Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zat Afrodisiak
Keesokan harinya, pagi itu datang dengan cahaya yang terlalu cerah untuk sebuah hari yang dipenuhi niat busuk. Langit membentang biru tanpa cela, angin pagi berembus ringan membawa aroma dedaunan basah dan tanah yang masih dingin. Namun bagi Wu Zetian, ketenangan alam hanyalah selubung tipis yang menutupi badai yang menunggunya di depan.
Ia berdiri di halaman kecil kediamannya, memeriksa kembali barang-barang yang telah ia siapkan. Setiap benda dimasukkan ke dalam tas kain dengan perhitungan matang. Tangannya bergerak tenang, tetapi sorot matanya tajam, penuh kewaspadaan.
Wu Zetian menaiki kudanya. Dengan satu sentakan tali kekang, kuda itu mulai melaju, membawa dirinya menjauh dari kediamannya.
Perjalanan itu terasa begitu melelahkan baginya. Jalanan menuju kediaman Perdana Menteri tidak semulus yang ia bayangkan. Berkali-kali ia harus berhenti, menahan kudanya, dan bertanya pada penduduk sekitar. Ada yang menunjuk dengan ragu, ada yang memberikan arah yang berbelit, bahkan ada yang sekadar menggeleng tak tahu.
Beberapa kali ia masuk ke jalan yang salah, berujung kembali ke persimpangan yang sama. Peluh mulai membasahi pelipisnya, namun Wu Zetian tidak membiarkan rasa lelah itu menguasainya.
_________________
Dua jam penuh akhirnya terlewati. Gerbang kediaman Perdana Menteri Wu Zheng berdiri megah di hadapannya. Pilar-pilar batu besar menjulang angkuh, seolah menghakimi siapa pun yang datang. Di sanalah pusat dari segala rasa sakit yang Wu Zetian dahulu terima.
Wu Zetian turun dari kudanya. Tidak ada sambutan. Tidak ada senyum basa-basi. Bahkan tak ada pelayan yang berpura-pura ramah. Ia melangkah masuk dengan tenang, seolah tempat itu hanya sekadar bangunan kosong tanpa arti.
Di depan pintu utama, ia berhenti dan menatap penjaga yang berdiri tegak.
“Panggil tuanmu itu kemari dan katakan padanya bahwa anak yang ia asingkan telah tiba di kediaman.” ucapnya dingin.
Kalimat itu bukan permintaan. Itu pernyataan. Penjaga itu tersentak. Ia menatap Wu Zetian dengan ragu, menimbang-nimbang apakah gadis di hadapannya hanya orang gila atau benar-benar seseorang yang berbahaya. Namun tatapan Wu Zetian terlalu tajam untuk diabaikan.
“Baik, nona,” jawabnya akhirnya, lalu bergegas masuk.
Wu Zetian berdiri menunggu, tak bergerak sedikit pun. Dua menit berlalu, akhirnya pintu aula kediaman terbuka.
Wu Zheng muncul.
Wajahnya tenang, posturnya tegap, namun di balik ketenangan itu tersembunyi tatapan dingin khas orang yang terbiasa memegang kendali. Ia memandang Wu Zetian dari ujung kepala hingga kaki, seolah menilai sosok yang kini berdiri di depannya.
“Kau sudah datang ternyata, masuklah.” ucapnya singkat.
Wu Zetian tidak membungkuk. Tidak memberi hormat. Ia melangkah masuk melewatinya tanpa sepatah kata. Aula kediaman itu luas, berkilau, dan penuh kemewahan. Namun kemegahan itu terasa hampa di mata Wu Zetian.
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Dia…” “Itu bukannya nona kedua ya? Wu Zetian…” “Bukankah dua tahun lalu ia telah diasingkan?
Bisikan itu menjalar cepat, sampai akhirnya Selir Ketiga dan Wu Fanghua muncul dan berdiri di sisi Wu Zheng. Wu Fanghua melangkah maju dengan wajah ceria yang terlalu dibuat-buat.
“Akhirnya kau kembali, Kakak, aku sudah menunggumu sejak kemarin. Aku akan mengantarmu ke kamar.” ucapnya manis. “
Ia mengulurkan tangan, hendak menggenggam tangan Wu Zetian. Namun Wu Zetian menepisnya dengan cepat.
“Tidak perlu,” katanya datar. “Terima kasih.”
Senyum Wu Fanghua langsung kaku, meski ia berusaha mempertahankannya.
Wu Zheng mengerutkan kening. “Ternyata memang benar kata Selir Li Hua, selama ini kau memang kasar kepada mereka." ucapnya tajam.
Wu Zetian menoleh perlahan. Tatapannya dingin, menusuk. Ia tidak peduli dengan tudingan itu.
