadi main sama Om Rafka, dong, Ma.” Ara terlihat kecewa.
“Siapa yang mengusir kalian? Aku tidak pernah bicara begitu,” balas Kirana kesal.
“Tidak perlu kata-kata,” ujar Kinanti, “sudah kelihatan, kok, dari wajah kamu yang tidak suka dengan kedatngan kami ke sini.”
Setelah itu, Kinanti pergi meninggalkan hawa dingin yang lama tidak menguap.
Kirana berdiri terpaku. Ia tahu, sejak hari itu, perang sunyi telah dimulai.
Hari-hari berikutnya, Kirana semakin tenggelam dalam rutinitas. Dia semakin rajin promosi makanan jualannya, mencatat pesanan, mengantarkan, dan menghitung uang pendapatan harian.
Memang itu semua sangat melelahkan, tetapi Kirana harus menahannya. Ia jarang menangis lagi. Bukan karena tidak sakit, melainkan karena tidak ada waktu untuk runtuh.
Kinanti tidak pernah terbiasa kalah. Sejak kecil, apa yang dia inginkan harus didapatkan. Dia pun sering menginginkan milik Kirana, termasuk Rafka.
Maka ketika pria itu mulai menjauh, jarang membalas pesan, bahkan menolak bertemu dengan alasan rumah dan anak, sesuatu yang gelap tumbuh di dadanya. Cemburu berubah menjadi dendam.
“Kalau kamu tidak bisa memilih dengan baik,” gumam Kinanti sambil menatap bayangan dirinya di cermin, “aku yang akan memaksamu memilih.”
Kinanti mulai mengatur segalanya dengan rapi. Tangis dibuat, kesedihan direkayasa, suara bergetar dilatih sempurna. Kinanti tahu betul titik lemah Rafka, yaitu rasa bersalah.
Suatu hari, Kinanti mengirim pesan singkat.
[Aku tidak baik-baik saja. Aku benar-benar butuh kamu. Sekali ini saja.]
Rafka membaca pesan itu berulang kali. Dadanya sesak. Sejak pertengkaran dengan Kirana, hidupnya seperti rumah tanpa dinding. Semua terasa sepi dan dingin, bahkan dirinya sendiri tidak tahu apa yang harus diperbuat agar bisa merasakan kebahagiaan.
Akhirnya Rafka datang ke rumah Kinanti, sepulang kerja. Keadaan rumah itu sunyi. Aroma yang begitu dikenalnya menyergap indra. Kinanti menyambutnya dengan wajah lelah, mata sembab, seolah dunia sedang runtuh di pundaknya.
“Mas datang,” bisik Kinanti, suaranya bergetar.
Rafka mengangguk kaku. “Aku cuma mau bicara.”
Namun, kata-kata sering kali kalah oleh perasaan yang belum selesai. Dalam keheningan itu, Kinanti mendekat, menangis di dadanya. Rafka memejamkan mata dan untuk sesaat, melupakan semua yang sedang hancur di rumahnya.
“Ara, mana?” tanya Rafka.
“Dia lagi les,” jawab Kinanti yang tangannya tidak diam menggoda tubuh Rafka.
Pria itu tidak tahu, kalau sebuah ponsel telah diletakkan dengan sudut tertentu. Merekam kegiatan panas mereka. Mengabadikan pengkhianatan yang tak lagi bisa disangkal.
Malam itu, setelah Gita tertidur, Kirana duduk di tepi ranjang anaknya. Menatap wajah kecil yang tampak lebih kurus, lebih sunyi.
“Gita,” panggil Kirana pelan.
Gita membuka mata.
“Iya, Ma?”
Kirana mengusap rambut anaknya dengan hati-hati.
“Kalau Mama sama Papa tidak tinggal bersama lagi, Gita mau ikut siapa?”
Gita terdiam cukup lama. Jelas sekali gadis kecil itu sedang berpikir keras. Bukan karena pilihan yang diberikan mamanya, namun dia berpikir kebersamaan keluarga mereka tidak akan ada lagi di masa depan.
“Tentu saja aku mau ikut Mama,” jawabnya akhirnya. “Ke mana pun Mama pergi.”
Hati Kirana mencelos.
“Kamu yakin?” suaranya bergetar. “Ini berat, loh.”
Gita mengangguk. “Papa berubah, Ma. Aku merasa kalau Papa tidak sayang lagi padaku. Tapi sama Mama, aku aman dan nyaman.”
Air mata Kirana jatuh satu-satu, membasahi tangan kecil itu. “Maafin Mama,” bisik Kirana. “Harusnya kamu nggak ikut ngerasain ini.”
Gita memeluk leher Kirana erat. “Aku nggak apa-apa, asal sama Mama.”
Malam itu, Kirana menangis dalam diam. Bukan karena ragu, melainkan karena ia tahu keputusan ini akan mengubah segalanya.
Pagi hari berikutnya, Kirana berdiri di depan Pengadilan Agama. Map berisi berkas ada di tangannya. Langkahnya mantap, meski dadanya sesak.
Setelah semua dilengkapi, petugas menerima gugatan itu dan memberi nomor perkara. Resmi sudah. Kirana kini bukan lagi istri yang menunggu perubahan, melainkan perempuan yang memilih keluar dari pengkhianatan.
Di luar gedung, Kirana menghela napas panjang.
Langit mendung, tetapi hatinya justru terasa sedikit lebih terang.
Di rumah lain, Kinanti menatap layar ponselnya dengan senyum tipis. Dia mengambil ponsel lainnya.
“Aku ingin tahu bagimana reaksi kamu setelah mendapatkan pesan ini,” ucap Kinanti dengan mata berkilat.
***
Hari Minggu ini kalian pada liburan, kah? Jika tidak, aku akan crazy up. Tinggalkan jejak, ya.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