NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Kejujuran yang Menyakitkan

#

Sepuluh hari.

Sepuluh hari aku nggak ketemu Arkan. Sepuluh hari aku cuma ngurung diri—kerja, pulang, urus Bapak, tidur. Rutinitas yang membosankan tapi... tapi setidaknya aman.

Aman dari godaan buat ketemu dia. Aman dari... dari perasaan yang masih nggak bisa aku kontrol.

Tapi malam ini... malam ini berbeda.

TOK TOK TOK TOK TOK!

Ketukan pintu. Keras. Berulang-ulang. Kayak orang kesurupan.

"Zahra! Zahra buka pintunya! Aku tau kamu di dalem!"

Suara Arkan.

Ya Allah. Dia... dia dateng lagi.

"Bapak... Bapak tidur dulu di kamar. Zahra urus ini."

Bapak—yang lagi duduk di kasur sambil baca Quran—natap aku khawatir. "Zahra... dia?"

"Iya, Pak. Tapi... tapi Zahra janji nggak bakal lama. Zahra cuma... cuma mau ngomong sebentar."

Bapak diem. Terus masuk ke kamar kecil di pojok. Tutup pintu.

Aku ambil napas dalam. Buka pintu kontrakan.

Dan Arkan... Ya Allah, Arkan berdiri di sana. Basah kuyup—gerimis turun dari tadi sore. Pake kaos hitam yang nempel di badan gara-gara basah. Celana belel. Sandal jepit. Rambut berantakan. Mata merah. Wajah pucat.

Kayak... kayak orang yang udah nyerah tapi masih maksa bertahan.

"Mas... Mas kenapa basah gitu? Masuk dulu—"

"Nggak usah!" Dia nolak masuk. "Aku... aku cuma mau ngomong. Di sini aja. Bentar."

"Tapi Mas basah... nanti sakit—"

"AKU NGGAK PEDULI AKU SAKIT ATAU NGGAK!" Dia teriak. Keras. Sampe beberapa tetangga buka pintu—ngintip. "Yang aku peduliin cuma kamu! Cuma... cuma penjelasan dari kamu!"

Aku nunduk. "Mas... Zahra udah jelasin—"

"Kamu belum jelasin apa-apa!" Dia narik napas keras. Ngatur napas. "Zahra... aku... aku nggak bisa kayak gini terus. Aku butuh kamu ngomong. Ngomong yang jujur. Kenapa... kenapa tiba-tiba kamu menjauh? Kenapa tiba-tiba kamu bilang kita harus jaga jarak? Kenapa?!"

"Karena... karena Zahra udah bilang, Mas. Zahra... Zahra nggak bisa lanjut kalau Mas belum masuk Islam—"

"Tapi aku lagi proses! Aku lagi belajar! Kenapa kamu nggak kasih aku waktu?!"

"Zahra udah kasih waktu!" Suara ku naik. "Mas udah belajar berapa lama? Dua bulan? Tiga bulan? Dan Mas masih bilang Mas belum yakin! Terus Zahra harus tunggu berapa lama lagi?! Setahun? Dua tahun? Sampai... sampai Zahra tua dan nggak ada yang mau?!"

"Zahra—"

"Mas, dengerin Zahra!" Aku natap mata dia. Mata yang berkaca-kaca. "Zahra... Zahra capek, Mas. Capek menunggu. Capek berharap. Capek... capek ngeliat Bapak sakit gara-gara khawatir sama Zahra. Zahra... Zahra nggak kuat lagi."

Arkan diem. Napasnya masih ngos-ngosan. Tangannya mengepal—gemetar.

"...jadi... jadi kamu menyerah? Gitu aja?"

"Bukan menyerah. Tapi... tapi realistis. Mas... kita beda agama. Dan perbedaan ini... perbedaan ini bukan hal kecil yang bisa kita abaikan. Ini... ini soal iman. Soal keyakinan. Soal... soal akhirat."

"Aku tau itu semua!" Dia jalan deket. Berhenti sejengkal dari aku. "Tapi aku juga tau... aku tau cinta kita itu nyata! Aku tau... aku tau kamu cinta sama aku! Dan aku... aku nggak bisa diem aja ngelepas kamu!"

"Tapi Zahra harus ngelepas Mas..." Suara ku pecah. "Karena... karena kalau nggak... Zahra bakal kehilangan yang lebih penting. Zahra bakal... bakal kehilangan Bapak. Kehilangan agama Zahra. Kehilangan... kehilangan akhirat Zahra."