“Tidak perlu berpura-pura baik padaku, dan tunjukkan saja jalannya. Bahkan aku sudah lupa bagaimana bentuk kamarku dulu.” ucapnya tenang namun penuh tekanan. Itu adalah bentuk sindiran halus dari Wu Zetian kepada menteri Wu Zheng namun otak Wu Zheng tidaklah sampai untuk mengerti kalimat itu.
Suasana mendadak tegang. Mereka akhirnya berjalan menuju sayap timur kediaman. Berhenti di depan sebuah kamar yang tampak rapi dan bersih.
“Ini kamarmu yang dulu, Wu Fanghua semalam menata ulang semuanya. Jadi berterima kasihlah padanya.” ujar Li Hua.
“Aku tidak pernah menyuruhnya,” jawab Wu Zetian tanpa menoleh. “Jadi tidak usah berlebihan.”
“Tidak apa-apa, Ibu, aku hanya berharap Kakak suka dengan tampak kamarnya sekarang.” sela Wu Fanghua lembut.
Wu Zetian mendengus pelan.
“Pergilah, aku ingin istirahat.” katanya singkat.
Mereka pun pergi. Di balik punggungnya, Wu Fanghua tersenyum licik.
Tidurlah. Dan jangan pernah bangun lagi.
_____________
Pintu kamar tertutup. Wu Zetian berdiri di tengah ruangan, tidak langsung duduk. Matanya bergerak cepat, menyapu setiap sudut. Ia tidak percaya apa pun di tempat ini.
Ia berjalan ke sudut lemari dan melihat sebuah kendi tertutup kain. Saat kain itu dibuka, ia melihat sebuah benda berkilauan dibaliknya. Ia pun tersenyum tipis.
“Hahaha... ini seperti lagu lama yang dimainkan kembali."
Ia kemudian mendekati ranjang. Buntalan-buntalan kecil terikat rapi di tiap sisi. Tangannya membuka salah satunya.
“Ini adalah campuran bahan aroma penenang dicampur racun penghilang kesadaran,” gumamnya dingin.
Ia mengambil semua buntalan tersebut dan menyimpannya ke dalam tas kain miliknya. Matanya menyipit, penuh tekad.
Wu Zetian tidak langsung menjauh dari ranjang setelah menemukan buntalan-buntalan mencurigakan itu. Ia tetap berdiri di tengah kamar, menahan napas, membiarkan keheningan menelan ruang tersebut. Ia kembali menelusuri kamar itu dengan lebih teliti.
Kali ini, langkahnya lebih pelan, hampir tak bersuara. Telapak kakinya menyentuh lantai kayu dengan kehati-hatian seorang pemburu. Matanya menyapu meja rias, rak buku, tirai jendela, hingga sudut-sudut langit-langit.
Lalu ia berhenti. Di atas meja kecil dekat jendela, terdapat sebuah wadah dupa. Bentuknya indah, terbuat dari keramik halus dengan ukiran bunga yang tampak lembut dan tak berbahaya. Jika dilihat sekilas, tak ada yang mencurigakan, bahkan terkesan seperti bentuk perhatian kecil agar kamar ini terasa nyaman.
Namun Wu Zetian tidak ingin lengah. Ia harus mengecek semuanya. Ia berhenti sekitar satu meter dari dupa itu.
Hidungnya bergerak pelan. Saat ia menarik napas pendek, aroma samar menyusup ke inderanya. Terasa hangat, manis, dan terlalu lembut untuk sekadar dupa biasa. Alisnya sedikit berkerut. Ia menarik napas sekali lagi, kali ini lebih hati-hati, lalu menghembuskannya perlahan.
Tatapannya berubah dingin.
“Begitu rupanya…”
Ia sudah cukup lama berkutat dengan ramuan dan zat-zat aneh untuk tahu bahwa aroma itu tidak wajar. Dupa itu bukan hanya sekadar pengharum ruangan. Ada sesuatu yang dicampurkan dengan sangat halus, nyaris tak terdeteksi oleh orang awam.
Zat afrodisiak.
Bibir Wu Zetian melengkung tipis. Bukan senyum, melainkan ekspresi sinis yang sarat penghinaan.
“Memang brengsek mereka, mereka pikir aku tidak akan curiga dengan sikap manis palsu mereka?” gumamnya pelan, namun penuh penekanan.
Ia mendengus kecil.
“Aku tidak sebodoh itu untuk percaya pada sikap main yang kalian perlihatkan. ”
Senyumnya melebar sedikit, kali ini tajam dan berbahaya.
“Tch, naif.”
______________
Yuhuuu~🌹
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖
See you~💓