"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aru, hati-hati!
matahari begitu silau menampakkan kegagahan nya di antara awan-awan putih, kuda dan sapi berlarian menerobos terik matahari yang menyengat seakan berlomba, berebut rumput hijau yang manari tertiup angin.
siang ini, Sena dan Arunika mengikuti pak Maja Ayah Sena mengembala sapi ke bukit. tawa mereka begitu riang saat mengejar kuda-kuda liar yang berkeliaran si perbukitan itu
"hati-hati ya, jangan sampai terlalu jauh larinya!" teriak pak Maja pada dua bocah yang asik dengan dunianya itu
"Aru.. ayo balik, tadi papa bawa bekal enak loh ayo kita makan" ajak Sena mengingat ibunya sempat menyiapkan brownies sebelum mereka jalan tadi
"wah.. bibi Tari buat apa hari ini?" tanya gadis dengan rambut kepang dua itu begitu semangat
"Brownies pisang, kesukaan kamu loh.. mama juga bilang pulang nanti Aru harus ikut kerumah" mereka mengobrol sambil berjalan, sepoi angin mengibas rambut mereka lembut
"yey.. pasti Bibi Tari kangen kan sama Aru" teriaknya sambil berputar-putar
pak Maja yang sedang duduk di bawah pohon jamblang memanggil mereka untuk istirahat dan berteduh, Sena yang tak sabar untuk makan terus merengek pada Ayahnya, pak Maja menghela nafas sudah biasa seperti itu meski Sena sudah kenyang dari rumah jika bertemu dengan Aru dia lupa dengan perutnya yang buncit kekenyangan
"Aru boleh makan, tapi Sena nanti aja ya.. liat tuh perut Sena udah buncit kekenyangan nanti Sena pingsan kalo makannya kebanyakan" ucap pak Maja pelan mencoba membuat putranya itu mengerti jika makan terlalu banyak juga tidak baik
"gak mau! Sena mau makan sama Aru.. tadi Mama bilang Sena boleh makan lagi!" rengeknya tak berhenti
"Sena kita gak boleh makan terlalu banyak, kata Ibu nanti perut Sena sakit loh" sahut Arunika polos
"tapi Sena mau makan Brownies sama Aru.." ucap Sena mulai cemberut
"gimana kalo kita main dulu, makannya nanti aja.. Aru juga gak makan kok" geleng Arunika menghibur sahabat nya itu
"papa punya layangan loh.. mau main layangan gak?" pak Maja mengeluarkan Layangan berwarna kuning biru dari tas rajutnya, mata kedua bocah itu berbinar melihat mainan favorit mereka
"mau!!!" teriak keduanya semangat
pak Maja membiarkan kedua bocah itu menaikkan layangan tanpa bantuannya seperti biasa, dia ingin mereka mulai belajar dan berusaha. Sena berusia 10 tahun sedangkan Arunika baru berusia 9 tahun, Sena anak pertama dari pak Maja lelaki Kota yang rela tinggal di desa demi wanita yang sangat di cintainya, Utari. sedangkan Arunika, anak kedua dari pak Surya dengan istrinya Arini, rumah keduanya tak dekat terhalang lima perumahan yang cukup berjarak dan dua tapak sawah namun itu tak menjadi halangan untuk kedua keluarga berhubungan baik terlebih dengan Sena dan Arunika yang tak terpisahkan jika bukan Sena yang bermain kerumah Aru, maka sebaliknya. sudah seperti bayi kembar, Sena yang kelas 4 Sekolah Dasar itu selalu menempel pada Arunika, di sekolah kedekatan mereka cukup populer bahkan tak jarang menjadi bahan candaan teman-teman nya, Sena tak peduli tiada hari tanpa berkunjung ke kelas 3 untuk bermain dengan Aru sahabatnya
setiap hari selalu menjadi hari yang istimewa untuk keduanya, keseruan yang mereka lalui selalu terasa baru. Layangan, ayunan, bukit, sungai dan sawah selalu menjadi teman bermain mereka.