"Zahra—"

"Mas, tolong ngerti..." Air mata jatuh. "Zahra cinta sama Mas. Beneran cinta. Tapi... tapi cinta Zahra ke Allah lebih besar. Dan kalau Zahra harus pilih... Zahra... Zahra pilih Allah."

Hening.

Suara gerimis tiba-tiba terasa nyaring banget.

Arkan mundur selangkah. Natap aku lama. Matanya... hancur.

"...oke. Aku ngerti sekarang." Suaranya pelan. Parau. "Aku... aku nggak cukup. Cinta ku... cinta ku nggak cukup buat kamu."

"Bukan gitu—"

"Terus apa?!" Dia teriak lagi. "Aku udah korbanin keluarga ku! Aku udah kehilangan pekerjaan! Aku udah... aku udah tinggal sendirian di apartemen sempit! Aku udah belajar Islam! Aku udah coba sholat! Aku udah... aku udah baca Quran! Tapi kamu bilang itu semua nggak cukup?!"

"Zahra nggak bilang nggak cukup! Zahra cuma... cuma mau Mas masuk Islam karena yakin! Bukan karena Zahra!"

"Tapi gimana aku bisa yakin kalau kamu terus nolak aku?! Gimana aku bisa belajar kalau kamu terus menjauh?!"

Aku diem. Nggak tau harus jawab apa.

Arkan jalan deket lagi. Kali ini dia pegang kedua bahu ku. Lembut tapi... tapi tangannya gemetar.

"Zahra... dengerin aku. Aku... aku masih bingung soal agama. Aku masih... masih bertanya-tanya. Masih... masih berdoa minta petunjuk. Tapi satu hal yang aku yakin... aku yakin aku cinta sama kamu. Dan aku... aku bersedia berjuang. Berjuang buat kamu. Buat kita. Asalkan... asalkan kamu nggak ninggalin aku."

"Mas..." Aku pegang tangannya yang ada di bahu ku. "Zahra nggak ninggalin Mas. Zahra cuma... cuma butuh Mas yakin dulu. Yakin... yakin kalau Islam itu jalan yang bener. Bukan karena Zahra. Tapi karena... karena Mas percaya."

"Terus aku harus gimana? Aku harus yakin gimana kalau... kalau di hati ku masih ada Yesus?"

Aku lepas tangannya. Pelan. "...Mas, kalau di hati Mas masih ada Yesus... kalau Mas masih percaya Dia Tuhan... berarti Mas... Mas belum siap jadi muslim. Dan Zahra... Zahra nggak bisa maksa Mas."

"Zahra—"

"Mas, tolong ngerti..." Aku mundur. "Islam itu bukan cuma agama. Islam itu... itu cara hidup. Itu keyakinan yang harus utuh. Nggak boleh setengah-setengah. Nggak boleh... nggak boleh masih ragu. Kalau Mas masuk Islam tapi Mas masih percaya Yesus itu Tuhan... itu... itu syirik, Mas. Itu dosa paling besar dalam Islam."

Arkan diam. Lama. Matanya... kosong.

"...jadi... jadi kamu mau aku lupain Yesus? Gitu?"

"Bukan lupain. Tapi... tapi percaya... percaya Dia bukan Tuhan. Percaya... percaya Dia cuma nabi. Rasul. Kayak nabi-nabi yang lain."

"Tapi... tapi aku dari kecil diajarinnya Dia Tuhan..." Suaranya gemetar. "Aku... aku nggak bisa tiba-tiba... tiba-tiba ngelupain semua itu..."

Aku nangis. "Zahra tau ini berat, Mas. Zahra tau... Zahra tau ini nggak gampang. Makanya... makanya Zahra bilang... Mas butuh waktu. Mas butuh... butuh proses yang panjang. Dan Zahra... Zahra nggak bisa nemenin Mas di proses itu kalau... kalau Mas masih ragu. Karena... karena nanti Zahra malah bikin Mas tertekan. Malah bikin Mas masuk Islam karena terpaksa. Dan itu... itu yang paling Zahra takutin."

Arkan natap aku lama. Terus dia jalan mundur. Pelan.

"...oke. Aku ngerti sekarang."

"Mas..."

"Aku ngerti... kamu nggak mau aku jadi munafik. Kamu nggak mau... nggak mau aku nyesel. Aku... aku ngerti." Dia senyum pahit. "Tapi kamu tau nggak... yang paling nyakitin itu bukan kamu nolak aku. Tapi... tapi kamu nolak aku karena... karena aku nggak bisa ninggalin sesuatu yang udah jadi bagian dari hidup ku sejak lahir."

