NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1: Labirin Angka dan Tatapan Tajam

Suara decit kapur yang beradu dengan papan tulis hitam adalah satu-satunya melodi yang terasa akrab di telinga Ella. Baginya, bunyi itu lebih menenangkan daripada lagu hits yang diputar di radio-radio remaja. Saat teman-teman sekelasnya sibuk berbisik tentang rencana nongkrong di kafe aesthetic sepulang sekolah, jari-jari Ella justru sibuk menari di atas kertas buram yang sudah penuh dengan coretan. Ia sedang memecahkan persamaan trigonometri yang rumit, sebuah labirin angka yang bagi orang lain tampak seperti bahasa alien, namun bagi Ella, itu adalah tempat persembunyian yang aman.

​"Dan nilai tertinggi untuk simulasi ujian kali ini kembali diraih oleh... Ella. Selamat, Ella," suara berat Pak Bambang memecah lamunan kelas yang tadinya riuh rendah.

​Ella tersentak kecil. Ia berdiri dengan canggung, merapikan rok seragamnya yang tidak kusut sama sekali. Saat melangkah ke depan kelas untuk mengambil kertas ujiannya, ia bisa merasakan beban atmosfer di ruangan itu berubah. Ada bisik-bisik iri dari barisan belakang, tatapan sinis dari kelompok siswi populer yang selalu menganggapnya terlalu ambisius, dan satu tatapan yang selalu membuatnya merasa sesak napas.

​Tatapan dari Rizki.

​Rizki duduk tegak di barisan depan, punggungnya kaku dengan tangan melipat di dada. Sebagai ketua kelas, dia adalah standar kesempurnaan di SMA ini. Tampan, kapten basket yang karismatik, dan selalu dikelilingi orang-orang yang menganggapnya dewa. Tapi bagi Ella, Rizki adalah teka-teki yang paling sulit dipecahkan. Setiap kali mata mereka bertemu, Rizki akan langsung membuang muka dengan gerakan cepat, seolah-olah melihat Ella adalah sebuah kesalahan besar atau noda pada reputasinya yang cemerlang.

​"Gila, kamu benar-benar robot ya, La?"

​Sebuah suara serak yang berat dan akrab terdengar saat Ella kembali ke tempat duduknya. Wawan sudah menyandar santai di kursinya dengan gaya masa bodoh yang khas. Kaki panjangnya yang terbungkus celana abu-abu yang sedikit belel diselonjorkan ke bawah kursi Ella, hingga tanpa sengaja ujung sepatunya menyentuh sepatu Ella.

​"Berisik, Wan. Belajar sana," bisik Ella tanpa menoleh, meski jantungnya sedikit berdegup karena gangguan itu.

​"Buat apa belajar kalau punya teman sepintar kamu?" Wawan menyeringai, menunjukkan deretan giginya yang rapi namun terkesan menantang. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak hingga Ella bisa mencium aroma samar minyak rambut dan sisa asap rokok yang tertinggal di jaketnya—aroma yang sangat kontras dengan wangi sabun cuci yang bersih dari tubuh Rizki.

​"Mending nanti sore ikut aku ke kantin belakang. Ada siomay enak, aku yang traktir sebagai perayaan nilai robotmu itu. Gimana?" Wawan mengedipkan sebelah matanya, sama sekali tidak peduli pada aturan kelas.

​"Nggak bisa. Aku harus ke perpustakaan," jawab Ella tegas, meski tangannya sedikit gemetar saat merapikan alat tulis.

​"Perpustakaan terus. Sekali-kali lihat dunia, La. Di luar sana banyak yang lebih seru daripada angka-angka mati itu."

​Tiba-tiba, suara kursi yang digeser dengan kasar di lantai keramik menciptakan bunyi memilukan yang memekakkan telinga. Seluruh kelas tersentak. Rizki berdiri, wajahnya terlihat jauh lebih tegang dari biasanya. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang biasanya terkontrol kini tampak berkilat penuh emosi yang sulit didefinisikan.

​"Pak, bisa kita lanjut materinya? Kelas terlalu berisik karena ada yang sibuk pacaran di belakang," suara Rizki terdengar tajam, dingin, dan menusuk tepat ke arah bangku Ella dan Wawan.

​Seluruh kelas mendadak hening seketika. Hawa dingin seolah menyergap ruangan. Wawan hanya tertawa kecil, menyandarkan kepalanya ke dinding dengan santai, seolah serangan verbal Rizki hanyalah angin lalu. Namun bagi Ella, ia merasa seluruh darahnya naik ke wajah. Ia merasa dipermalukan sekaligus bingung.

​Ella memberanikan diri melirik ke arah Rizki, mencari sedikit saja tanda bahwa cowok itu hanya sedang bercanda. Tapi yang ia temukan hanyalah dinding kemarahan yang tertahan, sebuah keposesifan yang aneh, dan gengsi yang membentang luas seperti jurang pemisah di antara mereka.

​Ella menunduk dalam-dalam, menatap angka seratus di kertas ujiannya yang kini terasa hambar. Di dalam segitiga kelas yang menyesakkan ini, ia tahu bahwa hidupnya sebagai siswi teladan tidak akan pernah sederhana lagi.

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!