"ahh.. Aru, aku lelah berlari.. Layangan nya gak mau naik sih!" keluh Sena membungkuk memegang lututnya dengan nafas yang putus-putus
"aduh.. Om Maja kok gak mau naikin layangan nya sih.. kan biasanya dia yang naikin dulu" sahut Aru yang juga terduduk kelelahan, dari kejauhan pak Maja sudah tertawa melihat kedua anak itu
"kalo layangan nya gak naik, brownies nya papa habisin sendiri loh.." teriak lelaki itu, mencoba membangkitkan semangat keduanya
"ihh.. Papa curang!!" teriak Sena mulai kesal
"Ayo Sena.. kita naikin layangan nya lagi! kata bapak kalo mau layangan nya terbang tinggi harus ada anginnya!" semangat Arunika, matanya membulat tak rela jika brownies pisang itu di makan sendiri oleh pak Maja
Sena berdiri tegak, Arunika memegang Layangan bersiap untuk melemparnya ke udara jika ada angin nanti
"kata Bapak, layangan nya harus dilempar biar terbang nanti Sena yang tarik benangnya ya!" ucapnya lagi, hm! Sena mengangguk semangat
"wah.. angin!" teriak keduanya saat angin menerjang melewati mereka, Arunika melempar layangan ke udara dan Sena menarik benangnya. layangan itu mulai naik perlahan tawa keduanya benar-benar puas dan bangga
brukk.. aduh!!
Arunika tak sengaja tersandung, hingga jatuh menggelinding ke bawah
"Aru!!!!" teriak Sena melepas layangan nya mencoba mengejar tubuh Arunika yang menggelinding semakin kebawah, pak Maja pun tak tinggal diam berlari mencoba menyelamatkan gadis kecil itu
"Aaaaaaa!!!!!" suara teriakan nyaring itu menggema terbawa angin mengitari perbukitan
beruntungnya, pak Maja yang sigap berhasil menangkap Aru hingga gadis itu tak terjatuh lebih jauh lagi. melihat wajah polos gadis itu saat di tangkap, pak Maja hampir tertawa lepas
"Ahahaha.... Aru kamu kayak bola Hahaha" teriak Sena menertawakan Arunika yang sudah di bantu berdiri
"ihh.. Sena!!" teriaknya kesal berlari mengejar Sena yang berani menertawakannya
"Ahahaha.. Ayo kejar aku Aru.. kalo kamu gak bisa kejar aku berarti kamu sama kayak penyu.. Lamban! Hahaha.."
Arunika semakin kesal dan semangat untuk mengejar Sena, ingin memukul dan menggigitnya memberinya pelajaran karena tertawa keras saat mengejek
"hei sudah sudah!! ayo balik sini, kita makan!" teriak pak Maja memanggil keduanya setelah berhasil mengambil kembali layangan yang hampir terbang jauh terbawa angin
"yeyy!!!"
Maja membuka bekal yang dia bawa sebelumnya, tak hanya brownies yang sengaja Utari, istrinya siapkan untuk dua bocah itu tapi juga ada nasi lengkap dengan lauk yang terlihat sederhana namun menjadi menu favorit untuk Maja sendiri
"wahh.. Mama masak tumis daun talas nih, ada telur dadar juga Sena sama Aru mau makan dulu ga?" tawarnya pada dua bocah yang sudah bersiap menyantap brownies di tangan mereka
keduanya menggeleng bersama, lebih memilih menikmati makanan di tangan mereka, Maja hanya tersenyum menggelengkan kepala dan mulai menyantap makannya sendiri
"nanti kalo gede, Sena mau nikah sama Aru ya Pa?" celetuk Sena, Maja hampir menyemburkan makanan di mulutnya yang penuh
"tapi Sena, Bapak bilang ke Aru jangan nikah sama orang kaya, orang kaya suka ngomong jahat" celetuk Arunika juga
Uhukk..! kali ini Maja tak kuasa menahan batuknya, celetukan dua bocah yang secara tiba-tiba itu membuatnya terkejut dan tak habis fikir
"tapi Papa nikah sama Mama, Papa kan punya rumah gede dan Mama gak punya tapi Papa gak pernah jahat sama Mama" bantah Sena dengan polos, Maja terdiam tak berniat memotong obrolan dua bocah itu
"Ibu bilang, Aru harus sama orang baik nanti" ucap Arunika lagi
"itu makanya Aru harus sama Sena, Sena akan baik sama Aru! nanti Sena minta Mama buatin Aru brownies pisang tiap hari!" jawab Sena tak mau kalah
"Sena janji?" tentu Arunika berbinar, mendengar dirinya akan menikmati makanan favorit nya itu setiap hari
"hm hm! janji! jadi Aru harus sama Sena ya!" angguk Sena semangat, Maja tertawa kecil mendengar obrolan dua bocah polos itu dalam hati tentu dia berharap dua bocah itu akan terus bersama seperti janji mereka, tak berharap dua bocah itu benar-benar berjodoh nantinya dia hanya ingin hubungan persahabatan mereka bisa utuh
"kalo gitu, Sena sebagai laki-laki harus bisa tepati janji ya? jangan jadi anak nakal nantinya" ucap Maja mengelus kepala putranya itu
"tentu!! Sena anak baik, gak mungkin jadi anak nakal!"