"Mas—"

"Nggak apa-apa, Zahra. Aku... aku paham." Dia jalan mundur lagi. "Aku... aku bakal pergi. Aku bakal... bakal mikir sendiri. Cari jawaban sendiri. Dan kalau... kalau suatu hari nanti aku yakin... aku yakin Islam itu jalan yang bener... aku... aku bakal balik. Aku bakal cari kamu. Tapi kalau nggak... kalau aku tetep nggak yakin... aku... aku harap kamu bahagia. Dengan... dengan orang lain."

"MAS JANGAN NGOMONG KAYAK GITU!" Aku teriak. "Zahra nggak mau sama orang lain! Zahra cuma mau Mas! Tapi... tapi Zahra juga nggak mau Mas jadi orang yang... yang nggak bahagia gara-gara dipaksa masuk Islam!"

"Aku tau." Dia senyum. Senyum yang paling sedih yang pernah aku liat. "Makanya... makanya aku pergi. Biar aku bisa mikir jernih. Tanpa... tanpa tekanan dari siapapun. Termasuk kamu."

Dan dia berbalik. Jalan pelan keluar gang. Punggungnya basah. Langkahnya berat. Kayak... kayak lagi nahan beban yang nggak keliatan.

"MAS! MAS ARKAN!" Aku teriak.

Dia berhenti. Nggak nengok. Cuma berhenti.

"...Zahra... Zahra doain Mas... doain Mas dapet petunjuk... please..."

Dia diem sebentar. Terus lanjut jalan.

Tanpa nengok balik.

Tanpa bilang apa-apa lagi.

Dan aku... aku jatuh duduk di depan pintu kontrakan. Nangis sejadi-jadinya. Di tengah gerimis yang makin deres.

"Ya Allah... kenapa... kenapa ini sakit banget?"

Pintu kamar kebuka. Bapak keluar. Liat aku nangis.

"Zahra..."

"Bapak..." Aku peluk Bapak. "Zahra... Zahra udah lepas dia... Zahra udah... udah ngomong jujur... tapi kenapa... kenapa rasanya kayak... kayak ada bagian dari Zahra yang hilang?"

Bapak usap kepala ku. Pelan. "Karena kamu cinta dia, nak. Cinta... cinta nggak pernah gampang dihilangin. Tapi... tapi kamu udah buat keputusan yang bener. Keputusan yang... yang berkah. Dan Bapak... Bapak bangga sama kamu."

"Tapi Zahra sakit, Pak... Zahra... Zahra nggak kuat..."

"Kamu kuat. Kamu... kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Dan Allah... Allah nggak bakal kasih ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya. Percaya sama Allah, Zahra. Dia... Dia punya rencana yang lebih baik."

Aku nangis makin keras. Di pelukan Bapak yang kurus. Di tengah gerimis yang nggak kunjung reda.

"Ya Allah... tolong... tolong kuatkan hati Zahra... tolong..."

---

Malem itu, setelah Bapak tidur, aku duduk di emperan kontrakan. Natap langit yang gelap. Gerimis udah reda. Cuma sisa tetesan air dari atap yang bocor.

Tangan ku megang payung hitam—payung Arkan. Payung yang... yang mungkin satu-satunya benda yang tersisa dari dia.

"Mas... Zahra doain Mas... doain Mas dapet petunjuk dari Allah... doain... doamin Mas bisa yakin... biar... biar kita bisa bersama..."

Tapi di hati ku... aku takut.

Takut dia nggak bakal balik. Takut dia... dia nggak bisa yakin.

Takut... takut cinta ini... cinta ini cuma mimpi yang nggak akan pernah jadi nyata.

"Ya Allah... kalau dia jodoh hamba... tolong kembalikan dia dengan iman yang kuat... tapi kalau dia bukan... tolong... tolong beri hamba kekuatan untuk ikhlas..."

Aku sholat isya. Sujud lama. Doa panjang.

"Ya Allah... hamba serahkan semuanya pada-Mu... hamba nggak kuat sendiri... tolong... tolong tunjukkan jalan yang benar... untuk hamba... dan untuk dia..."

Dan malam itu... aku tidur dengan hati yang... yang kosong.

Kosong tapi... tapi berharap.

Berharap suatu hari nanti... Allah bakal kasih jalan.

Jalan yang... yang bisa bikin kami bersama.

Dengan cara yang berkah.

Dengan cara yang... yang diridhai-Nya.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 17...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!